Chapter 22

1238 Kata
Keduanya masih terdiam. Arsen duduk di samping Giselle menunggu sang gadis berbicara. Akan tetapi, Giselle tidak mengeluarkan suara apa pun. Gadis itu mulai merajuk hingga membuat Arsen kebingungan. Akhirnya ia menelpon anak buahnya untuk berangkat lebih dulu. Sedangkan dirinya akan memastikan keadaan Giselle baik-baik saja terlebih dahulu. “Kenapa harus seperti ini lagi?” Arsen mulai membuka percakapan. Ia tahu jika Giselle tidak akan pernah membuka suara jika tengah merajuk. Arsen sendiri juga tidak tahu hal apa yang membuat Giselle seperti itu. Sebelumnya gadis itu baik-baik saja. Semenjak di kedai, Giselle terlihat sedikit berubah. Arsen mulai merunutkan kejadian demi kejadian. Ia mengingat semuanya untuk mencari tahu penyebab Giselle merajuk. Akhirnya Arsen mengingat pertemuannya dengan teman masa sekolahnya. Seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai guru. Mereka sempat berbincang sebentar di meja kasir. Setelah Arsen kembali raut wajah Giselle berubah drastis. Arsen mulai mendapat titik temu dari permasalahannya. Ia sangat yakin jika Giselle tengah salah paham melihatnya bersama wanita lainnya. “Dia itu hanya teman lama.” Arsen melempar pandangannya. Giselle langsung menoleh melihat Arsen. Gadis itu tersenyum sedikit, tetapi tidak mengubah wajahnya yang muram. “Siapa? Aku juga tidak apa-apa kalau dia adalah wanita special buat uncle.” Ucapan Giselle terdengar ketus. “Ya, setidaknya aku hanya menjelaskan tentang siapa wanita yang berbincang denganku. Ada yang tidak mau bertanya, tetapi langsung marah.” “Uncle ….” Giselle merengek. Ia tahu jika lelaki apa yang dikatakan Arsen menuju padanya. “Lantas, kenapa uncle bisa tersenyum dengannya?” “Apa kali ini aku tidak tersenyum denganmu?” Arsen memamerkan gigi putihnya. Lelaki terlihat lebih lunak menghadapi Giselle. Kebersamaan mereka beberapa hari telah menghilang hanya karena keinginan Winata Yoga. Lama sekali mereka tidak duduk berdua dan saling bercanda. Giselle juga sudah jarang terlibat ketegangan saat mengikuti Arsen bertugas. Lelaki itu memlih menjauh dari pada harus membuat kekacauan. Sekarang mereka duduk berdua dan Giselle tengah cemburu. Satu alasan yang membuat Arsen akhirnya mau mengalah. Ia tidak bisa menahan lagi perasaannya. Ia tidak bisa lagi melihat Giselle harus menghadapi bahaya jika terlalu lama jauh darinya. Betapa khawatirnya Arsen saat Haikal membawa Giselle pergi dan tidak pulang. Betapa marahnya pria tersebut saat melihat Giselle di antara lelaki lain dan mereka hendak melecehkan sang gadis. Arsen tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Giselle adalah satu-satunya gadis yang berhasil membuat hati Arsen kacau setiap detiknya. Gadis itu pula yang selalu membuat Arsen terlibat dalam masalah besar. Seluruh musuh Arsen seolah tahu jika titik kelemahan Arsen ada pada Giselle. Hal itulah yang membuat Giselle selalu menjadi incaran musuh Winata Yoga. Mereka tahu Arsen akan terasa lemah jika Giselle dalam bahaya. John yang paham akan hal itu berusaha mencari cela untuk menyerang kembali Winata Yoga. Meski berulang kali gagal, suatu saat John pasti berhasil menyentuh Giselle dan membuat Arsen harus bertekuk lutut dengannya. “Giselle jangan seperti ini lagi? Jangan pergi dengan orang yang membuatmu berbahaya. Jangan pernah marah lagi seperti ini.” Arsen masih melihat Giselle dengan pandangan yang tidak berubah. Ia berbicara dengan hatinya hingga Giselle merasa ada yang berbeda dari Arsen. Gadis itu berpikir apakah Arsen memang sedang menunjukkan perasaannya? Atau memang lelaki itu hanya memberi harapan pada Giselle dan akan menghapus semua jejak mereka saat bersama. “Uncle? Apakah uncle cinta sama aku?” Giselle masih berusaha mencari jawaban. Ia tidak akan puas sebelum Arsen benar-benar menjawab semua pertanyaannya. “Apa aku harus menjelaskannya sedetil mungkin bagaimana caraku mencintaimu?” Arsen menangkup pipi Giselle. Mata elang lelaki itu menatap tajam gadis di depannya. Matanya menyorotkan semua perasaan Arsen kepada Giselle. Lelaki itu ingin menunjukkan betapa besar rasa sayang Arsen kepadanya. Hanya saja selama ini Arsen bukanlah lelaki kebanyakan yang akan menunjukkan perasaannya dengan jelas. Dia bukan tipikal lelaki dengan sejuta rayuan dan perhatian. Baginya melindiungi Giselle dari bahaya dan ancaman adalah salah satu wujud rasa sayangnya kepada gadis tersebut. Bukan hanya sekadar mengatakan”Aku mencintaimu dan kamu mencintaiku”. “Setidaknya aku harus tahu kalau unce bro memang mencintaiku.” Arsen mendekatkan wajah Giselle dan mencium kening gadis itu untuk kedua kalinya. Lelaki itu menciumnya dengan lembut dengan keadaan yang berbeda. Kali ini Giselle benar-benar sadar dan sedang tidak mabuk. Arsen pun memang ingin menunjukkan kepada gadis itu agar tidak salah paham lagi. Lelaki itu sudah memikirkan semua dan tidak peduli dengan resiko yang akan ia dapat. Ia sudah memikirkan bagaimana reaksi Winata Yoga dan sang istri saat mengetahui hubungan mereka lebih dari apa yang mereka ketahui. Arsen siap mengahadapinya, ia juga siap jika suatu saat akan kehilangan pekerjaannya sebagai orang kepercayaan Winata Yoga. Hati Giselle pun terasa berbunga-bunga saat Arsen mencium keningnya. Ia merasa Arsen memang menunjukkan rasa sayangnya tanpa harus mengatakan sesuatu. Hanya saja bukan Giselle Namanya jika tidak bisa membuat Arsen harus mengatakannya. Hal itu akan membuat Giselle semakin yakin dengan perasaan Arsen. “Kamu tahu? Ungkapan cinta bukanlah satu keharusan. Aku tahu aku bukan lelaki romantic, tetapi aku juga tahu kalau aku memang tidak bisa jauh darimu.” Arsen melepas ciumannya. Lelaki itu masih melihat mata bening Giselle yang terlihat senang. Gadis itu terdiam dan cukup mengerti dengan apa yang Arsen katakan. Ia merasakan jika Arsen memang benar-benar telah jujur dengan perasaannya. Gadis itu tidak tahu apa yang harus ia lalukan. Ia merasa malu dan bingung bagaimana harus membalasnya. Ia terlalu malu jika terlihat begitu agresif, sedangkan Arsen masih terlihat biasa saja. “Uncle tidak bohong?” “Kalau aku bohong, untuk apa aku berada di sini? Untuk apa aku duduk di dekatmu dengan mempertaruhkan harga diriku.” “Karena uncle hanya tidak ingin membuat aku kecewa.” Arsen harus menarik napas lagi. Awalnya ia mengira Giselle akan paham dengan apa yang dikatakannya. Ia pikir Giselle juga akan sangat paham dengan apa yang telah Arsen lakukan. Semuanya seperti mengahruskan Arsen mengatakan apa yang diinginkan Giselle. “Baiklah dengarkan baik-baik. Aku mencintaimu, Nona.” Giselle tersenyum mendengarnya. Perkataan Arsen menggema berulang kali di telinganya. Ia telah berhasil membuat seorang Arsen mengatakan cinta kepadanya. “Sudah puas? Kali ini aku kalah dengan seorang gadis kecil.” Arsen mengusap wajahnya. Di luar, Arsen akan terlihat beringas dan kejam. Bahkan ia tidak akan segan menghabisi semua lawan yang berusaha menyerangnya. Tidak kata ampun untuk musuh. Akan tetapi, lelaki itu justru kalah dengan gadis seperti Giselle yang mampu membuat lelaki itu luluh dan mengabulkan semua permintaannya. “Aku juga mencintai uncle. Setidaknya aku bisa tahu kalau uncle memang mencintaiku.” “Giselle … Giselle.” “Kenapa harus menyebut namaku? Memanggil sebutan sayang akan terdengar lebih baik.” Arsen kembali harus menarik napas. Apa jadinya jika ia harus memanggil Giselle dengan sebutan sayang. Satu orang yang harus Arsen hadapi pertama kali adalah Winata Yoga. Rasanya terlalu lancing bagi seorang Arsen memanggilnnya dengan sebutan ‘sayang’. “Uncle keberatan?” Giselle terlihat kecewa. “Apa aku harus memanggilmu dengan sebutan itu?” Arsen terlihat kebingungan. Terbelit dalam urusan percintaan ternyata lebih sulit dari pada harus bertarung melawan musuh. “Harus!” “Bagaiamana kalau Tuan Winata Yoga tahu?” “Papa?” Giselle kembali berpikir. Apa yang dikatakan Arsen memang benar. Giselle berpikir hal itu akan membuat Arsen kembali dalam masalah. Akhirnya gadis itu berbisik dan membuat kesepakatan. Keduany terlihat tersenyum dan setuju dengan perjanjian mereka. Dua hati yang baru saja menjalin komitmen dan berjanji untuk tetap bersama. Status social, usia dan harga diri menjadi pembatas keduanya. Arsen seorang pengawal dengan loyalitasnya yang tinggi harus menjaga kehormatan dan rasa cintanya. Sedangkan Giselle adalah seorang gadis yang menjadi symbol rasa cinta dan hormatnya terhadap pekerjaannya.            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN