Arsen tersenyum duduk di samping Reno. Setelah menemui Giselle. Arsen menyusul kedua rekannya yang sedang berada di hotel temat Winata Yoga mengadakan pertemuan dengan beberapa orang penting di Surabaya. Beberapa kebijakan baru akan mereka bahas dan melihat kemungkinan besar kebijakan itu berpengaruh untuk menekan angka criminal dan penyelendupan barang melalui Pelabuhan maupun bandara. Winata Ypga benar-benar harus berpikir keras untuk mengurangi angka criminal di kotanya. Semua tidak akan mudah jika Winata Yoga berjalan sendirian. Dengan bantuan dari intansi kepolisian dan beberapa intansi yang mendukung. Winata Yoga benar-benar akan menerapkan kebijakan baru yang akan merugikan beberapa importir. Adi Putro grup akan menkjafdi satu perusahaan yang bereaksi keras. Apa lagi perusahaan itu semua laju bisnisnya melalui Pelabuhan.
Adi Putro sendiri sebenarnya sangat tidak menyukai cara kepemimpinan Winata Yoga. Beberapa celah bisnisnya terancam colaps karena kebijakan baru Winata Yoga. Apa lagi salah satu anak buah winata Yoga terlalu ikut campur dengan laju bisnis milik Adi putro. Musuh Winata Yoga itu dianggap melakukan perdangan illegal. Namun, selama ini Arsen tidak bisa menemukan bukti apa pun tentang semuanya. John yang akan selaku menjegal Langkah Arsen saat lelaki itu mulai masuk ke dalam urusan mereka.
Tidak segan-segan Adi Putro akan membunuh siapa pun yang berani ikut campur dengan urusannya. Meski hal itu menyangkut Winata Yoga sekali pun. Adi Putro tidak peduli. Setelah mendengar kabar kalau ada mata-mata menyusup. Adi Putro mulai mengosogkan gudang lamanya untuk mengelabuhi saat Arsen tahu seluk beluk tempat tersebut.
Adi Putro tidak mau ambil resiko. Ia memilih bersembunyi sesaat sembari menunggu keadaan semuanya normal. Aktivitasnya di pelabuhan sudah menjadi incaran Winata Yoga. Setidaknya Adi Putro akan focus dengan bisnis lainnya dan menunjukkan citra yang baik.
Kedua rekan Arsen berdiri. Semua tamu undangan di dalam ruangan keluar satu per satu. Mereka menyambut memberi penghormatan sedangkan Arsen masih duduk tersenyum. Winata Yoga menjadi barisan terkahir saat keluar. Kedua anak buah Arsen menyenggol lengannya, lelaki itu tidak menyadari jika Winata Yoga memperhatikan tingkahnya. Reno kembali menyenggol Arsen agar sadar dari lamunannya. Kepala pengawal itu langsung tersadar saat Winata Yoga berdehem di depannya. Arsen langsung beranjak dan menunduk memberi rasa hormat kepada Winata Yoga.
“Arsen, hari ini kamu bisa ikut saya makan malam dengan Pak Rahmat sekeluarga.”
“Baik.” Arsen mengangguk.
“lain kali jangan melamun. Jangan sampai lengah hingga membuat musuh menyerangmu kapan saja.” Winata Yoga langsung pergi dengan diikuti ajudan dan staffnya.
Kedua anak buah Arsen menyembunyikan tawa mereka. Baru pertama kali ini mereka mendengar Winata Yoga menegur Arsen secara langsung. Dan baru kali ini pula Arsen terlihat tdak begitu focus saat bertugas.
“Makanya, Bos. Jangan mikirin gadis cantik terus. Fokus, ya, harus focus!” Reno tertawa.
Arsen langsung memukul kepala Reno. Ia tahu jika anak buahnya itu tengah menyindirnya. Ia tidak ingin anak buahnya tahu kalau Arsen memang sedang membayangkan saat bersama Giselle. Arsen ternyata bisa merasakan yang Namanya cinta dan ternyata bisa tersenyum saat membayangkannya.
Lelaki yang berekspresi datar setiap hari dan terlihat keras, ternyata akan luluh dengan gadis manja seperti Giselle. Tidak ada yang tahu hubungan mereka, tetapi semua tahu tentang kedekatan Giselle dan Arsen. Mereka terlihat begitu dekat seolah memang tidak ada yang bisa menjauhkan mereka.
“Kembali bekerja!”
Reno langsung berjalan cepat menyusul teman satunya. Ia tahu Arsen pasti marah. Lelaki itu memang tidak ingin diganggu masalah pribadinya. Mobil milik Winata Yoga telah melaju keluar area parkir. Arsen dan kedua anak buahnya langsung masuk ke dalam mobil mengikuti mobil tuannya dari belakang.
Sepanjang perjalanan Arsen mengamati laju mobil yang dinamis. Ia merasa ada mobil yang mengikutinya dari belakang. Ia langsung menghubungi ajudan Winata Yoga untuk melewati jalur aktrnatif yang berada di pertigaan depan. Arsen berpikir mobilnya dengan Winata Yoga akan berpisah di lampu lalu lintas.
Winata Yoga akan belok kiri, sedangkan mobil Arsen sengaja berhenti tepat di depan lampu lintas untuk mengalihkan perhatian mobil di belakangnya. Arsen mengawasinya mobil belakangnya lewat kaca spion mobil memastikan jika mereka memang berniat jahat.
Setelah lampu berganti hijau, Reno langsung melajukan mobilnya lambat. Sementara mobil hitam di belakang mereka terus mengikuti.
“Sepertinya ada yang ingin bermain-main, Bos.” Reno mulai menyadari bahaya mengancam.
Arsen kembali menghubungi rombongan Winata Yoga memastikan keadaannya baik-baik saja. Arsen melaporkan jika dirinya tengah mengalihkan mobil yang diduga ingin menyerang Winata Yoga. Arsen langsung berpikir untuk membawa Winata Yoga pulang dan memeperketat penjagaan sementara Arsen mengalihkan mobil yang mengikuti.
“Reno, kamu mau pemanasan apa kita langsung hajar? Au tidak punya waktu banyak untuk meladeni mereka.”
“Sepertinya kita perlu main formula satu dulu. Di depan ada jalanan yang lengang. Aku yakin mereka akan menghadang kita.”
Reno langsung menambah kecepatan mobilnya. Lelaki itu memang mahir sekali dalam adu balap mobil. Reno adalah bekas pembalap daerah yang impiannya harus hancur karena pernah mengalami kecelakaan. Akhirnya saat putus asa ia bertemu dengan Arsen dan lelaki itu langsung merekomendasikan Reno sebagai salah satu anak buahnya. Keahliannya dalam mengemudi mobil sangat membantu saat Arsen harus menghilang secepat kilat dari kejaran musuh.
Mereka memang menjadi team yang handal saat melakukan pengintaian. Hanya saja Reno memang satu-satunya anak buah Arsen yang berani menggoda lelaki itu. Reno sangat paham betul bagiamana perlakuan Arsen kepada puteri tunggal Winata Yoga.
“Mereka masih mengikuti kita.” Arsen masih mengawasi dari kaca spion.
Mobil hitam di belakang masih mengikuti mereka. Menurut penglihatan Arsen ada sekitar empat orang dengan tubuh besar berada di dalam mobil.
“Sial!” Reno mengumpat. Lelaki itu hampir saja menabrak mobil yang sengaja berhenti di depan mobilnya. “Bos, kita harus bermain-main sebentar.”
“Setidaknya tanganku sudah terasa gatal untuk memukul mereka.”
“Keluar!” Satu lelaki berambut gondrong menggedor pintu mobil. Ia berteriak menyuruh Arsen keluar. Beberapa teman lainnya pun ikut mengepung. Mereka tidak memberi celah Arsen untuk kabur.
“Reno, Matew, siapkan diri kalian. Kita harus berolah raga sebentar.”
Arsen langsung membuka pintu mobil dan mendorong lelaki kurus yang berdiri di sampingnya. Satu awalan yang tidak terlalu buruk. Sementara kedua anak buahnya harus disambut dengan pukulan yang membuat mereka tersungkur. Beberapa orang lainnya langsung memukul Arsen serempak. Satu lawan tiga. Satu hal yang biasa bagi seorang Arsen.
“Berhenti atau aku bunuh kedua temanmu!” Satu suara yang sangat tidak asing muncul.
Haikal muncul dari dalam mobil dengan sikap sok gagah. Ia membawa sebuah kayu yang siap untuk menghantam tubuh Arsen dan teman-temannya. Mattew dan Reno berhasil dilumpuhkan dan Arsen harus berhenti memukul lawan saat melihat Haikal siap memukul kedua anak buahnya dengan balok kayu miliknya.
“Pecundang!”
“Ha ha ha …! Aku pernah bilang padamu, aku tidak akan melepaskanmu!” Haikal berjalan menuju arah Arsen. Ia memerintahkan anak buahnya semuanya mundur.
Lelaki pecundang itu bersiap mengayunkan kayu ke arah Arsen. Satu pukulan keras mengenai bahu Arsen dan lelaki itu hanya meringis merasakannya. Haikal merasa kesal karena pukulannya sama sekali tidak berpengaruh.
“Mati kamu!” Haikal kembali memukul lebih keras lagi.
Arsen langsung menangkis kayu di depannya dan memutar keadaan dan mengunci tubuh Haikal. Arsen membuang kayu dan menendang Haikal dari belakang hingga membuat pemuda itu tersungkur.
“Lepaskan mereka atau aku bunuh Haikal!”
Melihat Haikal dalam keadaan bahaya. Beberapa anak buahnya langsung melepas Reno dan Mattew. Mereka takut jika terjadi sesuatu pada Haikal. Mereka pasti akan bermasalah.
“Dia ini hanya pecundang! Seorang lelaki yang tidak pernah mau mengakui kesalahannya.”
Arsen menginjak punggung Haikal lebih keras lagi. Pemuda itu langsung meringis kesakitan karena tenaga Arsen sangat besar. Pemuda itu merasa marah karena perlakuan Arsen dan beberapa orang Winata Yoga yang memukulnya tanpa ampun. Haikal langsung tidak terima dan menyuruh beberapa orang-orang kepercayaan ayahnya untuk ikut dengannya.
Kedua orang tua Haikal belum tahu apa yang terjadi sebenarnya. Haikal hanya mengatakan jika Arsen dan anak buah Winata Yoga memukulnya habis-habisan tanpa alasan yang jelas.
“Katakan pada ayahmu! Jika dia tidak terima, cari aku di kediaman Tuan Winata Yoga. Aku akan menyambut kalian dengan sangat baik.”