Chapter 24

1204 Kata
Arsen dan kedua anak buahnya pulang dengan wajah penuh luka. Terutama Reno dan matew, kedua lelaki itu wajahnya penuh dengan luka lebam. Sedangkan Arsen hanya mengalami luka di bagian tangan dan bahunya sedikit sakit akibat pukulan kayu balok Haikal. Giselle yang meihatnya langsung panik dan menarik tangan Arsen. Ia tidak peduli ada papanya yang melihat tingkah Giselle yang berlebihan. Semua yang berada di teras hanya bisa melihat tanpa bersuara. Ny. Winata Yoga hanya tersenyum melihat reaksi Giselle. Sedangkan Winata Yoga masih tidak berekspresi melihatnya. Winata Yoga langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Reno langsung menjelaskan jika mereka di hadang sekumpulan preman suruhan Haikal. Reno juga menceritakan bagiamana cara Arsen membuat Haikal jera. Namun, ada hal yang membuat Reno takut. Ia takut jika orang tua Haikal tidak terima Arsen membuat tubuh Haikal terluka. “Aku sudah perkirakan sebelumnya. Haikal pasti tidak akan tinggal diam.” “Lantas, bagaimana jika kedua orang tua Haikal ikut campur?” Ny. Winata Yoga menebak kemungkinan buruk yang terjadi. “Itu akan menjadi urusanku. Haikal memang bersalah, sudah seharusnya dia bisa menerima hukumannya.” Winata Yoga bersikap keras. Ia sangat yakin orang tua Haikal akan mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Winata Yoga mengenal baik kedua orang tua Haikal. Mereka sudah berhubungan baik sejak lama. Dengan adanya kasus Haikal, Winata Yoga berharap tidak akan mempengaruhi hubungan baik mereka. Hanya karena salah paham kedua belah pihak seterusnya bermusuhan. Seperti yang terjadi di antara Adi Putro Dan Winata Yoga. Dua nama besar yang dulunya kawan dekat berubah menjadi musuh sampai kapan pun. Reno dan matew akhirnya memilih undur diri Keduanya memilih mengobati lukanya. Sementara Winata Yoga masih celingukan mencari keberadaan Giselle dan Arsen. “Udah, biarkan saja. Kamu tidak usah terlalu keras dengan Giselle.” Ny. Winata Yoga seakan paham apa yang ada di dalam pikiran suaminya. Wanita berwajah teduh itu menngandeng sang suami dan mencoba menenangkannya. Winata Yoga memiliki pemdirian yang keras, tetapi sang istri tidak ingin dengan sikapnya yang seperti itu justru membuat hubungan Giselle dan papanya tidak baik. Mereka berdua berhenti saat melihat Arsen dan Giselle berada di taman. Giselle terlihat sedang mengobati luka di tangan Arsen. Gadis itu terlihat sangat telaten membalutkan perban. Sedangkan wajah Arsen sangat terlihat jelas jika lelaki itu menyimpan perasaan sayang yang berbeda. Pandangan matanya menunjukkan begitu jelas perasaannya. Setiap yang melihat langsung bisa menyimpulkan jika keduanya tengah jatuh cinta. “Papa ingat saat berusaha memisahkan mereka?” Winata Yoga mengangguk. Ia masih mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Pemuda yang dipercaya Winata Yoga untuk menjaga Giselle malah membuat Giselle berada dalam bahaya. Haikal malah menjadi pemuda yang merendahkan harga diri Giselle. “Hanya Arsen yang bisa menjaga Giselle dengan baik. Papa harus akui itu. Tidak ada yang bisa mengendalikan anak gadis kita selalin kepala pengawal kita.” “Aku tahu itu, dan aku melihatnya. Hanya saja dia hanya seorang kepala pengawal.” Status dan kedudukan seolah masih menjadi hal yang diperdebatkan. Giselle adalah pewaris semua kekayaan milik Winata Yoga. Semua harta dan kekuasaan yang Winata Yoga punya akan jatuh ke tangan Giselle kelak. Butuh sosok lelaki kuat untuk membawa Giselle masuk ke dalam lingkar kekuasaan. Anak gadisnya memang harus menikah dengan salah seorang yang memeiliki kedudukan tinggi dengan kekuasaan yang tidak terbatas. Hal itu akan membuat Giselle semakin mempunyai kehormatan nantinya. “Apalah Arti kedudukan jika Giselle tidak menginginkannya?” “Giselle penerus kita. Dia mempunyai tanggung jawab besar.” “Semua itu tidak mengahruskannya menikah dengan lelaki kaya yang memiliki kekuasaan. Semua yang terjadi sekarang membuatku semapt miris. Hanya untuk merebut kekuasaan dan ambisi banyak nyawa yang harus berkorban.” Ny. Winata Yoga ingat betul pertikaian sang suami dengan Adi Putro telah mengabiskan berapa banyak nyawa tidak bersalah. “Itu sudah resiko. Bertahan atau dikalahkan!” “Aku tidak ingin Giselle berada di daam semua itu. Aku hanya ingin anak gadisku hidup dalam kebahagiaan bukan dalam ketakutan. Kebahagiaan itu bisa terlihat jelas datang dari Arsen.” Winata Yoga kembali mencerna perkataan sang istri. Ny. Winata Yoga memilih masuk ke dalam membiarkan Arsen dan Giselle berdua. Wanita itu tidak ingin mengganggu kedekatan mereka. Berbeda dengan Winata Yoga. Lelaki itu memilih duduk di ruang tengah dengan pandangan masih melihat ke arah Giselle dan Arsen. Lelaki itu harus benar-benar menimang semuanya, ia tidak bisa sembarangan melepas Giselle ke sebarang orang. Winata Yoga memang telah mengenal Arsen sangat lama. Bahkan ia sangat paham siapa Arsen dan bagaimana loyalitasnya kepadanya. Semua itu tidak diragukan lagi. Hanya saja Winata Yoga masih memikirkan tentang status social Arsen yang bukan siapa-siapa. Ia hanya seorang biasa yang menjadi orang kepercayaannya, tidak lebih. Sementara itu Giselle masih membalut tangan Arsen. Sesekali Arsen meringis karena Giselle sengaja membalutnya dengan kencang. Akan tetapi Arsen merasa sagat beruntung karena Giselle begitu perhatian dengannya. “Lain kali tidak usah sok jagoan. Beruntung uncle masih bisa selamat.” Giselle menempel plester pada akhir balutan. Gadis itu merapikan kotak obatnya. Melihat bibir Arsen berdarah membuat tangannya tidak sabar membersihkan bibir yang berdarah itu. “Kalau aku tidak melawan aku pasrti akan terluka.” Giselle mengambil kapas dan mengusap darah yang mengalir. Arsen sedikit meringis kesakitan karena perih. Bahkan Giselle sengaja menekannya karena melihat Arsen yang terluka karena berkelahi. Giselle paling tidak suka melihat Arsen terluka. Bahkan gadis itu terkadang rela ikut Arsen hanya ingin melihat bagaimana cara lelaki itu bertarung. Arsen memang lelaki sejati yang tidak pernah menggunakan akal licik untuk melumpuhkan musuhnya. Ia selalu menghadapi lawannya secara gentlemen. Ia tidak pernah melawan musuhnya dengan keroyokan. Arsen tampil sebagai petarung handal yang siap menjatuhkan lawannya. “Sakit …” “Kalau tidak mau sakit. Berhenti berkelahi!” “Kalau aku tidak seperti ini siapa yang akan melindungimu?” Arsen menahan tangan Giselle agar berhenti menyentuh bibirnya yang terluka. Gadis itu merasa kikuk karena Arsen melihatnya lekat. Ia hanya bisa menunduk dan tersenyum. Ia tahu Arsen melakukan semua itu karena dirinya. Arsen membelanya hingga harus berkelahi dengan Haikal hanya untuk kehormatan Giselle. “Jika suatu saat aku meminta uncle untuk berhenti bertarung apa uncle akan menurutinya?” Kedua mata itu bertemu. Permintaan Giselle terdengar begitu sulit. Hidup Arsen sudah sepenuhnya ia serahkan kepada Winata Yoga. Ia akan memberi nyawanya sekali pun untuk melindungi seluruh keluarga Winata Yoga. “Aku akan berhenti bertarung saat aku mati. Selagi aku masih bisa bernapas, seluruh jiwaku aku gunakan untuk melindungi kamu dan kedua orang tuamu.” “Uncle …” “Ststst, jangan pernah khawatir padaku. Itu hanya membuatku lemah. Aku hanya ingin kamu percaya padaku kalau aku bisa melakukan semuanya dengan baik. Aku tidak ingin melihatmu bersedih. Aku tidak mau melihatmu menangis saat aku harus terkapar lemah.” Mendengar hal itu Giselle malah menangis. Ia tidak mengira ucapan Arsen membuatnya menangis. Ada satu hal yang membuat Giselle merasa khawatir. Giselle adalah sumber kekuatan dan kelemahannya. Ada Namanya di setiap pikiran Arsen. Gadis itu takut dirinya hanya akan menjadi ancaman keselamatan Arsen yang sesungguhnya. Arsen mencoba menenangkan Giselle. Lelaki itu merangkul bahu Giselle memintanya melupakan apa yang Arsen katakana. Ia hanya berkata akan tetap berjuang hidup untuk dapat melindungi Giselle. Hal yang membuat Giselle dapat tersenyum. Kedekatan mereka diamati Winata Yoga dari kejauhan. Lelaki it uterus mengetuk meja dan menghentakkan kakinya. Ada keresahan dan kebingungannya. Melihat Giselle bahagia membuat Winata Yoga sangat senang. Namun, di sisi lain ia masih belum bisa menerima kedekatan mereka.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN