Chapter 25

1116 Kata
Giselle tersadar dari lamunannya. Flash back memori masa lalu membuat Giselle mengingat semua apa yang terjadi dengannya dan Arsen. Lelaki itu selalu mempunyai tempat khusus di hatinya. Giselle masih mengingat jelas masa-masa dirinya selalu mengikuti Arsen saat pengintaian, saat Arsen menghindarinya, cemburu, saat Giselle mulai berani menggoda Arsen hingga saat Arsen berani mengungkapkan perasaannya kepada Giselle. Semua masih tersimpan rapi di dalam setiap rekaman ingatan Giselle. Meninggalnya Arsen seolah begitu membekas. Giselle seharian masih mengurung diri di kamar dan mengenang kebersamaannya bersama Arsen. Gadis itu masih memeluk bonek pemberian Arsen waktu itu. Giselle belum makan apa pun sejak pagi. Hidupnya terasa tidak bersemangat sama sekali. Bahkan di saat pemakaman Arsen pun Giselle tidak bisa melihatnya. Padahal gadis itu ingin mengantar Arsen saat pembaringan terakhirnya. Beberapa hari ke depan pun sementara Giselle harus berad di dalam rumah. Selama Winata Yoga belum pulang. Seluruh anggota keluarganya tidak diijinkan keluar rumah di tempat mereka yang baru. Semua itu dilakukan untuk alasan keamanan. Setelah kematian Arsen belum tentu situasi menjadi aman. Hal itu justru akan menjadi celah musuh untuk menangkap Giselle ataupun Ny. Winata Yoga. Kematian Arsen seolah menjadi kabar gembira bagi seorang Adi Putro. Ia tidak perlu khawatir tidak ada yang ikut campur lagi dalam urusan bisnisnya. Karena Winata Yoga tidak ada apa-apanya tanpa Arsen. Hanya Arsen yang disegani beberapa lawannya. Hanya Arsen yang mampu membuat musuhnya lari terbirit-b***t saat lelaki itu menunjukkan keberingasannya. Keberadaan Arsen di dalam keluarga Winata Yoga membuat semua segan terhadapnya. Melihat putrinya yang belum juga turun, Ny. Winata Yoga masuk ke dalam kamar Giselle. Wanita itu sangat paham jika putrinya berduka. Ia membawa nampan yang berisi makanan. Ia khawatir kondisi kesehatan Giselle akan menurun karena tidak mau makan sejak pagi. “Giselle, kenapa tidak turun makan?” Wanita itu menaruh nampan berisis makanan di meja dekat tempat tidur. Giselle diam tidak menjawab. Gadis itu beranjak dari depan jendela. Hari yang terlihat gelap membuat Giselle baru sadar jika dirinya sudah seharian duduk di depan jendela. Dia tersenyum bernostalgia dengan Arsen. Giselle gembira karena Arsen datang dalam ingatannya meski hanya dalam bayangan. “Makanlah, kamu harus tetap sehat.” “Ma, uncle …” Giselle itu mengingat Arsen. Ia memeluk ibunya meluapkan semua tangisnya. Giselle merasa jika dirinyalah yang menyebabkan Arsen meninggal dunia. Ia yang menyebabkan Arsen tertembak saat lengah. Ia yang membuat Arsen tidak bisa focus. Hingga Arsen tertembak dan mati. Giselle tidak akan bisa berhenti menyalahkan dirinya terus-menerus karena memang dirinyalah penyebab semuanya. “Tenanglah, jangan seperti ini. Besok Papa akan mengajak kita keluar.” “Apa saat Papa akan mengajakku ke makan uncle?” tanya Giselle. “Giselle, itu tidak mungkin. Keadaan belum aman. Kamu jangan seperti ini.” “Ma, aku tidak peduli. Jika aku harus mati aku rela asalkan bisa melihat makan uncle.” “Giselle, jangan ngaco! Semua sudah takdir. Kalau kamu seperti ini, Arsen tidak akan pernah menyukainya. Ia tidak akan tenang, Arsen hanya akan bersedih melihatmu yang terus menerus menangisi kematiannya.” “Ma … Giselle rindu, Giselle ingin bertemu dengan uncle.” Giselle mengusap air matanya. Ia melihat foto Arsen yang terpajang di meja. Gadis itu membawa foto Arsen dari rumah lama agar selalu menemani Giselle meskipun Arsen sudah tidak ada lagi dan mustahil bisa kembali. Ny. Winata Yoga memeluk erat putrinya. Ia tahu putrinya tengah terguncang. Memeluknya erat pun tidak serta merta membuat Giselle lebih baik, tetapi setidaknya ia ingin merangkul Giselle dan menyadarkan gadis itu dari khayalannya. Arsen telah meninggal dan tidak mungkin kembali. Giselle harus melupakan Arsen untuk tetap menjalani masa depannya. Semua akan terasa sulit, tetapi dengan berjalannya waktu, Ny. Winata Yoga yakin Giselle pasti melewatinya. *** Giselle masih melakukan hal yang saat saat pagi hari. Ia memilih duduk di depan jendela kamar hingga senja tiba. Kepulangan Winata Yoga seolah bukan menjadi hal special bagi Giselle. Ia merasa marah karena sang ayahnya belum mau menunjukkan di mana makan Arsen berada. Ia kecewa karena ayahnya seolah menyembunyikan keberadaan Arsen. Winata Yoga berusaha menemui Giselle, tetapi berulang kali anak gadisnya menolak. Ia mengunci pintu kamarnya dan tidak mau bertemu dengan Winata Yoga. Gadis itu tidak peduli perutnya belum terisi hingga membuat koondisinya melemah. Berulang kali Winata Yoga mengetuk pintu kamar. Ia khawatir dengan keadaan Giselle. Hal yang sama saat Giselle marah kepada Winata Yoga saat tidak membiarkannya melihat Arsen untuk terkahir kalinya. Kini, gadis itu marjuk lagi karena sang ayah tidak mau menunjukkan makam Arsen. “Giselle! Ini Papa!” Winata Yoga mengetuk pintu kamar Giselle. Anak gadisnya masih tidak menjawab. Giselle memilih masih duduk dan tidak mau beranjak. Meskipun sang ayah mengetuk pintu kamar dan memanggil namanya berulang kali tidak akan membuat Giselle mau membuka pintu. “Giselle buka, sayang!” Winata Yoga tidak sabar. Ia takut Giselle pingsan di dalam kamar karena tidak menjawab panggilannya. Ia memanggil Reno untuk mendobrak pintu kamar Giselle. Lelaki itu berhasil mendobrak Pintu Giselle hingga membuat gadis itu terkejut. Melihat sang ayah begitu khawatir membuat Giselle memalingkan muka. Winata Yoga meminta anak buahnya untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Sedangkan Ny. Winata Yoga membiarkan sang suami dan anak gadisnya menyelesaikan masalah mereka. “Sayang, kenapa kamu harus seperti ini?” Winata Yoga mendekat. Melihat keadaan Giselle membuat lelaki itu semakin tidak tega. Rasanya ia ingin memberitahu putrinya tentang keberadaan Arsen di Amerika sekarang, tetapi ia tidak bisa. Ia tidak ingin sebelum semuanya siap, keberadaan Arsen diketahui oleh musuh. Terutama Adi putro, Winata Yoga terpaksa harus merahasiakannya terlebih dahulu. Prof. Ruizen memerlukan waktu yang cukup lama untuk membuat tubuh Arsen berfungsi dengan baik dengan bantuan Chips tersebut. Sebuah pekerjaan yang tidak bisa dianggap remeh, tetapi akan sangat berefek besar jika berhasil. “Papa pergi saja, aku hanya ingin sendiri.” “Giselle, Papa minta maaf, tapi jangan seperti ini.” Winata Yoga memohon. Giselle ada;ah anak satu-satunya. Winata Yoga begitu menyayangi putrinya. Ia mulai bisa menerima keberadaan Arsen di hati sang anak saat melihat kepala pengawalnya itu memang memiliki hati yang tulus untuk Giselle. Hingga saat keadaan Arsen tidak bernyawa pun membuat Winata Yoga berusaha agar lelaki itu masih bisa melindungi puterinya. Ia tidak ingin Giselle bersedih dan kecewa. “Di mana makan uncle, Pa. Aku ingin ke sana.” “Untuk apa? Suasana belum aman. Kamu dan mamamu harus bersembunyi setelah semua aman. Arsen tidak ada di sini. Papa belum bisa menemukan orang yang tepat untuk menggantikannya.” Winata Yoga beralasan. Tidak mungkin ia menunjukkan makam Arsen, karena selama ini tubuh Arsen berada di Amerika. “Pa, apa aku harus memohon?” “Giselle Papa yang memohon jangan seperti ini. Suatu saat Papa akan membawamu ke tempat Arsen berada, tapi bukan sekarang.” Giselle berusaha menerima, tetapi gadis itu rasanya masih berat. Ia harus melawan hatinya untuk bisa menerima semua kenyataan yang terjadi. Arsen telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN