Chapter 26

1312 Kata
Satu ruangan khusus digunakan Profesor Ruizen untuk memantau keadaan Arsen. Beberapa hari yang lalu sebuah chips yang deprogram telah dimasukkan ke dalama detak jantung Arsen. Untuk menunggu reaksi tubuh Arsen. Profesor Ruizen harus memantaunya 24 jam. Sebuah layar monitor besar terpampang di sebuah ruangan yang berbeda. Masing-masing mendapat tugas untuk memantau perkembangan Arsen. Tubuh Arsen harusnya bereaksi setelah 24 jam pemasangan chips tersebut. Namun, tubuh dingin itu tidak menunjukkan perkembangan yang bagus. Salah satu rekan professor Ruize agak takut jika misi mereka gagal. Ada kemungkinan tubuh Arsen memang tidak mau menerima benda asing di dalam tubuhnya, ada kemungkinan pula system di dalam chips tersebut belum sempurna dan membutuhkan waktu untuk bekerja secara menyeluruh. Setiap hari Winata Yoga selalu menelepon bagaimana perkembangan Arsen. Melihat keadaan putrinya, Winata Yoga merasa kehadiran Arsen akan membuat semua keadaan menjadi lebih baik. Winata Yoga pun merasa kehilangan pengawal terbaiknya. Meskipun dirinya pernah tidak menyukai hubungan Arsen dan Giselle, tetapi tidak membuat Winata Yoga menjelakkan kinerja kepala pengawal tersebut. Arsen adalah pengawal terbaiknya. Ia rela menyerahkan nyawa untuk tanggung jawab besar yang telah Winata Yoga berikan padanya; menjaga Giselle dan seluruh anggota keluarga Winata Yoga. “Anda tenang saja. Aku yakin misi kita akan berhasil. Hanya saja kami memerlukan waktu untuk melihat chips itu bekerja pada Arsen.” Profesor Ruizen melaporkan perkembangannya. “Saya sangat percaya kepada anda, Prof. Saya tidak tahu bagaimana saya harus berterima kasih.” “Kita sudah berteman lama. Kamu pernah menolongku saat saya bermasalah di Indonesia. Sudah sepatutnya saya menolongmu.” Profesor Ruizen adalah salah satu teman Winata Yoga saat mereka belajar di U.S.A. keduanya memang salah satu mahasiswa berprestasi. Setelah lulus dan menjalani kehiduan masing-masing, mereka masih berkomunikasi meskipun jarang. Saat Prof. Ruizen berkunjung ke Indonesia dirinya pernah bermasalah dengan pihak imigrasi dan Winata Yoga menolongnya. Prof Ruizen juga sering mengerjakan beberapa eksperimen yang dibiayai oleh satu Lembaga pengembangan di Florida. Prof. Roizen menjadi penanggung jawab semua proyek yang dikerjakan. Salah satu eksperimen yang sedang dikembangkan adalah sebuah chips yang bisa bekerja mengendalikan manusia. Awalnya eksperimen itu gagal karena kelemahan pada system yang membuat Chips tersebut tidak mamu berfungsi dengan baik. Perlu waktu dua tahunan Profesor Ruizen mengembangkan hasil percobaannya lagi. Namun, saat Winata Yoga menelponnya lelaki berkacamata itu berpikir bisa menggunakan Arsen sebagai uji coba pengembangan chipsnya. “Sebentar, saya melihat sesuatu.” Prof. Ruizen menjeda percakapannya. Ia melihat layar monitornya bergerak. Detak jantung yang terlihat kemah mulai muncul dan perlahan terlihat kuat. Prof. Ruizen merasa ada harapan besar chips-nya akan bekerja dengan baik. Satu awal yang baik dengan harapan eksperimennya berhasil. “Apa yang terjadi?” Winata Yoga penasaran. Ia mendengar temannya menyebutkannama Arsen berulang kali. “Kamu tenang saja, saya akan menelponmu kembali. Detak jantung Arsen mulai muncul. Ada kemungkinan tubuh Arsen bereaksi menerima chips di dalam tubuhnya.” Winata Yoga langsung senang mendengarnya. Ada harapan Arsen akan kembali. Ada harapan anak gadisnya mampu tersenyum lagi. Akhirnya Winata Yoga memutus panggilannya dan menunggu kabar baik dari Prof. Ruizen. Ia tahu jika prof. Ruizen tidak akan mengecewakannya. Ia sangat tahu bagaimana temannya itu bekerja. Meskipun Arsen tidak akan mengingat semua memori masa lalunya. Setidaknya lelaki itu bisa hadir untuk melindungi putrinya dari bahaya. Prof Ruizen langsung melihat tubuh Arsen di ruangan khusus. Hanya dia yang masuk dan lainnya hanya bisa mengamatinya dari ruang kendali. Ruangan Arsen harus benar-benar steril dan tidak boleh terlalu banyak orang. Seluruh kondisi tubuh Arsen diperiksa. Ada detak jantung yang mulai berdetak. Suhu tubuhnya perahan naik. Tubuh sedingin es itu mulai menghangat. Orof Ruizen mulai memeriksa mata dan rongga mulut Arsen. Semua mulai terlihat normal. Perlahan mata Arsen mulai terbuka. Satu keajaiban muncul membuat sang pencetus ide langsung senang. Ia berhasil membuat tubuh Arsen bekerja kembali seperti semula meskipun banyak kekurangan. Pandangan mata Arsen menatap lurus langit-langit. Jari-jarinya mulai bergerak dan melihat keadaan ruangan yang asing. “Si—apa a—ku?” Suara Arsen terdengar terputus-putus. Lelaki itu pertama kalinya mengeluarkan suara yang lemah. Prof. Ruizen semakin puas karena Arsen menunjukkan perkembangan yang sangat bagus. Ia tersu memantau system chips tersebut yang menunjukkan kecepatan pergerakan sitemnya secara menyeluruh. Semua system yang terhubungan dngan chips tersebut bekerja dengan baik. “Kamu adalah Arsen. Kamu orang hebat dan kamu orang kuat!” Prof. Ruizen menanamkan satu kalimat yang membuat Arsen akan merekamnya selamanya. Kalimat yang sangat berpengaruh dengan Arsen ke depannya. Ia akan selalu menganggap dirinya orang yang hebat dan kuat. Arsen adalah orang yang tidak akan terkalahkan. “A—ku hebat? Aku ku—at?” “Ya. Kamu hebat! Kamu kuat!” Kembali Prof. Ruizen meyakinkan Arsen. Lelaki di depannya kembali terdiam. Ia masih menatap langit-langit ruangan seolah bingung siapa sebenarnya. Prof. Ruizen membuat Arsen kembali tidak sadarkan diri. Ia cukup puas melihat perkembangan Arsen. Ia hanya ingin raga Arsen beristirahat lagi. Besok mereka akan mulai mengembangkan lagi banyak hal yang belum ada pada Arsen. Arsen kembali menutup matanya dengan jantung yang masih berdetak. Prof Ruizen meninggalkannya dan kembali berdikusi dengan team-nya. Mereka bisa merasa lebih lega karena beban pekerjaan mereka berkurang. Malam ini mereka bisa beristirahat dan bergantian menjaga Arsen. *** Perkembangan kemajuan Arsen membuat lelaki itu terlihat senang. Ia sengaja menyembunyikan dari semuanya. Hanya beberapa orang kepercayaannya yang tahu jika Arsen akan kembali lagi. Termasuk Reno. Selama Arsen tidak ada. Lelaki itu yang menjadi penanggung jawab semua pekerjaan Arsen. Hanya saja Reno tidak bisa mengendalikan Giselle. Gadis itu tidak ingin siapapun menggantikan peran Arsen. Meskipun Reno hanya mengawalnya saat pergi keluar atau ke kampus, Giselle menolaknya keras. Ia akan pergi ke kampus sendiri tanpa pengawalan. Reno hanya bisa mematuhinya dan menjaga Giselle dari kejauhan. Ia tetap menjalankan perintah Winata Yoga untuk mengawasi Giselle. Reno sangat paham apa yang terjadi antara Giselle dan Arsen. Ia pun memahami Giselle berbuat seperti itu karena memang belum bisa menerima seutuhnya kepergian Arse. Akan tetapi Reno juga tidak berhak memberi tahu apa yang terjadi pada Arsen di luar negeri. Ia bisa saja memberi tahu Giselle agar gadis itu senang. Namun, Reno tidak mau. Ia hanya ingin Giselle tahu dengan sendirinya dan bisa menerima apa yang akan terjadi saat Arsen pulang. Satu hal yang memang akan membuat Giselle kecewa adalah saat kembali ke Suarabaya. Arsen tidak akan mengingat siapapun. Ia hanya deprogram untuk menjadi sosok yang kuta dan berjiwa hero. Masalah percintaan bukanlah satu hal yang terdeteksi dalam system chips tersebut. Arsen akkan kembali seperti manusia pada umumnya. Hanya saja semua yang ada ada dirinya sudah terekam oleh system sebagai pengendali. Meskipun ada beberapa persen yang membuat Arsen masih memiliki rasa kemanusiaan sebagai makhluk social. Itu pun kemungkinannya sangat sedikit untuk muncul. “Reno, rahasiakan semuanya. Aku tidak ingin Adi Putro tahu Arsen akan kembali. Aku akan memberi kejutan pada mereka. Aku akan membuat mereka kelimpungan dengan kehadiran Arsen. Mereka akan menyesal telah memilih pertikaian dengan Winata Yoga.” “Baik.” Reno setuju. Ia siap mematahi semua perintah yang dikatakan Winata Yoga. “Bagaimana dengan Giselle di kampus. Dia masih tidak ingin dikawal?” “Masih sama. Nona tidak ingin saya mengawalnya. Saya hanya bisa mengawalnya dari kejauhan dan tetap membuatnya aman. Beberapa hari ini Nona sudah mulai berinteraksi dengan beberapa teman-temannya. Hanya saja …” “Ada masalah?” Winata Yoga kembali serius mendegar perkataan Reno. “Sepertinya anak bungsu Adi Putro menyukai Nona Giselle.” Reno agak ragu mengucapkannya. Ia takut Winata Yoga akan bereaksi sangat marah. “Giselle mengenalnya?” “Mereka satu kampus. Hanya berbeda jurusan saja, tetapi beberapa kali saya melihat pemuda it uterus mendekati nona. Sedangkan nona terus saja menolaknya.” “Rencana ap aini? Bisa saja semua itu Adi Putro biang keroknya. Sengaja memerintah anaknya untuk mendekati Giselle. Aku tidak akan membiarkannya. Arsen akan kembali dan akan membuat Adi Putro benar-benar jera.” Winata Yoga merasa Adi Putro sangat licik. Memanfaatkan anaknya untuk mencari kelemahan musuh. Winata Yoga tidak akan membiarkan anaknya jatuh cinta kepada orang yang salah. Keturunan Adi Putro selamanya tidak akan bisa masuk ke dalam keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN