Dua minggu dalam pantauan, Profesor Ruizen mulai melepas semua selang yang terpasang pada tubuh Arsen. Tubuh Arsen kini mulai bisa merespon system chips di dalamnya. Perlahan Arsen mulai bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Ia mulai bisa mengucapkan beberapa kalimat dengan benar.
Profesor Ruizen mulai melatih Arsen dengan Gerakan sederhana. Lelaki itu mampu meresponnya sangat baik. Arsen bisa terlihat seperti sedia kala melakukan aktivitas layaknya manusia lainnya. Tenaganya pun semakin kuat. Pandangannya seratus persen lebih tepat dan instingnya lebih kuat untuk mendeteksi keberadaan orang di sekitarnya.
Beberapa team ahli yang dikirim Winata Yoga mulai melatih Arsen untuk kembali menjadi kepala pengawal yang handal. Mereka menerapkan pelatihan secara khusus mulai dari bela diri, menembak dan kemampuan Arsen mengandalkan insting yang dimilikinya. Arsen mampu mengikutinya dengan baik.
Winata Yoga yang mendengar perkembangan Arsen semakin pesat sangat senang. Ia sudah tidak sabar memberi kejutan pada musuh bebuyutannya tentang kembalinya Arsen. Akhir-akhir ini Winata Yoga serigkali mendapat sindiran keras dari Adi Putro. Lelaki itu menyerukan kekuatan Winata Yoga mulai lemah. Bahkan Winata Yoga mendengar kabar jika Adi Putro mulai berkativitas kembali di pelabuhan untuk bisnisnya. Semua aktivitas illegal di gudang Adi Putro berjalan tanpa kendala. Winta Yoga tidak bisa berbuat apa pun karena tidak memiliki bukti yang kuat.
Sementara waktu, Winata Yoga memang mengalah dan membiarkan lawannya lengah. Akan tetapi, ia tetap memantau semua laju barang yang masuk dan keluar baik dari pelabuhan maupun Bandara. Winata Yoga hanya tidak ingin Adi Putro menaruh curiga dengannya. Ia akan membiarkan lelaki itu merasa menang hingga dia memiliki senjata ampuh untuk menjerat Adi Putro masuk dalam penjara. Sekembalinya Arsen akan membuat Adi Putro tidak bisa berkutik dan menyerah.
“Giselle, kamu mau berangkat ke kampus?” tanya Winata Yoga yang melihat penampilan putrinya tidak biasa.
Winata Yoga pikir Giselle mulai terbiasa dengan ketidak hadiran Arsen. Gadis itu terlihat lebih segar dengan sapuan make up natural dan lipstick berwarna pink yang melekat di bibirnya. Ia curiga Giselle akan pergi dengan lelaki.
“Ada janji dengan teman.” Giselle menjawabnya singkat. Gadis itu sedikit demi sedikit mulai mencari kesibukan di luar agar tidak terlalu ingat dengan Arsen.
Seringkali hatinya merasa sedih saat berada di rumah, terutama saat Giselle melihat boneka pemberian Arsen. Gadis itu hanya bisa menangis mengingat kebersamaannya dengan sang kekasih.
“Siapa?” tanya Winata Yoga sekali lagi. Ia hanya takut jika putrinya malah dekat dengan Anak adi Putro. Hal yang paling tidak diinginkan Winata Yoga.
“Teman, Pa.”
Giselle mulai jenuh dengan pertanyaan sang papa. Ia merasa hidupnya tidak bisa bebas seperti gadis lainnya. Gadis yang berada di semester akhir itu selalu merasa Winata Yoga selalu menganggapnya gadis kecil yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Ke mana pun Giselle pergi harus ada pengawal yang menjaganya. Hidupnya terlalu rumit hingga membuat Giselle merasa tidak bisa bebas menikmati masa mudanya seperti gadis lain umumnya.
“Biarkan Reno mengantarmu.”
“Tidak! Aku bisa pergi sendiri.” Giselle menolak.
“Giselle! Menurutlah. Papa tidak ingin sesuatu terjadi padamu.”
“Aku akan pergi sendiri tanpa Reno. Tidak ada yang bisa mengganti uncle!” Giselle langsung keluar rumah tanpa peduli larangan Winata Yoga.
Ia langsung membawa mobilnya pergi melesat keluar rumah. Ia tidak ingin ada yang mengikutinya. Giselle tidak mau menuruti permintaan sang papa. Semenjak tidak ada Arsen. Tidak ada satu pun pengawal yang berani mendekati Giselle. Gadis itu bisa bersikap kasar jika tidak sesuai keinginannya. Apa lagi Giselle memang tidak ingin menggunakan pengawal ke mana pun ia pergi.
Gadis itu tidak ingin ada yang menggantikan posisi Arsen sebagai pengawal sekaligus penjaga hatinya. Tidak ingin terlalu bersedih, Giselle langsung mengirim pesan kepada temannya untuk bertemu di tempat yang telah mereka sepakati.
Giselle dan dua teman gadisnya berencana bertemu di sebuah coffe shop untuk membahas tugas akhir kuliah mereka. Dua teman Giselle itu memang sengaja membuat janji karena ada seseorang yang memang ingin mendekati Giselle. Akan tetapi, Giselle tidak tahu jika pertemuan mereka memang telah diatur.
Giselle memang terbilang gadis yang menjaga pergaulannya. Bukan karena ia anak seorang pejabat ataupun penguasa. Giselle memang lebih suka berteman dengan beberapa orang daripada harus berteman dengan banyak orang, tetapi mereka sama sekali tidak tulus. Hanya memandang Giselle dari harta dan status Winata Yoga sebagai salah satu pejabat. Hal itu yang membuat Giselle tidak suka. Mereka hanya berpura-pura baik karena status social yang Giselle punya.
“Gladis, kamu di mana?” tanya Giselle. Ia sudah berada di depan coffe shop. Akan tetapi, Giselle belum melihat mobil kedua temannya terlihat.
“Kamu masuk aja dulu. Aku terjebak macet.” Suara gladis terdengar dari seberang.
Giselle setuju dan memilih masuk. Ia duduk sesuai dengan nomor meja yang dipesan Gladis. Ia lagsung memeilih minuman dan camilan sebelum kedua temannya datang. Setidaknya Giselle bisa bersantai sebelum kedua temannya datang.
“Boleh aku duduk?” seorang lelaki berpenampilan rapi datang menghampiri Giselle.
Lelaki itu termasuk jajaran lelaki tempan di kampus. Harta dan kekuasaan yang dimiliki sang ayah tidak main-main. Hal itulah yang membuat Marco, selalu mempermainkan setiap gadis yang diinginkannya. Hanya Giselle yang tidak mampu Marco taklukkan. Sejak masuk kempus pertama kali, Marco sudah memendam perasaannya, hanya saja Giselle tidak pernah memberinya kesempatan. Giselle tidak pernah membuka hati untuk lelaki lainnya karena kehadiran Arsen yang selalu menemaninya.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Giselle ketus. Ia tidak suka dengan kedatangan Marco.
Bagi Giselle Marco tidak ada bedanya dengan Haikal. Hal yang membuat mereka tidak sama hanya hubungan baik kedua orang tuanya. Marco adalah anak Adi Putro. Anak dari musuh bebuyutan Winata Yoga. Sedangkan orang tua Haikal mempunyai hubungan baik dengan Winata Yoga.
“Aku hanya ingin mengobrol denganmu.” Marco duduk dengan melepas sejuta pesonanya. Ia terlihat menunjukkan betapa besar kekuasaan orang tuanya.
Reno yang terus mengawasi Giselle menjadi khawatir saat Marco mulai mendekati sang nona. Ia hanya takut jika Winata Yoga akan marah besar jika tahu Giselle pergi bertemu dengan anak Adi Putro. Reno juga khawatir jika Gisselle terjerat dengan segala tipu daya Marco. Hal itu hanya akan membuat Winata Yoga semakin lemah di mata Adi Putro.
“Kalau tidak ada yang penting sebaiknya aku pulang.” Giselle mulai tidak nyaman. Marco memandangnya seolah penuh dengan nafsu. Lelaki itu terihat sangat berharap bisa meluluhkan hati Giselle.
Tangannya mencoba menyentuh tangan mulus milik Giselle. Akan tetapi, gadis itu langsung menghindar. Ia terlalu risih jika harus bersentuhan dengan lelaki seperti Marco
“Kenapa harus buru-buru? Kita bisa berbicara sebentar.” Marco menahan Giselle.
“Nona, sudah saatnya anda pulang.” Tiba-tiba saja Reno datang. Giselle merasa selamat dengan kehadiran Reno. Ia tidak perlu bersikap kasar dengan Marco untuk menolak.
Giselle tahu bagaimana watak Marco. Lelaki itu tidak akan peduli. Ia akan terus menerus mengejar semaunya.
Banyak gadis kampus yang menggilai Marco. Bahkan sebagian dari mereka selalu mendapatkan uang ataupun barang mewah pemberian Marco.
“Kamu mau bawa ke mana Giselle?”
“Nona harus pulang.” Reno menatap tajam Marco.
Anak buah Arsen tidak takut jika harus berduel dengan anak bungsu Adi Putro tersebut. Secara kemampuan Reno tidak akan kalah. Ia memilik dasar bela diri yang bagus. Selama ini ia belajar semuanya dengan Arsen, tidak heran jika Reno memiliki kemampuan beladiri yang baik.
“Giselle tidak mau pulang! Jangan paksa dia!” Marco langsung melepas tangan Reno.
Pemuda itu langsung menarik tangan Giselle hingga membuat gadis itu hampir terjatuh.
“Kamu tidak mempunyai hak membawa Giselle pulang!”
“Lepas!” Giselle menghentak tangan Marco.
“Giselle kita baru saja bertemu.”
“Aku tidak ada kepentingan denganmu!”
Gadis itu kesal dengan sikap Marco yang mulai sok berkuasa. Ia bahkan memaksa Giselle untuk tetap tinggal menemaninya. Reno terus saja berusaha melindungi Giselle. Marco terlihat menggulung lengan kemejanya dan bersiap memukul Reno. Giselle langsung menghadangnya, ia tidak ingin ada keributan yang sangat tidak penting menurutnya. Baginya, Marco terlihat seperti anak kecil yang menyombongkan kekuasaan dan kekuatannya.
“Jangan pernah muncul di depanku!”
“Giselle! Aku hanya ingin berbincang denganmu.”
“Kamu memilih orang yang salah.” Giselle langsung pergi. Ia menarik Reno pergi dari hadapan Marco.
Marco yang merasa direndahkan merasa kesal dengan sikap Giselle dan Reno yang terlihat perhatian dengan Giselle. Marco mengepal tangannya mengumpulkan segala rasa kesalnya.
“Aku akan buat perhitungan denganmu! Giselle jangan sampai kamu menyesal telah menolakku kali ini.”