Chapter 28

1413 Kata
Reno merasa tenang setelah memastikan Giselle sampai di rumah. Mengingat kejadian yang pernah terjadi pada gadis itu, Reno tidak ingin hal buruk terulang lagi. Ia teringat mendiang Arsen yang pasti akan sangat khawatir saat Giselle berada dalam masalah. Ia sebisa mungkin melakukan apa yang pernah Arsen lakukan. Winata Yoga memberi Reno tanggung jawab untuk mengawasi Giselle, sementara tigas luar untuk sementara hanya dilakukan beberapa pengawal yang biasa bersama Winata Yoga. Tidak ada tim khusus seperti Reno maupun Mattew yang terlibat. Sebisa mungkin Winata Yoga memang mengurangi kegiatan mereka sementara sampai Arsen kembali dari U.S.A. Lelaki yang biasa menemani Arsen itu terlihat sangat Lelah. Beberapa hari ia merasa kewalahan dengan sikap Giselle yang menolaknya keras. Kejadian hari ini membuat Reno berpikir. Arsen memang lelaki yang sangat sabar dalam menghadapi Giselle dengan seluruh sikap manjanya. Dua hari berhadapan dengan Giselle hampir membuat Reno menyerah. Ia lebih memilih bertarung melawan musuh daripada harus membujuk Giselle untuk pulang atau membujuk gadis itu agar tidak lepas dari pengawasannya. “Nona Giselle memang gadis yang sangat sulit ditaklukkan.” Reno bergumam. Ia masih berdiri memastikan Giselle sudah masuk ke dalam rumah dan tidak mengelabuhinya. Kehadiran Marco membuat Reno berpikir. Apakah Marco memang sengaja disuruh atau memang tidak sengaja bertemu di tempat umum. Reno sedikit banyak tahu tentang siapa Adi Putro. Apa lagi musuh bebuyutan Winata Yoga itu memang mengincar Giselle sebagai alat menjatuhkan Winata Yoga. Lelaki licik itu akan melakukan segala cara untuk semuanya. Salah satunya termasuk mencari kelemahan lawan. Reno mendapat satu pesan dari saudaranya yang berada di luar kota. Dalam pesan tersebut Reno diminta menjemput di pelabuhan. Saudaranya baru saja datang dari Kalimantan. Ia meminta Reno untuk datang menemuinya. [Aku akan mengirim titik lokasi padamu.] [Baik. Aku akan segera menjemputmu.] Mendapat kabar tersebut Reno sangat senang sekali. Hampir lima tahun ia tidak bertemu dengan saudaranya. Tanpa berpikir Panjang Reno langsung pergi dari kediaman Winata Yoga. Ia lupa memberi tahu siapapun jiak dirinya pergi keluar. Padahal segala aktivitas apa pun yang berkaitan dengan pelabuhan, Reno wajib melapor. Namun, lelaki tersebut mengabaikannya. Ia menganggap dirinya sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Tidak perlu meminta bantuan teman lainnya. Reno terus melajukan motornya menuju arah pelabuhan. Sepanjang perjalanan ponselnya berdering tiada berhenti. Reno menepikan motornya dan membuka pesan. Ternyata saudaranya mengirim titik lokasi di mana saudaranya Reno berada. Tanpa berpikir terlalu jauh. Reno langsung melihat peta daring tersebut dan langsung mengikutinya. “Lokasi ini tidak jauh dari sini.” Reno melihat lokasi yang dikirim. Lelaki itu sama sekali tidak ada perasaan curiga atau apa pun. Ia kembali melanjutkan perjalanannya. Arah lokasi saudaranya tiba-tiba menuju ke sebuah gudang yang letaknya tidak jauh dari dermaga. Reno merasa tidak asing dengan tempat tersebut. Tempat yang beberapa bulan ini menjadi satu tempat wajib bagi Reno. Semakin lama Reno semakin merasa aneh. Suasana tampak begitu sepi dan tidak menunjukkan keberadaan saudaranya. Ia memelankan laju motornya dan mengamati tempat itu sekali lagi. “Bukankah ini tempat persembunyian anak buah Adi Putro?” Reno terkejut menyadarinya. Ternyata Reno dijebak dan dirinya tidak tahu akan hal itu. Sebuah mobil berhenti mengadang laju motor Reno. Selang sebentar sebuah mobil ikut berhenti di belakang Reno. Lelaki itu langsung berhenti karena terkepung. Ia merasa hal buruk tengah menantinya. Ia kembali membuka pesannya dan melihat titik lokasi. Reno tengah berada di lokasi tersebut. Ia langsung menelpon nomor yang mengirim pesan. Memastikan jika keadaan sadaranya dalam baik-baik saja. Dering ponsel langsung bergema dari salah satu di antara mereka yang menghadang Reno. Mereka tertawa puas karena berhasil menjebak Reno. Setidaknya lelaki itu tidak bisa berkutik dari incaran mereka. Reno berusaha tenang, ia mencari cara agar bisa mencari celah untuk kabur. Tidak mungkin dirinya melawan orang sebanyak itu. Reno tahu bagaimana kemampuan orang-orang di sekitarnya. Tubuh mereka kekar dan membawa senjata. “Apa mau kalian?!” Reno memasang ancang-ancang turun dari motor. “Ha ha ha ha ha ha ….!!!” Bukannya menjawab mereka malah tertawa. Reno semakin paham jika dirinya ditipu. Lelaki itu merasa bodoh karena terlalu sombong dengan kemampuannya. Ia terlalu gegabah dalam menanggapi suatu hal. Harusnya ia memastikan dulu siapa yang mengiriminya pesan. Ia melupakan pesan yang pernah ARsen berikan padanya dalam menanggapi suatu keadaan. Arsen selalu berpesan tidak boleh gegabah dalam menanggapi sebuah pesan atau lainnya. Ia selalu menekankan jika mereka hidup dalam bahaya, setiap detik semua yang menghampiri mereka adaah tipuan dan bahaya. Harusnya Reno sadar jika bahaya juga bisa datang menemuinya. “Ini adalah upah untuk orang yang terlalu ikut campur dengan urusanku!” Tiba-tba Marco datang dari balik gerombolan orang yang menghadang. Lelaki itu tersenyum licik ke arah Reno. Ia seperti menyimpan dendam yang tidak berkesudahan. “Kamu?! Reno tidak mengira ternyata semua ulah Marco. Ayah dan anak ternyata sama saja. Mereka mempunyai akal licik untuk membalas rasa sakit hatinya. Marco merasa sakit hati karena Reno ikut campur tentang hubungannya dengan Giselle. Marco merasa Reno adalah penghalangnya untuk mendekati Giselle. Lelaki itu pernah mendengar dari beberapa teman Giselle jika gadis itu menjalin hubungan dengan pengawalnya. Dan Marco pikir pengawal itu adalah Reno. Ia berpikir harus menyingkirkan Reno agar tidak ada lagi yang mengganggu rencananya untuk mendekati Giselle. “Tidak usah terkejut. Nikmati saja keberadaanmu sekarang sebelum kamu mati!” Sebuah pukulan langsung mendarat. Marco memukul Reno di hadapan anak buahnya. Ia memang sengaja tidak menyuruh mereka memukul Reno. Marco hanya ingin berduel satu lawan satu. Ia tidak ingn di anggap pecundang. Hal yang paling penting, ia ingin mencoba sejauh mana kemampuan lelaki yang bisa mengikat hati Giselle. “Sial!” Reno mendesis. Ia tahu ia tidak mempunya celah. Anak buah Marco terlalu banyak. Reno berusaha tenang dan memikirkan cara untuk pergi. “Kenapa diam? Takut? Menyesal telah berurusan denganku? Ha ha ha ha!” Reni kembali tertawa. Tawanya terdengar nyaring dan diikuti semua anak buahnya. “Dasar pecundang! Kamu tidak pantas menjadi kekasih Giselle! Lelaki lemah!” Marco mengambil kayu yang dibawa anak buahnya dan langsung memukul bahu Reno dari belakang. Tubuh Reno langsung limbung dan hilang kendali. Reno tidak melakukan persiapapun apa pun untuk menghindar. Pikirannya kacau sehingga membuatnya tidak bisa berkonsentrasi. Reno berusaha bangkit dan melawan Marco. Akan tetapi dengan gesit lelaki itu langsung menendang d**a Reni hingga membuat lelaki di depannya jatuh sekali lagi. Marco menahan anak buahnya untuk tetap bediri di tempat masing-masing. Ia bisa mengatasi Reno sendiri tanpa bantuan mereka. Posisi Marco menang besar dari Reno. “Lemah!” Marco menekan punggung Reno menggunakan tumuan kakinya. Ia juga menekan mnggunakan balok kayu yang dipegang. Reno berusaha melawan, tetapi tenaganya terasa sia-sia. Dadanya terasa sesak karena tekanan dari Marko. Pandangannya mulai mengabur dan kepalanya terasa pusing. “Kamu tidak pantas untuk Giselle! Jangan pernah ikut campur! Aku tidak suka!” Marco sekali lagi menendang tubuh lemah Reno. Lelaki itu terlihat sangat brutal dengan aksinya. Ia memukul Reno berulang kali hingga dirinya puas melihat Reno yang semakin lemah tidak bisa melawannya. Marco merasa Reno bukanlah lawan yang seimbang untuknya. Hanya butuh waktu hitungan menit Marco berhasil melumpuhkannya. “Giselle, kamu harus menjadi milikku.” “Ja—ngan sentuh No—na Gi—selle!” Reno masih bisa bersuara. Ia tahu jika Marco bukanlah lelaki baik-baik. Hal itu bisa Reno lihat dari cara bagaimana Marco melihat Giselle penuh dengan nafsu dan ambisi. “b******k! Banyak bicara kamu! Enyah kau!” Marco memukul Reno sekali lagi. Ia merasa kesal mendengar Reno melarangnya. Ia tidak tahu siapa yang ia siksa. Marco tidak tahu jika pengawal yang dimaksud bukanlah Reno. Ia tidak tahu sosok Arsen yang selama ini menjadi pelindung Giselle kekuatannya jauh lebih dari Reno dan pengawal lainnya. “Sam—pai kapan—pun Nona Gi—selle tidak ak—an menjadi mi—li—k—mu!” Reno masih bisa mengelurakan sura. Ia sudah tidak bisa melawan atau kabur sekalipun. Marco tidak membiarkan Reno pergi dengan selamat. Rasa amarahnya telah menutupi akal sehatnya untuk bertarung secara sportif. Ia menggunakan kekuasaan ayahnya untuk membuat Reno tidak berdaya. “Eksekusi dia dan kirim tubuhnya kembali ke rumahnya!” Marco menendang Reno terakhir kalinya. Ia tidak ingin meninggalkan jejak atas kematian Reno. Marco tersenyum licik menyuruh beberapa anak buahnya untuk menghabisi Reno. Ia merasa puas karena lelaki yang berusaha melawannya mendapat ganjaran yang seimbang. Marco tidak perlu bersusah payah mengeluarkan banyak tenaga untuk menyingkirkan Reno. Setelah ini Langkah Marco untuk mendapatkan Giselle akan mudah. Tidak ada penghalang yang bisa menahannya untuk mendapatkan Giselle. Semua teman Giselle telah mendukungnya. Ia hanya perlu menaklukkan hati gadis manja itu dengan segala cara. Marco begitu menggilai kecantikan Giselle. Bahkan ia belum puas jika belum bisa menaklukkan gadis itu menjadi kekasihnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN