“Apa yang terjadi?!” Winata Yoga marah besar saat melihat mayat Reno terbujur Kaku.
Tubuh Reno penuh dengan luka lebam dan kepalanya bercucuran darah. Beberapa pembantu takut melihatnya. Mereka tidak tega melihat Reno mati mengenaskan. Beberapa pengawal Winata Yoga terdiam tidak berani menjawab. Keadaan terasa mencekam karena kematian Reno yang mendadak. Baru saja Winata Yoga menyuruh lelaki itu untuk mengawasi putrinya. Akan tetapi, Reno mendadak mati terbunuh dengan cara yang cukup sadis.
“Jawab! Kenapa Reno bisa mati terbunuh seperti ini? Siapa yang berani membunuhnya?!” Winata Yoga kembali meninggikan suaranya. Ia merasa terhina karena salah satu pengawalnya diperlakukan seperti itu.
Dia sangat yakin jika kematian Reno berhubungan dengan Adi Putro yang tidak lain memang musuh bebuyutan Winata Yoga.
“Kami tidak ta—hu. Kami ha—nya melihat satu unit mobil hitam berhenti di depan rumah dan membuang karung yang ternyata berisi tubuh Reno yang telah meninggal.”
Pandangan Winata Yoga menyorot tubuh Reno yang bersimbah darah. Ia yakin pembunuhan Reno bukan hal yang biasa. Pasti ada pihak yang memang sengaja memancing Reno keluar dan membunuhnya dengan cara keji.
Winata Yoga langsung meminta beberapa anak buahnya langsung mengurus mayat Reno dan menyiapkan acara pemakaman untuk Reno. Ia kembali berikir jika keadaan mulai tidak aman. Winata Yoga perlu mendesak Prof Ruizen agar segera mengirim kembali Arsen ke Surabaya. Winata Yoga membutuhkan kepala pengawalnya itu untuk melindungi semua bagian dari Winata Yoga. Ia juga perlu Arsen untuk membangkitkan kembali rasa percaya diri semua anak buahnya.
Semenjak Arsen meninggal semua anak buahnya merasa tidak mempunyai kekuatan. Mereka seolah menganggap tidak bisa berbuat apa-apa tanpa adanya Arsen bersama mereka. Tidak hanya Giselle yang merasa kehilangan, Winata Yoga dan anak buahnya pun merasakan hal yang sama.
“Maaf, kami sudah melihat rekaman CCTV beberapa jam lalu.” Salah seorang pengawal Winata Yoga memberi tahu apa yang dilakukan Reno sebelum keluar dari kediaman Winata Yoga.
Pengawal itu mengatakan jika Reno membawa Giselle pulang beberapa jam yang lalu. Setelah itu Reno tampak melihat ponselnya dan langsung bergegas keluar tanpa berpamitan dengan siapa pun.
“Giselle, di mana dia sekarang?”
“Nona sedang beristirahat.” Salah seorang pembantu menyahut pertanyaan Winata Yoga.
Salah seorang pembantu melihat Giselle datang. Ia mencoba bersikap sewajarnya agar Giselle tidak menaruh curiga. Ia juga memberi kode yang lain bahwa Giselle tengah turun.
“Ada apa, Pa?” Giselle turun dengan wajah penuh tanya. Ia merasa Namanya disebut dan keadaan terlihat sedang serius.
Giselle melihat bekas darah yang tertinggal di lantai dan beberapa anak buah Winata Yoga yang masih tertinggal memasang wajah tegang. Giselle beralih melihat para pembantu yang berdiri di belakangnya. Gadis itu seolah bertanya apa yang sedang terjadi. Kenapa semua orang terlihat suram dan sang papa tampak marah.
“Siapa yang meninggal?” tanya Giselle lemah.
Melihat bekas darah membuat Giselle teringat dengan kejadian yang menimpa Arsen. Ia merasa kehidupan keluarganya tidak tenang dan penuh dengan ancaman. Semua karena jabatan sang papa yang membuat kehidupan merek tidak bisa tenang.
Kekuasaan membuat setiap orang melupakan arti sebuah kebahagiaan. Hanya demi sebuah ambisi hingga melupakan perdamaian dan mementingkan keegoisan.
“Pa, siapa yang meninggal?” Giselle kembali bertanya. Kali ini bertanya kepada Winata Yoga.
Giselle sangat paham jika ayahnya pasti tahu semuanya. Hal terburuk yang terjadi pasti ada sangkut pautnya dengan sang papa. Semua permusuhan, kekacauan yang terjadi memang bersumber dari Winata Yoga. Terkadang, Giselle merasa jenuh dengan semuanya, tetapi ia tetap bisa lari dan bersembunyi begitu saja. Sepeninggal Arsen, Giselle berusaha mengubah sikapnya. Ia tidak ingin terus-terusan hidup bergantung dari kekuasaan sang papa. Hal itulah yang membuat Giselle tidak ingin dikawal oleh siapapun selain Arsen. Karena Giselle tidak ingin yang lain celaka hanya karenanya.
“Pa, jawab Giselle! Siapa yang meninggal? Kenapa harus seperti ini lagi? Giselle Lelah dengan semuanya. Kenapa harus ada yang meninggal?” Gadis itu merasa miris.
Hidup di antara bahaya yang setiap saat mengancam. Setiap hari ada saja salah satu anak buah sang papa yang meninggal. Belum lagi kabar buruk lainnya tentang bisnis Winata Yoga yang mulai terancam. Semua itu terasa seperti roller coaster yang terus berputar dan membuat ketakutan.
“Kamu tidak perlu tahu. Semua sudah beres,” jawab Winata Yoga singkat. Ia tidak ingin Giselle merasa khawatir dan bersalah karena kematian Reno ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Winata Yoga tidak ingin membuat Giselle kembali histeris dan mengrung diri di kamar lagi. Ia cukup bahagia melihat Giselle yang mau beraktivitas dan pergi ke kampus tanpa Arsen. Hanya saja Winata Yoga merasa tidak tenang setelah mendapat kabar dari Reno jika anak bungsu Adi Putro menyukai putrinya. Ia yakin jika Giselle tidak akan tertarik dengan lelaki tersebut. Namun, Ia tidak yakin dengan anak bungsu Adi Putro. Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Sebuah perumpaan yang sangat tepat diberikan kepada Marco.
“Pa, kenapa harus seperti ini? Kenapa harus ada korban yang setiap hari berjatuhan? Apa Papa enggak Lelah dengan semuanya? Giselle capek, Pa, capek.”
Anak gadis Winata Yoga merasa jenuh dengan keadaan suram setiap harinya. Mungkin sekarang anak buah Winata Yoga yang celaka. Bisa juga Giselle atau mamanya yang akan mati terbunuh karena ambisi dua kubu yang tidak mau mengalah.
“Kamu tidak tahu apa yang terjadi! Papa selama ini bertahan untuk melindungi semuanya. Kamu tidak tahu betapa keras pperjuangan Papa untuk semua itu. Kamu pikir Papa senang melihat kematian Arsen? Kamu pikir Papa juga akan tinggal diam melihat satu per satu anak buah Papa meninggal? Tidak! Papa akan terus mengejar siapa yang telah membunuh Reno dan semuanya!”
“Reno?” Giselle langsung terkejut mendengarnya.
Reno adalah pengawal yang dikirim Winata Yoga untuk menjaganya. Bahkan Reno baru saja menolongnya dari gangguan Marco. Giselle kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu yang masih sangat teringat jelas. Marco dan Reno tampak begitu sengit. Pandangan keduanya seolah menyiratkan ketidaksukaan.
“Kamu bertemu dengan siapa?” Winata Yoga kembali bertanya. Ia tahu kematian Reno pasti ada hubungannya dengan Giselle.
“Bukan urusan Papa!” Giselle mencoba menyembunyikan fakta. Ia tahu jika Giselle mengatakan kebenarannya, sang papa tidak akan membiarkan Marco.
Semua tidak akan pernah selesai jika terjadi saling menyerang. Giselle berpikir akan bertemu dengan Marco dan berbicara. Sepertinya Giselle memang harus melunak dan membuat Marco mau mengakui semuanya.
“Giselle jangan gegabah! Kamu tahu keselamatanmu dalam bahaya. Reno telah mati terbunuh, perlahan mereka juga akan membunuhmu!”
“Sampai kapan, Pa? Sampai kapan akan seperti ini terus. Kematian bukan hal yang menakutkan. Aku rela mati jika semua perseteruan ini berakhir!”
Reflek Winata Yoga langsung menampar Giselle. Lelaki itu tidak ingin anak gadisnya mati terbunuh karena permusuhannya. Ucapan Giselle membuatnya takut jika semua itu akan menjadi kenyataan. Gadis itu sumber kekuatannya, ia tidak ingin seorang pun menyentuh Giselle dan membuat anak gadisnya terluka.
“Pa, Giselle rela berulang kali Papa menamparku. Asakan jangan mengorbankan kematian orang lain. Kasihan, mereka punya keluarga. Mereka punya anak dan istri yang menunggu mereka pulang. Sama halnya dengan papa. Aku dan Mama selalu menunggu Papa pulang dengan selamat.”
Giselle mulai merendahkan suaranya. Ia memberi kode pada semua anak buah Winata Yoga untuk pergi. Mungkin mereka terkejut melihat Sang tuan yang menampar putrinya sendiri. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahannya. Mereka hanya bisa diam dan melihat kejadian di depan mereka dengan miris.
Semua yang dikatakan Giselle memang benar. Beberapa pengawal Winata Yoga ada yang menggantungkan kehidupannya dari menjadi pengawal Winata Yoga. Setiap bulan keluarganya akan menunggu mereka pulang. Hal yang paling membuat sesak Giselle adalah saat kematian anak buah Winata Yoga yang tragis. Pihak keluarga tidak pernah tahu mereka meninggal karena apa. Mereka hanya diberi santunan dan menghadiri pemakamannya tanpa melihat jasad mereka.
Sungguh hal yang sangat tragis bagi Giselle. Ia juga merasakan hal yang sama saat Arsen meninggal. Ia tidak mendapat kesempatan untuk bertemu Arsen sebelum sang kekasih dimakamkan. Bahkan, Giselle sendiri tidak tahu di mana makam Arsen berada.
“Pa, Giselle akan menyelesaikan masalahnya sendiri. Aku tidak ingin ada kekerasan lagi. Cukup Reno yang akan menjadi korban. Tidak akan ada korban lainnya.”
“Jangan gegabah! Kamu tidak tahu berhadapan dengan siapa? Mereka semua licik. Kamu tidak mempunyai kekuatan untuk melawannya.” Winata Yoga semakin tidak mengerti apa mau Giselle.
Anak gadisnya itu terlalu berani untuk mengorbankan nyawanya. Padahal harusnya Winata Yogalah yang harus berurusan dengan pembunuh Reno.
“Giselle tidak akan pernah takut. Yang terpenting setelah ini, tidak ada lagi pembunuhan lagi.”
Giselle langsung pergi meninggalkan Winata Yoga. Gadis itu menaiki tangga menuju kamarnya. Dalam hatinya menyimpan sejuta kecewa dan luka. Bekas tamparan Winata Yoga masih terasa panas. Gadis itu pun tidak menyesal dengan semuanya. Ia hanya bertekad akan mencari tahu siapa pembunuh Reno. Giselle merasa harus bertanggung jawab dengan semuanya. Apa yang terjadi pada Reno karena Marco yang cemburu dan kesal karena Reno telah menghalangi niatnya untuk mendekati gadis pujaan.
“Aku harus menemui Marco besok. Aku tidak akan membiarkannya melakukan hal yang ia inginkan seenaknya!” Giselle masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya. Ia menarik napas kuat untuk mengumpulkan kekuatan. “Andai saja Uncle Arsen masih ada, semuanya tidak akan seperti ini.”