Sepulang mengunjungi makam Reno, Giselle tidak mau membuang waktu berdiam diri di kamar lebih lama. Gadis itu merasa miris saat melihat keluarga Reno menangis histeris karena tidak bisa melihat jenazah Reno terkahir kalinya. Hanya orang-orang tertentu dari pihak Winata Yoga yang bisa melihatnya.
Giselle pun tidak diizinkan Winata Yoga untuk melihatnya. Papanya beralasan semua itu memang sudah sesuai prosedur perjanjian awal saat Reno mulai memutuskan bekerja dengan Winata Yoga. Hal itu pun berlaku untuk semuanya. Bekerja dengan Winata Yoga sama saja menantang bahaya. Maut bisa kapan saja menjemput. Hanya saja Winata Yoga tidak akan lepas dari tanggung jawab jika suatu saat anak buahnya ada yang meninggal atau celaka. Lelaki itu akan memberi tunjangan kepada keluarga yang ditinggalkan. Semua sepadan dengan pengabdian anak buahnya yang besar kepadanya.
Wanita tua yang memeluk nisan Reno menangis tergugu melihat makam sang anak. Ditemani dua orang gadis kecil, wanita itu terus saja menangis. Dari kejauhan Giselle sangat yakin, ibu dan adiknya Reno pasti belum bisa menerima semua kenyataan yang begitu cepat. Uang santuna dari Winata Yoga sebesar apa pun tetap tidak akan bisa menggantikan kehadiran Reno. Mereka tetap akan memilih Reno kembali bersama. Hal yang pernah Giselle alami saat kehilangan Arsen.
Butuh cukup waktu untuk membuat Giselle mengerti dengan takdir Tuhan. Gadis itu mulai tahu tentang konsep kehidupan. Semua yang ada di dunia tidak akan abadi. Perlahan semua akan mati pada waktunya. Hanya saja waktu yang akan membedakannya.
“Uncle, aku merindukanmu. Aku saja tidak tahu ke mana harus mengunjungi makamu.” Giselle berdesis pelan.
Giselle berdiri di depan cermin menatap lurus wajahnya. Ia meyakinkan dirinya untuk tidak takut berhadapan dengan Marco. Ia telah bertekad mencari keadilan untuk Reno. Melihat ibunya Reno menangis membuat Giselle tidak tega. Ia tidak ingin Marco terlepas begitu saja dari perbuatannya. Ia bahkan berjanji akan membuat Marco menyesal karena telah menyentuh salah seorang pengawal ayahnya.
Masih teringat jelas pesan dari Arsen; lelaki itu menginginkan Giselle bisa mandiri dan tidak pernah membuat ulah. Kali ini Giselle akan membuktikannya. Ia tidak akan takut dan menghadapi Marco. Ia memang sengaja tidak memberi tahu siapapun tentang pertemuannya dengan Marco. Hal itu bertujuan agar masalahnya tidak semakin rumit. Giselle tahu permusuhan kedua orang tua mereka. Bahkan gadis itu tahu kalau marco adalah anak dari musuh bebuyutan papanya sejak dulu. Hal itulah yang menjadikan Giselle menyembunyikan semuanya. Ia yakin papanya akan marah besar jika tahu anak bungsu Adi Putro mencoba mendekatinya.
Berulang kali Winata Yoga mencoba membujuk anak gadisnya untuk mengatakannya, tetapi Giselle menolak. Ia tetap pada pendirian awalnya. Ia tidak ingin melibatkan Winata Yoga atau lainnya. Gadis itu mengambil wait bag miliknya. Jaket hitam menjadi pelengkap penampilannya. Ia mengikat semua rambutnya ke belakang agar terlihat lebih rapi.
Gaya berpekaian Giselle yang hampir mirip agen mata-mata CIA membuat gadis itu tersenyum. Ia sudah berpenampilan layaknya professional, tetapi ada senyum getir yang muncul saat melihat bayangan dirinya di depan cermin. Warna hitam adalah warna favorit Arsen. Jaket hitam, kacamata hitam, topi hitam dan Giselle memakai semua itu. Bayangan Arsen semakin tidak mau menghilang. Giselle berusaha melupakannya, tetapi sikap dan kelembutan lelaki itu tak akan pernah bisa Giselle lupakan. Raga mereka memang tidak bisa bersama, tetapi Giselle tetap menyimpan satu nama itu di dalam hati.
“Uncle, kali ini aku akan tunjukkan kalau aku bukanlah gadis manja yang merepotkan.”
***
Satu pesan langsung terkirim. Giselle menarik napas panjang menata hatinya. Ia sengaja baru mengirim Marco pesan agar mempunyai jeda waktu yang banyak sembari kedatangan Marco. Beberapa menit yang lalu Giselle sempat menelepon Gladis. Ia hanya ingin bertanya tentang janji mereka yang kemarin.
Giselle menaruh curiga jika kedatangan Marco atas ikut campur tangan kedua temannya itu. Pasalnya Gladis tidak bertanya sama sekali saat Reno membawa Giselle pulang. Ia merasa kesal dengan mereka malah seolah menjadi mak comblang hubungan Giselle dan Marco. Padahal Giselle sama sekali tidak tertarik dengan lelaki sok seperti Marco.
Berulang kali Gladis membujuk Giselle agar mau memberi kesempatan kepada Marco untuk mendekat. Menurut Gladis, tidak salahnya jika Giselle memberi Marco kesempatan. Toh Giselle bisa mengambil keuntungan dari Marco.
Giselle kembali berpikir tentang pembicaraannya dengan Gladis, rasanya apa yang dikatakan Gladis memang benar. Ia bisa memanfaatkan Marco untuk kepentingannya. Giselle tidak akan bisa langsung memaksa Marco untuk mengakui perbuatannya kepada Reno. Namun, ia bisa menggunakan tipu muslihatnya untuk menjerat Marco ke dalam perangkapnya.
Satu permainan akan Giselle mainkan penuh dengan Resiko. Ia tidak tahu siapa yang akan ia hadapi. Anak bungsu Adi Putro yang terkenal selalu mempermainkan wanita. Tidak ada yang bisa menolak pesonanya, tetapi tidak akan ada yang bisa menghindari amukannya.
Marco terkenal sangat kejam dan tidak akan memberi ampun kepada orang yang dianggapnya sebagai pengganggu. Hal itu sudah ia lakukan pada Reno. Menurut Marco lelaki itu mengganggu kesenangannya dengan Giselle. Sebagai balasannya, Marco tidak akan membiarkan Reno lolos.
Giselle tetap harus berhati-hati dan jangan sampai membuat Winata Yoga mengetahuinya. Smeua rencananya akan gagal jika sang papa tahu apa yang Giselle lakukan. Pria itu pasti akan melarangnya karena tidak ingin putrinya terjerat dengan permainan konyol yang Giselle sendiri ciptakan. Setidaknya Giselle juga bisa membantu sang ayah untuk melancarkan misinya mengetahui seluk beluk bisnis Adi Putro yang terselubung. Sedikit banyak Giselle telah paham dengan semunya. Arsen banyak berbicara saat mereka bersama. Beberapa kali Giselle ikut dalam pengintaian dan membuat gadis itu sedikit banyak tahu tentang misi Arsen kepada Adi Putro.
Ia pikir sudah saatnya melanjutkan perjuangan Arsen dan membuat papanya bangga memiliki anak seperti Giselle. Ia juga ingin menunjukkan pada Winata Yoga jika dirinya bukanlah biang masalah seperti yang selalu Winata Yoga katakan kepadanya.
“Hai, sayang, sudah lama menunggu?”
Marco datang dengan senyum yang ramah. Lelaki itu terlihat seolah sama sekali tidak merasa bersalah. Dengan santainya Marco mencoba mencium pipi Giselle. Akan tetapi, gadis itu langsung menghindar. Ia tidak terbiasa bersentuhan dengan lelaki lain selain Arsen. Apalagi dengan Marco. Meskipun Giselle mencoba menjeratnya, bukan berarti Marco bisa bebas melakukan apa saja kepadanya.
“Ops maaf. Aku hanya reflek.” Marco paham apa yang diinginkan Giselle.
Gadis di depannya itu memang tidak seperti gadis yang biasa berkencan dengannya. Giselle termasuk gadis istimewa yang bisa dipastikan keperawanannya. Marco tahu akan hal itu. Giselle jarang terlihat bersama lelaki lain. Satu-satunya lelaki yang pernah bersama Giselle hanyalah Arsen. Marco merasa lelaki itu mempunyai peran penting. Baginya Arsen hanyalah seorang pengawal yang terlalu ikut campur dengan kehidupan Giselle. Tanpa menyentuh Arsen, lelaki itu telah meninggal dengan sendirinya oleh tangan Adi Putro sang ayah. Sedangkan Reno, hanya sekali jentik langsung meninggal. Marco tidak membutuhkan banyak tenaga untuk menyiksanya.
“Aku membuat janji denganmu bukan berarti kamu menganggapku sepert gadismu yang lain.”
Giselle masih menjaga sikapnya. Ia tidak serta merta langsung bersikap baik untuk menarik perhatian Marco. Ia masih bersikap seperti biasa agar tidak membuat Marco curiga kepadanya.
“I am so sorry.”
“Kamu buat perjanjian apa dengan Gladis?”
“Gladis?”
“Iya, kalian sengaja membuatku bertemu denganmu, kan?”
Marco menahan tawanya. Ia merasa Giselle mulai mau membuka hati untuknya. Tidak biasanya Giselle bersikap baik dan mau berbicara Panjang lebar dengannya.
“Tumben kamu mau menemuiku. Mana pengawalmu yang resek itu?” Marco berlagak masa bodoh.
“Reno? Dia menghilang. Aku juga tidak tahu ke mana dia.” Giselle menutupi kematian Reno.
Gadis itu berlagak seolah tidak tahu apa-apa tentang Reno. Setidaknya ia ingin melihat ekspresi Marco. Giselle melihat lelaki di depannya terihat biasa. Marco sangat pandai menutupi alibinya.
“Ada yang salah?” Merco menerka apa yang Giselle pikirkan. “Kamu berubah pikiran untuk menerimaku?” tanya marco menggoda. Ia menangkap sinyal-sinyal baik mendekatinya. Ia yakin sebentar lagi, Giselle akan takluk dengannya.
“Kamu pikir segampang itu mendapatkanku?”
“Baiklah, kita lihat saja.” Marco tersenyum. Wajah cantik Giselle membuatnya semakin tidak bisa melepas begitu Giselle. Ia bertekad akan membuat gadis itu menjadi miliknya.
Mereka masih melanjutkan obrolan mereka menjadi lebih dekat. Giselle mulai terbiasa dengan pola ritme percakapannya dengan Marco. Semua itu ia lakukan demi sebuah misi rahasia yang ia jalankan sendirian. Tidak peduli dirinya masuk ke kandang singa. Giselle hanya bisa berharap bisa membuat arwah Reno tenang di alam sana.