Chapter 31

1127 Kata
Arsen duduk memandangi botol minuman di depannya. Pandangannya lurus dan tajam. Beberapa jam yang lalu ia berlatih ketangkasan untuk melatih kekuatan tangan dan kaki. Sebagai seorang pemula, Arsen cukup cepat menguasai semuanya. Hal ini memang dikarenakan sebelumnya Arsen memang seorang petarung yang handal. Tidak sulit baginya untuk menyesuaikannya meski dengan jiwa yang baru. Profesor Ruizen datang menghampiri Arsen. Lelaki berkacamata itu duduk dan mengajak Arsen berbicara. Winata Yoga menelepon Ruizen agar segera mengirim kembali Arsen ke Surabaya. Sebelumnya Arsen memang harus benar-benar siap untuk kembali bertarung. Prof. Ruizen harus memastikan keadaan tubuhnya sudah stabil dan Arsen bisa kembali menjalani aktivitasnya layaknya manusia umumnya. “Kamu sudah siap?” tanya Prof. Ruizen. Semangat bertarung Arsen memang sangat besar. Ia bahkan mampu melumpuhkan team khusus yang melatihnya dalam satu hentakan. Jiwa petarungnya masih sangat terasa. Hanya saja satu hal terjadi di luar kendali. Arsen terlihat kehilangan kendali saat ada salah satu team menyerang Arsen dan membuatnya marah. Arsen tidak kenal ampun langsung menghajarnya habis-habisan tanpa ampun. Hampir saja seseoarng tersebut meninggal karna kebrutalan Arsen. Beruntungnya orang itu masih diselematkan dan Arsen bisa kembali stabil seperti biasa. Sebenarnya Arsen masih butuh waktu beberapa minggu lagi untuk membuat kondisi emosinya stabil. Akan tetapi Winata Yoga sudah tidak bisa menungggu lagi. Semua keadaan terasa kacau setelah kepergian Arsen. Kepala pengawalnya itu terasa memiliki peran yang sangat penting bagi Winata Yoga. Kepergian Arsen seolah membuat semua lajunya menjadi lemah. Seorang Reno pun tidak bisa menggnatikan Arsen. Lelaki itu justru malah meninggal karena ketidak hati-hatiannya dalam bertindak. Belum lagi sikap Giselle yang seringkali menentang Winata Yoga. Giselle lebih suka banyak menghabiskan waktu di luar. Winata Yoga tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Giselle terlihat samgat misterius. Gadis itu tidak banyak bicara dan bercerita apa yang tengah dilakukannya. Winata Yoga mencoba meminta salah satu anak buahnya untuk mengawasi Giselle dari jarak jauh. Mereka melaporkan jika beberapa kali Giselle bertemu dengan seseorang lelaki di kampus dan kafe. Menurut laporan mereka Giselle dan lelaki tersebut hanya berbincang biasa dan tidak melakukan aktivitas yang mencurigakan. Winata Yoga merasa lega, tetapi tetap saja membuatnya tidak tenang karena Giselle berada di luar pengawasannya. Ia tidak bisa memantau anak gadisnya setiap saat. Bahkan Giselle memberi peringatan keras agar tidak mengirim pengawal untuk mengawalnya. Hal itulah yang membuat Winata Yoga harus segera bertindak dan meminta Arsen untuk segara kembali. Ia yakin semuanya akan kemabli stabil saat Arsen bersamanya. Ia sangat yakin Giselle pasti akan menerima kembalinya Arsen dan semua laju Winata Yoga menjadi aman terkendali. Semua anak buahnya akan memiliki kepercaaan diri lagi dengan kembalinya Arsen. Semua akan kembali seperti biasa. Winata Yoga tidak akan dianggap remeh dan pembunuh Reno akan terungkap dengan sendirinya. “Saya harus pulang?” tanya Arsen. “Ada tugas khusus yang harus kamu kerjakan.” Profesor Ruizen menjelaskannya. Dengan terpkasa ia memang harus melepas Arsen. “Apa pekerjaan saya?” “Kamu adalah seorang petarung yang hebat. Kamu mampu menhabisi lawan dalam hitungan detik. Kamu adalan Arsen. Seorang kepala pengawal Winata Yoga.” Prpofesor Ruizen mulai menjelaskan siapa Arsen. Setidaknya hal itu akan tertanam di dalam system chips dan terekam dengan bagus di dalamnya. Arsen tampak berpikir. Mendengar satu nama asing yang menjadi tuannya. Ia merasa ada keterikatan dengan nama itu, tetapi ia sendiri tidak tahu pasti apa hubungannya. “Winata Yoga?” “Iya, dia adalah lelaki yang berhak atas dirimu di Surabaya nanti.” Arsen terdiam ia kembali mengangguk seolah mengerti. Lelaki itu tidak banyak berbicara. Ia hanya akan berbicara banyak saat system chips di dalam tubuhnya merespon dengan baik. Semua yang ada pada Arsen dikendalikan oleh system yang tertanam di dalam tubuhnya. “Kamu akan ditemani Mr. Zian. Selama perjalanan kamu harus tetap menjaga diri dengan baik. Ingat kamu harus bisa mengendalikan emosimu. Apa yang dikatakan Winata Yoga harus kamu turuti.” Arsen kembali mengangguk seolah mengerti. Profesor Ruizen kembali menjelaskan  tentang siapa Arsen. Setidaknya hal itu berguna untuk memberikan memori tambahan kepada Arsen. Sang profesor menceritakan semua apa yang dijelaskan Winata Yoga kepadanya. Hal itu memang berguna untuk merangsang system pengingat dalam chips. Hanya satu hal yang terlewat saat prof Ruizen menjelaskannya. Lelaki berkacamata itu sama sekali tidak mengingatkan Arsen tentang siapa Giselle. Nama gadis itu sama sekali tidak tercantum dalam daftar ingatan Arsen. Padahal gadis itulah yang akan paling bahagia jika melihat Arsen kembali. Winata Yoga memang sengaja menghapus nama Giselle dari dalam daftar nama untuk Arsen. Ia hanya tidak ingin Giselle terlalu berharap lebih kepada Arsen. Winata Yoga ingin anak gadisnya tetap menjalani kehidupannya dengan atau tanpa Arsen. Tubuh Arsen memang pada dasarnya telah tidak berfungsi, seorang Arsen kembali hanya dikendalikan oleh system. Winata yoga mempunyai sebuah alasan kuat untuk membuat Arsen tidak mengingat putrinya. Ia mendapat informasi dari Prof. Ruizen jika apa yang berada di dalam tubuh Arsen tidak bisa bertahan lama. Kecanggihan teknologi seperti apa pun tetap tidak bisa membuat Arsen kembali hidup lagi. Semua hanya system yang memiliki kadar waktu yang terbatas. Winata Yoga merasa lebih baik Giselle terluka sekarang daripada harus ia merasa bahagia dan terluka kembali. Anak tunggalnya itu pun harus mempelajari tentang kerasnya kehidupan. Semua yang ia alami tidak harus sesuai dengan apa yang ada di dalam pikirannya. “Saya adalah Arsen, kepala pengawal Winata Yoga yang Tangguh dan tidak akan terkalahkan.” Prof Ruizen tersenyum mendengar perkataan Arsen. Lelaki itu mengingat semuanya dengan baik. Ruizen menelepon Winata Yoga dan memberi kabar jika Arsen telah siap terbang Ke Surabaya dengan Mr. Zian dan beberapa orang lainnya. Ia juga menceritakan perkembangan Arsen yang sangat pesat. Winata yoga tidak perlu khawatir lagi tentang semuanya. Arsen akan datang kembali untuk membantunya mengatasi masalahnya beberapa tahun ke depan. Setidaknya waktu itu sangat cukup untuk membuat Adi Putro dan semua anak buahnya masuk ke dalam penjara karena perbuatan mereka. “Arsen selamat berjuang. Kamu adalah orang kuat ingat hal itu!” “Baik.” “Hal yang akan membuatmu lemah adalah cinta.” “Cinta?” “Ya, cinta hanya perasaan emosional yang bisa melumpuhkan akal sehat manusia.” “Apakah aku pernah jatuh cinta?” Prof. Ruizen tertawa, lelaki itu terlihat sama sekai tidak tahu tentang satu perasaan yang hampir dimiliki setiap manusia. Bahkan perasaan itu bisa perlahan menyakiti setiap orang yang terlalu memujanya. Prof Ruizen memang sengaja melontarkan perkataan tentang cinta. Ia hanya ingin melihat respon Arsen terhadapnya. Dan ternyata Arsen sama sekali tidak mengenalnya. Perasaan sentimental itu bahkan sama sekali tidak terprogram dan tidak akan diprogram Ruizen untuk Arsen. Karena hal itu hanya akan membuat system Arsen menjadi lemah. “Kamu tidak perlu tahu tentang hal itu. Cinta hanya bisa membuatmu lemah dan kalah.” “Baik. Cinta hanya membuatmu lemah dan kalah.” Arsen mengulangi perkataan Ruizen. Kalimat itu seolah memang tertanam di dalam pikirannya dan memang harus dihindari oleh Arsen. System di tubuhnya akan memroses dan Arsen tidak akan mengenal namanya ‘cinta’.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN