Hubungan Giselle dan Marco mulai terlihat dekat. Beberapa teman Giselle yang awalnya menjadi mak comblang di antara mereka merasa heran. Giselle yang dulunya sangat tidak menyukai Marco tiba-tiba menjadi dekat. Padahal Giselle salah satu termasuk gadis yang anti Marco karena perilakunya yang suka bermain perempuan. Giselle pun terang-terangan menunjukkan kedekatan mereka di depan teman-temannya. Meskipun Giselle tahu betul ia tengah berhadapan dengan anak salah satu musuh bebuyutan Winata Yoga. Ia melakukan semuanya demi misi membuktikan jika Marco adalah biang di balik kematian Reno.
Setelah dekat dengan Marco. Ada banyak hal yang membuat Giselle mengerti. Keluarga marco ternyata kacau balau. Sang ayah tidak pernah peduli apa yang Marco lakukan. Bagi Adi Putro, marco seperti kesialan bagi keluarganya. Anak bungsunya itu selalu membuat masalah dan membuat Adi Putro malu mengakuinya sebagai anak.
Tingkahnya yang selalu bermain perempuan membuat Adi Putro hanya bisa menggeleng. Harta yang ia berikan membuat marco terlena dengan semuanya dan berbuat seenaknya. Beberapa kasus pembunuhan harus Adi Putro tutupi hanya karena ulah Marco menggunakan anak buahnya.
Beberapa gadis yang hamil karena marco harus Adi Putro bereskan untuk membersihkan nama baiknya. Hal itu sama sekali membuat Marco tidak pernah berhenti. Berulang kali Adi Putro memberikan hukuman kepadanya, tetapi lelaki itu tidak pernah jera. Bahkan semakin lama Marco semakin menjadi. Ia menjadi lelaki yang berbuat seenaknya karena nama besar ayahnya.
Terakhir kali mendapat kabar dari anaknya. Adi Putro merasa cemas, tetapi ia sekaligus menjadi bangga dengan anaknya karena membantunya merobohkan musuh bebuyutannya. Selama ini Adi Putro merasa kesulitan menyentuh Giselle. Akan tetapi, Marco dengan mudahnya mendekati. Sementara Adi Putro membiarkan keduanya dekat. Lelaki itu akan mengambil waktu yang tepat untuk memainkan rencananya.
Adi Putro mengaggap kekuatan Winata Yoga semakin lemah. Arsen telah mati terbunuh di tangan anak buahnya. Tidak ada lagi yang bisa ikut campur urusannya. Adi Putro bisa terbebas dari semua tuduhan yang Winata Yoga berikan.
Marco pun tahu permusuhan antara Winata Yoga dan Adi Putro, Namun, rasa penasarannya dengan Giselle tidak ada kaitannya dengan orang tuanya. Marco memang murni menyukai kecantikan Giselle saat pertama melihatnya. Saat itu memang Giselle terlalu jual mahal dan seringkali menolaknya. Belum lagi Jika Arsen bersamanya. Marco tidak mempunyai kesempatan untuk mendekatinya.
“Giselle kapan kita bisa bertemu lagi?” Marco menghentikan mobilnya jauh dari kediaman Winata Yoga.
Giselle memang sengaja memintanya, ia tidak ingin siapa pun tahu bahwa Marco mengantarnya pulang. Sang papa akan marah besar dan membuat Giselle kesulitan untuk keluar.
“Kita lihat saja nanti.” Giselle mulai merasa tidak nyaman. Pandangan Marco kepadanya terasa berbeda.
Ia langsung melepas sabuk pengamannya dan bersiap keluar mobil. Ia tidak ingin terlalu lama di dalam mobil dan membuat Marco melihat wajah gugupnya lebih jauh. Beberapa kali mereka jalan bersama dan Giselle hanya menganggap hubungan mereka sebagai teman, tidak lebih. Ia pun mulai menemukan apa yang ia inginkan. Beberapa kali Giselle mendengar percakapannya dengan salah satu anak buahnya memastikan keadaan aman. Selama ini Giselle memang seolah tidak tahu menahu tentang kematian Reno. Hal itulah yang membuat Marco mencari kebenarannya. Jelas-jelas Reno mati di tangannya, tetapi Giselle seolah tidak tahu akan hal itu.
“Sampai kapan kamu menghindar?” Marco menahan tangan Giselle.
Lelaki itu berpikir masa perkenalannya dengan Giselle sudah berakhir. Sudah saatnya Marco mendapat lebih dari semuanya. Wajah cantik Giselle membuat Marco begitu menngebu ingin menciumnya. Bibir ranumnya menggambarkan bibir itu akan terasa sangat manis saat Marco menggigitnya.
“Aku tidak menghindar. Aku hanya ingin pulang. Kita bisa bertemu lain kali.” Giselle melepas tangan Marco. Ia merasa Marco mulai bersikap kasar dengannya.
“Giselle ayolah, kita sama-sama sudah dewasa. Kamu harusnya tahu apa yang aku inginkan.”
Marco kembali menahan tangan Giselle. Kali ini lelaki itu menarik tubuh Giselle hingga tubuhnya mendekat. Ia memberi isyarat seolah hendak mencium bibir ranum di depannya. Matanya berkilat dan tidak sabar untuk mengecupnya mesra.
“Marco apa yang mau kamu lakukan!” Giselle berusaha mendorong tubuh Marco. Ia merasa dirinya terancam. Marco terlihat begitu bernafsu melihatnya.
“Jangan menolakku! Aku tahu kamu menyukaiku. Jangan munafik. Apa yang kamu cari dariku?”
“Lepas! Kamu tidak berhak melakukan ini padaku! Kita hanya teman!” Giselle masih berusaha menghindar.
Marco langsung melepas tangannya. Ia tidak mengira jika selama ini Giselle sama sekali tidak tertarik dengannya, tetapi perkataan Giselle tidak membuat Marco menyerah. Ia kembali menarik tangan Giselle hingga mendekat. Ia tidak sabar menahan perasaannya yang setiap hari bergejolak saat berada di dekat Giselle.
Marco pun tidak peduli berada di wilayah kekuasaan Winata Yoga. Ia tidak takut dengan siapapun. Ia bisa meminta bantuan ayahnya atau dua kakaknya yang siap membantu Marco kapan saja.
“Kamu mempermainkanku!”
“Jangan berharap! Kamu yang salah paham. Aku tidak pernah memberimu harapan. Selama ini kita hanya berteman. Aku pun tidak pernah mengatakan jika aku menyukaimu.”
Marco melepas tangan Giselle. Rasanya amarahnya begitu memuncak mendengar Giselle tidak memiliki perasaan apa pun padanya. Ia bisa saja memkasa Giselle untuk berciuman. Namun, Marco merasa gagal. Ia tidak mampu membuat Giselle luluh dalam dekapannya.
“Apa maumu mendekatiku?”
“Apa maksudmu?”
“Aku tahu kamu berbohong! Reno telah meninggal dan dimakamkan di pemakaman kelurgamu. Kamu pun pernah mengunjungi makamnya.” Akhirnya Marco membuka suara. Akhirnya ia tahu jika Giselle telah berbohong tentang Reno. Gadis itu sebenarnya tahu meninggalnya Reno dan menutupinya di depan Marco.
“Karena kamu yang membunuhnya!” Giselle langsung mengungkapkan rasa kesalnya. Ia sudah muak bersikap baik kepada Marco. Hal itu hanya membuat Marco besar kepala dan menyebarkan gossip jika Giselle adalah kekasihnya.
“Ha ha ha ha …”
“Dari mana kamu tahu? Kamu dan ayahmu tidak bisa berbuat apa-apa!”
“Sekarang mungkin tidak, tetapi suatu saat aku pasti bisa menjebloskanmu ke penjara!” Giselle menekan ucapannya.
“Pergi kamu dari sini!” Marco menahan rasa kesalnya. Ia memukul kemudi di depannya dan meminta Giselle segara keluar. Ia tidak ingin amarahnya meletup dan melampiakannya pada Giselle. Hatinya merasa sakit karena Giselle terang-terangan telah mempermainkannya.
Ia sangat paham bagiamana kesalnya saat dirinya marah. Ia bisa melakukan hal buruk pada Giselle. Bahkan membuat gadis itu tidak berdaya dalam dekapannya pun Marco bisa. Hanya saja Marco tidak ingin melakukannya. Ia akan membuat Giselle menggilainya, dan saat itu marco akan membuat gadis itu menyesal telah mempermainkannya.
Giselle langsung keluar dan membiarkan Marco sendiri. Ia melihat ekpresi marco dari luar. Tampak wajah kecewa dan marah. Giselle merasa sangat bersalah, tetapi ia juga tidak bisa membenarkan apa yang telah Marco lakukan pada Reno. Lelaki itu tidak berhak berbuat semuanya dengan lelaki yang dekat dengan Giselle. Reno tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Giselle, tetapi Marco dengan brutalnya malah membunuh Reno.
Mobil hitam di depannya melesat pergi menjauh. Giselle mendekap tasnya dan memilih masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Ia tidak ingin sang papa melihat kepulangan Giselle di antar oleh mobil asing. Giselle juga tidak ingin lainnya melihat kondisi hati Giselle yang merasa snagat bersalah. Mempermainkan perasaan orang yang mencintainya.
Giselle akui memang selama bersama Marco, lelaki itu tidak menyentuhnya sama sekali. Bahkan Marco sangat baik kepadanya. Hanya saja Giselle tetap tidak bisa membuka hatinya untuk yang lain. Bukan karena Marco adalah anak Adi Putro. Melainkan Hati Giselle memang belum sepenuhnya bisa menerima lelaki lain selain Arsen.
***
“Dari mana saja?” Winata Yoga berdiri di depan kolam belakang menunggu Giselle.
Giselle sama sekali tidak mengira jika sang papa telah menunggu kepulangannya. Gadis itu terlihat gugup dan bingung harus mencari alasan apa. Ia tahu papanya sedang marah. Terlihat sangat jelas raut wajah Winata Yoga yang membutuhkan penjelasan.
“Mama menghubungimu berkali-kali, tetapi ponselmu tidak aktif. Ke mana kamu?” Winata Yoga masih memburu putrinya dengan pertanyaan. Ia melihat Giselle telah menyembunyikan sesuatu darinya.
“Aku bertemu Gladis,” jawab Giselke singkat. Ia tidak ingin sang papa memberinya banyak pertanyaan lagi.
Selama ini Winata Yoga cukup mengenal Gladis sebagai temannya Giselle, jadi setidaknya sang papa akan merasa aman.
“Gladis? Dia saja mencarimu ke sini.”
“Gladis?”
“Iya, Gladis mana lagi yang akan bersamamu?”
Giselle tetdiam. Ia terjebak dengan jawabannya sendiri. Winata Yoga pasti akan semakin curiga dengannya. Giselle harus menyiapkan alasan serta jawaban lainnya agar sang papa tidak menaruh curiga.
"Papa tidak melarang kamu berhubungan dengan siapapun. Bahkan Papa sangat senang jika kamu perlahan membuka hatimu untuk lelaki lain. Namun, bawa lelaki itu ke sini, Papa ingin mengenalnya.”
“Tidak ada, pa.” Giselle menyangkal.
Gadis itu tidak ingin papanya tahu soal hubungannya dengan Marco. Apa lagi kalau sam[ai Gladis membuka suara. Bisa dipastikan Giselle akan berada dalam masalah.
“Lantas siapa pemilik mobil merah yang baru saja mengantarmu pulang?”
Gisell lagi-lagi terjebak dengan pertanyaan papanya. Tidak mungkin ia berkata jujur jika lelaki di dalamnya adalah anak bungsu keluarga Adi Putro.
“Dia hanya teman, Pa.”
“Teman? Kata Gladis kamu sedang dekat dengan lelaki.”
“Papa Gladis hanya cemburu.”
Giselle masih berusaha menghindar. Ia belum siap menjelaskan semua persoalan yang terasa rumit. Ia juga tidak ingin membuat ayahnya khawatir karema masalah yan g ia ciptakan. Giselle yakin setelah Marco mengetahui semuanya, lelaki itu tidak akan membiarkan Giselle. Gadis itu harus tetap berhati-hati.
“Giselle, papa tidak ingin kamu berbohong.”
“Pa, Giselle tidak berbohong.”
“Yakin?”
“yakin.”
Akhirnya Winata Yoga memilih pergi dari pada harus berdebat dengan anaknya. Ia yakin suatu saat rahasia Giselle akan terbongkar dengan sendirinya. Ia mendapat telepon dari Prof. Ruizen. Lelaki itu memilih mengangkatnya jauh dari Giselle agar anak gadisnya tidak mendengar percakapan mereka. Arsen dan Mr. Zian sudah berada dalam perjalanan. Winata Yoga pun bersiap memberi perintah kepada anak buahnya untuk menjemput mereka di bandara setelah tiba.
Winata Yoga juga telah menyiapkan sebuah tempat khusus untuk tempat tinggal Arsen. Ia sengaja memisahkannya dari tempat tinggalnya. Hal itu bertujuan agar Giselle tidak menyadari kehadiran Arsen di sekitarnya. Semua aktivitas Arsen akan diarahkan di luar rumah dan lelaki itu akan lebih banyak mengawasi gerak-gerik Adi Putro di pelabuhan Sementara keamanan Winata Yoga dan keluarganya akan dipegang Matew. Salah satu anak buah andalan Arsen selain Reno.