Chapter 33

1709 Kata
Arsen dan Mr Zian turun dari mobil. Mereka sampai di kediaman Winata Yoga pada pukul 02.00 dini hari. Pada saat itu semua anak buah Winata Yoga menyambut kedatangan Arsen dan Mr Zian. Mereka terkejut dengan kembalinya sosok kepala pengawal yang mereka kagumi. Mereka terlihat sangat antusias melihat kembalinya Arsen. Sosok yang tadinya mati tertembak muncul kembali dengan wajah dan bentuk tubuh yang sama persis. Winata Yoga pun menyambut Arsen dengan hangat. Lelaki itu benar-benar menggantungkan semua harapannya kepada Winata Yoga. Ia sengaja meminta Arsen dan Mr.Zian pulang ke rumah saat dini hari. Hal itu untuk mengelabuhi Giselle, ia tidak ingin anaknya itu tahu kepulangan Arsen ke kediaman mereka. Ada hal yang ingin Winata Yoga sembunyikan dari Giselle. Ia tidak ingin putrinya mengetahui kenyataan bahwa Arsen telah melupakan Giselle. Hal yang paling membuat Giselle sakit hati adalah Arsen tidak akan mengenali Giselle sama sekali. Setelah puas berbincang, Winata Yoga mengajak Arsen dan Mr. Zian masuk ke paviliun belakang. Di sana anak buah Winata Yoga telah menyiapkan 2 buah tempat untuk Arsen dan Mr. Zian. Setelah melakukan perjalanan jauh Winata Yoga membiarkan Arsen beristirahat terlebih dahulu. Ia tidak akan membebani Arsen terlebih dahulu dengan segala tugasnya sebagai kepala pengawal. Ia akan membiarkan Arsen untuk menyesuaikan keadaan dengan anak buahnya terlebih dahulu. Setelah Arsen bisa menyesuaikannya, Winata Yoga akan langsung mengirim Arsen ke pelabuhan untuk mengintai kegiatan Adi Putro di sana. Sebelum masuk ke dalam kamar, Arsen sempat melihat ke arah beberapa anak buahnya. Mereka terlihat begitu senang melihat kepulangan Arsen. Mereka ingin menyapa bosnya itu, tetapi sikap Arsen yang terlalu dingin membuat mereka enggan dan tidak ingin membuat Arsen tidak nyaman. Arsen merasa tidak asing dengan cara mereka berpakaian. Berpakaian serba hitam seolah menjadi kebiasaannya di masa lalu. Ia mencoba mendekati kedua anak buah Winata Yoga yang sedang berjaga di depan pintu kamar. “Siapa namamu?” tanya Arsen. “Kamu tidak mengingat kami, Bos?” Anak buah Winata Yoga merasa heran. “Apa yang terjadi? Kalian mengenalku?” tanya Arsen. Kembali mereka berdua saling berpandangan aneh. Mereka melihat Arsen berdiri di depan mereka, tetapi mereka merasa Arsen seperti orang lain. Mereka juga bingung harus memulai dari mana menjelaskannya. Semua itu adalah wewenang Winata Yoga untuk melakukannya. “Sudahlah kamu perlu beristirahat jangan terlalu memaksakan diri.” Winata Yoga menepuk Arsen dari belakang. Ia tahu keadaan Arsen masih terlihat bingung. Ia sangat paham jika arsen butuh penyesuaian dengan masa lalu dan orang-orang di sekitarnya. Winata Yoga juga tidak memaksa Arsen untuk mengingat semuanya. Mr. Zian akhirnya berbicara kepada Arsen tentang beberapa anak buah Winata Yoga. Lelaki itu memberi penjelasan jika di masa lalu Arsen adalah seorang kepala pengawal dan mereka berdua adalah salah satu anak buah Arsen. “Maafkan aku, aku tidak mengetahuinya.” Arsen kembali berkata kepada kedua anak buahnya. “Tidak masalah, Bos. Kami hanya berharap Bos bisa kembali seperti biasa.” Salah satu anak buahnya terlihat begitu berharap. Mereka sangat rindu dengan kepemimpinan Arsen. Lelaki tegas itu selalu membuat mereka bersemangat saat tugas. Loyalitasnya terhadap Winata Yoga membuat semua anak buahnya bangga dengan sosok Arsen. Bahkan lelaki itu merelakan nyawanya untuk menjadi barisan terdepan pelindung keluarga Winata Yoga. Arsen hanya terdiam mendengarnya. Ia langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kembali. Ingatannya seolah benar-benar kacau setelah menghadapi banyak orang. Kedatangan Winata Yoga, beberapa anak buahnya membuat Arsen kembali bertanya siapa dirinya sebenarnya di masa lalu. “Apa aku begitu hebat?” Arsen berbicara pada dirinya sendiri. Lelaki itu duduk dan membuka tasnya. Ia mencari identitasnya, tetapi sama sekali tidak menemukan tanda pengenal atau lainnya. Lelaki itu memilih membuka tirai jendela dan melihat sebuah bangunan berlantai dua di samping kamarnya. Ia melihat jendela kamar lantai dua yang masih menyala lampunya. Arsen merasa tertarik dengan lampu kamar yang terlihat keemasan. Cahaya lampu itu menyorotkan kehangatan. Pandangan Arsen tidak ingin lepas pada jendela kamar itu. Ia seperti menunggu penghuni kamar itu muncul. Lelaki itu terus melihat ke arah jendela tanpa jeda. “Siapa penghuni kamar itu? Apa Tuan Winata Yoga mempunyai anak?” Sebuah bayangan muncul di balik jendela atas. Arsen menghindar dan masih mengintipnya dari balik tirai. Ia tidak ingin keberadaannya diketahui oleh penghuni kamar tersebut. Seorang gadis berambut Panjang terlihat menggerai rambutnya. Ia berdiri di samping jendela dan membukanya. Arsen melihat jelas wajah cantik Giselle dari balik tirai. Arsen menunjukkan ekspresi yang biasa, tetapi ia masih menahan dirinya untuk tidak muncul. Ia tidak ingin membuat gadis tersebut terkejut dengan kehadirannya. Setidaknya, Arsen telah mengetahui siapa penghuni kamar tersebut. “Seorang gadis.” Arsen bergumam. Pandangannya masih belum lepas. Ia tidak merasakan hal apa pun, tetapi pandangannya tidak ingin lepas dari gadis itu. Matanya terus menatap Giselle dan bibirnya tersenyum melihat Giselle yang tengah bernyanyi dari atas. Gadis itu terlihat begitu tenang memandangi keadaan sekitar dari jendela kamar. Pandangannya tertuju pada kolam renang di samping paviliun tempat Arsen tinggal. “Siapa gadis itu?” Mendadak Giselle menutup jendela kamar dan mematikan lampunya. Arsen tidak bisa melihat lagi Giselle dari kejauhan. Padahal Arsen masih ingin melihatnya. Ia tidak mengenalnya, bahkan Arsen juga tidak bisa merasakan apa pun. Namun, arsen tetap ingin melihat wajah cantik Giselle. Bibirnya reflek tersenyum saat melihat wajah cantik Giselle. Pertemuan pertama mereka seolah menandakan jika keberadaan Giselle memang special di hati Arsen. Meskipun semua memori ingatan Arsen menghilang dan di dalamnya hanya tertinggal sebuah system. Arsen tetap merasa ada hal berbeda saat melihat Giselle. “Sepertinya aku harus beristirahat. Ini hanya efek lelah. Wajahnya mirip dengan putri professor.” Arsen langsung merebahkan tubuhnya. Ia mulai menghapus wajah Giselle dalam memorinya. Setiap malam, lelaki itu memang harus menjaga tubuhnya stabil. Professor Ruizen selalu berpesan pada Arsen untuk beberapa jam memejamkan matanya setiap malam agar tubuh dan system di dalamnya bisa beristirahat. Setelah semua kondisi Arsen pulih, lelaki itu beraktivitas kembali dengan tenaga dak kekuatan yang lebih besar lagi. “Sampai jumpa besok gadis.” Arsen menutup matanya dan mereset semua ingatannya hari ini. Hal itu selalu ia lakukan seperti yang dikatakan Prof Ruizen. Arsen selalu melakukannya dan pagi hari selalu menemukan ingatan-ingatan baru. *** Bunyi alarm ponsel Arsen membuat lelaki itu membuka mata. Pukul lima pagi Arsen langsung beranjak dari tempat tidur. Ia langsung membuka tirai melihat ke arah jendela kamar gadis semalam yang Arsen lihat. “Dia belum muncul.” Arsen kembali menutup tirai. Ia langsung bersiap untuk membersihkan diri. Lelaki itu keluar kamar dan melihat beberapa anak buahnya tengah bersiap berolah raga. Mereka terlihat menunggu Arsen keluar. “Bos kita lari pagi bersama?” Salah seorang anak buahnya langsung mengajak Arsen untuk beraktivitas. Semasa dulu, Arsen akan mengajak anak buahnya untuk berolah raga bersama sebelum beraktivitas. Hal itu selalu ia lakukan untuk menghindari cedera pada tubuhnya. “Kami akan mengajak Bos Arsen keliling kediaman Tuan Winata Yoga yang baru.” Arsen terdengar tertarik. Ia langsung masuk ke dalam kamar berganti baju. Ia memakai kaus tanpa lengan yang menunjukkan lengan berototnya. Ia mengambil kaca mata hitam serta topi miliknya. Tidak lupa Arsen mengambil handuk kecil untuk mengusap keringatnya. “Sudah siap?” Arsen muncul dengan penampilan yang berbeda. Semua mata terpukau melihat penampilan Arsen yang baru. Lelaki itu jarang sekali menunjukkan lengannya. Ia selalu memakai training Panjang dan kaus berlengan pendek saat mereka berolah raga bersama. Kali ini Arsen memakai kaus tanpa lengan dan celana sebahu. Tubuh berototnya membuat setiap wanita yang melihatnya akan terkesima. “Apa yang kalian tunggu?” Semua anak buah Arsen menjadi salah tingkah. Mereka langsung keluar paviliun mengajak Arsen mengelilingi komplek kediaman Winata Yoga. Sebelumnya mereka melakukan pemanasan terlebih dahulu di halaman belakang. Suara Matew yang cukup keras membuat Giselle menengok dari jendela dapur. Gadis itu menyapa beberapa pengawal papanya dengan melambaikan tangannya. Sudah lama ia tidak melihat mereka berolah raga bersama semenjak Arsen tidak ada. Arsen yang berada di barisan paling belakang tidak mengetahui jika Giselle tengah menyapa. Lelaki itu masih focus dengan peregangan tangannya. Ia merasa tubuhnya terasa lelah dan butuh pemulihan. Beberapa anak buah Arsen melihat le arah Arsen yang seolah tidak peduli dengan kehadiran Giselle. Mereka terlihat berbisik melihat keanehan itu. Arsen dan Giselle terlihat tidak saling mengenal, padahal selama ini mereka terlihat sangat dekat. “Kalian sudah selesai?” “Ah, kami hanya …” Belum selesai menjawab, suara Matew menyerukan mereka untuk segera berbaris dan berlari keluar. hal itu menjadi ritual akhir pagi mereka sebelum kembali bekerja. Giselle masih asik melihat barisan anak buah Winata Yoga yang terlihat sangat kompak. Ia menyukai suara gerakan derap kaki yang mulai terdengar. Satu per satu dari mereka mulai keluar dari halaman belakang. Hingga pada barisan terkahir tatapan Giselle bertemu dengan seorang lelaki berkacamata yang menurut Giselle sangat aneh. Ia tidak pernah sebelumnya melihat lelaki itu. Bahkan dari cara berpakaiannya sangat jauh berbeda. Arsen hanya mengangguk menyapa Giselle dan mengikuti Gerakan lainnya. Lelaki itu masih memakai kacamatanya hingga Giselle tidak bisa mengenalinya. Gadis itu langsung menutup jendela dapur dan langsung bertanya pada mamanya. “Ma, apa Papa punya pengawal baru?” tanya Giselle mendekat. Ny. Winata Yoga tengah menyeduh kopi di dalam sebuah cangkir. Dua buah cangkir kopi untuk sang suami dan tamunya yang tengah berbincang di teras depan. Giselle belum mengetahui jika Winata Yoga kedatangan tamu dari luar. Gadis itu bahkan tidak tahu jika lelaki yang dimaksudnya adalah Arsen. “Bukan, itu adalah saudara Mr. Zian dari U.S.A.” “Apa dia akan menetap di sini?” “Kenapa? Kamu ingin berkenalan dengannya?” Ny. Winata Yoga menggoda putrinya. Ia melihat wajah Giselle berseri. “Mama … “ “Cepat mandi! Bukannya hari ini kamu ada jadwal ke kampus?” “Iya, ma. Hari ini ada bimbingan untuk pembuatan skripsi.” Giselle meminum s**u putih yang baru saja dibuat. Ia menyambar sesisir roti tawar dan mengunyahnya. Gadis itu sudah terbiasa sarapan hanya dengan satu sisir roti dan segelas s**u. “Apa kamu tidak ingin berkenalan dengan saudara Mr. Zian?” Giselle berpikir. Sepertinya ia tidak punya banyak waktu. Pukul delapan nanti Giselle harus berada di kampus. Bahkan tadi malam Gladis telah mewanti-wanti dirinya jangan sampai terlambat. “Aku tidak ada waktu, Ma.” “Yakin?” “Yakin. Sepertinya aku sama sekali tidak tertarik.” Giselle mencium pipi mamanya dan langsung pergi ke atas. Ia tidak peduli dengan perkataan mamanya. Baginya tidak ada hal yang membuatnya tertarik selain tentang Arsen. Tentang saudaranya Mr. Zian, baginya hanya sebuah topik agar Giselle bisa melupakan sang kekasih yang dianggap telah tiada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN