Chapter 34

1942 Kata
Arsen berlari di barisan paling belakang. Gerakan kakinya selaras dengan hentakan kaki yang bergantian. Lelaki itu menyihir beberapa wanita yang baru pertama kali melihatnya. Mereka melihat kegagahan Arsen layaknya actor Hollywood yang biasa berseliweran di televisi. Lelaki itu bersikap biasa meskipun beberapa wanita menyapanya histeris. Segerombolan gadis ABG pun tidak kalah meneriakinya. Mereka bersorak dan tidak segan menggoda Arsen secara terbuka. Matew hanya bisa menggeleng melihat pesona bosnya yang makin bersinar. Lelaki yang dulunya selalu berpakaian formal, dingin dan selalu kaku terhadap setiap wanita tiba-tiba saja menjadi idola para gadis. Penampilannya yang berubah membuat sosoknya terasa sangat berbeda. Giselle yang sangat paham siapa Arsen pun tidak mampu mengenali lelaki tersebut. Mereka sempat berpandangan sekilas, tetapi Giselle tidak tahu jika lelaki yang saling pandang dengannya itu adalah lelaki pujaan hatinya. Barisan Arsen mulai memasuki kediaman Winata Yoga. Mobil Giselle mulai melaju keluar pelan melewati barisan para anak buah Winata Yoga. Selama ini Giselle sangat jarang menyapa mereka, tetapi tiba-tiba saja gadis itu membuka kaca mobilnya dan berhenti. Gadis itu memanggil Matew bertanya sesuatu. Matew terdengar begitu serius dan hanya mengangguk. Sementara Giselle sekilas melihat sosok Arsen yang masih berhenti di barisan paling belakang. Bentuk badannya mengingatkan Giselle dengan sang kekasih. Namun, Giselle berusaha menepisnya. Ia berpikir mustahil jika Arsen kembali. Kalau pun itu benar, lelaki itu pasti akan menemuinya. Arsen pasti akan sangat mengkhawatirkan dan merindukan sang gadis. Setelah puas berbicara, Giselle melajukan mobilnya dan melewati Arsen. Ia hanya tersenyum sekilas dan kembali focus mengemudi. Setelah Arsen meninggal, Giselle melakukan semuanya sendiri. Ia tidak membiarkan siapa pun mengawalnya. Ia pun memilih berangkat ke kampus sendiri tanpa pengawalan siapapun. “Siapa dia?” tanya Arsen saat Matew mendekat. Beberapa barisan anak buah Arsen yang lain telah bubar dan memilih bersiap untuk bekerja. Biasanya mereka akan sarapan bersama dan membahas hal yang akan mereka kerjakan. Biasanya, Matew yang akan membagi tugas mereka sesuai intruksi Winata Yoga. “Kamu tidak ingat dia siapa Bos?” Matew seolah tidak percaya. Namun, ia memang melihat mereka berdua seolah tidak saling mengenal. Padahal mereka bertemu secara tidak sengaja dua kali sejak pagi tadi. Arsen menggeleng. Ia masih melihat mobil Giselle dari kejauhan. Sepertinya gadis itu memang mempunyai makna, tetapi Arsen tidak tahu apa hal itu. “Dia anak tunggal Tuan Winata Yoga.” “Oh.” Arsen hanya berkepresi wajar. Beberapa anak buahnya merasa heran karena ekpsresi Arsen biasa saja. Beberapa dari mereka hanya berbisik tidak berani mengatakannya. Bahkan Matew pun merasa sangat aneh. “Lantas kenapa dia terlihat begitu serius saat berbicara denganmu?” tanya Arsen menyelidik. Tidak sengaja ia melihat Giselle yang tengah berbicara dengan Matew. Hal itu membuatnya penasaran. Matew berpikir, ia berjanji ada Giselle tidak akan mengatakannya pada siapapun. Akan tetapi sepertinya Matew tetap tidak bisa merahasiakannya dari Arsen. Lelaki itu memang seharusnya tahu apa yang terjadi. Kejadian saat bersama Haikal kala itu membuat Matew berpikir memang Arsen lah yang bisa mengendalikan Gisell. Bahkan keamanan gadis itu sangat terjamin saat bersama Arsen. “Dia hanya mengatakan akan pulang terlambat hari ini. Ia takut Tuan Winata Yoga akan marah jika tahu ke mana ia pergi.” Arsen berpikir kenapa Giselle harus takut papanya tahu ke mana ia pergi. Harusnya Giselle tidak perlu takut jika tidak melakukan kesalahan. “Nona Giselle sedang menjalankan misi. Dia ingin menguak pembunuhan Reno.” Matew akhirnya tahu dengan siapa Giselle akan bertemu. Dalam hatinya sebenarnya Matew sangat khawatir, tetapi Giselle melarangnya ikut campur. Sedangkan gadis itu berjanji akan memberi kabar saat keadaan terdesak. Matew merasa cemas bila hal buruk terjadi pada Giselle. Nyawa dan pekerjaannya yang menjadi taruhan. Winata Yoga pasti akan marah besar saat mengetahui putrinya dalam bahaya karena berurusan dengan anak bungsu Adi Putro. Kehadiran Arsen sebenarnya membuat Matew sedikit lega, akan tetapi lelaki itu tampak biasa dan tidak begitu peduli dengan cerita Matew. Bahkan Winata Yoga sendiri berpesan jangan sampai Arsen ikut campur soal Giselle. Hal itulah yang membuat Matew semakin bingung. “Ke mana dia akan pergi?” tanya Arsen. Ia terlihat tidak peduli, tetapi ia berusaha ingin tahu apa yang terjadi. “Dia ….” Belum sempat Matew berbicara, Winata Yoga datang menghampiri mereka. Lelaki itu bersama Mr. Zian bersiap untuk mengajak tamun khususnya dari USA itu untuk berkeliling mengunjungi kota Surabaya. Beberapa pabrik miliknya akan menjadi tujuan utama. Setelah itu, Winata Yoga akan mengajak Mr. Zian ke pelabuhan untuk melihat laju barang masuk dan keluar. “Bagaimana malammu di sini Arsen?” tanya Winata Yoga. Lelaki berkacamata itu melepas kacamatanya. Ia mengusap peluh keringat yang mulai muncul. Matew undur diri dan beralasan akan memimpin breafing bersama yang lain. Ia juga tidak ingin mengganggu pembicaraan Arsen dan Winata Yoga. Ia tahu jika sang Tuan pasti akan mengajak Arsen turut serta. Beruntungnya Matew belum sempat mengucap pesan dari Giselle. Jika hal Itu terjadi, Winata Yoga pasti akan menyerukan perang dengan Adi Putro karena kematian Reno. “Sangat nyaman. Semua yang di sini sangat ramah dan menyambut dengan baik.” “Arsen, hari ini saya dan Winata Yoga akan berkeliling kota Surabaya. Kamu mau ikut?” Mr Zian mengajak Arsen turut serta. Biar bagaimanapun Arsen juga perlu menyatu dengan kota asalnya. Setidaknya Arsen harus paham dengan seluk beluk kota tersebut. “Sepertinya itu ide bagus.” Winata Yoga setuju. “Baiklah, aku akan masuk ke dalam.” “Tidak perlu. Kita bisa makan bersama di rumah utama. Aku akan mengenalkanmu dengan istriku.” Winata Yoga mengajak Arsen dan Mr. Zian masuk ke rumah utama. Menu special telah tersaji di meja makan dan tinggal menunggu mereka. Masakan sarapan kali ini khusus dimasak Ny. Winata Yoga dibantu beberapa pembantunya. Giselle pun tidak kalah ikut membantu. Hanya saja gadis itu hanya membuat ricuh karena ia tidak suka terlalu lama berada di dapur. Setahu Giselle, mamanya memasak untuk tamu khusus sang papa dari U.S.A. Padahal Giselle tidak tahu kalau tamu khusus itu adalah Arsen. Beberapa pembantu Winata Yoga tidak mengira yang berada di hadapan mereka ada;ah Arsen. Ny. Winata yoga pun sama. Wanita anggun itu terkejut melihat keberadaan Arsen. Ia pikir yang bersama Mr. Zian adalah saudara teman suaminya itu. Tidak tahunya lelaki itu adalah Arsen. Wanita itu berpikir Giselle pasti akan sangat bahagia jika tahu saudara Mr. Zian adalah Arsen. “Arsen, ini benar kamu?” Arsen masih terdiam tidak menanggapi. Ia mulai terbiasa dengan pertanyaam yang sama sejak semalam. Ia pikir semua orang di dalam rumah Winata Yoga pasti akan menanyakan hal yang sama. “Iya, saya Arsen.” Arsen menjawabnya singkat. Ny. Winata Yoga merasa aneh karena lelaki di depannya memang berwujud Arsen, tetapi sikapnya sangat jauh berbeda. Arsen akan selalu membungkukkan setengah badannya untuk memberi hormat. Akan tetapi, lelaki di depannya memilih mencium punggung tangan sebagai bentuk penghormatannya. “Ma, dia memang Arsen. Prof Ruizen dan beberapa temannya membantuku untuk membuat Arsen seperti ini.” Winata Yoga menjelaskannya pada sang istri. Namun, ia tidak bisa menjelaskannya secara detil di hadapan Arsen. Ny. Winata Yoga hanya mengangguk. Ia pikir sang suami pasti punya alasan untuk melakukannya. Ia juga langsung mengajak sang suami dan lainnya untuk segera makan. Ia tidak ingin pembahasan tentang Arsen berlanjut. Setidaknya Ny. Winata Yoga sedikit mengerti keadaannya sekarang. Apa lagi sepertinya Winata Yoga terlihat seperti menyembunyikan keberadaan Arsen. Ia mencoba memahami apa yang dilakukan sang suami untuk kebaikan semuanya. Penjelasan Winata Yoga dan Mr Zian tentang Arsen membuat yang mendengarnya tercengang. Semua yang berada di dalam tubuh Arsen hanyalah system. Arsen hanyalah tinggal raga. Ia dikendalikan oleh system yang terekan otomatis. Semua yang ia lihat dan dengar otomatis terekam sangat baik. “Giselle, harusnya kamu ada di sini.” Ny. Winata Yoga teringat dengan putrinya. Bisa dibayangkan jika Giselle pasti akan sangat kecewa dengan semuanya. Harapan gadis itu memang ingin Arsen kembali, tetapi bukan dengan Arsen yang seperti sekarang. Arsen yang sekarang hanyalah fisik yang dijalankan system. Ia tidak memiliki perasaan dan cinta. Semuanya dikendalikan system yang sangat mustahil bisa merasakan perasaan seperti manusia pada umumnya. ***  Surabaya merupakan salah satu kota industry terbesar setelah Jakarta. Banyak pabrik-pabrik besar berdiri di kota yang berada di Kawasan Jawa bagian timur. Laju aktivitas di pelabuhan ataupun bandara juga sangat padat. Laju ekspor-impor melewati pelabuhan selalu menjadi sorotan pemerintahan Winata Yoga. Lelaki yang juga berprofesi sebagai pebisnis itu masih menyayangkan ada pihak-pihak yang bermain curang. Padahal pihak itu merupakan salah satu pemilik perusahaan besar di Surabaya. Bertahun-tahun Winata Yoga telah mencari bukti untuk menguatkan pendapatnya. Akan tetapi selama ini semuanya sia-sia. Tidak ada bukti yang menguatkan aktivtas illegal itu. Semua pendapat Winata Yoga akan cacat secara hukum jika tidak ada bukti yang memberatkan. Padahal jika mau bertindak. Semua bukti ada pada gudang Adi Putro yang berada di dekat dermaga. Namun, sayangnya Winata Yoga tidak pernah bisa menjamahnya. Berulang kali anak buahnya tewas mengenaskan dan Winata Yoga tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan dengan besar hati Winata Yoga harus menerima kekalahan saat anak buah Adi Putro berhasil menembak Arsen. “Inilah tempat bekerjamu nantinya. Kamu di sini bersama beberapa anak buah yang akan membantumu.” Mr. Zian dan Arsen mengamati tempat yang dipenuhi banyak boks container dan beberapa palet kayu. Tempat itu tampak kotor dan ada beberapa botol minuman tertinggal. Mereka yakin tempat tersebut sangat ramai di malam hari. Ada kemungkinan juga tempat tersebut memang dijadikan tempat transaksi terlarang. “Sepertinya petualangan ini akan sangat menyenangkan.” Mr Zian menepuk bahu Arsen. Ia tahu jika lelaki di sampingnya adalah lelaki yang kuat. Melibas puluhan musuh bisa saja Arsen lakukan sekali pukul. Hanya saja efeknya akan sangat luar biasa. “Aku akan membantu meringkus mereka semua.” “Kamu harus selalu ingat dengan trik yang pernah kuajarkan. Hanya kamu yang bisa mengendalikan semuanya. Hilangkan perasaan dan gunakan akal.” Perkataan Mr. Zian menggambarkan jika perasaan cinta hanya membuat tenaga Arsen melemah. Lelaki itu memang harus berpikir logis dan tidak mengenal cinta. Winata Yoga melihat keduanya dengan rasa cemas. Mr. Zian terlihat sekali mendoktrin Arsen untuk membuang perasaannya. Ia seolah menanamkan pikiran bahwa Arsen adalah orang kuat yang tidak terkalahkan. “Aku adalah orang kuat. Tidak ada yang bisa mengalahkanku.” “Kamu serang dia! Anggap dia memang musuhmu!” Mr Zian berseru saat melihat seseorang mengintai mereka. Seorang lelaki muda tengah mengintai mereka di balik tumpukan kayu. Mr. Zian bisa melihatnya dan curiga jika lelaki itu memiliki niat buruk dengan Arsen. Dengan sigap Arsen langsung menghentak kakinya. Tumpukan kayu itu terjatuh dan pemuda itu ketakutan. Ia meringkuk memohon agar Arsen melepaskannya. Ia menjelaskan jika tidak memiliki kepentingan apa pun. Ia hanya pekerja biasa yang sedang mencari tempat untuk istirahat. Arsen tidak percaya begitu saja dan balas memukulnya. Lelaki itu meringkuk kesakitan dengan persendian yang patah. Tenaga Arsen begitu besar dan tidak mengenal ampun. Sebuah perkataan Mr Zian mampu membuat Arsen berpikir memang lelaki di depannya adalah musuh yang harus dimusnahkan. “Katakan siapa kamu!” “Maaf, Tuan. Saya bukan siapa-siapa.” Lelaki itu memohon. Ia tidak punya tenaga untuk melawan. Tenaga Arsen terlalu kuat untuk melawan orang selemah itu. Lelaki itu terlihat sangat takut dan tidak bisa berkutik. Tubuhnya terkuci dan persendiannya lemas. “Sepertinya dia hanya pekerja pelabuhan biasa. Bukan anak buah Adi Putro.” Winata Yoga berkata, ia tidak ingin Arsen membunuh sembarang orang. Tangan Arsen mulai melemah. Lelaki itu bisa bernapas lega. Setidaknya ia bisa pergi dari bahaya yang mendekat. “Pergi kamu dari sini jika tidak ingin mati!” “Ba—ik.” Lelaki itu segera berlari. Arsen melihatnya lari dari kajauhan. Dor!!!  Sebuah tembakan tiba-tiba menyerang lelaki tersebut dan membuat tubuhnya lunglai. Tubuhnya melemah dan jatuh. Arsen mencari asal suara. Insting dan pendengarannya yang tajam membuat matanya tertuju pada sudut 30 derajat dari tempatnya berdiri. Arsen sekilas melihat lelaki berpakain hitam membawa senapan Panjang. Ia sengaja mengarahkannya kea rah lelaki itu. “Bawa Tuan Winata Yoga pergi dari sini. Aku akan membereskan semuanya.”            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN