Arsen masih mengejar pria berjaket hitam ke arah utara dermaga. Pria itu membunuh lelaki muda yang sama sekali tidak bersalah. Arsen merasa pria itu mempunyai niat tidak baik kepada Winata Yoga. Arsen langsung merespon hall tersebut dan tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Ia akan mengejar pria itu sampai dapat. Tidak ada yang bisa menghentikannya sebelum Arsen menangkapnya dan membawanya ke hadapan Winata Yoga.
Arsen telah meminta Mr. Zian untuk membawa Winata Pergi. Insting Aren mengatakan jika pria itu tidak sendiri. Akan sangat berbahaya bagi Winata Yoga jika masih tinggal. Awalnya Winata Yoga menolak karena ia tidak ingin keberadaan Arsen akan diketahui Adi Putro. Ia tidak ingin musuh bebuyutannya itu mengetahui kembalinya Arsen. Mr. Zian tidak setuju dengan keinginan Winata Yoga. Baginya hal itu justru kesempatan baik bagi Arsen untuk mengasah kemampuannya secara nyata. Lelaki itu akan merasakan bagaimana cara mengatur starategi dan tubuhnya saat mengahadapi lawan.
Mau tidak mau akhirnya Winata Yoga harus memilih untuk mengalah. Ia membiarkan Arsen berjuang sendiri untuk mencari fakta siapa lelaki penembak itu sebenarnya. Apakah semua ada kaitannya dengan Adi Putro atau musuh lainnya yang memang mengincar Winata Yoga.
Lelaki berjaket hitam itu mengilang di balik boks container. Sayup-sayup suara debur ombak membuat konsentrasi Arsen terpecah. Ia masih belum bisa focus membedakan suara derap langakh dengan deburan ombak laut.
Arsen berjalan pelan dan memokuskan pendengarannya. Ia merasa satu titik berjarak 50 meter di depannya ada getaran kecil yang membuatnya yakin jika lelaki itu bersembunyi di sana. Ia berjalan mengendap. Sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara, ia tidak ingin pria itu kabur tanpa meninggalkan jejak.
Satu bayangan jelas terlihat di depan Arsen. Ia hanya tersenyum bersiap menangkap pria penembak itu.
“Kena kamu!” Arsen langsung menyigap lelaki itu dari belakang. Melumpuhkannya dan membuang senjata di tangannya.
“Lepas!!” lelaki itu meronta. Ia tidak membiarkan Arsen menangkapnya dengan mudah.
Arsen menguncinya dan memukul bagian lehernya hingga membuat lelaki itu pingsan.
“Semudah ini melumpuhkan dirimu!” Arsen tersenyum puas. Ia pulang membawa mangsa yang siap disiksa untuk mengetahui kebenarannya. Ia akan mencari tahu motif lelaki itu menembak lelaki yang tengah bersama Arsen beberapa waktu lalu.
Tidak mau membuang waktu. Arsen langsung menelpon anak buahnya untuk menjemputnya di dermaga. Tadi pagi saat lari bersama, ia sempat bertukar nomor ponsel dengan beberapa anak buahnya. Setidaknya hal itu akan memudahkan untuk berkomunikasi ke depannya.
Arsen menyeret lelaki itu ke belakang boks container. Setidaknya sebelum segerombolannya datang Arsen bisa bersembunyi terlebih dahulu. Sambil menunggu anak buahnya datang. Arsen mencoba menelepon Matew. Entah kenapa lelaki itu tiba-tiba berpikir untuk menelepon Matew. Ia merasa penasaran dengan apa yang dikatakannya.
“Keluar kamu b*****h!”
Sebuah suara terdengar menggelegar. Persis seperti dugaan Arsen. Segerombolan lelaki itu datang bersenjata. Mereka terlihat beringas dan tidak terima Arsen melumpuhkan temannya.
Arsen masih berdiam di tempat persebunyiannya. Ia mengatur strategi untuk melumpuhkan lawannya menggunakan tangan kosong. Ia tidak lupa mengikat tangan pria di sampingnya menggunakan tali yang tergeletak. Ia tidak akan membiarkan pria di sampingnya pergi begitu saja. Baginya pria itu adalah saksi kunci penyerangan lelaki muda tadi.
“Keluar pecundang! Aku tahu kamu masih di sini!”
Suara itu terdengar kembali menantang. Mereka tidak terima jika Arsen membunuh temannya.
“Jangan kamu pikir bisa lari! Aku tidak akan membiarkanmu lolos!”
Arsen mengatur startegi dan menyiapkan kuda-kudanya. Ia keluar persembunyian dan terlihat santai.
“Aku di sini. Apa yang kalian cari?”
“Akhirnya kamu muncul!”
“Apa urusanmu?”
“Kamu membunuh temanku! Biadab! Kamu anak buah Adi Putro? hah?!”
Arsen mulai bingung. Ia merasa tidak asing dengan nama itu. Namun, ia mulai berpikir jika terjadi ksalah pahaman.
“Saya tidak membunuh siapapun! Aku pun tidak mengenal siapa temanmu.”
“Bohong! Kami melihatmu memukulnya. Kami melihatnya ketakutan. Kamu membiarkannya pergi, tetapi menembaknya. Biadab!” Salah seorang ketua gerombolan itu menjelaskan maksudnya. Mereka adalah kawanan lelaki muda yang ditembak pria berjaket hitam.
Mereka mengira Arsen yang membunuh temannya. Mereka juga mengira Arsen adalah anak buah Adi Putro. Sang penguasa di pelabuhan. Semua penguasa di sana akan tunduk Ketika mendengar nama Adi Putro. Mereka tidak ingin membuat masalah dengan Adi Putro. Mereka sangat tahu apa yang terjadi jika melawan. Nyawa yang akan menjadi taruhannya.
“Aku tidak membunuh siapapun! Kalian salah paham.”
“Bohong!”
Mereka tidak percaya dnegan apa yang Arsen katakan. Baginya lelaki di depan mereka hanyalah pembual yang mengabdi kepada Adi Putro. Tanpa basa-basi mereka langsung menyerang Arsen sesuai komando.
Arsen bersiap menerima serangan mereka. Tidak sulit melumpuhkan tenaga lemah seperti mereka. Arsen mampu menyerang mereka balik dan keadaan berbalik meski jumlah musuh lebih banyak.
“Berulang kali kukatakan, kenapa kalian tidak mau mendengar? Aku bukan pembunuhnya. Aku bukan anak buah Adi Putro. Aku adalah anak buah Winata Yoga!”
“Winata Yoga?” Mereka terbelalak. Ia tidak menyangka tengah berhadapan dengan anak buah sang pejabat di kota mereka.
Selain nama Adi Putro. Nama Winata Yoga juga seolah mempunyai kekuatan besar. Penguasa mana pun pasti akan berpikir berulang kali saat berhadapan dengannya.
Hal itu pernah dialami Haikal. Pemuda yang pernah membuat masalah dengan keluarga Winata Yoga. Setelah kejadian di mana Haikal menyerang Arsen, Winata Yoga tidak tinggal diam. Ia melakukan hal itu untuk harga diri keluarga dan putri tunggalnya. Haikal telah berbut kurang ajar dan harus mendapat ganjarannya.
Haikal yang meminta perlindungan sang ayah terasa percuma. Lelaki itu tidak berdaya jika sudah menyangkut urusan dengan Winata Yoga. Haikal tidak bisa berbuat apa pun dan harus menerima hukuman. Ayahnya tidak ingin bisnisnya bermasalah karena ulah anaknya. Ia memilih menyerahkan anaknya dan memberi Haikal pelajaran untuk menerima akibat ulahnya.
***
Arsen berhasil membawa pria penembak itu ke dalam gudang bawah tanah milik Winata Yoga. Ia sudah menghubungi Winata Yoga agar segera datang dan menginterogasi lelaki tersebut. Arsen menangkap ada hal yang tidak beres. Pria itu seperti sengaja melakukan penembakan untuk mengadu domba kedua pihak.
Ia telah memberitahu Winata Yoga sebelumnya. Mereka akan mengintrogasi orang tersebut sampai mengaku.
Beberapa pria berpakaian formal berjaga ketat di depan pintu gerbang. Winata Yoga mengantisipasi jika musuh datang menyerang setelah Arsen menangkap pria berjaket hitam di pelabuhan. Kejadian seperti itu terjadi berulang kali. Baik di kediaman lama maupun baru, suasana akan terasa mencekam. Arsen kembali seolah menunjukkan siungnya. Kebesaran nama Winata Yoga seolah menggaung kembali. Arsen berhasil menangkap penjahat yang tentu saja membuat kediaman Winata Yoga kembali mencekam.
Giselle yang baru saja datang merasa aneh. Sudah lama ia tidak melihat suasana seperti ini. Banyak hal yang tidak biasa semenjak beberapa bulan yang lalu. Ia sudah merasa lama sekali tidak meluhat beberapa pengawal berjaga ketat di depan pintu gerbang.
Satu hal yang Giselle tangkap jika keadaan sudah seperti itu. Suasana mencekam dan serangan musuh akan terjadi sebentar lagi. Giselle berjalan pelan mendekati paviliun samping rumah setelah turun dari mobil. Entah kata hatinya mengatakan ada sesuatu di paviliun itu.
Tempat tinggal para pengawal itu seolah menyimpan sebuah rahasia besar. Ia melihat Matew yang berjalan keluar paviliun tergesa-gesa. Lelaki itu terlihat sangat sibuk dan terlihat menelepon beberapa orang. Ia tidak memedulikan kedatangan Giselle.
“Apa yang sedang terjadi?”
Giselle mulai berjalan ke gudang bawah tengah di samping paviliun. Terlihat empat anak buah Winata Yoga juga berjaga di sana. Mereka langsung menahan kedatangan Giselle. Mereka tidak membiarkan sang Nona masuk dan membuat ulah.
“Papa di dalam?”
“Maaf Nona dilarang masuk.”
Giselle merasa kesal. Ia merasa keadaan genting dan Giselle tidak tahu apa-apa.
“Katakan padaku apa yang terjadi?”
“Maaf, Nona tidak perlu tahu.”
Giselle masih kesal. Ia tidak bisa mencari informasi apa pun. Semua pengawal Winata Yoga bungkam dan menyembunyikan sesuatu.
Melihat sesosok berkacamata hitam memakai kemeja hitam berlengan pendek keluar. Giselle langsung menarik lelaki itu untuk mencari tahu. Gadis itu tidak peduli dengan siapa ia berbicara. Bahkan ia tidak peduli jika mereka tidak mengenal satu sama lain.
“Katakan padaku ada apa di dalam? Kamu pengawal baru Papa, kan?”
Lelaki itu terkejut Giselle menarik tangannya. Ia merasa gadis di depannya adalah gadis semalam yang ia lihat, meskipun ia tidak begitu jelas melihat wajah cantik gadis di jendela saat itu.
Arsen terdiam tidak mengeluarkan suara. Ia membiarkan Giselle mengeluarkan segala keluh kesahnya tanpa tahu lelaki di depannya siapa.
“Kenapa diam? Cepat katakan!”
Arsen masih membiarkan Giselle menarik tangannya. Ia masih diam melihat Giselle yang terus saja mengoceh tidak ada henti.
“Kenapa kalian ini semua sama saja! Aku bertanya tidak ada yang menjawab.”
“Giselle sedang apa kamu di sini?” Winata Yoga datang melihat anak gadisnya menarik tangan Arsen.
Melihat papanya, Giselle langsung melepas tangannya. Ia tidak ingin papanya murka karena melihat reaksi Giselle terhadap pengawal barunya. Sinyal buruk terlihat jelas dari raut wajah Winata Yoga.
“Kamu baru pulang?” Winata Yoga bertanya tajam. Sepertinya ia mempunyai alasan untuk membuat anak gadisnya berhenti memburu Arsen.
Giselle salah tingkah menanggapi pertanyaan papanya. Ia memilih menunduk dan tidak menjawab. Ia tahu jika papanya sedang marah.
Arsen yang melihat gadis di depannya merasa aneh. Gadis yang tadinya terdengar cerewet tiba-tiba saja diam saat mendengar suara Winata Yoga tajam. Ia memilih pergi dari pada berada di antara keduanya. Ia tidak mau ikut campur hubungan orang tua dan anak tersebut. Masih banyak hal yang harus Arsen kerjakan soal pengamanan kediaman Winata Yoga. Ia meminta Matew untuk berjaga radius 200m dari kediaman Winata Yoga. Hal itu ia lakukan untuk menjaga keamanan berlapis kediaman Winata Yoga.