“Siapa yang menyuruhmu!” Arsen menyentak pria di depannya.
Pria itu terikat di kursi dan mendapat pukulan bertubi-tubi. Pelipis dan hidungnya mengeluarkan darah. Arsen tidak tanggung-tanggung memukulnya. Lelaki itu merasa pria di depannya menyimpan satu rahasia besar yang menjadi kunci kejadian siang tadi.
Lelaki itu memilih bungkam dan menerima pukulan Arsen bertubi-tubi. Ia tidak mau membuka suara sedikit pun. Pria itu hanya tersenyum sinis setiap Arsen memukulnya. Ditambah lagi kadatangan Winata Yoga membuat pria itu sama sekali tidak gentar. Ancaman dan pukulan yang menyerang tidak membuat lelaki itu menyerah. Ia tetap kukuh dengan pendiriannya. Ia tidak akan membuka rahasia siapa yang menyuruhnya. Bahkan pria itu siap mati jika mereka membunuhnya.
“Kamu keras kepala!” Arsen kembali memukulnya.
“Kamu pukul sekuat apa pun aku tidak akan mengatakannya.”
“Keras kepala!”
Arsen memukul dinding di depannya. Amarahnya meletup karena pria tersebut masih memilih bungkam. Beberapa anak buahnya melihatnya heran. Tidak pernah Arsen semarah itu. Biasanya saat marah Arsen memilih lebih banyak diam dari pada melampiaskannya. Emosinya pun terasa sangat berbeda. Auranya lebih kuat dan menunjukkan betapa menyeramkannya lelaki itu.
“Tenang, Bos. Biarkan dia berpikir. Aku yakin dia akan lelah dan menyerah.”
“Cih! Tidak akan!”
“b******k!” Arsen berada pada puncak kemarahannya. Ia tidak suka melihat lelaki di depannya keras kepala.
Ia tidak ingin seorang pun melawan keinginannya. Ia tidak bisa sabar menghadapi orang yang terlalu bertele-tele.
Satu pukulan kembali melayang hingga membuat tubuh itu meringkuk kesakitan saat tubuhnya jatuh bersama kursi yang mengikatnya. Lelaki itu merasa tubuhnya remuk seketika. Perutnya tidak kuat menahan tendangan Arsen yang begitu keras.
Beberapa anak buah Arsen merasa miris melihatnya. Mereka yang tidak merasakannya ikut merasa nyeri yang hebat. Apa lagi jika mereka yang mendapat sasaran amarah Arsen. Bisa dipastikan mereka hanya tinggal nama dan jasad yang terbujur kaku.
Sesosok yang terkenal karena kesabarannya itu tidak terlihat sama sekali. Tenaga Arsen memang lebih besar, tetapi diimbangi dengan emosi yang kuat. Mereka pun takut berkata sesuatu. Takut jika mereka menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya.
“Kalian jaga dia dengan baik!” Setelah puas memukul. Arsen memilih keluar.
Kedua anak buahnya hanya mengangguk ketakutan. Mereka tidak berani berkata atau menjeda ucapan Arsen. Setidaknya melihat Arsen pergi membuat mereka lega.
Arsen keluar gudang bawah tanah. Ia mulai meredakan emosinya. Ia tahu emosinya membuat orang di sekitarnya ketakutan. Akan tetapi hal itu memang tidak bisa Arsen tahan. Emosinya akan memuncak saat terpancing amarah. Oleh karena itu Arsen memilih keluar untuk mengalihkan emosinya. Ia berjalan terus menuju paviliun tempatnya tinggal. Beberapa anak buahnya masih berjaga dengan ketat. Mereka akan bergantian sesuai jam yang telah di atur oleh Matew. Semua siap siaga jika serangan mendadak terjadi. Mereka belajar dari pengalaman yang sudah-sudah. Saat mereka lengah musuh bisa saja menyerang. Apa lagi kejadian penyerangan terkahir sangat membekas di dalam ingatan mereka.
Malam di mana Arsen dan beberapa anak buah lainnya yang tertembak mati karena serangan anak buah Adi Putro. Mereka membalas dendam karena Arsen berhasil melumpuhkan John. Anak buah terbaik Adi Putro sekaligus kepercayaannya. Mereka merasa tidak terima dan akhirnya menyerang balik dengan dalih nyawa harus dibayar dengan nyawa.
Arsen kembali berpikir rencana apa yang harus ia lakukan untuk membuat lelaki itu mengaku. Bahkan ia mulai berpikir untuk menggunakan caranya untuk menantang sang tuan mau keluar. Lelaki masih bergelut dengan pikirannya. Ia berhenti dan melihat ke arah jendela. Cahaya di dalam kamar tersebut terlihat redup. Arsen terus saja melihatnya, seolah berharap jika gadis di dalamnya akan membuka jendela kamar dan menyapanya.
“Apa dia sudah tidur?” Arsen bergumam sendiri. Ia masih berdiri pada satu titik di mana dirinya bisa melihat jendela kamar Giselle.
“Arsen, kamu harus beristirahat.” Mr. Zian datang menghampiri Arsen.
Ia tahu jika Arsen belum bisa mengendalikan emosinya. Amarahnya berubah brutal hingga membuatnya terlihat sangat bengis.
“Aku masih ingin di sini.”
Mr. Zian melihat Arsen aneh. Lelaki yang beberapa bulan baru ia kenal terlihat berbeda dari biasanya. Meskipun di dalam tubuhnya tidak tersistem perasaan sensitive seperti cinta, Mr. Zian bisa memastikan jika Arsen tengah memikirkan seseorang. Lelaki itu sejak semalam mengamati Arsen. Apa lagi pagi tadi. Arsen tidak bisa melepas pandangannya pada Giselle. Anak tunggal Winata Yoga.
Mr. Zian memang pernah mendengar dari Winata Yoga jika Arsen dan Giselle memang pernah menjalin hubungan yang dekat. Bahkan bisa dikatakan Arsen selalu menjaga Giselle dengan baik. Perasaannya yang mendalam membuat lelaki itu rela mengorbankan nyawanya hanya untuk gadis yang ia sayangi. Perasaan yng sangat sentimentil dan membawanya selalu dalam bahaya.
“Kamu tertarik dengannya?” Mr. Zian tersenyum. Ia mengikuti arah pandangan Arsen.
Jendela kamar lantai dua itu seolah terlihat sangat menarik sekarang. Mr. Zian pun ikut penasaran siapa penghuni di dalamnya.
“Saya hanya ingin memastikan semua aman.”
Arsen mengalihkan pandangannya. Lelaki itu masih berdiri dan melihat Mr Zian di depannya. iA sendiri tidak tahu bagaimana mengartikan pandangannya. Arsen hanya merasa tertarik melihat jendela itu. Hanya saja ia masih takut menunjukkan siapa dirinya. Ia tidak ingin Giselle melihatnya memandang dai kejauhan. Arsen merasa Giselle bukanlah gadis yang mudah ditaklukkan. Gadis itu memiliki pendirian yang kuat dan tidak mudah menjatuhkan perasaannya.
Mendengar keterangan Matew soal kematian Reno membuat Arsen berpikir jika gadis itu telah memiliki pasangan. Ia beranggapan Giselle dengan lelaki yang bernama Reno memiliki hubungan khusus sehingga membuat Giselle mau mengambil resiko. Hal itu membuat Arsen memilih tidak peduli. Ia seolah hanya menjalankan kewajibannya sebagai kepala pengawal dan memastikan semuanya baik-baik saja. Hal itulah yang selalu ia dengar saat dulu. Dirinya hanyalah seorang kepala pengawal yang bertanggung jawab penuh atas keamanan keluarga Winata Yoga.
“Kamu harus menjaga dirimu. Ingat cinta hanya akan melemahkanmu!”
Mr. Zian kembali mengingatkan Arsen. Ia tahu sisa-sisa perasaan Arsen kepada Giselle tetap masih tertinggal. Akan tetapi, lelaki itu tidak mau hal itu justru malah membahayakan diri Arsen sendiri.
Arsen mengangguk lemah. Ia merasa pasrah dengan apa yang dikatakan rekannya. Di dalam pikirannya hanya tergambar pertarungan dan menjadi kuat. Lelaki itu memilih masuk ke dalam paviliun untuk beristirahat. Ia berpikir akan mereset semua memorinya hari ini untuk melupakan apa yang terjadi. Ia tidak ingin menjadi lemah seperti yang dikatakan Mr. Zian. Tujuan hidupnya hanya untuk melindungi dan menjadi yang tehebat. Kekuatan besarnya mampu mengalahkan lawan dan membuatnya menjadi orang hebat dan kuat.
Setelah masuk kamar, Arsen masih tertarik melihat di balik jendela. Kali ini cahaya terang mulai terlihat dari dalam kamar Giselle. Memori yang harusnya Arsen reset ulang ia tahan. Lelaki itu memilih terjaga dan membiakan memorinya mengingat lagi wajah Giselle.
Arsen tidak bisa merasakan degupan jantung layaknya manusia. Namun, system di dalam tubuhnya terasa menolak apa yang Arsen rasakan. Ia seperti terkena sengatan listrik yang membuat tubuhnya melemah. Arsen mencoba melawannya, tetapi mau tidak mau Arsen memang harus mereset semuanya agar keadaannya lebih baik.
“Selamat malam. Semoga kamu masih bisa tersenyum dan tidur nyenyak.”
Arsen menutup tirai jendela. Ia kembali berbaring dan melakukan ritual malamnya. Ia berharap pagi hari nanti episode baru kehidupannya menanti dan membuat Arsen bisa lebih baik lagi.
***
Sebuah keributan besar terjadi di depan kediaman Winata Yoga. Seorang lelaki tidak waras mengamuk di depan gerbang kediaman Winata Yoga. Ia terus saja meracau dan melempari pengawal winata Yoga dengan sampah. Matew merasa kehdiran orang gila tersebut seperti disengaja.
Ia langsung melaporkan semua kejadian itu kepada Winata Yoga dan Arsen. Biar bagaimanaoun mereka harus tahu apa yang terjadi. Keberadaan orag gila tersebut seperti sebuah trik untuk memancing anak buah Winata Yoga lemah. Matew mulai menyoroti sikap orang gila itu yang seakan mencari celah untuk masuk.
Dari CCTV Matew bisa melihat jika ekor mata orang gila tersebut mengarah ke pintu masuk kediaman Winata Yoga. Teriakan dan lolongannya seolah menjadi symbol untuk memanggil rekan-rekannya.
Matew memberi kode pada rekannya agar tetap menahan orang gila tersebut di depan. Jangan sampai orang gila itu masuk kadalam dan membuat rekannya bisa menguasai kediaman Winata Yoga.
Arsen buru-buru keluar dari paviliun hingga lupa memakai kacamata. Ia langsung mengampiri Matew yang masih mengamati keberadaan orang gila tersebut. Ia hanya memakai kaus hitam lengan pendek dan rambut hitamnya terlihat lebih rapi tanpa penutup kepala.
“Apa yang terjadi?” tanya Arsen melihat kepanikan beberapa anak buahnya panik.
Salah satunya adalah Matew. Lelaki yang paling bertanggung jawab atas keamanan yang terjadi. Rasanya ia merasa sangat gagal jika tidak bisa mengatasi kekacauan yang terjadi.
“Sepertinya ada penyusup yang mencoba masuk.”
“Menurutmu siapa biang keroknya?”
“Adi Putro.”
“Adi Putro?” Arsen merasa tidak asing dengan nama itu. Sebuah nama yang ia dengar saat pertarungan kemarin. "Apa ada kemungkinan tawanan kita di dalam adalah suruhan Adi Putro?" Arsen mencoba menerka. Meksipun kemungkinannya 50 persen, nama itu bisa menjadi alasan Tawanan Arsen bungkam.
“Bisa, Adi Putro itu licik. Ia akan melakukan apa saja untuk membuat misinya terpenuhi.”
Arsen berpikir ia mulai berpikir untuk menjalankan rencananya. Ia tidak takut jika harus menantang nyawa. Ia juga tidak takut jika Adi Putro akan marah besar karena ulahnya. Semua itu memang sengaja ia lakukan untuk memancing Adi Putro keluar menunjukkan siungnya. Jangan hanya bersembunyi di balik kawanan anak buahnya yang selalu dijadikan umpan.
“Kamu terus awasi mereka. Aku akan mengatasi tawanan kita.”
“Mau ke mana, Bos?”
“Kita lihat saja apa yang akan terjadi.” Arsen tersenyum licik.
Ia merasa geraj jika harus terus-terusan menunggu tanpa kejelasan yang pasti. Membiarkan orang gila itu membuat ulah sama saja menunggu ketidakpastian. Arsen hanya butuh siapa dalang di belakang semua itu. Dan semua kuncinya ada pada tawanan mereka. Arsen keluar ruang CCTV dan bersiap menuju tempat tawanan mereka berada. Tidak sengaja hampir saja Arsen bertemu dengan Giselle.
Suara nyaring gadis itu membuat Arsen terlebih dahulu bersembunyi. System di dalam tubuhnya mengatakan jika dirinya harus menghindar dan bersembunyi. Hal itu benar Arsen lakukan dan Giselle tidak melihatnya.
Gadis itu terdengar sedang menerima telepon. Tawanya yang renyah seolah menggambarkan jika gadis itu sangat bahagia. Lalu Lalang para pengawal ayahnya membuat Giselle sedikit bingung. Ia berpikir jika masalah semalam pasti belum selesai.
Arsen masih mengawasi Giselle dari balik dinding. Ia melihat gadis itu berbincang dengan salah satu pengawal Winata Yoga terlihat serius.
“Apa yang mereka bicarakan? Apa dia akan keluar?”
Setelah terlihat berbincang, Giselle kembali masuk ke dalam. Gadis itu sepertinya mengurungkan niatnya untuk keluar. Arsen merasa lega. Keadaan seperti ini hanya akan membuat kondisi puteri tunggal Winata Yoga tidak akan aman.
Setelah memastikan Giselle berada di dalam rumah. Arsen langsung masuk ke dalam gudang bawah tanah dan membangunkan tawanannya. Ia tidak peduli lelaki itu terlihat begitu pucat dan kesakitan. Semua itu harus ia terima karena tidak mau bekerjasama.
“Sudah saatnya bangun!”
Arsen mengguyur sebotol air pada wajah tawanannya yang meringkuk kesakitan. Ia bisa terlihat lebih kejam dari semalam jika lelaki itu tidak mau menuruti keinginannaya. Arsen punya cara tersendiri untuk membuat tawanannya itu menyerah dan membuat biangnya keluar dan mengamuk.
“Ikut!” Arsen menarik tali yang mengikat tawanannya. Lelaki itu masa bodoh dengan keadaan tawanannya yang terlihat sangat pucat. Semua itu terjadi atas kehendaknya sendiri.
“Ma—u ke mana kamu membawaku?”
“Diam! Kamu akan tahu ke mana kita pergi!”
Arsen terus menyeret lelaki itu melalui pintu belakang gudang. Ia tidak ingin kepergiannya menjadi perhatian. Apa kagi keberadaan orang gila di depan mencurigakan. Ia akan mengamankan tawanannya terlebih dulu sebelum musuh berhasil menemukannya. Setidaknya mereka akan kecewa tidak menemukan temannya.
Arsen menghubungi salah satu anak buahnya untuk datang ke tempatnya. Ia ingain membawa tawanannya keluar kediaman Winata Yoga dan menjalankan rencananya. Ia hanya ingin tahu seberapa besar kekuatan di belakang tawanannya. Ia hanya ingin tahu bagaimana menjajal kekuatan besar yang bersikap sok berkuasa dan mengintimidasi.
“Kita berangkat sekarang dan jangan sampai ada yang tahu.”
Anak buah Arsen hanya mengangguk. Ia mengerti apa yang dimaksud bosnya. ia mulai paham dengan situasi yang Arsen ciptakan. Seperti biasa, lelaki itu tidak takut mengambil resiko besar. Hal itulah yang selalu membuat para anak buahnya senang dengan kepempinannya. Lelaki itu akan bertindak tegas dan tidak bertele-tele.