Giselle merasa kesal karena ruang geraknya terbatas. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Namun, semenjak pengawal baru Winata yoga datang. Ia merasa ketentraman rumahnya kembali kacau. Beberapa bulan Giselle sudah merasakan rumahnya merasa aman tidak ada gangguan. Saat Giselle pergi ke mana pun tidak ada lagi yang melarang selain papanya.
Semalam Giselle pun sudah merasa kesal karena rumahnya mulai dipenuhi dengan pengawal berpakaian formal seperti dulu. Semua yang terjadi semalam dan pagi tadi membuat Giselle marah-marah. Tidak peduli kepada siapa pun ia marah. Giselle akan melampiaskan semuanya.
Pagi tadi sebenarnya Giselle mencari pengawal Winata Yoga yang selalu berkacamata hitam, tetapi ia tidak bisa menemukannya. Ia mencoba menanyakannya berulang kali pada pengawal lainnya. Mereka menjawab tidak tahu di mana keberadaannya. Sejak pagi mereka sudah disibukkan dengan orang gila yang mengamuk di depan rumah. Hal itu sudah membuat pusing seluruh anak buah Winata Yoga.
“Pa, apa yang terjadi? Kenapa semua panik?” Giselle melontarkan kekesalannya saat sarapan bersama.
Gadis itu tidak peduli ada Mr. Zian yang sedang makan bersama. Bahkan ia juga tidak peduli jika lelaki itu menganggap Giselle hanyalah seorang gadis manja yang tidak tahu tata krama.
“Makanlah.” Winata Yoga melirik Mr. Zian. Lelaki itu melirik Giselle tersenyum. Ia merasa tidak enak dengan tingah Giselle yang keterlaluan.
Ny. Winata Yoga hanya bisa membuat sang suami untuk menahan amarahnya terlebih dahulu. Ia tidak ingin situasi semakin kacau bila sang suami terpancing kemarahan dari putrinya sendiri. Mr. Zian pun terlihat memaklumi sikap puteri tunggal Winata Yoga.
gadis manapun seusia Giselle pasti tidak akan menerima keadaan yang membuatnya tidak bebas. Apa lagi saat gadis itu merasa kecewa. Ada rasa takut untuk kehilangan lagi pasti sangat terasa.
“Giselle sebaiknya kamu menunda dulu aktivitasmu di luar.”
Ny. Winata yoga menasihati putrinya. Ia tidak ingin keinginan Giselle justru membuat gadis itu terjebak dengan masalah Winata Yoga yang Kembali memanas.
“Pa, kenapa papa membawa pengawal baru? Lelaki itu sangat menyebalkan! Tidak sopan!”
“Pengawal baru?” Winata yoga dan Mr, Zian bertanya.
“Lelaki yang selalu berkacamata itu. Aku bertanya dan dia sama sekali tidak mau menjawab! Dia sangat buruk perilakunya. Sangat jauh berbeda dengan …” Giselle tidak melanjutkan ucapannya. Menyebut Namanya saja mengorek luka masa lalunya. Giselle tidak ingin hal itu terjadi. Ia hanya ingin menyimpan nama Arsen di dalam hati dan tidak akan mengeluarkannya. Ia hanya ingin nama itu yang terus mengisi Namanya sampai nanti.
“Semua itu perintah Papa!”
“Pa … apa salah Giselle. Aku anak tunggal papa, pewaris semua yang papa miliki. Aku berhak mengetahuinya!”
Mr. Zian terus tersenyum mendengar ucapan Giselle. Menurutnya gadis piihan Arsen memang terdengar pemberani dan cerdas. Hanya saja raganya seorang wanita membuat gadis itu akan selalu tampak lemah di hadapan musuh.
“Jika waktunya tiba, kamu akan mengerti apa yang terjadi.”
Winata Yoga memberi kode pada Mr. Zian untuk bangkit dari tempat duduknya. Mereka berdua melanjutkan pembahasan tentang system keamanan ganda bagi setiap pengawalnya. Winata Yoga mulai tertarik dengan perisai diri yang diciptakan oleh Prof. Ruizen. Perisai itu mampu melindungi tubuh dari serangan musuh. Perisai itu sangat berguna dalam keadaan terdesak. Penggunaannya pun cukup mudah. Hal itu yang membuat Winata Yoga tertarik untuk melakukan uji coba.
“Ma, papa menyembunyikan sesuatu padaku?” Giselle merasa aneh. Ia merasa semuanya menyembunyikan satu hal darinya.
“Kamu tidak usah berpikiran macam-macam. Kamu mau ikut kegiatan mama?”
“Besok mama akan menghadiri acara amal di panti asuhan. Apa kamu ingin ikut?”
Giselle berpikir. Selama ini ia memang sangat jarang berinteraksi di luar. Ia juga sangat jarang mendampingi ibunya dalam kegiatan social. Padahal sebagai puteri tunggal Winata Yoga, Giselle harus mau bersosiaisasi dengan dunia luar. Ia adalah pewaris tunggal Winata Yoga. Giselle yang akan menjadi tombak tertinggi kekuasaan Winata yoga nantinya.
Gadis itu seharusnya tumbuh dengan ditempa sikap kepemimpinan. Bukan sikap yang terlalu manja yang membuat gadis itu keras kepala dan selalu merajuk. Giselle belum sepenuhnya bisa berpikir dewasa. Gadis itu masih selalu mengandalkan emosi dalam tindak-tanduknya.
“Bagaimana? Mama tidak akan mengajak banyak pengawal. Mama hanya mengajak satu pengawal yang bisa menjaga kita dengan baik.
“Itu terserah mama, yang penting aku gak mau mama mengajak pengawal sombong itu.”
“Maksud kamu Arsen?”
“Uncle bro tidak pernah sombong. Jangan samakan uncle dengan lelaki itu, aku tidak suka!”
Ny. Winata Yoga hanya bisa menggeleng. Putri tunggalnya tidak tahu siapa lelaki yang dimaksud Giselle. Bagaimana bila nantinya putrinya tahu siapa lelaki yang tidak disukainya. Siapa lelaki yang menurutnya telah menjadi biang rusuh. Lambat laun semuanya akan tahu. Hanya tinggal Giselle mau menerima atau tidak.
Sebenarnya, Ny. Winata Yoga tidak pernah setuju jika Winata Yoga menyembunyikan identitas Arsen dan membuat mereka menjauh dan tidak saling kenal. Bagi Ny, Winata Yoga. Giselle berhak tahu bahwa Arsen telah kembali. Tidak ada hal yang akan membuatnya bahagai selain mendengar kabar kepulangan Arsen. Bahkan anak gadisnya akan bisa berubah membenci kedua orang tuanya jika mereka tetap menyembunyikan Arsen dari Giselle. Oleh karena itu, Ny. Winata Yoga berniat akan menemukan Arsen dan Giselle secara tidak sengaja di acara amal di panti tanpa sepengetauan sang suami.
Ia tidak sabar melihat semuanya. Ia yakin kekacauan hari ini akan bisa diselesaikan dengan baik oleh Arsen. Ny. Winata Yoga sudah paham akan hal itu. Kepala pengawal sang suami itu tidak akan pernah berubah dala loyalitasnya dalam bekerja. Ia hanya seorang yang selalu menghormati atasannya. Hanya saja hatinya yang berbeda membuat Arsen tidak terlihat seperti dulu. Perasaannya terasa mati dan tidak peduli.
***
Arsen membawa lelaki itu menuju gudang Adi Putro di pelabuhan. Ia sengaja sepanjang perjalan membuat tawanannya merasa tersiksa. Arsen yakin akan mendapat reaksi jika memang benar tawanannya adalah orang Winata Yoga. Logo di syal yang melilit di tangan seolah seperti symbol kekuasaan mereka seperti yang selalu dikenakan Marco berada.
“katakan pada tuanmu aku tidak pernah takut! Aku tunggu dia di dermaga pukul lima sore!” Arsen membuka pintu mobil.
Ia langsung mendorong lelaki tersebut keluar hingga membuat lelaki itu jatuh dan menjerit kesakitan. Arsen langsung meminta anak buahnya melajukan mobilnya menuju dermaga. Ia akan menunggu lawannya di sana. Selama perjalanan, satu hal membuat anak buahnya hanya menggeleng heran. Sikap yang diambil Arsen sangat berani. Adi Putro adalah kesatuan yang memeiliki anak buah di berbagai penjuru.
“Bos, kamu tidak takut Adi Putro akan menyerang?”
“Tidak. Aku sudah siap menghadapi semuanya. Kamu tidak peru khawatir. Jika Adi Putro marah, berarti tawanan kita memang Adi Putro yang menyuruh.”
“Ah, seperti itu?” Anak buah Arsen baru mengerti apa yang menjadi cara Arsen untuk memancing musuhnya keluar.
“Saat kita tenang-tenang saja di dermaga. Berarti ada pihak yang bersembunyi di balik topeng kejahatan.
Anak buah Arsen hanya mengangguk. Lelaki itu mulai mengemudi mobilnya memasuki area pelabuhan. Ini kedua kalinya Arsen berkunjung. Namun. Ia sudah hapal semuanya. Bahkan ia megingat titik di mana sang musuh menyrangany kemarin.
“Kamu tahu siapa nama gadis Tuan Winata Yoga?”
Anak buah Arsen langsung tersedak mendengarnya. Ia tidak menyangka Arsen sama sekali belum mengenali siapa Giselle sebenarnya. Hal itu memang terasa wajar. Hal yang ia dengar dari Matew. Arsen yang bersama mereka adalah sosok Arsen yang baru. Di dalam tubuhnya tertanam sebuah sistem di dalam chips yang akan menggerakkan semuanya.
Matew pun menjelaskan agar mereka tidak terkejut mendengar Arsen tidak mengenali mereka semua. Hal itu memang dikarenakan Arsen kembali menjadi sosok yang baru dengan ingatan yang tidak akan bisa pulih kembali.
“Giselle maksudnya?”
“Namanya Giselle?” Arsen memastikan. Tiba-tiba lelaki itu beralih topik membiacarakan tentang Giselle.
“Iya, Bos. Nona memang memiliki sikap yang sangat manja dan terkadang bersikap semaunya. Kamu tidak usah menganggap omongannya masuk ke dalam hati.”
“Dia pernah …”
“Ah, apa Bos menyukainya?” Anak buah Arsen menggodanya. Rasanya ia sangat senang jika Arsen dan Giselle dapat bersama lagi.
“Suka? Apa itu suka?”
Anak buahnya Arsen hanya bisa menepuk dahinya. Rasa-rasanya Arsen memang terlahir lagi secara utuh. Pria dewasa itu terasa seperti anak kecil yang memang tidak tahu menahu tentang cinta.
“Suka itu adalah perasaan saat kita selalu memikirkan orang tersebut.
“Apakah perasaan itu akan membuat kita mati?”
Anak buah Arsen langsung terhenyak, rasane pertanyaan Arsen terasa sangat konyol. Lelaki itu benar-benar tidak menyadari perasaannya sendiri. rekan Arsen bisa melihat jika lelaki di sampingnya itu masih menyimpan perasaan pada Giselle, tetapi perasaan itu memang belum muncul dan belum jelas.
“Perasan suka itu akan membuat hidup kita lebih berwarna. Kita akan selalu bersemangat dan bahagia. Melihatnya tersenyum saja membuat hati akan terasa ugh …”
“Apa kamu merasakannya pada Giselle?” tanya Arsen. Lelaki itu memang benar-benar sedang mencari tahu kebenaran dirinya dengan Giselle.
Melihat Giselle hanya membuat Arsen menghindar. Hal itu seolah menjadi hal wajib yang harus dilakukannya.
“Ayolah, Bos, mana mungkin Nona Giselle akan menyukaiku. Aku hanya pengawal rendahan ya g diangkat Tuan Winata Yoga untuk bekerja dengannya.”
Arsen hanya mengangguk. Ia mulai paham apa yang dikatakan anak buahnya. Penjelasan anak buahnya terasa sangat berbeda. lelaki di sampingnya terdengar begitu mengagungkan cinta di dalam hidupnya. Sangat jauh berbeda dengan Mr, Zian. Lelaki itu seolah menganggap cinta hanya menyusahkan baginya. Dia dan Prof. Ruizen memang tidak memiliki pasangan. Mereka menghabiskan waktu mereka hanya berada di labotarium dan melakukan eksperimen-eksperimen baru untuk berinovasi.
“Giselle gadis yang cantik.”
Arsen berucap singkat, tetapi hal itu terdengar lucu. Rekannya hanya bisa tertawa mendengarnya. Ia tidak pernah mendengar Arsen seperti itu. Lelaki itu biasanya hanya akan menunjukkan ekspresi diamnya saat beberapa anak buahnya menggodanya dengan menggunakan nama Giselle. Namun, sekarang Arsen malah menunjukkan secara terang-terangan memuji gadis tersebut.
***
“b******k ! Siapa yang melakukan semua ini?” Adi Putro terdengar sangat marah melihat sakah satu anak buahnya terkapar tidak berdaya.
Ia menemukan anak buahnya yang dikirm mengintai winata Yoga tertangkap. Padahal pagi tadi. Ia sudah mengutus orang untuk membuat keributan di kediaman winata yoga yang baru untuk membebaskan rekannya. Namun, Adi Putro salah. Salah satu anak buahnya malah sapai di tempatya dengan keadaan yang mengenaskan.
“Perbuatan siapa ini? Tidak mungkin anak buah Winata yoga yang melakukannya. Mereka semua hanya pengecut yang tidak bisa berbuat apa-apa selama tidak ada Arsen.”
Anak buah adi Putro hanya menunduk. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka katakan. Setelah berhasil menembus kediaman Winata Yoga, mereka tidak menemukan siapapun di dalam gudang. Saat para pengawal fokus di bagian depan beserta kamera CCTV. Beberapa anak buah Adi Putro berhasil masuk lewat pintu belakang. Sayangnya mereka tertipu. Mereka tidak menemukan siapapun di sana. Tidak ingin terjebak. Mereka langsung pergi meninggalkan gudang dengan tangan kosong.
“Katakan pecundang! Sejak kapan kamu becus mengurus masalahku!” Adi Putro bertanya kepada anak buahnya. Ia merasa sepeninggal john kekuatan Adi putro terasa tidak menunjukkan aumannya. Sama halnya dengan Winata Yoga yang memiliki Arsen.
“Dia meminta Tuan untuk menemuinya di dermaga ji—ka ingin membuat perhitungan.”
“Sialan! Dia menantangku! Siapa dia?”
Lelaki tu menceritakan bagaimana postur lelaki yang telah menyekapnya. Ia juga menceritkan betapa brutalnya lelaki itu saat memukulnya.
“Bawa aku ke dermaga!” Adi Putro berseru. Ia sudah berada di puncak kebencian. Ia merasa lelaki itu telab merendahkan dan menjatuhkan harga dirinya. Ia tidak sabar ingin segera bertemu dan membuat lelaki itu hera melakukannya.
Tidak menunda lagi, Adi Putro segera memenuhi undangan Arsen. Sebuah gencatan senjata terjadi tanpa sepengetahuan Winata Yoga. Mereka akan berduel hanya disaksiskan beberapa orang lainnya.
“Kita akan buktikan sejauh mana mereka akan blsa bertahan.”