Chapter 38

1888 Kata
Arsen berdiri dengan gagah ditemani salah seorang anak buahnya. Ia sudah mengira jika ada yang tidak terima saat Arsen menganiaya tawanannya. Buktinya sekarang Adi Putro berdiri di hadapan Arsen. Untuk menyembunyika identitasya. Arsen sengaja memakali penutup kepala yang berwana hitam yang memperlihatkan ujung matanya saja. Adi Putro berdiri di depan Arsen dangan barisan rapat anak buahnya di belakang.  Lelaki itu mengerahkan semua kekauatannya. Ia melakukan semua itu hanya ingin menunjukkan kepada Winata yoga jika kekuatan Adi Putro tidak bisa diremehkan. Suasana tegang terjadi hingga membuat  Rekannya Arsen ketakutan. Ia memilih bersembunyi di belakang Arsen dan memberitahu winata Yoga jika mereka tengah terkepung kekuatan winata Yoga. Rasanya sangat mustahil jika melihat jumlah personil yang tidak seimbang. Arsen hanya dua personil, sedangkan Adi Putro membawa kurang lebih 30 personil anak buahnya yang siapa membantunya saat kalah. Arsen hanya tertawa melihat kedatangan Adi Putro bersama anak buahnya. Bagi Arsen, Adi Putro hanya menunjukkan dirinya adalah pecundang. Lelaki itu tidak berani menemuinya sendiri. Ia justru membawa semua aak buahnya. “Siapa kamu? Tidak perlu tertawa sebelum kamu merasakan sama sakitnya.” Adi Putro berseru keras. Ia tidak terima anak buahnya diperlakukan seperti itu. Ia akan membalas apa yang terjadi dan masih nenerapkan hukum pembalasan dendam. Arsen tidak peduli dengan gertakan Adi Putro. baginya tidak ada yang bisa membuatnya takut. Semakin banyak personil yang dibawa Winata yoga hanya membuatnya semakin tertantang. Naluri bertarungnya semakin muncul dan tidak akan melewatkan setiap detik pertarungan mereka. “Aku hanyalah seorang petarung yang menginginkan pertanggung jawaban dari seorang pengecut sepertimu.” “b******k!! Apa maksudmu?!” Arsen tertawa keras. Ia tidak akan takut dan gentar jika harus mengeluarkan semua tenaganya. Bahkan ia siap membuat Adi Putro bertekuk lutut dan meminta maaf pada Winata Yoga. “Harusnya saya yang bertanya Tuan Adi Putro terhormat. Apa maksud anda mengirim orang anda untuk membunuh lelaki tidak berdosa.” “Cih! Apa urusanmu! Semua itu tidak ada hubungannya denganmu. Jangan terlalu ikut campur dengan urusan orang lain. Aku tidak suka!” Arsen mulai paham apa yang terjadi. Barisan anak buah Adi Putro belum menunjukkan reaksi berarti. Hal itu menunjukkan jika keadaan terkendali. Arsen masih bisa santai dan belum menemukan satu permainan yang tepat untuk memancing hasrat bertarungnya muncul. Adi Putro mulai bermain curang. Ia memberi kode pada anak buahnya untuk menyebar ke segala penjuru. Ia hanya ingin membuat lelaki di depannya lengah dan menghabisinya seketika. Ia tidak peduli jika permusuhannya dengan Winata Yoga akan tetap berlanjut. Ia juga tidak peduli dengan permintaan Marco yang menginginkan ayahnya berhenti bermusuhan dengan Winata Yoga. Namun, Adi Putro sama sekali tidak menanggapinya. Sampai kapanpun ia akan tetap menyerukan permusuhan selama Winata yoga masih ikut campur dalam usahanya. Adi Putro sangat tidak suka saat pekerjaannya diganggu. Ia juga tidak ingin orang-orangnya disentuh dan dianiaya. Hal itu sama saja akan meyulut kemarahan Adi Putro. “Ucapkan salam perpisahan! Kamu harus tahu tidak aka nada yang bisa bermain-main dengan Adi Putro!” Adi Putro langsung memberi kode pada anak buahnya untuk segera menyerang Arsen. Ia tidak sabar ingin melihat lelaki di depannya terkapar lemah dan tidak berdaya. Adi putro akan melakukan hal apapun asalkan membuat hatinya senang dan puas. Serangan demi serangan tertuju pada Arsen. Lelaki itu dengan lihai menghindar. Instingnya bekerja untuk membuat mereka kebingungan. Arsen mempunyai Gerakan yang sangat lincah hingga membuat mereka gagal menyerang. Mereka malah saling serang sendiri dan berakhir beberapa dari mereka terbunuh ioleh rekannya sendiri. Arsen merasa puas. Sistemnya masih mendeteksi keberadaan Adi Putro yang tiba-tiba menghilang. Indera pendengarnya mendengar suara mobil menjauh saat mereka bertarung. Ternyata Adi putro telah menghilang dan pergi. Lelaki itu sangat terlihat jelas pengecut. Ia mengumpankan anak buahnya dan tidak mau mengambil resiko. Sebuah besi menghantam punggung Arsen. Lelaki itu hanya meringis merasakan pukulan. Ia hanya mengusap dan setelah malah tersenyum. Sekali hentakan tendangannya langsung membuat pemukulnya jatuh tersungkur. Ia mengambil alih besi di tangan dan mulai mengendalikan keadaan. Beberapa oramg telah kalah dan hanya tinggal beberapa orang dengan postur tubuh yang lumayan kekar. “katakan pada bosmu itu! Urusan kita belum selesai. Giselle membuang besi di tangannya perlahan. Ia bisa saja menggunakan besi di tangannya untuk membunuh mereka semua. Akan tetapi Arsen tidak ingin keluarga mereka akan kehilangan sosok suami atau anak yang menjadi tumpuan keluarga. Bagi Arsen hal itu sama sekali tidak masalah. Badan besar bukan jaminan mempunyai kekuatan besar. Arsen memukul dengan besi di tangannya, satu kali lelaki di depannya bisa bertahan. Akan tetapi, ketiga kalinya lelaki itu malah pergi menghilang. Satu per satu anak buah Adi Putro menjauh sama seperi induknya. Mereka masih sayang nyawa dan tidak ingin nasibnya berkahir tragis hanya di tangan Arsen. Kekuatan Arsen muncul begitu besar. Mereka sendiri takjub melihatnya. Kekuatan mereka hanya secuil kuku Arsen.  Lelaki itu terlihat sangat beringas dan menghabisi hampir separuh anak buah Adi Putro. “Bos … “ Anak buah Arsen muncul ketakutan. Ia tidak tahu harus senang atau bersedih. Ia sennag karena Arsen mempu melawan Adi Putro dan melumpuhkan Sebagian anak buahnya. “Kenapa kamu keluar?” “Bos …” Anak buah Arsen itu masih belum bisa menjelaskan semuanya dengan kata-kata. Ia terlalu kagum dan masih tidak percaya jika dirinya masih berada dalam keselamatan. Hampir saja ia berpikir jika hidupnya harus berhenti. Ia pasrah jika dirinya harus meninggal dalam pertarungan itu. Dan ternyata, Arsen melindunginya dengan baik. “Antar aku pulang. Aku ingin mandi dan beristirahat.” “Ba—ik, Bos.” Anak buah Arsen langsung mengambil mobilnya dan mengantar Arsen pulang. Ia ykin semua staf Winata oga pasti telah mencari keberadaan mereka. Ia baru sadar jika telah membuat kehebohan di grup kalau Arsen terlihat sangat gagah melawan anak buah Adi Putro. Mereka juga membalas pesan dengan berbagai kata tanya. Mereka tidak menyangka ternyata Arsen berada di luar tengah memperjuangkan harga diri seorang Arsen dan Winata yoga. *** Kedatangan Arsen disambut langsung oleh Winata Yoga. Selama Mr. Zian berada di Surabaya. Winata Yoga teah mengosongkan jdwalnya beberapa hari ke depan untuk menemani temannya dan bericara tentang Arsen. Banyak hal yang memang harus Winata Yoga kuasai saat tubuh Arsen mulai tidak merespon. Semua buatan manusia tidak ada yang abadi. Tetap selalu ada kekurangan dan kelebihannya. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Winata Yoga. Tubuh Arsen sama sekali tidak mengeluarkan luka meskipun tubuh Arsen dipenuhi dengan luka lebam. “Lain kali jangan gegabah. Kamu tidak bisa berbuat seperti itu lagi. Semua yang kamu lakukan harus sepengetahuanku.” Winata Yoga mulai berpesan. Arsen adalah lelaki kepercayaannya. Ia tidak ingin sesuatu terjadi pada tubuh Arsen dan membuat keadaan Arsen menjadi fatal. “Maaf, saya hanya tidak sabar menemukan siapa pelaku sebenarnya. Nama itu ternyata memang cukup dikenal.” Arsen melakukan pembelaan. Ia tidak merasa bersalah apa yang telah ia lakukan. Ia bertindak berdasarkan instingnya. Ia merasa harus melakukannya untuk memancing Adi Putro keluar kendang. Dan ternyata memang benar lelaki itu keluar mencarinya. Winata Yoga percaya rencana Arsen memang bekerja dengan baik, tetapi ia tetap menyalahkan Arsen karena tidak sesuai prosedur yang berlaku. Kejadian bebera minggu yang lalu seolah menjadi pelajaran bagi Winata Yoga Saat Reno keluar tanpa meminta izin, lelaki itu malah pulang dengan keadaan meninggal dunia. Winata Yoga tidak mengiginkan hal itu terjadi. “Aku menaruh seluruh harapanku padamu. Aku tidak ingin kamu berbuat gegabah.” Winata Yoga langsung beranjak dari tempatnya diikuti Matew dan lainnya. Apa yang telah dilakukan Arsen sempat membuat mereka waswas. Mereka tidak bisa membayangkan saat Arsen menghadapi puluhan orang anak buah Adi putro. Jika mereka yang berada di posisi Arsen bisa dipastikan mereka tidak akan kembali ke rumah dengan selamat. “Bos. Aku harap kamu mengerti apa yang dipikirkan Bos besar. Kita tidak bisa menyalahkan siapapun. Kita memang harus saling berbagi agar ke depannya berjalan dengan baik.” Matew menepuk bahu Arsen. Setidanya ia berharap Arsen mampu mengerti apa yang dikatakannya. Arsen hanya mengangguk. Ia mengikuti Matew keluar kediaman Winata Yoga. Mereka berdua berjalan beriringan memsuki paviliun. Hari yang mulai menunjukkan kegelapan membuat Arsen berdiri lagi di jendela kamarnya. Perlahan membuka tirainya dan melihat seorang gadis dengan rambut dikuncir seperti ‘Ekor kuda’. Giselle tampak termenung di jendela. Gadis itu menunjukkan perasaan yang tengah galau. Arsen terus melihatnya dari jauh. Ia merasa penasaran dengan apa yang dirasakan Giselle. Lelaki itu masih berdiri mengamati Giselle. Badannya yang terasa lelah tidak membuatnya terus bisa beristirahat. Ia harus mengobati lukanya “Selamat malam Gi—selle.” Arsen mengucap kata selamat malam dari jauh. Ia merasa ia hanya bisa mengatakan hal itu secara sembunyi-sembunyi. Ia tidak bisa melakukannya terang-terangan. Satu orang yang dipikirkan Arsen keberadaannya adalah Mr. Zian. Lelaki itu menunjukkan rasa tidak Sukanya. Aren meras tidak enak dan membiarkannya begitu saja. Giselle masih terlihat berdiri di depan jedela. Kali ini pandangannya tibatiba menuju bayangan yang terlihat di bawahnya. Gadis itu mulai merasa aneh. Jendala kamar itu seolah menyorotkan kalau dibalik tirai itu ada seseorang yang mengintipnya. Gisele mulai merasa tidak nyaman dan emmilih menutup jendelanya. Sepertinya ia harus mulai berhati-hati. Apa lagi kedatangan pengawal baru Winata Yoga membuatnya tidak suka. Meskipun Giselle belum pernah melihatnya wajahnya menyeluruh. Gadis itu sangat yakin jika pengawal baru Winata yoga adalah pengawal m***m. Dari tatapannya saja membuat Giselle tidak suka. Semua yang ia lihat membuat Giselle merasa enggan melihatnya. Sebenarnya tidak ada alasan yang kuat membuat Giselle membenci Arsen.  Gadis itu hanya tidak suka dengan gayanya yang bisa dikatakan hampir mirip dengan Arsen. Sikapnya yang tidak banyak bicara membuat Giselle merasa jika pengawal baru Winata Yoga terasa kaku. *** Setelah sarapan pagi. Ny. Winata Yoga memangil Arsen untuk bertemu. Wanita anggun itu meminta Arsen untuk ikut bersamanya. Wanita itu berani melakukannya karena sang suami sedang tidak ada di rumah. Ia juga meminta Arsen untuk merahasiakanya demi kemanan. Ia meminta Arsen untuk segera bersiap karena acara amal akan dimulai pukul sepuluh pagi. Arsen menyetujui ajakan Ny. Winata Yoga. Ia merasa memang perlu bersosialisai yang lain dan mengamati keadaan Ny. Winata Yoga dan memastikan wanita itu selalu aman di setiap kegiatannya. “Kamu bisa menemuiku lagi saat pukul sepuluh” “Baik, nyonya.” Setelah berbicara dengan Arsen . wanita anggun itu memilih naik ke atas untuk melihat putrinya. Ia tahu Giselle tengah kesal karena ayahnya kembali menyuruh gadis itu berdiam di rumah tanpa kegiatan yang pasti. Setiap kali menanyakan alasannya, Winata yoga akan menjawab jika semuanya akan kembali normal beberapa hari lagi. Ny. Winata yoga mengetuk pintu kamar anak gadisnya. Giselle langsung membukanya dengan wajah yang terlihat lesu. Ia merasa geraknya mulai terbatas dan harus melakukan semuanya di rumah. Berulang kali Gladis dan beberapa teman lainnya menghubungi Giselle untuk mengajak keluar. Akan tetapi gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak bisa membuat janji dengan teman-temannya. Ia harus mengikuti ketentuan yang telah dibuat ayahnya. Giselle harus menurut dan tidak bisa menolak. Saat Winata yoga telah memutuskan sesuatu, Giselle harus menuruti semua perintahnya. “Kenapa belum siap?” “Giselle malas, Ma.” Giselle langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang dan mengambil cermin kecil di meja. Wajahnya beberapa hari ini terlihat sangat kusut. Ia juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini. “Ayolah, kamu sudah janji sama Mama. Nanti pukul sepuluh kita berangkat.” “Ma…” “Giselle mama tunggu pukul sepuluh!” Ny. Winata Yoga tidak ingin memberi Giselle kesemoatan lagi. Sekarang adalah waktu yang sangat tepat. Winata yoga tidak berada di rumah. Harusnya tidak ada yang tahu jika Ny. Winata Yoga menyuruh Arsen untuk mendampinginya. Ia telah meminta Matew untuk merahasiakannya. Setidaknya posisinya akan sedikit aman di mata Winata Yoga.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN