Giselle tidak mengira jika mamanya akan mengajak pengawal baru sang papa bersama. Padahal gadis itu tidak begitu menyukainya.Ia merasa tidak nyaman duduk di samping lelaki yang terlihat angkuh dan tidak peduli. Saat pertama bertemu Arsen sama sekali tidak menyapa Giselle. Gadis itu pun tidak berniat untuk menyapa Arsen terlebih dahulu. Entah kenapa hatinya terasa sangat sulit untuk melakukannya.
Ny. Winata Yoga yang duduk berada di jok bagian belakang hanya bisa menggeleng melihat tingkah keduanya. Keduanya tidak saling mengenal satu sama lain.
Arsen yang memakai kacamata hitam dan topi membuat Giselle masih tidak mengenalinya. Seorang Arsen dulunya lebih senang berpakaian rapi dengan rambut yang selalu tersisir satu arah. Sedangkan Arsen yang sekarang lebih senang berambut cepak dan kemana pun selalu memakai topi dan kacamata. Penampilannya pun tidak terlihat seformal dulu. Hal itulah yang membuat Giselle tidak begitu mengenalinya. Belum lagi sikap tidak peduli Arsen yang membuat Giselle semakin tidak tertarik untuk mengenal lelaki yang menurut mamanya adalah saudara Mr. Zian.
Selama perjalanan, keduanya hanya diam. Giselle hanya sibuk melihat tabletnya dan berbalas pesan dengan Marco. Setelah kejadian kemarin, tiba-tiba lelaki itu minta maad karena terlalu kasar. Bahkan pemuda itu ingin membuat janji dengan Giselle untuk bertemu. Dalam pesannya, Marco akan menjelaskan semua yang terjadi. Ia bersikap pasrah apa oun yang terjadi.
Membaca pesan Marco membuat Giselle merasa tidak ada salahnya membuat janji dengan Marco. Setidaknya ia bisa mendapat keterangan jelas yang bisa ia pakai sebagai bukti nantinya.
Akhirnya Giselle membuat janji lusa dengan Marco. Setidaknya saat itu keadaan sudah kondusif dan Giselle bisa keluar tanpa larangan. Akan tetapi gadis itu mulai berpikir untuk memanfaatkan pengawal baru papanya agar mau membantunya keluar.
Sepertinya Giselle menemukan ide cemerlang untuk bisa keluar rumah tanpa ribet. Gadis itu tersenyum dan menutup ponselnya. Sementara Arsen bingung dengan ekpresi Giselle yang tiba-tiba tersenyum sendiri. ia berusaha mencari tahu, tetapi Giselle menutup tabletnya rapat.
Arsen akhirnya memilih focus mengemudi tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, Ny Winata Yoga yang berada di belakang merasa gemas. Keduanya berada jarak yang begitu dekat, tetapi mereka seolah tidak mengenal satu sama lain. Bisa saja sebenarnya Ny. Winata Yoga memberi tahu pada putrinya jika lelaki yang begitu dibencinya adalah Arsen. Sesosok lelaki yang membuat Giselle mengerti akan arti sebuah kehilangan. Belajar ikhlas dan bia menerima semuanya untuk menjalani ke depannya.
“Sen, lampu lalu lintas di depan nanti kita belok kanan, nanti tempatnya sudah terlihat.”
Ny. Winata Yoga sengaja memanggil Arsen tidak lengkap. Setidaknya ia ingin memancing putrinya untuk peduli dan tanggap siapa di sampingnya.
“Baik.”
Giselle hanya bergumam mamanya memangil lelaki di sampingnya dengan sebutan ‘Sen’. Namun, hal itu ternyata tidak mampu membuat Giselle mengerti. Gadis itu masih saja tidak peduli. Baginya nama bisa saja sama, tetapi wajah dan hati tidak akan pernah bohong.
Mobil mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Arsen langsung keluar mobil dan membuka pintu untuk Ny. Winata yoga dan Giselle. Lelaki itu masih memperlakukan mereka dengan baik. Saat itu tiba-tiba saja hati Giselle merasa tersanjung. Tatapan lelaki di depannya terasa berbeda. Gesture tubuhnya tidak bisa berbohong jika Arsen berharap Giselle tersenyum.
“Silakan.”
Arsen membungkukkan badan. Hal yang sering Arsen lakukan dahulu saat membuka pintu mobil untuk Giselle.
Giselle masih berdiri tidak beranjak. Melihat sikap lelaki di depannya hanya membuatnya ingin membuka kacamata serta topi yang dipakai. Namun, Arsen langsung menghindar.Ia tidak ingin Giselle melihat wajah aslinya. Nalurinya berkata, jangan sampai Giselle melihat wajah aslinya.
“Maaf. Nyonya sudah menunggu.” Arsen langsung menutup pintu mobil dan meminta Giselle untuk berjalan.
Kedatangan keluarga Winata Yoga langsung disambut baik oleh penyelenggara. Sebagai donatur terbesar, Ny. Winata Yoga mempunyai tempat khusus di barisan paing depan bersama Giselle dan Arsen. Beberapa anak panti langsung mencium tangan mereka. Beberapa gadis kecil ada yang begitu senang dengan kehadiran Arsen. Mereka bergelayut manja dan tidak segan minta digendong. Arsen pun tidak masalah.
Seketika ia menggendong dua anak panti yang menderita kanker. Hal itu ia lakukan semata-mata untuk menghibur mereka. Senyum mereka mampu membuat Arsen tersenyum. Tawa yang terasa perih ditutupi dengan gelak tawa yang renyah.
Giselle yang duduk dengan sang mama agak terkejut melihat sikap Arsen. Lelaki kaku itu tidak biasanya terlihat seperti itu. Ada rasa kagum mulai muncul dari dalam hati Giselle. Sama persis dengan apa yang ia alami saat bersama Arsen. Namun buru-buru gadis itu menepis pikirannya. Ia kembali meyakinkan pada dirinya sendiri jika lelaki yang tengah bersamanya bukanlah Arsen.
“Kamu kenapa? Apa kamu berubah pikiran ingin mengenal saudara Mr. Zian?”
“Ma … setidaknya Mama harus jeli melihatnya.”
Arsen masih terlihat bermain dengan beberapa gadis kecil yang masih saja minta gendong. Bahkan gadis kecil itu tidak segan memanggil ayah. Mereka terlihat senang bersama Arsen. Hingga saat kedua anak itu mengambil kacamata dan topi milik Arsen membuat Giselle terkejut.
Ia melihat sesosok lelaki yang sangat dicintainya. Lelaki yang berbulan-bulan lalu membuat hatinya patah hati. Hati Giselle seketika tida percaya dengan hal itu.
Ia benar-benar melihat sosok Arsen telah bersama dirinya berhari-hari. Namun selama itu Giselle tidak menyadarinya. Betapa bodohya Giselle tidak mengetahuinya. Pandangannya tidak bisa berhenti melihat lelaki yang tengah tersenyum itu.
“Uncle, itu kamu?” Giselle berusaha berbicara dengan dirinya sendiri.
Sang mama yang melihat putrinya bersedih ikut merasa bersedih. Gadis itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Semuanya tampak asing. Arsen yang selama ini ia anggap orang asing sangat jauh berbeda. Ia hanya merasa jika setiap malam dan setiap detik ada yang berusaha melihatnya dari kejauhan. AKan tetapi, Giselle malah berpikiran buruk. Rasanya Giselle seperti gadis bodoh yang tidak bisa membedakan siapa Arsen yang sebenarnya.
“Ma, aku tidak mimpi, kan?” Giselle berusaha menepuk pipinya, menyadarkannya jika memang ia bermimpi. Wajah Arsen tidak banyak berubah. Hanya penampilannya saja yang membuat Giselle menjadi asing.
Arsen mengambil kacamata dan topinya. Ia berjalan ke arah dua wanita yang telah menunggunya. Arsen mulai gugup saat Giselle masih memandangnya tidak lepas. Apa lagi saat gadis itu terlihat menangis. Arsen merasa sangat aneh. Tidak seharusnya Giselle menangis. Tidak seharusnya gadis itu terlihat bersedih di acara amal ini.
“Arsen, sebaiknya kalian berbicara. Aku akan menelepon Matew untuk menemaniku di sini.”
“Tapi … saya tidak bisa meninggalkan Nyonya.”
“Giselle lebih penting. Bawa dia ke taman belakang. Mungkin di sana kalian bisa berbicara.”
Arsen menuruti perkataan Ny. Winata Yoga. Padahal ia sendiri tidak tahu hal apa yang membuatnya harus berbicara secara dekat dengan Giselle. Ia membawa Giselle ke sebuah taman yan tidak jauh berada dari tempat mereka berada. Di sana terdapat sebuah bangku taman memanjang. Giselle duduk di sana dan Arsen berdiri. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Rasanya sangat kikuk berdua dengan Giselle dalam keadaan yang tidak biasa.
“Uncle, kenapa tidak memberitahuku? Uncle masih hidup?” Giselle merasa Arsen telah melupakannya.
“Uncle? Aku?” Arsen malah semakin bingung. Ia tidak tahu bagaimana lagi harus bertindak.
“Lihat aku! Apa uncle sama sekali tidak merindukanku?” Giselle beranjak dan berdiri di depan Arsen. Ia masih berusaha mencari jawaban dari semua keanehan yang terjadi.
“Aku tidak tahu apa yang kamu maksud. Setahuku kamu adalah Giselle. Anak dari Tuan Winata yoga, tidak lebih.” Arsen berusaha menjelaskan apa yang ia tahu.
Setiap hari Arsen memang menunggu kemunculan Giselle di jendela kamarnya, tetapi Arsen tidak akan mengatakannya. Karena baginya hal itu bukanlah hal penting.
“Sejak kapan uncle pulang?”
“Sejak kamu tersenyum menyapa kawanan pengawal yang tengah berolah raga.” Arsen menjawab seingatnya. Memang saat itu pertama kalinya ia melihat sosok Giselle. Gadis penuh keceriaan yang sama sekali tidak terlihat cengeng.
Beberapa kali memang nama Arsen selalu dikaitkan dengan nama Giselle oleh beberapa anak buahnya, tetapi hal itu tidak lantas membuat Arsen menjadi besar kepala. Lelaki itu tetap tidak mengerti kenapa mereka selalu menyangkut pautkan dirinya dengan Giselle.
Sekarang semuanya terasa nyata, Giselle sendiri memanggilnya dengan sebutan uncle. Sebutan yang menurutnya sangat janggal saat mendengarnya.
“Uncle tidak mengingatku?”
“Kamu Giselle. Saya tahu dari salah satu anak buah saya.”
Arsen menjawab jujur apa adanya. Satu jawaban yang cukup membuat Giselle terluka, lelaki di depannya benar-benar telah melupakannya.
“Uncle tidak pernah ingat sedikit pun tentang janji yang pernah uncle ucapkan?” Giselle kembali mencoba mencari cara agar bisa menemukan sebuah titik terang hubungan mereka.
“Nona jangan bermain-main dengan saya. Saya tidak mengerti apa yang nona katakan.
Giselle terdiam. Rasanya percuma jika Giselle masih terus menceritakan semuanya. Arsen sama sekali tidak menanggapinya. Bahkan lelaki itu telah melupakan semua yang terjadi di antara mereka.
Gadis itu mulai berpikir apa harus mendekatinya lagi untuk membuat Arsen paham jika Giselle tidak pernah sedikit pun melupakannya. Selama ini gadis itu selalu mencoba bangkit dari rasa sedihnya. Ia tidak ingin membuat Arsen semakin sedih melihatnya setiap hari harus menangis karena membayangkan kebersamaan mereka.
Giselle mencoba sekuat tenaga melupakan momen paling indah dan berkesan, ia pun mencoba bangkit dan membuat hari-harinya lebih bermanfaat. Sekarang semuanya malah berbeda. Arsen melupakannya. Ia sama sekali tidak mengingat nama Giselle malahan. Lelaki itu justru terlihat seperti orang bingung mendengar semua perkataan Giselle.
“Nona maafkan saya, tetapi saya memang tidak mengingat sama sekali.”
Giselle mengusap air matanya. Arsen merasa kasihan melihatnya. Rasanya ia seperti menjadi tertuduh yang membuat Giselle menangis.
“Uncle kenapa? Kamu tidak ingat apa pun tentang kita?”
Arsen terdiam. Ia juga tidak tahu kenapa semuanya seperti itu. Ia hanya ingat saat pertama membuka mata melihat Prof. Ruizen. Setelah itu Arsen mulai mengenal Winata yoga, beberapa rekan pengawal serta yang terkahir, ia berbicara dengan Giselle.
Gadis yang selama ini kehadirannya selalu ditunggu berada di depannya.
“Nona sebaiknya kembali bersama Nyonya. Setelah Matew sampai, aku akan kembali. Saya masih mempunyai banyak tugas. Saya harus melanjutkan pengintaian di dermaga setelah kejadian kemarin."
Arsen membawa Giselle kembali. Ia tidak ingin orang-orang berpikiran macam-macam apa yang terjadi. Arsen hanyalah menjalankan tugas semestinya, tidak lebih.
“Uncle …” Giselle masih tidak mau pergi.
Gadis itu malah menarik tangan Arsen dan langsung memeluk tubuhnya. Ia marasa kenyamanan dan kedamaian saat bersama. Bahkan ia menyesal telah mengatakan jika Arsen sangat jelas berbeda, belum lagi pernyataan Giselle yang mengatakan Arsen adalah lelaki m***m,
“Uncle jangan pergi. Aku masih ingin bersamamu.”
Arsen terdiam sesaat. Ia merasa hal buruk akan terjadi. Ia merasa tidak tenang meninggalkan kediaman Winata Yoga tanpa sepengetahuannya. Nalurinya mulai bekerja dan keinginannya pulang sangat besar. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Hatinya memang tidak tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Giselle. Namun, ia juga tidak tega melihat gadis itu begitu berharap besar padanya.
“Nona saya harus pergi. Sepertinya Matew sudah datang. Kita bisa berbicara lain kali, tetapi tidak sekarang.”
Arsen langsung melepas pelukan Giselle. Gadis itu merasa Arsen memang sangat jauh berbeda. Giselle hanya bisa melihat Arsen pergi dari kejauhan. Lelaki itu sama sekali tidak peduli dengan perasaan Giselle. Bahkan ia juga tidak tahu hubungan special mereka di masa lalu. Semua telah terkubur rapat pada masa sekarang. Giselle hanyalah sebuah kenangan. Sebuah kenangan yang tidak pernah tertinggal di hati Arsen.
***
Arsen melintasi jalur alternatif menuju kediaman Winata Yoga. Sejak berbicara dengan Giselle, ia merasa sangat tidak tenang. Bukan karena Giselle atau lainnya. Arsen berpikir keadaan rumah Winata Yoga tidak begitu aman. Agar cepat sampai. Arsen memilih jalan pintas dan sampai rumah sekitar 20menit.
Pintu gerbang kediaman Winata Yoga terbuka lebar. Beberapa pengawal yang menjaga terlihat pingsan. Arsen langsung menghentikan mobilnya. Pria itu langsung memeriksa denyut nadi kedua anak buahnya. Mereka masih hidup dan hanya pingsan. Kemudian Arsen beralih ke kediaman Winata Yoga. Ia berpikir ada seseorang yang berusaha masuk ke dalam rumah dan mencari barang berharga.
“Siapa yang berbuat semua ini?” Arsen langsung masuk ke dalam dan mencari sesuatu yang hilang. Beberapa pekerja di dalam juga terlihat tergeletak pingsan. Mereka terlihat tidak berdaya. Semua barang di ruang tengah dan ruang tamu berantakan. Barang berharga tidaka ada yang berkurang.
Televisi, ataupun lainnya masih tetap. Sedangkan Arsen mencoba mengecek kamar utama milik Winata Yoga masih terkunci rapat. Ia beralih ke kamar Giselle, kamar itu masih terlihat rapi dan tidak terjamah sama sekali. Sebuah boneka beruang terpajang rapi membuat perhatian Arsen berhenti sejenak. Ia melihat pajangan foto dirinya dan Giselle bersama. Dari foto itu menunjukkan memang mereka memiliki hubungan yang khusus. Namun. Arsen sama sekali tidak mengingatnya. Bahkan dari tempatnya berdiri, Arsen bisa melihat jendela kamarnya dari atas.
Arsen kemudian kembali mencari tahu pa yang sebenarnya terjadi. Ia mencoba mencari minya kayu putih untuk membuat para pekerja tersadar. Ia butuh keterangan mereka untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Arsen berhasil membau para pekerja dengan minyak kayu putih. Pria itu berusaha sebisa mungkin membuat dua wanita tua itu mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“A—da pe—njahat masuk.” Salah satu pekerja menjawab pertanyaan Arsen dengan gugup.
Mereka terlihat sangat ketakutan. Arsen mengambil segelas air putih dan meminumkannya. Ia berusaha menghilangkan kegugupan pembantu tersebut agar bisa bercerita dengan tenang.
“Cerita pelan-pelan, Mbak.”
Wanita itu mulai bercerita. Saat mereka sedang memasak di dapur tiba-tiba saja ada segerombolan orang masuk ke dalam rumah. Mereka mengamuk dan membalik semua barang di dalam rumah. Mereka hanya menjamah lantai bawah dan dapur. Mereka tidak tahu pasti motif mengobrak-abrik rumah. Mereka hanya mendengar nama Arsen disebut. Mereka juga menyebut nama tuan mereka berulang kali.
Setelah mendengar kronologinya. Arsen langsung menuju Paviliun tempatnya tinggal. Ia yakin mereka pasti mencarinya ke paviliun.
Benar saja semua barang-barang berantakan termasuk lemari pakaian Arsen. Semua berserakan dan barang-barang milik Arsen rusak berat.
Beberapa bajunya sobek dan sayatannya memang sengaja dibuat. Sepertinya yang mereka incar hanyalah barang milik Arsen. Kamar lainnya masih aman-aman saja dan hanya kamar Arsen yang terlihat rusak. Pintu kamarnya pun terlihat rusak. Dia hanya bersukur barang-barang di dalam kamarnya adalah barang-barang yang tidak berharga. Setidaknya Arsen menyimpan barang yang penting di sebuah tempat yang tidak bisa terjamah oleh siapapun.
“Ada apa ini? Kenapa semuanya berantakan?” Winata yoga baru saja datang bersama Mr. Zian.
Melihat pintu gerbang terbuka dan mobil yang dibawa Arsen terparkir sembarangan membuat Winata Yoga bergegas menuju paviliun. Ia hanya takut sesuatu terjadi pada Arsen dan anak buah lainnya.
“Ada yang menyerang tempat kita.”
“Siapa dalangnya?” Winata Yoga masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“Sepertinya ini ada kaitannya dengan kejadian kemarin.”
Winata yoga hanya mengangguk. Apa yang menjadi tebakannya benar. Semua ini pasti perbuatan anak buah Adi Putro. lelaki itu memang tidak ada habisnya membuat ulah. Lelaki itu selalu saja mencari gara-gara dan tidak pernah mau mengalah. Ia akan selalu membalas dendam saat merasa kalah.
“Bagaimana keadaan Giselle?”
“Mereka masih di acara panti bersama Matew. Saya langsung memilih pulang karena merasa sesuatu buruk terjadi.”
Winata Yoga sempat terkejut mendengar perkataan Arsen, bisa dipastikan Arsen ikut besama istri dan anaknya ke acara panti. Jika hal itu memang benar, berarti Giselle sudah bertemu dengan Arsen.
Rasanya Winata Yoga harus menyiapkan sebuah alasan khusus untuk anaknya. Ia tahu Giselle pasti akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Gadis itu pasti tidak akan menerima kenapa Arsen sama sekali tidak mengingatnya.
“Bagaimana dengan Giselle?”
“Maksudnya? Nona baik-baik saja bersama Nyonya.”
“Giselle bertemu denganmu?” tanya Winata Yoga. Masalah perusakan rumahnya tidak dipermasalahkan. Ia lebih khawatir tentang reaksi Giselle saat bertemu dengan Arsen pertama kali.
“Iya, Nona bertemu dengan saya.”
“Bagaimana reaksinya?” Winata Yoga terus bertanya.
Bahkan ia tidak tahu ada Giselle dan istrinya yang sedang berdiri di belakangnya. Giselle berdiri menunggu penjelasan yang pasti dari Winata Yoga.
“Bisa papa jelaskan semuanya?”
“Giselle?”
Winata yoga terkejut melihat putrinya. Ia merasa harus berbicara dari hati ke hati dengan Giselle. Butuh waktu dan tempat yang pas untuk membicarakan semuanya.
“Kita bisa bicara. Papa bisa jelaskan semuanya.”