Giselle masih duduk di ujung sofa ruang tengah. Ia meminta Winata Yoga untuk menjelaskan semua yang terjadi. Gadis itu hanya ingin tahu tentang alasan Winata Yoga menyembunyikan keberadaan Arsen darinya. Arsen sudah berad di kediaman mereka beberapa hari, tetapi papanya sama sekali tidak memberitahunya tentang Arsen. Bahkan, Giselle mengetahui Arsen sebagai saudara Mr. Zian. Tamu Winata Yoga dari U.S.A.
Winata Yoga meninta putrinya menunggu di ruang tengah. Sedangkan dirinya berkoordinasi dengan anak buah lainnya untuk mencari tahu dalang yang sengaja membuat kediaman Winata Yoga berantakan dan barang-barang di kamar Arsen rusak. Mereka mulai memeriksa kamera CCTV di segala penjuru untuk memastikan siapa yang penyusup yang berhasil masuk.
Arsen pun mulai mencari bukti dan jejak yang tertinggal. Ia sangat yakin penyerangan kediaman Winata Yoga ada kaitannya dengan masalah Arsen dengan Adi Putro. Winata Yoga menyerahkan semuanya kepada Arsen dan lainnya. Mereka berusaha menemukan bukti yang kuat agar Adi Putro tidak bisa berdalih lagi.
“Aku percaya padamu. Kamu pasti bisa menemukan siapa dalang di balik ini semua.” Winata Yoga berjalan bersama Arsen.
Sang kepala pengawal mengikuti Winata Yoga hingga masuk ke dalam rumah. Terlihat Giselle yang masih menunggu dengan gelisah. Gadis itu terlihat sangat tidak sabar untuk mendengar penjelasan papanya. Melihat kedatangan Arsen bersama Winata Yoga membuat gadis itu tersenyum simpul.
Ia langsung berdiri dan beranjak menghampiri keduanya. Giselle tersenyum kea rah Arsen. Sementara Arsen masih menanggapinya biasa saja. Ia masih terus berbicara dengan Winata Yoga tanpa memperhatikan Giselle. Padahal gadis itu masih berharap Arsen akan tersenyum atau sekadar menyapanya.
“Kamu bisa kembali ke tempatmu. Aku tunggu kabar baik darimu besok.” Winata Yoga memberi perintah agar Arsen segera pergi.
“Baik.”
Arsen mengangguk dan hendak undur diri. Namun, Giselle langsung menahan tangan lelaki itu. Gadis bermata sendu itu tidak ingin lelaki yang begitu dirindukannya pergi begitu saja tanpa penjelasan yang pasti. Ia masih butuh berbicara banyak tentang mereka. Banyak hal di antara mereka yang belum terselesaikan. Pembicaraan di panti belum begitu jelas bagi Giselle.
“Uncle mau ke mana?”
Arsen masih diam tidak menjawab. Ia hanya melihat tangan Giselle yang menahannya. Lelaki itu perlahan melepas tangan Giselle. Hingga membuat gadis itu tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Arsen tidak lagi peduli dengannya.
“Maaf, saya harus kembali.” Arsen langsung meninggalkan Giselle dengan sang papa. Lelaki itu memilih pergi tanpa menoleh. Ia sama sekali tidak terpikir untuk tinggal seperti yang Giselle harapkan.
Gadis cantik itu terlihat kecewa. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah winata Yoga. Menurutnya, lelaki di depannya itu mempunyai tanggung jawab penuh dengan apa yang sedang terjadi.
“Duduklah, Papa akan menjelaskan semuanya.”
Winata Yoga seolah mengerti apa yang ada di dalam pikiran anak gadisnya. Ia sangat paham bagaimana sikap Giselle jika sang gadis sudah memicingkan matanya.
Giselle kembali duduk. Perasaannya kembali kacau dan masih memikirkan Arsen. Beberapa bulan, Giselle merasa sangat susah menghilangkan bayangan sang kekasih. Namun, tiba-tiba saja lelaki itu muncul dan dengan sikap tidak pedulinya.
“Kenapa Papa menyembunyikan keberadaan Uncle dariku?”
Gadis manja itu mulai terlihat serius. Ia tidak ingin lagi sang papa menghindarinya.
“Apanya yang disembunyikan? Bukankah Kamu Sudah bertemu dengan Arsen?” Winata Yoga menanggapinya santai.
Ia tahu Giselle sangat kecewa, tetapi ia harus bisa menanggapinya dengan baik Jangan sampai rencananya gagal hanya karena melihat wajah Giselle yang memelas. Sesuai dengan tujuan awal, Arsen kembali hanya untuk Winata Yoga. Bukan untuk kembali menjalin hubungan dengan anak gadisnya.
Winata Yoga tahu betul apa yang menjadi pilihannya. Ia lebih memilijh Giselle sakit hati terlebih dahulu dari pada harus kecewa di kemudian hari setelah hubungannya dengan Arsen terlanjur jauh. Lelaki itu hanya ingin membuat putrinya tidak terluka dan bersedih jika suatu saat harus berpisah lagi dengan Arsen.
Kondisi Arsen bukanlah manusia seutuhnya. Hal itu yang menjadi pertimbangan kuat melakukan semuanya. Arsen hanyalah sebuah alat untuk membuat Adi Putro tunduk dan menyerah padanya. Setidaknya semua kejahatan lelaki itu bisa terbongkar dan Adi Putro akan mendekam di penjara karena perbuatannya. Kemampuan berpikir dan bela dirinya cukup mampu membuat posisi Winta Yoga berada jauh di atas Adi Putro setelah Arsen berhasil membunuh John, pengawal andalan Adi Putro.
“Kenapa Uncle tidak mengenaliku?”
“Soal itu kamu bisa bertanya dengan Mr. Zian.”
“Pa, jangan mengelak. Kenapa Papa melakukan semua ini? Kenapa Papa selalu berusaha untuk menjauhkanku dari Uncle?” Giselle masih belum puas. Sang papa tidak memberikan jawaban yang pasti. Bahkan lelaki itu malah melemparnya.
Giselle butuh penjelasan sejelas-sejalasnya. Alasan sang papa menyembunyikanArsen. Bahkan lelaki itu terlihat sangat berbeda jauh dari segi penampilannya.
“Kamu tidak akan tahu. Semua yang Papa lakukan untuk keluarga kita, kamu dan Mama.”
“Bohong!”
“Kamu harus lebih dewasa menanggapi suatu hal. Kamu tidak akan tahu bagaimana peliknya kehidupan kita. Kamu tahu bagaimana Arsen berjuang dalam hidup? Setiap menitnya bahaya selalu mengintai. Kamu pun tahu hal itu.”
Giselle masih tidak mengerti. Penjelasan ayahnya masih belum begitu jelas. Dalam pikiran Giselle sang papa hanya tidak ingin Giselle dan Arsen menjalin hubungan kembali.
“Baiklah kalau memang itu yang papa inginkan. Aku tidak akan takut dengan semua resiko yang ada. Uncle akan tetap bersamaku saat aku berada dalam bahaya. Papa akan tahu bagaimana aku berjuang untuk mendapatkan perhatian uncle lagi, meskipun aku harus berada di dalam masalah yang besar.”
“Giselle! Apa maksudmu?”
Winata Yoga curiga dengan jalan pikiran anaknya. Gadis itu memilih berada di dalam bahaya agar Arsen peduli dengannya. Hal yang membuat Winata Yoga tidak habis pikir dengan jalan pikiran Giselle.
“Papa lihat saja apa yang akan aku lakukan.”
“Jangan pernah gegabah!”
Giselle memilih pergi tidak mendengar ucapan papanya. Ia kecewa karena pembicaraan dengan Winata Yoga tidak menemukan jawaban. Sang papa masih menyembunyikan apa yang terjadi. Sedangkan Giselle harus mencari cara untuk membuat Arsen akan melindunginya. Hal yang akan ditunjukkan pada Winata Yoga jika mereka memang tidak akan bisa dipisahkan meskipun Winata Yoga mencoba cara apa pun.
Satu rencana tebersit di dalam pikiran gadis manja itu. Ia akan membuat satu kekacauan yang tidak akan Winata Yoga bayangkan. Gadis itu masih mempunyai satu misi yang belum tercapai. Di mana misi itu akan membuat Arsen peduli dengannya. Dengan mengambil resiko besar, Giselle tidak memedulikannya.
“Uncle, kamu akan tahu seberapa besar perasaanku padamu. Sejauh mana kau akan khawatir jika aku dalam bahaya.”
Giselle masuk ke dalam kamar. Ia mendekati jendela kamar. Ia baru tersadar jika jendela kamar di paviliun yang terlihat dari tempatnya adalah kamar Arsen. Gadis itu memandang dari balik kaca, perasaannya kacau saat melihat bayangan yang sama di balik jendela kamar. Ia sangat yakin Arsen juga melihatnya dari kejauhan. Perasaan yang tidak akan pernah bisa dipisahkan meskipun Arsen tidak akan mengingatnya lagi sekali pun.
“Aku yakin uncle akan tetap mengingatku selamanya.”