Chapter 41

1077 Kata
Setelah kejadian semalam. Arsen mulai mencari tahu siapa dalang dibalik kejadian perusakan barang miliknya dan membuat rumah Winata Yoga berantakan. Lelaki itu setiap pagi akan keluar dan kembali pada malam hari. Giselle yang setiap hari mengamati kegiatan Arsen merasa gerah. Laki-laki itu benar-benar tidak peduli dan tidak mengingatnya. Setiap malam Giselle selalu menunggu Arsen di balik jendela kamar, tetapi gadis itu tidak melihat bayangan Arsen lagi. Pernah satu kali Giselle mencoba menghadang Arsen. Giselle bersikukuh ingin ikut dengan Arsen. Namun, sang kepala pengawal itu malah menyingkir. Ia menyuruh Matew untuk membawa Giselle ke dalam rumah. Arsen tidak ingin Giselle menjadi pengacau semua rencananya. Sedikit lagi ia akan berhasil menjebak musuhnya. Permintaan Giselle justru membuat Arsen akan kesusahan. Gadis itu pasti akan menjadi kelemahan pihak Winata Yoga yang akan dimanfaatkan musuh. Giselle mulai kesal dengan sikap Arsen yang terkesan sangat dingin dan menghindarinya. Gadis itu pun berulang kali mencoba menemui Arsen. Namun, semua caranya gagal. Matew dan lainnya seperti sengaja tidak membiarkan Giselle untuk bertemu. Sebelumnya. Winata Yoga memang telah menjelaskan keadaan Arsen yang sesungguhnnya pada semua anak buahnya. Semuanya terkejut mendengarnya. Arsen yang mereka hadapi bukanlah Arsen yang dulu. Semua seperti tidak rasional bagi mereka. Namun, semua nyata. Arsen bersama mereka dan beraktivitas layaknya manusia lainnya. Winata Yoga juga menekankan jangan sampai membuat Arsen berurusan lagi dengan Giselle. Hal itu juga untuk kebaikan keduanya. Semua yang ada pada diri Arsen hanyalah buatan manusia dan mempunyai masa kadaluarsa. Hal itulah yang membuat Winata Yoga bersikeras agar putrinya tidak kembali lagi merasakan sakit jika suatu saat kehilangan Arsen lagi. Arsen terlihat berdiri di depan teras. Lelaki itu terlihat begitu serius saat mendapat telepon. Giselle mengamati dari kejauhan dan tidak menampakkan diri. Sepertinya Giselle mempunyai rencana sendiri. Ponselnya bergetar terus-menerus. Nama Marco terpampang pada layar ponsel. Giselle mengabaikan panggilan Marco dan mematikan ponselnya. Ia tidak ingin teman kampusnya itu mengganggu misinya. Giselle tidak ingat telah membuat janji dengan Marco. Padahal mereka telah sepakat untuk bertemu beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, Giselle tidak menepatinya. “Ke mana perginya uncle?” Giselle melihat satu unit mobil yang siap di depan paviliun. Sepertinya Arsen akan pergi sendirian. Tanpa Matew atau lainnya. Giselle tersenyum menang. Ia mengawasi keadaan sekitar. Berharap tidak ada satu pun pengawal Winata Yoga melihatnya menyusup masuk ke dalam mobil yang akan dikendarai Arsen. Arsen masih saja terlihat serius. Wajahnya terlihat sangat kaku dan seperti bersiap memangsa Lawannya dengan ganas. Apa yang sedang diselidikinya mulai menemukan titik terang. Ia mulai menemukan petunjuk dan bersiap menemukan siapa pelakunya. Lelaki itu berjanji tidak akan membiarkan buronannya lepas. Ia akan membawanya paksa menghadap Winata Yoga dan mengakui semuanya. Sementara melihat Arsen yang terlihat tengah serius. Giselle berjalan mengendap-endap. Gadis itu berencana masuk ke dalam mobil yang akan Arsen bawa. Ia akan bersembunyi di jok bagian belakang mobil. Giselle sangat yakin Arsen tidak akan melihat keberadaannya. “Uncle kamu tidak bisa lagi lari dariku.” Giselle berhasil masuk ke dalam mobil dan bersembunyi. Ia sangat takin tidak akan ada yang menemukannya. Menunggu beberapa menit membuat Giselle kepanasan. Ia berusaha mengintip dari dalam, Arsen masih berdiri di depan mobil dan terlihat masih serius berbicara. “Uncle kenapa kamu masih di sana? Ayo masuk!” Giselle bergumam sendiri. Ia mulai merasa kepanasan di dalam mobil. Melihat Arsen yang mulai berjalan masuk, Giselle langsung menundukkan kepalanya. Ia tidak ingin Arsen mengetahui keberadaannya. Lelaki itu langsung duduk di depan kemudi mobil dan terdiam sesaat. Arsen merasa ada yang aneh, instingnya mengatakan ada seseorang selain dirinya di dalam. Ia menengok ke belakang, tetapi tidak menemukan siapapun di sana. Arsen akhirnya menghiraukan perasaannya sendiri. Lelaki itu langsung menghidupkan mesin mobil. Ia langsung membawa mobilnya keluar kediaman Winata Yoga menuju gudang milik Winata Yoga yang terletak di pelabuhan. Biasanya lelaki itu akan menghabiskan banyak waktu di sana dan akan kembali lagi saat malam hari. “Aku akan menyelesaikan semuanya hari ini! Kita lihat saja sejauh mana kalian akan bersembunyi dariku!” Giselle masih tetap bersembunyi, sepertinya belum waktunya ia muncul. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan Arsen. Mobil yang Giselle tumpangi terus saja melaju. Jalanan yang tidak stabil membuat kepala gadis itu beberapa kali terasa sakit terbentur pintu. Beberapa kali ia mencoba menahan suaranya, tetapi ia tidak bisa. Laju mobil Arsen yang keras membuat Giselle tidak bisa menahannya. Semua tubuhnya terasa sakit karena duduk kesempitan. Arsen semakin merasa aneh. Sesampainya di gudang ia langsung memasukkan mobilnya. Ia tidak ingin kedatangannya membuat beberapa orang di pelabuhan curiga. Aktivitas di gudang Winata Yoga sudah lama sekali tidak beroperasi. Tempat itu hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan. Semenjak kematian Rendi, tempat itu tidak ada yang menempati lagi.  Kini tempat itu Arsen gunakan sebagai basement tempatnya melakukan pengintaian aktivitas Adi Putro di dekat dermaga. Feeling Arsen semakin kuat mengatakan ada orang di dalam mobil selain dirinya. Instingnya tidak pernah meleset. Lelaki itu masih berdiam di depan kemudi. Ia masih menunggu keberadaan orang tersebut keluar. Giselle merasa waswas, sepertinya Arsen telah mengetahui keberadaannya. Namun, Giselle mencoba tenang untuk tidak terlarut dalam keadaan. “Keluar! Jangan bersembunyi!” gertak Arsen. Ia tidak mau basa-basi dan bersikap sok baik pada penyusup yang masuk ke dalam mobilnya. Giselle masih tidak berkutik. Ia masih berusaha bersembunyi. Ia tidak ingin Arsen akan membawanya pulang jika tahu keberadaannya. “Keluar atau aku seret kamu!” Arsen masih memberi kesepatan, tetapi Giselle masih belum juga keluar. Tidak mau menunggu lama, Arsen langsung keluar mobil dan langsung membuka pintu mobil bagian belakang dengan kasar. Ia tidak akan memberi ampun pada musuhnya yang lancing. “Keluar!” Betapa terkejutnya Arsen melihat Giselle tengah bersembunyi di belakang. Gadis itu terlihat meringkuk dan melihat ke arah Arsen dengan wajah ketakutan. Wajah Arsen yang dulunya terlihat penuh kelembutan saat menatapnya berubah drastis. Wajah itu terasa bengis dan siap melenyapkan musuhnya. “Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?” Giselle masih meringkuk d tempatnya. Ia enggan keluar mobil. Ia tahu jika Arsen pasti tidak akan membiarkannya dan menelpon Matew untuk menjemputnya. Giselle tidak mau hak itu terjadi. Jika hal itu terjadi, Giselle lebih baik memilih melarikan diri dari pada harus pulang bersama Matew. “Keluar!” Arsen menggertak. Ia merasa keberadaan Giselle berada di waktu yang salah. “Enggak!” “Keluar atau aku paksa!” Arsen memberi pilihan pada Giselle. Gadis itu masih saja di tempatnya. Hanya saja ia mengubah posisinya. Ia duduk di jok bagian belakang sambal melipat tangannya. Ia bersikukuh duduk di tempatnya dan tidak ingin keluar. “Aku akan terus berada di sini sampai uncle benar-benar mengingatku!” “Keras kepala!”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN