Chapter 08. Subyek Penelitian
Ketika dia membuka mata yang terpapar dihadapannya hanyalah warna merah api yang menerangi langit malam.
Suara teriakan memenuhi keheningan. Dia tergagap, dan segera berlari memotong halaman berumput. Ia mendekati bangunan yang dilalap api itu, berusaha membuka pintu-pintu, namun ia tak sanggup melakukan apa pun.
Ia mendengar suara sirine di kejauhan, namun terlalu jauh. Pemadam kebakaran tak akan sampai tepat waktu.
"Rom, pergilah!"
Suara Jim memerintahkannya.
***
Rom terbangun dengan jantung berpacu dan tubuh berkeringat dingin, nafasnya tersengal. Ia menoleh dan menemukan pasang mata cokelat mengawasinya.
"Kau baik-baik saja, Rom?" tanya Sasha hati-hati.
"Aku baik-baik saja," Jawab Rom segera, ia merasa sangat berterima kasih karena Sasha begitu mengkhawatirkannya.
“Kau pasti bermimpi buruk,” Rom hampir melupakan keberadaan Ben. "Kau memiliki gejala PTSD," jawab Ben. Ia segera menggeser kursi ke dekat ranjang. "Jadi, apakah benar kau yang memacu api pertama kali?"
Rom terdiam. "Bukan... Aku..." Rom ingin mengaku jika bukan dia yang melakukannya, tapi ingatannya begitu ambigu. "Aku... tidak yakin."
"Lalu kenapa kau kabur jika bukan kau yang melakukannya?" lanjut Ben.
"Itu..." Rom jeda sesaat. "Jim yang menyuruhku pergi."
"Ohya? Siapa itu Jim? Kenapa dia mneyuruhmu pergi? Bagaimana dia melakukannya? Dia meneleponmu? Dia mengetahui kau adalah Eyerish?"
Rom memandang Ben dengan sorot mata tidak nyaman mendengar semua pertanyaan yang terlontar cepat itu.
"Oh, maaf jika aku membuatmu tidak nyaman. Tapi ini yang harus kau lakukan jika ingin dibantu."
"Bagaimana caranya kau membantuku?" tanya Rom, terdengar meragukan.
"Hmm," Ben menghela nafas. "Mungkin pertama-tama aku bisa membantumu dengan mengenal Eyerish lebih dalam. Ini yang akan menjadi penelitianku sekarang. Maksudnya adalah memahami spesifik secara kuantitatif dan kualitatif pada diri individu Si Subyek. Aku akan membantumu mempelajari dirimu sendiri. Kau tahu pilihan menjadi monster dengan kekuatan besar bukan pilihan mutlak. Tapi membiarkan dirimu memiliki kekuatan tanpa melatih dan mempelajarinya hanya akan menjadikanmu monster tanpa pilihan."
"Jadi kau akan membantu Rom?" tanya Sasha, menyimak baik-baik perkataan Ben.
Ben mengangguk. "Mari kita mulai dari mengenal dirimu sendiri." ia menoleh pada Rom. "Apa kau siap menjadi Subyek-ku? Aku butuh persetujuanmu."
Rom terdiam. Ia berpikir. Tapi bagaimana seorang bocah bisa membantunya? Ia telah mengetahui jika Ben adalah anak laki-laki berusia 17 tahun yang terlihat pintar, dan bocah ini benar-benar berniat mempelajari Eyerish meski kedengaran aneh. Mungkin saja Rom benar-benar akan mendapatkan bantuan kali ini.
"Kau akan mendapat masalah jika ikut campur dengan kehidupanku." kata Rom akhirnya, memberikan peringatan secara halus.
Ben tersenyum menyeringai. "Kau tidak kenal aku. Kau tidak tahu resiko yang sudah kuambil untuk menemukan kalian di belahan bumi ini."
"Aakah kau tidak berasal dari sini?" tanya Rom.
"Oh ya, tempat tinggalku jauh sekali."
"Apakah disana juga ada Eyerish?" tanya Sasha.
Ben menggelengkan kepala. “Tidak ada, tapi ada jenis makhluk hidup lainnya.” Ujarnya. "Beberapa dari mereka bahkan adalah teman-temanku, juga keluargaku."
Rom hanya bisa terdiam sambil memandang mata biru Ben. Tidak, mata bocah itu biru kehijuan. Entahlah. Seolah warna mata Ben bisa berubah-ubah begitu saja berdasarkan intensitas cahaya yang ada.
"Aku ingin kau membantuku." Rom akhirnya memberikan persetujuannya.
***
El menuang minuman ke dalam gelasnya ketika seseorang memasuki dapur. Ia menoleh kaget pada kehadiran si pria bertubuh tinggi. Ia masih belum terbiasa melihat Rom berkeliaran di rumah Emily. Ia mengawasi pria itu yang segera mengenakan celemek di pinggangnya.
El mengerutkan dahi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya El segera.
Rom melewati El untuk membuka kulkas, lalu kembali ke depan kompor dengan beberapa butir telur. "Aku akan membuat sarapan." jawabnya datar.
Sementara El melongo mendengar jawaban itu. Membuat sarapan... yang benar saja?!
"Hei, untuk apa kau membuat sarapan, hah?"
Rom meliriknya sekilas sebelum menjawab. Dia mengangkat bahu. "Kalian akan kelaparan tanpa sarapan."
"Bukan itu maksudku." El melipat tangan di d**a. Ia merasa akan sulit berkomunikasi dengan pria di depannya ini. "Kenapa kau merepotkan dirimu melakukan hal ini? Ini bahkan bukan tempat tinggalmu "
"Aku sudah terbiasa melakukannya." kata Rom. "Di panti asuhan, aku diajarkan untuk membalas budi. Kalian sudah menyelamatkanku. Juga Memberikan tempat tinggal. Aku tidak punya uang dan apa pun yang bisa kuberikan."
"Ya ampun." El terperangah mendengar jawaban Rom. Jika memang begitu dia tidak akan bisa menghentikan sikap balas budi ini. Toh ia masih ingat jika masakan yang dibuat Rom untuk makan malam memang lumayan enak.
Ia mengawasi Rom yang telaten memasak. Ia menduga pria ini sudah bertahun-tahun melakukan aktifitas ini sehingga tak ada sedikit pun keraguan di wajah pria itu dalam pekerjaannya.
"Aku yakin kau juga tidak bisa tidur malam tadi," El duduk di kursi meja dapur. Ia memutuskan untuk sedikit membuka percakapan. Mungkin ia bisa menemukan 'sesuatu' dari pria pendiam ini jika mereka mencoba sedikit membuka komunikasi.
"Eyerish? Aku bahkan baru mengetahui semua hal itu." Dengus El.
Rom tidak menanggapi, ia kini mulai memotong wortel dan buncis, menyiapkan rebusan air di kompor.
"Ben menawarkan menawarkan sesuatu padaku," El terus mengoceh.
"Dia ingin menjadikan kita sebagai subyek penelitiannya tentang Eyerish. Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayai bocah kecil belasan tahun yang menyatakan dirinya sedang membuat penelitian itu. Selama ini kita tidak pernah bertemu dengan orang sejenis kita, kita selalu mengharapkan bantuan, tapi tidak ada satu pun yang datang untuk membantu. Malah, jika mereka mengetahui perbedaan kita, mereka hanya akan ketakutan dan menganggap kita sebagai monster.
Pada akhirnya pilihan kita adalah menjalani hidup kita dalam kebohongan dan ketakutan, menekan dan menyembunyikan kekuatan kita, semampunya. Bahkan ketika itu kita masih terlalu kecil, namun kita sudah menuntut diri kita untuk bisa lebih kuat menahan kekuatan kita supaya tidak terbongkar. Seberapa frustasi dan gilanya, kita tetap terus berusaha menekan diri kita. Jika orang-orang tahu, entahlah, mana mungkin aku bisa hidup damai sampai sekarang. Kau juga berpikiran sama, kan? Tapi mari kita tegaskan, karena sekarang kita sudah sama-sama dewasa. Kita lebih kuat sekarang daripada di masa lalu. Kita tetap akan bisa hidup lebih baik bahkan tanpa bantuan apa pun. Menurutku begitu. Bagaimana denganmu?"
Rom tidak menjawab apa pun. Dia fokus memasak. El berdecak jengkel melihat pria itu yang mengabaikannya.
"Berapa banyak yang terluka?" El memutuskan untuk lanjut ke tingkat obrolan yang sensitif.
"Maksudku, dalam perjalanan kita tumbuh dewasa, pasti ada saat-saat kita kehilangan kontrol. Dan menurutku kekuatanmu lebih tinggi levelnya dari yang kumiliki. Pasti ada anak-anak yang suka mengganggumu. Mungkin juga ada orang-orang dewasa yang menyebalkan mengganggumu. Bahkan orang-orang yang tidak kau kenal dan berpapasan denganmu bisa memacu emosimu."
"Seandainya ..." Rom membuka suara, menanggapi El.
"Ya?" El sedikit tertarik mendengar tanggapan Rom. Ia penasaran kehidupan seperti apa yang telah dijalani oleh Rom sebagai jenis yang sama dengan dirinya.
"Seandainya kau sudah mengenalku sejak kecil, mungkin kau bisa membantuku menyelamatkan pohon-pohon itu."
"Maksudmu?" El tak memahami arah omongan Rom.
"Aku sudah membakar mereka semua. Pohon-pohon itu, mereka tidak berdosa. Aku yang berdosa. Aku membunuh mereka semua dengan tanganku. Aku adalah pendosa."
El terdiam. Ia tidak menyangka akan mendengar pengakuan itu. Jika pada pohon saja Rom merasa berdosa, apalagi dengan membakar gedung panti asuhan tempat tinggalnya beserta penghuninya? Itu adalah tindak kriminal level tinggi bukan?
Benar-benar aneh. Rom sama sekali tidak terlihat seperti pembunuh berdarah dingin yang diincar saat ini.
"Menurutmu... Apakah yang kulakukan adalah benar?"
El tidak jadi bergerak pergi ketika mendengar pertanyaan itu.
"Apakah lebih baik membakar pohon-pohon... daripada orang-orang itu?"
***
"Apa ini?" El mengerutkan dahi ketika menerima beberapa lembar kertas dari Ben. Rom juga mendapatkan hal yang sama. Dan sesuai persetujuan mereka berdua, mulai hari ini Ben akan melakukan penelitian dengan mereka berdua sebagai subyek.
El tidak mengerti mengapa ia menyetujui tawaran Ben. Mungkin karena Rom telah menyetujuinya lebih dulu. Dan karena hal ini, ia menambah waktu tiga hari pada mereka bertiga untuk tinggal di rumah Emily. Tentu dengan persetujuan Emily.
"Blanko yang perlu kalian isi,” jawab Ben. “Aku perlu mengumpulkan informasi umum untuk tahap pertama. Aku akan memberikan waktu untuk mengisinya. Santai saja." kata Ben.
"Sayang, aku berangkat dulu." Emily tiba-tiba masuk ke ruang tengah, mencium kening El sesaat, kemudian melambai sambil memberikan senyum pada Ben dan juga Rom. "Aku pergi, semuanya."
"Ya, hati-hati di jalan, Em!" balas Ben.
El melotot pada bocah itu. Entah bagaimana Ben tampak mudah memanggil nama Emily seolah-olah mereka berdua sudah begitu akrab. Ck, dia sedang tidak cemburu sama sekali.
"Hei, hei... Kau serius akan membuat kami menghabiskan waktu dengan mengisi blanko omong kosong ini? Nama lengkap, tanggal lahir, nama orang tua, pekerjaan orang tua, dan... Dan riwayat sekolah pula!" komentar El jengkel.
"Kau hanya perlu mengisinya, Pak," ujar Ben. "Aku perlu data personal. Dan..." ia melangkah mendekati mereka berdua, melihat isi kertas mereka sekilas. "Lihat, aku sudah menemukan satu hal yang terkait."
"Apa maksudmu?" El mengerutkan dahi.
"Kalian lahir di tahun yang sama."
"Oh ya?" El segera menarik kertas Rom, membaca data diri Rom yang baru beberapa terisi. Dan benar. Mereka lahir di tahun yang sama. Bahkan Rom lebih tua beberapa bulan darinya. Apa? Ia mengira Rom akan lebih muda darinya beberapa tahun. Bagaimana bisa pria bertampang kosong itu bisa lebih tua darinya?
"Lalu? Apa kaitannya?" El mengembalikan kertas Rom.
Ben menghela nafas jengkel. "Kau adalah polisi, bukankah ini bisa menjadi dasar pada hal yang mencurigakan? Dua orang Eyerish lahir di tahun yang sama? Oke, mari berharap pada sesuatu yang lebih spesial daripada ini."
---*---