Chapter 09. Informasi Umum, El
El baru saja kembali setelah memesan makan siang melalui aplikasi delivery.
"Aku memesan roti sayur dengan sosis untuk makan siang," ia memberitahu sambil duduk.
"Wah, Makasih! Aku suka itu!" sahut Ben tanpa menurunkan kertas blanko yang sedang ia baca dari depan wajahnya. “Kalau di dunia kami, namanya Pizza!”
"Aku bisa memasak jika boleh." kata Rom.
Ben menurunkan kertas blanko dari wajahnya, ia bersama El memberikan tatapan setengah jengkel pada Rom.
"Tidak perlu repot, Tuan Api. Kita perlu fokus menjadi subyek penelitian saat ini," kata El.
Dan Rom mengangguk saja.
Ben berdehem. “Baik, aku akan mulai membacakan,” ia mengumumkan. "El Shan, kau lahir di bulan musim dingin. Dan kau baru menyadari kekuatanmu di ulang tahunmu yang ke-7. Orang tuamu membantumu menyembunyikan identitasmu, kau sering berpindah-pindah kota sejak kecil. Pak, bisakah kau jelaskan seperti apa orang tuamu? Bagaimana reaksi mereka ketika mengetahui rahasiamu?"
"Kenapa aku harus menyebut orang tuaku?" El tampak keberatan. Dia merasa tidak nyaman menjawab pertanyaan itu.
"Pak, sekarang ini anda adalah subyek. Aku yakinkan aku akan berhati-hati memberikan pertanyaan. Dan penting bagi Anda untuk menjawabnya." Ben cukup punya etika ketika ia memainkan perannya sebagai peneliti meski di usianya yang masih muda.
El menghela nafas. "Orang tuaku... Mereka berdua adalah manusia biasa pada umumnya, yang cinta damai. Bukan orang yang suka mencari masalah. Sejak kecil kami berpindah-pindah kota karena pekerjaan Ayah sebagai seorang Guru. Dan... reaksi mereka ketika mengetahui kekuatanku... Hmm, entahlah aku tidak terlalu ingat, sepertinya mereka berusaha untuk tidak panik. Mereka memberitahuku jika aku bisa tetap menjadi anak normal jika aku menyembunyikan kekuatanku.
Aku menuruti apa saja yang mereka katakan kepadaku. Tapi... Mengabaikan kemampuan ini tidak mudah, emosiku rentan meledak, dan jika sudah seperti itu, aku bisa meledakkan air dimana-mana. Dan aku terkadang memiliki imajinasi liar terhadap hal ini."
"Apa yang mereka lakukan jika kau mulai meledak?"
Ben memberikan pertanyaan yang membuat El terlihat gugup.
"Mereka memberikan obat penenang." El menghela nafas. "Aku tahu ini perbuatan ilegal pada anak-anak. Tapi orangtuaku mendapatkan izin. Dan itu satu-satunya yang bisa mengontrol emosiku."
Ben menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku akan memberikan tes darah padamu." ujarnya. "Semoga saja obat-obatan itu tidak mengganggu tubuhmu. Jika ini mengganggumu, kau harus melakukan pembersihan darah."
"Bagaimana kau melakukannya?"
"Tes darah? Oh tenang saja, aku membawa alat-alatku."
"Dan soal pembersihan darah?" El mengerutkan dahi melirik pada ransel Ben yang entah sudah berapa banyak alat yang keluar dari dalamnya. Ia ingat Ben mengeluarkan sekotak alat bedah untuk mejahit luka Rom. Juga bocah itu membawa video gamenya, dan laptopnya, dan sekarang dia memiliki peralatan tes darah? Seolah-olah tas itu telah disihir untuk dapat terisi apa saja.
"Tapi kau lulus tes kepolisian?" komentar Ben.
"Ya, obat itu tidak terdeteksi." kata El. "Kata Ayah, obat yang aku konsumsi itu adalah obatan herbal. Tapi entahlah, obat itu cukup kuat untuk membuatku tenang hingga tak sadarkan diri."
"Kau masih punya obatnya?"
El menggeleng. "Aku tidak pernah memegang obatnya lagi, kukira setelah masuk ke akademi. Mungkin orang tuaku masih menyimpannya."
Ben menganggukkan kepala. Ia mulai menuliskan sesuatu di buku catatannya.
"Kau tidak mencurigai orangtuaku kan?" tanya El berhati-hati.
Ben tersenyum kecil. "Aku belum menganalisis apa pun, Pak. Aku baru saja mengumpulkan data."
El mengangguk saja mendengar jawaban bocah itu.
"Satu lagi, Pak." kata Ben kemudian. "Apakah kau pernah melatih kemampuanmu? Aku sangat ingat kau begitu ahli ketika berhadapan dengan Eye Tracker malam itu."
El menelan ludah. Ia mendadak merasa gugup. Sangat tidak nyaman mengingat kembali kejadian malam yang mengerikan itu.
"Itu..." El mengangkat bahu. "Selama di akademi aku cukup terkenal dengan sebutan Pelajar Cepat. Aku bisa mempelajari hal baru dalam waktu singkat."
Ben menunjukkan ekspresi kagum dengan pasang mata biru hijaunya yang berbinar. "Wow."
El mengangkat bahu lagi, tak begitu yakin apakah julukan itu berkonotasi baik untuknya saat ini.
"Keren sekali, Pak." puji Ben. "Dalam sekejap kau mempelajari cara orang itu membuat senjata dari air." ia menuliskan sesuatu di buku catatannya. "Kau punya kepribadian dan kemampuan yang semakin menarik. Apakah ada hal yang ingin kau tambahkan?"
El memandang ragu pada Ben sesaat, memang ada hal yang ingin ia sampaikan.
"Anda tak perlu ragu, Pak. Semakin banyak informasi yang kudapatkan, maka aku bisa menganalisis kasusmu dengan baik." Ben seolah mengetahui ada lubang dari informasi yang baru saja ia dapatkan. "Aku hanya penasaran bagaimana kau bisa membangun karakter barumu sementara kau menjelaskan kepribadianmu ketika masih kecil cukup emosional."
El seolah terperegok. Ia tidak menyangka Ben begitu teliti dalam setiap informasi. Ia semakin sadar jika bocah berusia 17 tahun di hadapannya saat ini bukan bocah biasa.
"Aku mengikuti konseling." El akhirnya menjawab. "Orang tuaku selalu berusaha untuk menyelamatkanku, dan salah satunya adalah membuat jadwal konseling dengan para psikolog terbaik." ia menghela nafas. "Aku sangat membenci ide itu. Tapi aku berusaha menuruti kemauan orang tuaku. Kebanyakan konseling itu hanya membuang waktu. Orang-orang itu seperti menganggapku gila. Atau memperlakukanku seperti bocah 5 tahun yang perlu diajarkan pelan-pelan. Ada juga yang memandangku seperti monster, atau mungkin tahanan atau pula psikopat. Tidak ada satu pun yang bisa menurunkan tingkat emosiku. Sementara hasratku untuk menggerakkan air bertambah besar.
Entah walau ini kedengaran gila. Aku seperti mendengar molekul air itu berbicara kepadaku. Aku selalu tergoda untuk menyentuhnya." Dan ia terdiam sesaat, tampak mengenang masa lalunya. Ia mendadak mengerjapkan mata, tersadar. "Maaf, aku mendadak melamun."
"Jangan khawatir, Pak. Santai saja," kata Ben.
El mengangguk, menarik nafas sebelum melanjutkan. "Dan orang ini muncul." ujarnya. "Aku hanya tahu namanya. Dr. Riddle. Dia memintaku memanggilnya seperti. Dan dia psikiater paling muda diantara psikiaterku sebelumnya. Dia adalah pria yang aneh, karakter yang tenang dan pendiam. Dia tidak mengoceh seperti psikiater sebelumnya yang sok tahu tentang keadaanku.
Pertemuan pertama kami, adalah setelah aku pindah ke Goshenite di usiaku yang ke-13. Dia, hari itu, duduk dihadapanku, membaca buku, membiarkanku kebingungan selama setengah jam. Aku tidak tahu metode apa yang digunakan oleh Dr. Riddle, entahlah. Pertemuan kami hanya berlangsung tiga kali dalam satu minggu. Dalam setiap pertemuan itu dia hanya membacakanku cerita dari novel-novel yang ia baca. Ia mengajakku menganalisis karakter protagonis dan antagonisnya. Kami juga mengomentari plot dan deskripsi dalam novel-novel itu. Dan setelah tiga kali pertemuan itu, dia telah berhenti begitu saja lalu menghilang. Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku nyaris merasa pertemuanku dengan Dr. Riddle seperti mimpi. Ketika aku bersamanya membahas isi novel, aku merasa begitu tenang. Emosiku seperti bisa dikendalikan dengan mudah."
Ben menunjukkan ekspresi ketertarikan yang jelas. Ia mendengarkan dengan baik setiap kalimat yang diucapkan oleh El tanpa menyela sedikit pun.
"Kedengaran remeh ya? Karena aku berhasil mengendalikan emosiku setelah banyak membaca."
"Wah, Pak. Kau memiliki pengalaman luar biasa." komentar Ben. "Apakah ada hal yang bisa kudapatkan selain nama Dr. Riddle?"
El mengangkat bahu. "Aku tidak pernah tahu nama depannya. Aku sudah pernah mencoba mencari data dirinya. Tapi orang itu seperti hantu. Tidak ada siapa pun yang mengenalnya."
"Benar-benar menarik, Pak." Ben berdecak, terlihat jelas kilatan matanya yang begitu penasaran. "Kurasa informasi umum tentangmu cukup untuk saat ini. Malam ini aku akan segera menganalisisnya. Dan selanjutnya..." Ben menarik kertas lainnya di atas meja. "Arom Eden." bacanya. "Kita akan mulai mengumpulkan informasi umum tentangmu."
Rom yang diam selama indetifikasi informasi umum El, tidak berkomentar apa pun ketika namanya dipanggil oleh Ben. Ia hanya memberikan anggukan singkat.
El menoleh pada Rom. Ia cukup penasaran dengan kehidupan Rom. Jika masa lalunya sudah serumit ini, bagaimana dengan Rom? Mungkin saja pria itu memiliki masa lalu yang lebih rumit daripada dirinya. Dan seandainya Rom memang bukan seorang psikopat buronan yang sedang dicari-cari saat ini, tentu El akan merasa cukup lega.
Mungkin El bisa membantu Rom. Mungkin.
--*---