Chapter 10. Informasi Umum, Rom

1128 Kata
Chapter 10. Informasi Umum, Rom Roti dengan sayur dan sosis yang tidak segar bukanlah menu makan siang yang akan direkomendasikan oleh Rom. Bahkan sebelum menyentuh satu potong saja dia sudah bisa menghitung kalori dan lemak yang ada di dalam makanan itu. Belum ditambah topingnya yang terlalu over dan tidak segar, menambah alasan bahwa makanan itu sama sekali tidak sehat untuk sering dikonsumsi. Namun orang-orang dihadapannya makan dengan lahap. Termasuk Sasha. Rom menghela nafas. Ia akan memasak makanan yang lebih sehat untuk Sasha nantinya. "Hei, kau makan?" El ternyata mengawasinya. Rom segera mengambil satu potong untuknya. Baru kemudian El memalingkan wajah darinya. Rom mengunyah makan siangnya sambil memperhatikan Ben yang makan sambil mengetik dengan sebelah tangannya. Tangan kanan memegang potongan roti, tangan kiri mengetik keyboard dengan gerakan cepat. Ben terlihat tidak cukup sehat untuk seusianya, menurut penilaian Rom. Bocah itu terlalu kurus, berat badannya tidak seimbang dengan tinggi tubuhnya yang Mencapai 180 cm diusia 17 tahun. Kulitnya juga pucat, lingkaran hitam sangat jelas tercetak di bawah matanya. Rom juga berpikir akan memasak makanan yang sehat untuk bocah laki-laki ini. Rom menghela nafas. Tanpa sadar ia selalu mengkhawatirkan anak-anak kecil di sekitarnya. Ini seperti sudah menjadi sifatnya sejak ia menawarkan diri menjadi sukarelawan untuk merawat anak-anak di panti asuhan. Dan mengingat panti asuhan membuat perasaannya kembali kelam. Ia teringat pada Jim. Pada anak-anak panti asuhan. Juga termasuk guru-guru tua meski pun beberapa dari mereka pernah menyiksanya di masa kecil. Ia merasa simpati. "Oke! Waktu istirahat selesai!" seru Ben setelah meneguk habis cola-nya. "Sasha, kau masih mau membaca ini kan?" Ben menyodorkan sebuah buku bersampul biru tebal pada Sasha. Dengan senang hati gadis kecil itu segera menerimanya, kemudian beranjak pergi dari ruang tengah. "Apa nanti aku bisa ke supermarket?" Rom tiba-tiba bertanya pada El. "Ap...apa?!" El tersentak kaget. "Aku tidak akan kabur atau membuat masalah. Aku hanya akan membeli bahan makanan untuk makan malam." jelas Rom. "Ya Tuhan!" seru El, terperangah. "Kau tidak perlu melakukan hal itu. Aku dan Emily bisa memesan makanan untuk nanti!" "Tapi kita perlu makanan sehat. Khususnya untuk Sasha dan Ben. Mereka berdua masih dalam tahap pertumbuhan." "Hah?!" El malah melongokan wajahnya ketika mendengar alasan Rom. "Aku akan memasak makan malam, tapi tidak ada stok bahan makanan di dapur." ujar Rom. “Maaf, aku sudah memeriksanya tadi.” El menarik nafas. "Kalau kau bersikeras..." ujar El. "Aku bisa membelikannya, kau tinggal menuliskan daftar yang perlu dibeli." Rom mengangguk setuju, ia puas dengan pilihan itu. "Terima kasih." ucapnya. "Ehm." Ben berdehem. Kedua pria itu segera menoleh pada Ben yang menunggui diskusi mereka tentang rencana menu makan malam. "Aku akan mulai. Kau siap, Rom?" tanya Ben. Rom mengangguk. *** "Hmm," Ben membaca kertas jawaban yang diisi oleh Rom. "Namamu... Arom Eden. Kau tinggal di Panti Asuhan Idocrase sejak lahir. Kau mulai menyadari kemampuanmu di usia 7 tahun. Hmm, sama persis dengan El. Kemudian... Kau diadopsi oleh seorang Polisi bernama Jim Radon diusia 13 tahun. Kemudian sejak itu kau menawarkan diri bekerja di panti asuhan untuk membantu mengasuh anak-anak secara sukarelawan." Ben mengangkat wajahnya untuk memandang Rom. "Wah," komentarnya. Wah. Benar kata Ben. El menyetujui jika riwayat Rom terlalu 'bersih' untuk dapat disebut sebagai Buronan berbahaya. "Kau... tidak pernah sekolah?" tanya Ben, sedikit ragu untuk bertanya. "Kami diberikan banyak pelajaran di Panti Asuhan." jawab Rom. "Dan apakah Jim Radon tidak menawarkanmu untuk melanjutkan sekolah formal?" tanya Ben lagi. "Dia pernah menawarkan hal itu padaku. Tapi aku menolaknya. Aku sudah cukup menyulitkannya dengan mengadopsiku." "Oh, jika begitu..." Ben mengangguk-angguk. "Aku bisa melihat kau memiliki kepribadian yang sulit." komentarnya. "Dan tidak ada yang tahu mengenai kekuatanmu sejak pertama kali kau mengetahuinya?" Rom mengangguk. Ben melepas kacamatanya, juga menaruh kertas Rom ke meja. "Oke," Ben mengangguk, ia terlihat dua kali lipat serius. "Sepertinya pertanyaan di blanko yang kubuat tidak cukup untuk membuatmu banyak bicara." ujarnya. "Adakah guru di panti asuhan yang mungkin bisa membantumu waktu itu?" Rom menggelengkan kepala. "Teman-teman panti asuhanmu?" Rom menggeleng lagi. "Lalu bagaimana kau bisa menyembunyikan kemampuan yang kau miliki? Dan bagaimana kau bisa bersikap normal?" Rom terdiam. "Aku tidak ingin menyakiti siapa pun." ujarnya Hening sesaat. Ben dan El sama-sama memandang takjub pada Rom. Apakah Rom benar-benar serius berpikiran seperti itu sejak usia mudanya? Bukankah usia 7 tahun masih terlalu kecil untuk dapat bersikap bijak seorang diri tanpa ada arahan? Ditambah dia berasal dari lingkungan yang tidak cukup mendukung kehidupannya. "Jadi... Di usia 7 tahun, kau baru menyadari kemampuanmu, dan kau sadar jika kemampuan itu tidak normal. Dan kau memutuskan menyembunyikannya?" Ben mencoba menyimpulkannya. "Di usia 7 tahun kau sudah mengambil keputusan semacam itu?" Rom mengangguk. Ben ber-oh panjang. "Apakah kau benar-benar bisa mengendalikan kemampuanmu? Dalam rentang waktu selama ini? Apakah pernah terjadi hal yang mengganggu emosimu sampai-sampai...?" Rom menundukkan kepala, memandang jemari-jemarinya yang berkaitan. "Aku membakar pohon-pohon." "Apa?" "Ketika teman-teman panti asuhan menggangguku, setelahnya aku ke hutan. Dan membakar satu pohon." ujar Rom pelan. "Ketika Guruku memukulku atau mengunciku seharian di Ruang Meditasi, setelahnya aku membakar satu pohon lagi di hutan. Dan seterusnya." Suara Rom memelan. "Hingga akhirnya lahan itu menjadi kosong." Ia mengangkat wajahnya, memandang Ben dengan pasang mata Irisnya yang berwarna gelap. "Dan aku tidak tahu harus membakar apa lagi." Ben terhenyak sesaat. Mulutnya membuka namun tidak ada kata-kata yang keluar. Ia menutupnya kembali, dahinya berkerut-kerut seolah ia sedang memikirkan kemana arah percakapan selanjutnya. "Dan...?" Ben seperti tidak berhasil memikirkan list pertanyaan selanjutnya. "Apa yang terjadi?" Rom menatap Ben sesaat sebelum memalingkan wajahnya. Ia tampak ragu untuk menjawab. "Bagaimana sampai kau bisa bertemu dengan Jim Radon?" Tanya Ben. "Kau tidak perlu khawatir. Kau bisa memberitahu apa pun padaku. Kuharap kau tidak perlu menahan dirimu. Aku di sini untuk membantumu. Dan aku serius melakukannya. Mungkin bagimu aku hanyalah bocah 17 tahun yang belum bisa melakukan banyak hal. Tapi percaya lah, aku lebih daripada bocah 17 tahun, aku cukup tahu banyak hal." Rom masih diam. Kemudian ia mengangguk, bukan berarti ia mempercayai Ben sepenuhnya. Hanya saja ini mulai sedikit menyenangkan. Ia tidak pernah menceritakan apa-apa pada siapa pun tentang kehidupannya, termasuk pada Jim sekali pun. Ben menghela nafas lega ketika melihat anggukan Rom. "Bisakah kau deskripsikan siapa Jim Radon? Bagaimana pertemuan kalian? Apa alasannya mengadopsimu?" Rom terdiam beberapa saat, tampak mengingat-ingat. Akhirnya ia memulai jawabannya. "Jim adalah orang baru di kota. Dia masih cukup muda. Termuda di anggota kepolisian di kota. Dia mendapat tugas berkunjung ke desa kami. Dia... dia menyelamatkanku." Rom jeda sesaat. "Hari itu musim panas. Ulang tahunku yang ke-13. Orang-orang mulai curiga karena perbuatanku di dalam hutan. Karenanya aku kehilangan cara untuk mengendalikan hasrat saat itu. Waktu itu... ketika itu... sangat panas. Seperti... rasanya seluruh tubuhku terbakar. Dan aku berpikir untuk mengakhirinya." Ia menarik nafas. "Aku membakar diriku sendiri." --*--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN