Chapter 11. Ingatan Kembali
"Aku membakar diriku sendiri."
Ruangan hening sesaat, Ben dan El tampak seperti menahan nafas dengan pandangan terpusat pada Rom.
"Jim menemukanku," Rom melanjutkan setelah ia terdiam lama. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku terbangun dan sudah berada di Rumah Sakit. Jim adalah orang pertama yang kulihat waktu itu. Jim... dia terkena luka bakar. Sebelah tubuhnya cacat permanen." Rom menarik nafas.
"Sementara luka bakar ditubuhku membaik setelah beberapa hari." Rom kembali melanjutkan. "Dan bukannya menuntut ganti rugi, Jim malah menawarkan diri untuk menjadi waliku. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Tapi aku menerimanya, hanya sebagai ganti rugi yang bisa kuberikan. Aku bisa menjadi pesuruh mereka. Aku bisa melakukan apa pun untuk membayar kesalahanku."
"Ya Tuhan..." Ben menghela nafas, kembali terhenyak di kursinya. "Kurasa Jim adalah orang yang baik. Dia tentu tidak memintamu untuk menjadi pesuruhnya." Ujarnya. "Dia menawarkan diri menjadi walimu untuk melindungimu karena dia tahu kau 'berbeda'. Kau memiliki sifat anti sosial yang cukup parah, kau takut untuk menjadi setara dengan orang-orang di sekitarmu. Kau harus membenarkan pola pikirmu."
"Ben benar," El menyetujui hal itu. "Berhentilah bersikap rendah diri."
Rom diam saja sambil memandang telapak tangannya.
"Kurasa kita sudah tahu kenapa dia begitu memperhatikan pola makan," El mencoba mengalihkan topik pembicaraan. "Kau adalah pengurus panti asuhan, banyak anak-anak yang tentunya menyukaimu."
Rom mengerjap kaget mendengar komentar El. "Mereka semua... sudah tiada." ucapnya pelan.
El nenggigit bibirnya, merasa semakin bersalah melihat respon yang diberikan Rom.
"Mengenai indisen kebakaran di desamu,” Ben melanjutkan. "Kau sepertinya tidak mengingat kejadiannya. Aku benar kan?"
Rom ragu untuk menganggukkan kepala. Bagaimana jika memang benar dirinya yang menyulutkan api? Tapi untuk apa? Ia tidak pernah berniat untuk membunuh siapa-siapa.
"Coba kau ceritakan apa saja detail yang kau ingat." Pinta Ben. "Seperti... hari apa itu, apakah ada acara atau sesuatu yang spesial. Apakah ada orang-orang asing di sekitarmu. Atau orang-orang yang kau kenal bertindak aneh. Santai saja, kau bisa memikirkannya sekarang, dan aku akan menunggumu untuk berbicara."
Ben menarik buku yang ia pakai ketika mewawancarai El. "Jim Radon," gumamnya pelan sambil menulis.
"Hari itu acara pernikahan Lucy." Rom membuka suara. "Lucy dan Devan. Mereka berdua adalah temanku di Panti asuhan, kami bertiga tumbuh besar bersama di lingkungan Panti asuhan." Jelasnya, dan merasa takjub pada dirinya sendiri yang mampu menjelaskannya. "Karena mereka alumni panti asuhan, mereka mengadakan acara pernikahan di sana." Rom kini memandang langit-langit ruangan, seperti sedang mengingat. "Aku bertugas sebagai koki. Dengan beberapa anak-anak panti asuhan." Lanjutnya. "Dan aku tidak ingat apa pun lagi."
"Rom, kau harus tenang." Ujar Ben. Ia segera bangkit, merogoh sesuatu dari dalam ranselnya, kemudian mendekati Rom. "Duduklah dengan nyaman." Kata Ben. "Pejamkan matamu."
Rom memandang Ben dengan bingung.
"Lakukan saja sesuai perintahku." Kata Ben lagi. "Aku akan membantumu mengingat, tapi kau harus berada dalam kondisi yang tenang. Sekarang, pejamkan matamu."
Rom terlihat ragu, namun pada akhirnya ia menuruti kata-kata Ben. Ia memejamkan mata, menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi, mencoba duduk dengan nyaman.
Ben mengangkat sebuah botol, membuka tutupnya, kemudian menyemprotkan isinya ke sekitar Rom. Aroma manis memenuhi udara. Rom merasakan pikirannya menjadi tenang hanya karena aroma manis itu. Ia tidak bisa mendeskripsikan dengan baik, seperti aroma bunga dan makanan manis.
"Rom," Ben berbisik pada Rom. "Sekarang kau berada di sana. Di panti asuhan. Kau bertugas sebagai koki. Temanmu akan menikah, Lucy dan Devan. Kau ingat?"
Rom menganggukkan kepala.
"Bagus. Bisa kau deskripsikan apa yang kau kenakan waktu itu?"
"Aku mengenakan kemeja putih." Kata Rom pelan. "Dan celemek."
"Ada berapa anak panti asuhan yang membantumu?"
"Tiga."
"Kau ingat nama mereka?"
"Mereka... Via... Rossa, dan Jo."
Ben mengangguk. "Oke, dan kalian berempat sedang memasak. Menyiapkan jamuan untuk para tamu. Apakah dari tempatmu kau bisa melihat pengantinnya?"
Rom mengangguk.
"Kau menonton bagian pengucapan janji?"
"Ya. Aku sudah selesai memasak. Kami duduk di kursi paling belakang."
"Bagus, apa yang terjadi setelah pengucapan janji?"
"Itu... Lucy dan Devan berpelukan. Dan semua bertepuk tangan. Ada musik. Seseorang memainkan piano. Pasangan pengantin berdansa. Orang-orang mulai berdiri dan berdansa dengan pasangan masing-masing. Ada Jim dan May – istri Jim. Mereka juga berdansa. Dan Rossa mengajakku berdansa. Hari itu hangat. Orang-orang tampak bahagia. Entahlah, itu pertama kalinya aku menghadiri pernikahan seindah itu."
"Ya, tidak usah terburu-buru. Nikmati saja saat-saat itu," bisik Ben lagi, menyadari Rom mulai bercerita dengan cepat.
"Dan..." Rom jeda sesaat. "Musik berhenti." Ujarnya. "Namun orang-orang masih terus menari dan tertawa. Padahal tidak ada bunyi piano."
Rom mengerutkan dahi. Ia telah berada di halaman panti asuhan, berdiri di depan Rossa yang ceria.
"Tidak ada musik piano. Pria yang memainkan piano tiba-tiba pergi. Namun orang-orang masih terus berdansa. Aku mencoba mencari Jim. Jim dan May masih menari. Aku sangat ingin memanggil mereka, Tapi seseorang memanggilku."
"Siapa yang memanggilmu?"
"Aku... tidak tahu." Rom mulai merasa gelisah. Dahinya berkerut. Berusaha mengingat, dan sosok itu muncul dalam ingatannya. "Seorang anak laki-laki."
"Kau mengenalnya?"
"Tidak."
"Kau ingat dia seperti apa?"
Rom menggelengkan kepala. Ia mengerutkan dahi lagi, masih berusaha mengingat. Sosok anak laki-laki itu berdiri dihadapannya, ingatannya cukup jelas. Namun ia sulit menangkap sosok itu.
"Rambutnya... berwarna perak."
Akhirnya ia mengingat rambut anak laki-laki itu yang berwarna putih, tampak silau terkena pantulan cahaya matahari.
"Kenapa dia memanggilmu?"
"Aku... aku tidak tahu." jawab Rom.
"Lalu apa yang dia lakukan?"
"Dia... berdiri di sana... di depanku... ah, dia memasuki hutan."
"Kau mengikutinya?"
Rom mengangguk.
"Kemana dia membawamu?"
Rom tidak segera menjawab. "Aku... tidak ingat."
"Rom, kau harus rileks." Bisik Ben. "Kau tidak perlu terburu-buru. Kita mulai lagi. Alunan piano berhenti, namun orang-orang masih menari. Dan anak laki-laki berambut perak memanggilmu, lalu memasuki hutan, Kau mengikutinya. Kau terus melangkah. Dia di depanmu. Dan kau berhenti dimana?"
Rom tidak segera menjawab. "Itu..." dia bergerak gelisah. "Di lahan kosong." Nafas Rom mulai cepat. "Tempat dimana aku membakar pepohonan."
"Oke, dan dimana anak laki-laki berambut perak itu?"
"Di depanku."
"Kau melihat wajahnya?"
Rom menggeleng. "Aku tidak bisa melihatnya. Buram."
"Dia mengatakan sesuatu?"
Rom mengangguk.
"Apa yang ia katakan?"
Rom semakin gelisah. "Aku tidak bisa mendengarnya."
"Kau mendengarnya." Bisik Ben. "Kau melihatnya berbicara kepadamu, dan kau mendengarnya. Dia mengatakan sesuatu padamu. Apa yang ia katakan?"
"Itu..." Rom bernafas cepat. "Dia mengatakan... 'Hai'..."
"Dan...?"
...
“Hai, Rom.” Ucap si anak laki-laki berambut perak di hadapannya, suara anak laki-laki itu terdengar begitu dekat di telinganya. Padahal mereka berdua berdiri dengan jarak cukup jauh.
“Siapa kau?” tanya Rom, ia kesulitan menangkap wajah si anak laki-laki yang gelap membelakangi sinar matahari yang menyilaukan.
“Mereka sudah kejam padamu kan?”
“Apa?” Rom mengerjap bingung.
“Lucy sudah menikah, padahal kau mencintainya kan?”
“Ap... apa ini?” Rom mulai tergagap.
“Devan bukan pria yang baik, kau tahu itu. Sejak kecil dia melecehkanmu.”
“Stop! Hentikan!”
“Ayo, kita bakar saja mereka. Itu keinginanmu kan?”
...
Rom terlonjak bangun, matanya membuka lebar, ia bernafas cepat, terengah-engah dan berkeringat dingin.
"Rom, kau baik-baik saja?" Tanya Ben cemas, ia tampak kaget dengan gerakan Rom yang mendadak.
Rom segera bangkit. "Permisi," ujarnya sambil buru-buru pergi.
---*---