Chapter 12. Pilihan

1099 Kata
Chapter 12. Pilihan "Apa yang terjadi padanya?" El baru saja kembali setelah mengecek Rom. "Dia muntah, kelihatan cukup parah." Ben duduk di kursi, sedang menulis. "Efek hypnosis." Jawab Ben. "Kau tidak perlu khawatir. Dia telah melalui masa sulit. Dia berhasil mengingat hingga sejauh itu juga sudah beruntung." "Jadi bukan dia yang melakukannya?" Tanya El. "Anak kecil berambut perak itu kan pelakunya? Hal ini membingungkan. Dia tidak sedang mengarang, kan?" "Aku tahu kau sulit mempercayainya. Begitu pula aku." Kata Ben. "Tapi untuk saat ini mari kita telan semua informasi yang keluar dari mulutnya." "Bagaimana jika kau tanyakan pada Sasha," usul El. "Dia bocah dari panti asuhan itu juga kan?" "Tidak." "Apa?" El mengerutkan dahi. "Apanya yang 'tidak'?" "Sasha bukan berasal dari panti asuhan. Dan aku yakin mereka berdua sebelumnya tidak saling mengenal. AKu tidak tahu apa hubungan mereka berdua dan bagaimana mereka bisa bertemu." "Kau serius?" El merendahkan suaranya. "Lalu siapa Sasha? Rom tidak sedang membawa sandera, kan?" "Aku tidak menemukan data gadis kecil bernama Sasha ini di Beryl," kata Ben, berbicara dengan suara rendah pula. "Ukuran wilayah dunia kalian lebih kecil bila dibandingkan dengan wilayah kami. Aku sudah mengakses data legal penduduk di pulau ini, dan tidak ada identitas Sasha.” “Kau sudah menanyakan hal ini pada Sasha kan?” tanya El segera. Ben menggelengkan kepala. “Dia tidak terlalu suka berbicara. Dan aku kesulitan berkomunikasi dengannya. Dia cewek yang unik.” "Ben, aku sudah menyetujui ide gilamu untuk menjadikanku sebagai Subyek penelitianmu, tapi apa kau serius menjamin keamananku? Khususnya Emily?" "Tenang, Pak." Kata Ben buru-buru. "Aku sangat yakin mereka berdua tidak berbahaya. Aku hanya butuh waktu tiga hari, setelahnya, aku akan benar-benar pergi dari rumah Emily." El terhenyak di kursinya. Ia tidak menyangka jika ada hal yang mencurigakan di antara Rom dan Sasha. Mereka berdua adalah pasangan asing yang tampak tidak berbahaya. Yah, walau pada awalnya Rom memang terlihat mengintimidasi. Ck, Dia seharusnya tidak perlu merasa penasaran. Dia tidak memiliki kewenangan untuk mencari tahu lebih dalam. Hal ini hanya akan membahayakan kehidupannya, juga membahayakan Emily. Setelah tiga hari, semua hal ini selesai dan mereka bertiga akan pergi dari kehidupannya. Kemudian kehidupannya akan kembali normal. Dia tidak perlu membicarakan hal ini lagi. Mengenai Eyerish. Pengendali Elemen. Dan sebagainya. Dia tidak perlu ikut campur pada hal apa pun. "Tapi, Pak..." "El," kata El segera. "Kau memanggil Rom dan Emily dengan begitu akrab kecuali padaku." Komentarnya sengit. "Oh, haha..." Ben terlihat sedikit kaget, ia tertawa hambar. "Baiklah, El... Tapi... aku tidak bisa menganalisis Rom dengan baik jika dia tidak menceritakan banyak hal mengenai keadaannya. Maksudku... aku percaya dia tidak pernah memiliki niat untuk melakukan hal itu. Dan... aku tidak bermaksud untuk menyelidiki... kupikir aku perlu tahu lebih banyak detail dari ingatannya." El melototi Ben. "Aku tahu kau begitu penasaran." Ujarnya. "Tapi kembalilah ke tujuan awalmu. Kami berdua menjadi subyekmu hanya untuk membantumu membuat penelitian sintingmu mengenai Eyerish. Dengan begitu kami bisa memahami kekuatan yang ada di dalam diri kami. Nah, entahlah apakah kau benar-benar berguna. Bukankah kami sudah terlalu tua untuk diajarkan dalam mengontrol emosi kami? Kami sudah bisa mengontrol kemampuan kami dengan baik." "Hmm... kau benar...." Ben mengangguk meski dengan ekspresi keberatan. "Pada akhirnya aku tidak bisa mengubah apa pun. Kuharap Rom tidak akan membenciku. Sepertinya aku terlalu banyak omong padanya. Hmm." "Rom sudah cukup dewasa. Dia tahu dia tidak akan mendapatkan penyelesaian apa pun darimu meski pun dia menceritakan setiap detail kehidupannya." Kata El. "Menurutku dia hanya ingin 'berbicara'. Aku bisa melihat dia memiliki kepribadian yang kompleks. Kau tahu bagaimana dia menyebut dirinya? Aku yakin orang tua asuhnya tak mampu memperbaiki pola pikirnya. Seharusnya dia menerima ajakan untuk masuk ke sekolah formal. Dan berhenti berpikir bahwa dia diadopsi untuk menjadi pesuruh. Dia beruntung karena memiliki wali yang baik. Sementara di luar sana, banyak anak-anak yatim piatu terjebak dengan orang tua yang berperilaku buruk." Ben menghela nafas. "Intinya kau tidak akan menyeret masalah ini lebih jauh, bukan begitu?" Tanya Ben. "Kau akan tetap membiarkan semuanya kembali ke tempat semula. Rom tetap akan menjadi buronan. Dan dia akan pergi, entah kemana, sementara kau akan tetap menjalani hidupmu, melupakan pembicaraan kita. Kembali menyembunyikan kekuatanmu. Melupakan semua pengetahuan baru ini." El tersenyum kecil. "Kau membaca pikiranku." Ben benar-benar bisa membaca pikirannya dengan baik. Ia mengangkat bahu. "Aku sudah terbiasa dengan kehidupan normalku. Akan lebih baik terus menjalaninya." "Baiklah," Ben menganggukkan kepala. "Jika itu pilihanmu.” *** Emily baru saja pulang ketika El bergegas menuju pintu keluar. "El?" Tanya Emily. "Em, kau datang tepat waktu!" El segera memberikan ciuman singkat pada kekasihnya itu. "Ada masalah. Tapi aku belum mendapat banyak informasi. Kurasa Green sedang dalam bahaya!" "Kau yakin?" Emily tampak terkejut mendengarnya. "Ya," El mengambil sepatunya. "Aku akan mengecek keadaan." "Tapi, El... bukankah kau masih belum sehat? Dan kau masih memiliki masa cutimu," kata Emily cemas. "Aku sudah sangat sehat. Persetan soal cuti," El selesai mengenakan sepatu. "Emily," ia berbisik ketika memanggil Emily, memberi isyarat kepada wanita itu untuk mendekat, kemudian berbicara dengan suara rendah. "Aku tidak ingin meninggalkanmu bersama tamu-tamu asing di rumah ini." Bisiknya. "Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu. Dan..." suaranya semakin rendah di dekat telinga Emily. "Aku menyimpan pistolku di laci kamarmu. Gunakan itu jika terpaksa." "El..." kata Emily. “Kau tidak perlu melakukan hal ini.” "Dah, kurasa aku tidak akan pulang cepat. Tak perlu menungguku. Aku akan meneleponmu, atau mengirimimu pesan nanti." El segera bergegas keluar, meninggalkan Emily yang masih berdiri di depan pintu yang sudah dibanting tertutup oleh El yang tergesa-gesa. Ia menghela nafas, masih mengkhawatirkan keadaan El. *** Emily memasuki dapur, mengisi gelas dengan air minum. Kemudian meneguknya. Hhh, kepalanya masih terasa berat, entah berapa gelas minuman beralkohol yang sudah ia teguk. Sejujurnya ia tidak ingin menerima ajakan temannya, namun ia tidak bisa menolaknya begitu saja. "Oh, Ya Tuhan!" seru Emily kaget, nyaris menjatuhkan gelasnya ketika melihat seseorang muncul tanpa suara di dapur. "Maaf." Kata Rom. "Aku tidak bermaksud mengagetkanmu." "Hahaha," Emily mengibaskan tangannya. "Tidak masalah. Kukira kalian sudah tidur, apa aku membangunkanmu?" "Tidak. Aku baru saja selesai menjawab semua pertanyaan Ben." Jawab Rom. "Kurasa untuk penelitiannya?" Tanya Emily. Rom mengangguk. "Apakah semua berjalan lancar? Sejujurnya aku sangat ingin mendengar interview kalian. Kau tahu? Karena... yah, aku sangat penasaran. Haha," ujar Emily. Dan mereka berdua terdiam, Emily merasa tidak nyaman dengan suasana canggung yang mendadak di antara mereka. Ia pun bukan termasuk karakter yang dapat mencairkan suasana. Ia tidak bermaksud untuk mengusir, tapi dia tidak mengerti kenapa Rom masih tetap di dapur. "Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?" Tanya Emily akhirnya. "Eum, itu..." gumam Rom. "Kau pulang larut, apakah kau sudah makan malam?" Emily mengerjap, tampak kaget dengan pertanyaan Rom. --*--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN