Chapter 13. Dansa

1596 Kata
Chapter 13. Dansa "Kalau kau merasa lapar, aku bisa membuatkan sesuatu." Emily tersenyum berterima kasih mendengar tawaran yang dilontarkan oleh Rom. Ia semakin meragukan berita di TV mengenai Rom yang dikabarkan sebagai buronan berbahaya. Atau mungkin dia terlalu cepat dalam mengambil keputusan? Bagaimana pun juga dia tetap harus berhati-hati, seperti pesan El kepadanya. "Hmm, kulihat kulkasku penuh dengan bahan makanan," kata Emily sambil tertawa kecil. "Ya, aku meminta El membelikan semuanya,” Ujar Rom. "Maaf, aku akan berusaha membayar kebaikan kalian berdua." Emily tersenyum mendengar kata-kata Rom. Bukankah pria ini terlihat begitu baik dan manis? Wah, dia benar-benar tidak mengerti. "Hmm, kau memasak dengan baik." Komentarnya. “Apakah kau seorang koki?” Rom terlihat cukup kaget mendengar pertanyaan Emily. Dia mengangguk pelan. “Aku bertugas sebagai tukang masak di Panti Asuhan.” "Oh, kau bekerja di panti asuhan?" "Eum, tidak bisa disebut bekerja." "Oh, aku mengerti. Wah, pantas saja kau jago memasak, kau juga sangat perhatian pada Sasha dan Ben." Emily merasa aneh karena dia tidak mendengar di berita TV mengenai dua bocah lainnya. Apakah keduanya adalah sandera? Sandera? Oh astaga. Bagaimana dia bisa begitu seenaknya menyimpulkan? Seharusnya dia bertanya lebih dulu. "Biasanya aku tidak pulang selarut ini," kata Emily, melirik jam dinding yang jarum pendeknya terarah pada angka 12. "Kau tahu? Kadang-kadang, teman-teman kerjaku sangat suka mengajak makan bersama. Walau pada akhirnya kami hanya minum-minum dan makan-makanan ringan." "Itu artinya kau belum makan malam." Rom menyimpulkan. "Aku akan membuatkan sesuatu untukmu. Tunggu sebentar." Rom segera bergerak mendekati kompor. Emily tidak bermaksud bermain-main dengan pria bernama Rom ini. Tapi dia suka sekali melihat bagaimana cara pria itu memasak sejak pertama kali ia mengetahuinya. Sementara dirinya sangat payah dalam memasak. Jadi dia membiarkan saja Rom menyiapkan makan malam untuknya. Dan dia merasa senang ada seseorang selain ibunya yang menyiapkan makan untuknya. Dia terdiam sambil memandangi punggung Rom yang membelakanginya. "Apakah mereka berdua sudah tidur?" Emily bertanya, mencari topik pembicaraan agar suasana tidak terasa hening. "Ya." Jawab Rom singkat. "Sasha sudah tidur sejak pukul 9 tadi. Sementara Ben, kurasa dia masih bekerja di depan laptopnya saat ini." "Wow, kenapa dia tidak segera tidur? Ini sudah sangat larut." "Aku sudah memintanya untuk beristirahat. Tapi dia tidak mendengarkanku." Emily mendadak tertawa. Rom tiba-tiba menoleh. "Eum?" Emily menghentikan tawanya, kaget melihat ekspresi Rom yang kini memandangnya. "Sori, aku hanya merasa geli melihat kau begitu perhatian dengan mereka berdua." Rom kembali berpaling pada pekerjaannya. Emily merasa bingung, apakah dia sudah mengatakan sesuatu yang tidak nyaman? "Aku tidak bermaksud begitu." Kata Rom pelan. Dan Emily tersenyum, semakin menyukai sikap pria di depannya ini yang begitu baik, benar-benar jauh dari perkiraannya. "Ben dan Sasha... mereka itu siapamu?" Emily lanjut bertanya. ia melihat bahu lebar Rom terangkat. "Aku tidak mengenal mereka berdua sebelumnya." Kini Emily mengerutkan dahi setelah mendengar jawaban Rom. "Aku bertemu dengan Sasha dalam perjalananku menuju Beryl." "Oh..." "Dan Ben kau sudah tahu. Dia menemukanku di rumah yang ku... pinjam." Emily ingin menyemburkan tawa lagi. Namun ia memutuskan untuk menahannya. Rom benar-benar lucu. Meminjam rumah orang? Haha. "Kau tahu jika El pergi keluar selarut ini?" Tanya Emily. Ia sebenarnya sangat senang El berada di rumahnya. Biasanya mereka sangat jarang bersama karena tinggal di tempat yang berbeda, dan ditambah mereka memiliki pekerjaan masing-masing yang menyibukkan. "Ya, sebelum pergi dia berpesan kepadaku." "Oh ya? Apa itu?" "Untuk tidak menganggumu." Wajah Emily bersemu. Ia merasa konyol mendengar perhatian El yang terlalu berlebihan. Dia bisa membayangkan El dengan begitu keras memperingatkan Rom, pria polos ini, untuk tidak mengganggunya, seolah dia adalah seorang Putri atau apa. "Kau tahu, Rom?" Tanya Emily. "Kurasa kau adalah orang yang baik." *** Rom merasa lega ketika ia berhasil telah bersikap baik pada Emily. Entahlah, ia tergeluti oleh perasaan tidak nyaman, berhutang budi, pada orang-orang seperti Emily. Sama seperti kepada keluarga Radon. Ia mau saja melakukan apa pun untuk mendapatkan perasaan lega ini, untuk membuat orang-orang merasa jika dirinya berguna. Rom selesai membereskan dapur. Ia memutuskan untuk kembali ke kamar, namun langkahnya terhenti ketika melihat pintu balkon terbuka, membuat cahaya bulan masuk menerangi ruang tengah yang lampunya sudah dimatikan. Rom mendekati pintu. Ia menemukan Emily duduk di kursi balkon. Ia mengerjapkan mata, tidak menyangka melihat wanita itu masih terjaga selarut ini. "Oh!" Emily tak sengaja menyadari kehadiran Rom. "Hai, kau sudah selesai di dapur?" "Ya." Jawab Rom. "Haha, aku belum akan tidur." Emily seolah tahu pertanyaan tertera dari raut wajah Rom. "Dan aku masih merasa kenyang dengan makanan yang kau buatkan untukku." Ia menarik nafas. "Sudah lama aku tidak terjaga dan menikmati malam seperti ini.” "Di sini... agak dingin,” kata Rom. "Haha." Emily tertawa. "Aku mengenakan pakaian hangat, kok. Mau menemaniku di sini?" Rom mengerjap dua kali ketika mendengar tawaran itu. Emily menunjuk ke kursi balkon di sebelah wanita itu yang kosong. “Duduklah.” Rom merasa ragu namun pada akhirnya ia memilih untuk duduk. "Kau lihat?" Emily mengangkat kedua kakinya ke kursi, memeluk lututnya. "Langit malam terlihat sangat indah, ya?" Rom mengalihkan pandangannya. Ia menatap langit malam yang bertaburan bintang. Bulan bersinar terang tanpa gangguan apa pun. Malam ini sungguh cerah. Udara memang terasa dingin, namun ketika memandang langit, perasaannya menghangat melihat keindahan langit. Emily menghela nafas. "Aku selalu menyesal karena telah melewatkan keindahan ini. Tapi mau bagaimana lagi? Aku terlalu sibuk sampai tidak sempat memandang langit di malam hari." "Emily, kapan kau akan tidur?" tanya Rom, mengabaikan celotehan wanita itu. Ini sudah lewat tengah malam, ia mengkhawatirkan Emily. Bukankah besok belum akhir minggu? Wanita itu tentu masih harus bekerja. Emily tersenyum kecil, menatap Rom dengan manik Hazel-nya. "Sebentar lagi. Kau begitu perhatian, seperti ibuku saja.” “Eh... maaf.” “Haha, tidak apa-apa. Kau benar-benar sangat sopan ya?” Rom menunduk, ia salah tingkah. Apakah ia sudah merepotkan Emily? “Apakah kau bisa berdansa?” Rom terkejut dengan pertanyaan Emily yang tak terduga. “Eum... ya?” Emily membelalakan matanya. “Kau benar-benar bisa ya?” “Ya, kadang kami mengadakan acara dimana anak-anak panti asuhan berdansa. Aku mempelajarinya untuk mengajari anak-anak.” Emily mengembungkan pipinya, kemudian tertawa terbahak-bahak. Rom mengerjap kebingungan. Apakah ada yang salah dari jawabannya? “Maaf... maaf...” Emily berusaha menghentikan tawanya. Ia menyeka butiran air di ekor matanya. “Rom... kau sungguh unik ya?” “Mak... maksudnya?” “Lupakan,” Emily segera berdiri. Ia menjulurkan tangannya pada Rom. Rom mengerjap kebingungan memandang tangan Emily dihadapannya, kemudian beralih pada wajah Emily yang redup karena minim pencahayaan. Wanita itu berdiri membelakangi sinar bulan. “Ajari aku,” kata Emily. “Maaf?” “Beberapa minggu lagi, pernikahanku dengan El. Aku bahkan tidak bisa berdansa.” Emily berusaha menjelaskan. “Bisakah?” “Eum...” Rom tidak yakin ini adalah ide yang bagus. Ia berdiri dengan gerakan ragu. “Kau... yakin?” Emily mengadah ketika Rom berdiri, hingga sinar bulan menyinari wajahnya yang agak pucat. Ia mengangguk. Ini pertama kalinya Rom berada sedekat ini dengan Emily. Jantungnya berdebar aneh. Mata hazel Emily bercahaya terlalu terang, membuatnya salah tingkah. Dan sebelah tangan Emily masih menggantung di udara, menunggu tangannya. Akhirnya Rom meraih sebelah tangan Emily, dengan sangat gugup tentu saja. Emily tersenyum ketika tangan mereka bersentuhan. Tangan wanita itu begitu dingin. “Apa yang harus kulakukan?” tanya Emily. “Eum...” Rom merasa otaknya mendadak blank. Padahal pelajaran ini sangat mudah diajarkan meski ia tidak begitu menyukainya. Ia tidak pernah mengerti mengapa orang-orang dewasa menyuruh anak-anak untuk berdansa pada suatu acara tertentu. “Kau bisa menaruh sebelah tanganmu yang lain di bahuku.” “Oh...” Emily menurut, ia meletakkan sebelah tangannya di bahu Rom. “Begini?” “Ya,” Rom mengangguk. “Gerakannya sederhana saja.” Emily mengulum senyumnya, menunggu Rom untuk melanjutkan. “Posisi kakinya... kau agak bergeser sedikit ke kirimu.” “Begini?” “Ya,” Rom merasakan tangannya berkeringat. Ini sungguh tidak nyaman. “Sekarang, ikuti aku. Kita akan bergeser ke kanan terlebih dahulu.” “Oke...” “Satu... dua... tiga... Lalu ke kiri. Satu... dua... tiga...” “Wah,” Emily terlihat kaget karena dalam satu arahan ia sudah berhasil mengikuti Rom dengan baik. “Ini mudah sekali.” “Memang sangat mudah. Kau yakin belum pernah melakukannya?” Emily terkikik. “Aku tidak pernah tertarik pada hal ini.” Rom mengerutkan dahi. Wanita yang terlihat menarik ini, mungkin adalah primadona di sekolah menurutnya, belum pernah berdansa? Dia meragukannya. “Aku yang dulu tidak seperti yang kau pikirkan,” Emily seolah membaca pikiran Rom. “Dulu, aku sangat berantakan. Nah, sekarang apa?” “Eum... cobalah berputar.” “Ba... Bagaimana?” “Pelan-pelan saja. Kau bisa lepaskan tanganmu di bahuku.” “Oke...” Rom menaikkan pegangan tangan ke atas kepala mereka berdua, menuntun Emily berputar dengan gerakan lambat. Emily berputar dengan gerakan kaku. “Wah,” ujarnya ketika ia kembali ke posisi semula dimana tangan kirinya di bahu Rom. “Kau mengajariku dengan baik.” “Tidak, ini mudah saja,” Rom mencoba merendah. Tapi ini memang gerakan yang mudah kan? Mereka berdua berhenti bergerak, namun masing-masing dari mereka berdua belum ada yang melepaskan pegangan, saling berpandangan. “Rom...” kata Emily setelah keheningan beberapa saat. “Aku mempercayaimu. Kau tidak mungkin melakukan tindakan keji.” Rom terdiam. Mendapatkan kepercayaan dari Emily membuat hatinya bahagia. Ia tidak habis pikir bagaimana wanita itu bisa begitu mudah mempercayainya, padahal dia adalah orang asing dengan reputasi buruk yang dibeberkan oleh media. Apakah di dunia ini memang ada orang seperti Emily? Hembusan angin menerpa wajah Rom, menggelitiki pipinya. Dan... aroma tubuh Emily... aroma shampo, aroma sabun mandi... Rom merasa ia mendadak mabuk. Sebelah tangan Emily menyentuh sebelah wajah Rom. Rom membeku seketika. "Kau hangat sekali." Ucap wanita itu. Rom membeku, merasakan dinginnya permukaan kulit wanita itu di wajahnya. Sejuk. "Aroma tubuhmu... seperti... mengingatkanku ketika kemah pramuka, aroma api unggun..." wajah Emily mendekati wajah Rom, seolah mencoba membaui aroma pria itu lebih dekat. Tapi ini terlalu dekat. Rom segera melepaskan Emily, ia mundur selangkah. “Tidurlah,” kata Rom lalu bergegas pergi tanpa memandang ke arah Emily lagi. Rumah ini serta kepercayaan Emily, dia tidak patut menerimnya. ---*---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN