Chapter 14. Berpamitan
Emily duduk sendirian di sofa ruang tengahnya yang sunyi. Ia melirik layar gelap ponselnya. Hingga sekarang El belum juga meneleponnya. Ia mencemaskan El. Tapi yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu hingga El menghubunginya.
Ia mengangkat kedua kakinya, kemudian memeluknya. Ingatannya kembali pada kejadian malam tadi. Ia menutup matanya, menggeleng kuat. Ia tidak bisa melupakan kehangatan permukaan kulit pada telapak tangan Rom dan juga di wajah Rom. Bahkan ia tidak bisa menghapus ingatan wajah pria itu serta suara pria itu malam tadi.
Sekarang ia mencemaskan kepergian Rom dan Sasha. Ia tidak bisa membayangkan hidup sebagai buronan. Ia tidak mengerti mengapa El tidak ingin ikut campur dengan masalah Rom, El mungkin tahu jika Rom bukanlah pelakunya. Entahlah, kenapa ia begitu peduli pada Rom.
“Sampai jumpa, Emily,” Ben baru saja keluar dengan ranselnya.
“Oh, ya,” Emily mengangguk, ia mengamati bocah 17 tahun itu yang kelihatan eksentrik dengan pakaiannya. Emily bekerja di bidang desainer, ia yakin tidak pernah melihat merek pakaian yang dikenakan oleh Ben.
“Bagaimana dengan penelitianmu?” tanya Emily.
“Oh, aku masih akan melanjutkannya. Apakah kau tahu kira-kira kemana Rom dan Sasha pergi?” tanya anak laki-laki itu.
“Sayangnya aku tidak tahu,” jawab Emily.
“Baiklah.”
“Oh, kau bisa menghubungiku lagi jika kau mau,” kata Emily yang segera bangkit berdiri. Ia mengantarkan Ben sampai ke depan pintu.
“Aku sudah menyimpan nomormu. Nah, dah, Emily. Aku pamit. Terima kasih.” Ujar Ben melambai sambil membuka pintu.
“Dah, Ben. Hati-hati di jalan.”
Dan punggung anak laki-laki itu menghilang ketika pintu tertutup.
***
Sasha terbangun. Ia mengerjapkan mata, dan sebelum ia sepenuhnya sadar, Rom telah menariknya untuk berdiri. Ia melangkah dengan linglung, mengikuti Rom menuruni bis.
Ia menguap lebar, menoleh ketika bis sudah berlalu, meninggalkan mereka di jalanan kosong yang tak berujung dan tak berawal. Dan di pinggirnya, di balik pagar pembatas, ia bisa melihat lautan membentang luas.
Sasha mendekati pagar pembatas, matanya terbuka lebar, tampak takjub melihat pemandangan dihadapannya. Ia pernah melewati tempat ini sebelumnya. Sebuah pantai dengan tanah berpasir dan air berwarna biru yang membentang luas.
"Kau bilang ke sini kan?" Ia menoleh pada Rom di sebelahnya yang bertanya. Memang dirinya yang memberitahukan ingin pergi ke tempat ini.
"Goshenite." kata Rom. Ia menolehkan wajah. Memandang kekejauhan, Ke ujung dari mana mereka mungkin berawal. "Kota tepi pantai yang jauh dari Beryl. Dan juga Idocrase." Jawabannya seperti mengambang di udara.
"Ada apa di Goshenite?" Rom beralih kembali pada Sasha.
“Mey akan menjemputku di sini.”
“Kapan?”
“Entahlah.”
Rom terdiam mendengar jawaban Sasha. Gara-gara malam tadi, ia mendadak memutuskan untuk segera pergi meninggalkan rumah Emily. Bahkan ia tidak berpamitan sama sekali dengan si pemilik rumah.
Rom merasa tidak nyaman. Ia tiba-tiba saja mengambil keputusan bodoh. Terserah kemana saja yang penting ia tidak lagi menginjakkan kaki di rumah wanita yang membuat jantungnya berdebar-debar itu. Sinyal jantungnya tidak benar. Emily adalah tunangan El. Dan mereka berdua sudah berbaik hati menampung dirinya di sana tanpa melapor kepada pihak berwajib. Dia tidak ingin mengkhianati kebaikan mereka berdua karena perasaan tololnya.
“Kau yakin dia akan menjemputmu di sini?” tanya Rom. “Bagaimana kau tahu? Apakah kau telah menghubunginya?”
Sasha malah tersenyum misterius ketika memandang Rom. “Aku tahu dia akan menjemputku di sini.”
Rom menarik nafas. Ia tidak yakin apakah ia bisa mempercayai jawaban Sasha. Ia sama sekali tidak pernah melihat gadis kecil itu menggunaka alat komunikasi, namun tahu-tahu gadis itu mengaku sudah menghubungi walinya. Aneh sekali.
Tiba-tiba Sasha mengatakan jika walinya akan segera menjemput di Goshenite. Hanya itu. Tanpa memberikan jam atau apa pun untuk memperjelas kapan sang wali muncul.
Lalu sekarang apa?
Rom kembali menghela nafas. Sejak kejadian malam tadi, ia belum bisa memejamkan mata sama sekali. Ia tidak bisa melupakan kedekatannya dengan Emily. Dan ia mulai merasa hampa. Atau... ini yang disebut dengan 'rindu'? ia ingin melihat wajah wanita itu lagi, satu kali saja. Ia merasa jantungnya seperti teriris ketika menerima fakta ia tidak akan pernah lagi bertemu dengan Emily. Ditambah, perasaan bersalah karena memikirkan Emily meski ia tahu Emily dan El adalah sepasang kekasih.
Indah sekali. Sepasang kekasih.
Seperti Jim dan May. Seperti Devan dan Lucy.
Dan mereka semua sudah tiada.
Sasha tiba-tiba menunjuk ke ujung laut. "Meysha tinggal di seberang laut sana."
"Kau yakin?" tanya Rom, kembali terkejut dengan celotehan tak terduga si gadis kecil.
Sasha mengangguk. "Meysha pernah memberitahuku. Rom, ada apa saja di seberang laut sana?"
"Aku juga tidak tahu." Jawab Rom. Dan ia tidak mau tahu.
"Ayo ke dermaga,” ajak Rom kemudian. “Lebih baik kita menunggu walimu sambil berjalan-jalan di tepi pantai.”
Sasha menyetujuinya tanpa menjawab, ia segera mengekori Rom melangkah mendekati dermaga yang tampak ramai oleh aktifitas perdagangan dan para pelayar.
“Kau pernah ke sini?” tanya Sasha
Rom menggelengkan kepala. "Belum. Ini pertama kalinya bagiku,” jawabnya. Selama tinggal di Idocrase dia memang tidak pernah keluar dari desa.
Sasha mengangguk-angguk. Sambil berjalan, gadis itu terlihat terkagum-kagum, memandang takjub pada pasir-pasir putih lembut yang nyaris menenggelamkan sepatunya. Mereka berdua berhenti tepat di tepi pantai.
"Warnanya..." Sasha menunjuk ke lautan. "Biru. Seperti warna mata El."
Rom menghela nafas. "Ya," gumamnya. Pikirannya mendadak kelam. Sorot matanya menjadi sayu. Ia harus melupakan perasaannya pada Emily. Lagi pula mungkin ini hanya perasaan kagum sesaat saja.
***
Langit terang benderang, membuat El sadar jika sekarang sudah tengah hari. Ia keluar sejak tengah malam, dan sampai sekarang belum juga beristirahat. Ia telah sampai di lokasi ketiga yang baru saja dilaporkan terjadi kebakaran.
El menghisap ujung rokoknya, menahan diri untuk tidak terliihat gelisah. Semua hal ini bermula ketika Green sedang bertugas. Ada laporan p*********n di Blok C pada tengah malam. Green sampai lebih dulu dari tim yang lain. Lalu Green mendapat serangan yang membuat partner kerja El itu pingsan ditempat.
Selain menemukan Green yang pingsan tim bantuan yang sampai di lokasi juga menemukan satu mayat yang telah terbakar. Kemudian pada pukul 5 dini hari, ada laporan lainnya yang mirip dengan laporan sebelumnya. Di lokasi laporan kedua juga ditemukan satu mayat yang sudah hangus terbakar. Berikutnya tepat pukul 11 menjelang siang, mereka mendapat laporan yang ketiga kalinya, dimana saat ini El sudah berada.
El mengamati petugas mengevakuasi mayat ketiga yang hangus terbakar ke dalam ambulans. Sementara El baru saja selesai mengamati lokasi kejadian, dan ia tidak menemukan apa pun yang mencurigakan, sama seperti kedua lokasi sebelumnya. Nihil.
Namun hal ini membuat El gugup. Bagaimana jika mayat-mayat itu adalah Eye Tracker? Tapi bagaimana mungkin ada tiga mayat Eye Tracker sekaligus hanya dalam hitungan jam? Bukankah artinya ada orang atau mungkin kelompok yang mengalahkan para Eye Tracker ini seperti yang dilakukan olehnya? Ia tahu jika Eye Tracker memasang semacam alat yang dapat meledakkan diri jika mereka sudah terkalahkan.
Ben menjelaskan jika sebagian besar Eye Tracker adalah Eyerish? Ini artinya ada Eyerish yang berkeliaran di Beryl selain dirinya dan juga Rom. Dan Eyerish ini mungkin sangat kuat melihat bagaimana tiga Eye Tracker ini hangus hanya dalam hitungan jam.
Tunggu dulu, bagaimana jika Eye Tracker ini berkeliaran di Beryl karena keberadaan Rom? Ck, sial. Ini artinya mereka mengundang banyak lebah masuk ke dalam kota.
El segera mengambil ponselnya, menunggu dengan sabar pada panggilan yang ia pilih.
"El?"
"Em!" El bernafas lega. Ia merasa cukup tenang setelah mendengar suara Emily meski hanya melalui telepon. "Kau baik-baik saja?"
"Eum, ya."
"Maaf, aku baru bisa menghubungimu sekarang."
"El... kau baik-baik saja?"
"Haha, ya. Hanya saja kami mengejar kasus gila yang cukup ekstrim."
"El, aku ingin memberitahumu."
"Hmm? Apa itu?"
"Rom dan Sasha sudah pergi. Begitu pula dengan Ben."
El terdiam, ia nyaris lupa jika ketiga orang asing itu akan pergi hari ini. Dia memang sudah memperingatkan mereka untuk tidak berlama-lama tinggal di rumah Emily. Baguslah, dengan begitu ia dan Emily tidak punya ikatan apa pun lagi dengan mereka bertiga.
"Rom dan Sasha pergi tanpa berpamitan denganku, bahkan mereka berdua tidak memberitahu Ben. Sementara Ben baru saja berpamitan tadi pagi."
"Kau tidak bekerja hari ini, Em?" tanya El, mengalihkan topik.
"Aku mengambil cutiku hari ini. Aku mendadak merasa tidak enak badan."
"Em, kau harus menjaga kesehatanmu. Bukankah kemarin kau pulang terlalu larut?"
"Ah, ya. Kurasa aku akan berisitirahat saja hari ini."
"Ide bagus." El mengangguk setuju. "Kehidupan kita kembali normal seperti semula. Kuharap kau bisa melupakan kejadian ini. Jika ada yang menanyakan tentang keberadaan mereka, kita tidak perlu terlibat dan anggap saja kita tidak pernah mengenali mereka."
"En... Entahlah." Emily menghela nafas. "El... kau benar-benar tidak berniat untuk membantu Rom? Kurasa kau juga berpikir jika dia tidak bersalah, mungkin saja dia dijebak. Dia... dia terlalu polos untuk melakukan hal mengerikan yang diberitakan di TV."
"Em," panggil El. "Anggaplah kita tidak pernah mengenali mereka. Kita sudah cukup membantu mereka dengan mengizinkan mereka untuk tinggal beberapa hari hingga mereka pulih. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan setelahnya."
"Ya, kau benar."
"Aku akan ke rumahmu jika pekerjaanku sudah selesai." Kata El.
"Baiklah."
El mendadak terkesiap. Ada perasaan dingin yang tidak nyaman menghujam punggungnya. Seseorang mengawasinya.
"Em," panggil El pelan. "Sampai nanti, aku benar-benar akan menemuimu nanti."
"Oke, dah."
"Dah, sayang," El mengakhiri panggilan. Ia berbalik, mencoba bersikap biasa ketika ia melihat dengan jelas di seberang jalan, seorang wanita berdiri. Sangat jelas wanita itu sedang mengawasinya.
Kemudian wanita itu berbalik. Melangkah pergi.
El menoleh ke sekitarnya. Semua tim sedang sibuk di lokasi, tidak ada yang memperhatikannya. Ia menoleh lagi dan gadis itu berdiri di depan gang, seolah sedang menungguinya. Dan ketika El bergerak menyeberangi jalan, wanita itu menghilang di belokan gang.
---*---