Chapter 15. Eyerish Asing

1215 Kata
Chapter 15. Eyerish Asing El menyusuri jalan gang, berusaha menemukan tanda-tanda kepergian wanita mencurigakan tadi. Ia semakin masuk ke dalam gang sebuah perumahan yang semakin rapat. Ia melangkah dengan tatapan awas dengan sebelah tangan menggenggam pistol. Ia berhenti di jalan buntu. Sial. Ia kehilangan jejak wanita tadi. Ia berbalik pergi dari jalan buntu, namun sensasi Déjà vu terulang kembali. Tiba-tiba tubuhnya terangkat ke udara dan dilempar menghantam keras ke permukaan dinding beton. Ia jelas mendengar patahan tulang punggungnya pada dinding, benar-benar hantaman yang tidak main-main. Belum selesai dengan kterkejutannya, udara di sekitarnya berputar abnormal, padahal ia yakin tidak ada ramalan akan adanya badai di Beryl. Angin itu seperti menahan tubuhnya untuk tetap menempel di dinding, membuatnya tampak seperti pajangan dinding beton. Ia mengerang kesakitan karena udara terus berputar-putar memusingkannya. Akhirnya angin di sekitarnya lenyap, ia jatuh merosot ke permukaan lantai dengan keras. Menambah patahan lain di tubuhnya. El tidak bisa bergerak sama sekali. Lalu terdengar suara langkah kaki. Wanita itu muncul. Ia melepaskan topinya, membuat rambut panjangnya yang berwarna abu-abu tergerai, berserta mata abu-abunya yang besar tersorot pada El. Bibir si wanita asing membentuk senyuman manis yang tidak cocok dengan sorot matanya yang dingin. "El Shan," suara wanita itu terdengar merdu, tak seperti perkiraan El. "Si... Siapa kau?" El merintih. Ia benar-benar tidak bisa bergerak. Ia berharap seseorang dari kepolisian menyadari kepergiannya, kemudian mencoba menemukannya saat ini. Sekaligus menangkap wanita ini. "Aku sama denganmu," wanita itu berkata ramah. "Eyerish." "Kau... kau... Eye Tracker?" Wanita itu terkikik. "Tentu saja bukan. Berterima kasihlah karena aku sudah menyingkirkan ketiga Eye Tracker itu untukmu." "Jadi... Jadi... kau...?" "Ya, sudah kubilang. Aku sama denganmu. Eyerish.” Wanita itu kembali menekankan. “Kau membunuh mereka semua?” El terperangah tak percaya. Wanita gila ini pasti psikopat. “Aku... aku akan menangkapmu! Argh!” El gagal bergerak. Jika wanita ini dengan mudah membuat tangan dan kakinya patah, tentu saja wanita ini bisa membunuh orang. “Jangan salah, aku membunuh mereka untuk membela diri,” Wanita itu mengoreksi. “Dan aku memang tidak berniat melakukannya. Tapi mereka sendiri yang memasang alat untuk bunuh diri itu.” “Kau akan tetap kutangkap,” kata El geram. Wanita itu malah mengangkat bahu, mengabaikan ancaman El bagaikan angin lalu. "Tenang saja. Kau akan sembuh dengan cepat karena kau adalah Eyerish. Ya kan?” Wanita itu mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum menyeringai. “Ini bukan salam pertemuan yang ingin kulakukan denganmu. Tapi berdasarkan penilaianku, kau memiliki emosi yang tinggi, jadi aku sengaja melumpuhkanmu.” “Kau...” El menggeram. Dia benar-benar akan menangkap wanita ini lalu memenjarakannya! Secara sembunyi-sembunyi El mengeratkan genggaman pistolnya, namun belum sempat ia menggerakkan tangannya, pistol itu terlepas dari tangannya, lalu melayang terbang dan jatuh di depan ujung sepatu wanita itu. wanita itu menginjak pistol milik El dengan sepatunya, memberikan senyuman ramah. El terkaget-kaget dengan kejadian itu. Sepertinya wanita ini bisa menggerakkan sesuatu tanpa menyentuhnya, atau apa pun itu. "Nah, kau mau bergabung dengan kami tidak?" tanya wanita itu, membuat El mengerutkan dahi. Bergabung? “Aku ke sini untuk menjemput Sasha,” kata wanita itu. “Sasha?” ulang El. “Bukan Rom?” “Dua-duanya,” Wanita itu mengangguk. “Tapi karena aku mau repot-repot mengkhawatirkanmu, jadi aku menyingkirkan kelompok Eye Tracker terlebih dahulu.” “Oh, jadi kau mau dengar terima kasih-ku ya?” tanya El sinis. Wanita itu mendengus geli. “Kau memang harus berterima kasih.” “Ya, setelah aku memenjarakanmu!” “Ck, keras kepala sekali ya,” gerutu wanita itu. Kemudian si Wanita mendekati El, lalu menarik ponsel dari saku baju pria itu. "Apa yang kau lakukan?" seru El kaget. "Menghubungi ambulans untukmu." Kata wanita itu sambil mengetik di ponsel El. "He-Hei!" El semakin bingung dengan sikap Eyerish dihadapannya ini. “Nah,” Wanita itu mengembalikan ponsel El ke tempat semula. "Tugasku sudah selesai. Aku akan menyusul Sasha dan Rom." Ujar wanita itu. “Kalau kau berminat, kau bisa menyusul besok. Kami akan berangkat esok hari melalui pelabuhan Goshenite.” “Aku tidak mengerti maksudmu,” El menggeram jengkel. “Kau, Eyerish, kau bersalah atas tuduhan telah membunuh tiga orang dengan cara membakar mereka hidup-hidup, dan kau juga melakukan p*********n pada anggota kepolisian!” Namun wanita itu malah tertawa. “Ya... ya... terserah,” Ia melangkah mundur lalu berbalik pergi. “He-hei!” seru El. Jadi dia akan ditinggal seperti ini begitu saja?! “Goshenite, jangan lupa ya. Atau kelompok Eye Tracker lainnya akan mencarimu!” seru wanita itu tanpa berhenti atau pun berbalik. El membelalakkan mata mendengar hal itu. Akan ada Eye tracker lainnya kah? "He-Hei! Kau!" panggil El. Wanita itu akhirnya berhenti, lalu menoleh. "Kau... siapa kau?" Wanita itu memberikan senyuman lebar, tentu tidak akan ada yang percaya wanita yang bagaikan model majalah itu telah mematahkan tulang-tulang El dengan beringas. "Mey." Jawab wanita itu. "Goshenite, Besok pagi. Jangan lupa!" Setelahnya wanita itu melangkah pergi, seiring langkahnya yang terdengar menjauh, sayup-sayup terdengar suara ambulans dari kekejauhan. Kepala El sudah terlalu berat. Tubuhnya terasa nyeri dan menyakitkan. Ia tak mampu menahan kesadarannya lebih lama lagi. *** El terbangun dengan rasa nyeri yang luar biasa. Ia sulit bernafas dan merasa suhu tubuhnya meningkat dari normal. Pandangannya buram dan berbayang. Ia berusaha memfokuskan dirinya. Ia menyadari setelahnya, ia kini berada di rumah sakit. Tirai hijau mengelilingi ranjangnya. Bau obat menyengat membuatnya mual. Ia berusaha bangkit duduk. Kemudian mengerang, merasakan nyeri yang lebih parah lagi. Tirai tersibak. "Astaga, El." Emily mendekatinya, tampak cemas. "Kembali berbaring, kau baru saja dioperasi." "Ap...Apa?" El tergagap. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa terluka parah? Timmu bahkan tidak tahu kau menghilang." Kata Emily lagi. "Oh, aku akan memanggil Green." Namun El segera menangkap pergelangan tangan Emily. "Jangan!" serunya serak. Emily berbalik, memandang El dengan bingung. "Ini pukul berapa?" "Oh, pukul 7 malam?" El menggeleng tidak percaya. Dia sudah tidak sadarkan diri sekitar 6-7 jam. "Apakah... Apakah tidak ada sesuatu yang aneh terjadi?" "Sesuatu yang aneh..?" "Green di sini katamu? Itu artinya sudah tidak ada korban lagi?" "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Tapi, ya. Green di sini. Dia menunggumu sadar karena dia perlu menginterogasimu agar kasusmu segera diproses. Siapa yang menghajarmu sampai seperti ini? Apakah penjahat yang sedang kalian usut hari ini?" "Apakah Green memberitahumu sesuatu?" Emily menggeleng. "Dia hanya memintaku untuk menemanimu, kemudian memanggilnya jika kau sadar. Lebih baik aku memanggil Green sekarang." "Tidak, jangan, Emily." Cegah El segera. Ia berusaha berpikir jernih. Sudah lebih 6 jam berlalu, namun tidak ada sesuatu yang terjadi padanya. Jika wanita bermata abu-abu itu benar-benar berkata jujur, entah kapan, Eye Tracker akan segera menemukannya. Ia harus segera pergi. Ke tempat yang aman. Tapi dimana? Apakah kembali ke rumah orang tuanya? Selama ini orang tuanya selalu melindunginya. Tapi apakah akan lebih baik begitu? Eye Tracker ini adalah hal yang berbeda. Ia mungkin malah akan membahayakan kedua orang tuanya. "El, ada apa?" Emily menyadarkan El yang terdiam lama. El beralih memandang wanita itu. El teringat jika ia telah melibatkan Emily jauh lebih dalam dari seharusnya. Jika pun ia bisa pergi, apa yang akan terjadi pada Emily? Mungkin Eye Tracker juga akan menangkap Emily. Mungkin mereka akan menemukan banyak bukti keberadaan Rom di rumah Emily. Dan meski pun Emily selamat dari Eye Tracker, kemungkinan lainnya adalah pihak kepolisian akan menginterogasi Emily karena telah menyembunyikan buronan. Kedua pilihan itu sama buruknya untuk Emily. "Goshenite, Besok pagi. Jangan lupa ya!" Suara si wanita asing seperti berdenging di dalam kepala El. "Em," panggil El. "Bantu aku pergi dari sini." ---*---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN