Chapter 16. Terbangun dan Kembali Sembuh

1315 Kata
Chapter 16. Terbangun dan Kembali Sembuh Emily kebingungan. Banyak hal yang ingin ia pertanyakan, tapi ia tahu mereka tidak berada di waktu yang tepat untuk mendengarkan penjelasan. El terluka parah, dan sepertinya ada penjahat yang sedang mengincar laki-laki itu. Emily tentu tidak akan membiarkan sesuatu yang lebih parah terjadi pada El. Tapi ia tidak mengerti mengapa El tidak meminta bantuan Green. El malah memintanya untuk pergi secara diam-diam tanpa sepengetahuan Green. Jika Green saja tidak dapat dipercaya, berarti ini adalah hal yang sangat besar, bukan? Mungkin saja ini tentang Eyerish? Emily mendorong kursi roda yang ia pinjam untuk dapat membawa El yang terluka. Ia berhasil lolos melewati Green tanpa ketahuan. Namun sepertinya di tengah jalan mereka berdua mulai ketahuan. Emily menemukan beberapa orang yang terlihat mengikuti di belakang. Emily sampai di parkiran dengan perasaan was-was, beruntung ia sangat mengenal rumah sakit ini sehingga ia tahu jalan pintas menuju ke parkiran. Ia berlari sambil mendorong kursi roda, menuju ke tempat mobilnya yang terparkir. Dan ia mendengar pintu masuk area parkir terbuka di belakangnya. Emily menahan diri untuk tidak menoleh. Ia terus melangkah cepat sambil mendorong El yang duduk di kursi roda. Akhirnya mereka berdua sampai di mobil milik Emily yang terparkir. Ia segera membuka pintu mobil, kemudian membantu El untuk memasuki mobil, baru kemudian giliran dirinya masuk ke bagian kemudi. Ketika ia menoleh ke belakang, orang-orang bermantel hitam sudah berlari ke arah mereka. Beruntung, Emily berhasil kabur tepat waktu. Ia menginjak gas lalu melajukan mobil dengan kecepatan penuh, keluar dari parkiran rumah sakit kemudian masuk ke dalam jalan raya. Tangannya yang menyetir gemetaran karena tegang. "Em, maafkan aku." Kata El lemah, terbaring di kursi belakang. "El, siapa orang-orang itu?" Tanya Emily, berusaha menyembunyikan suaranya yang gemetar. Ini pertama kalinya ia merasa ketakutan. Ia takut jika orang-orang itu berhasil menangkap mereka. Dan entah apa yang akan terjadi pada El. "Ada yang mengikuti kita?" Tanya El. Emily menyadari jika El berada dalam kondisi kritis. Tulang punggung dan tulang kaki pria itu patah. "Ada berapa orang?" "Entahlah." Jawab Emily segera. "Tiga? Atau empat orang?" "Sial..." desis El. "El, bisakah kau jelaskan padaku? Sebenarnya apa yang terjadi?" "Em, teruslah mengemudi. Bawa aku ke Goshenite." "Apa? Goshenite?" ulang Emily kaget. "Kita harus tiba di sana sebelum matahari terbit." *** Sangat sulit untuk menjaga kesadaran. El tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ia berharap mereka akan sampai di Goshenite dengan selamat. Ia juga berharap Emily tetap aman. Dan rohnya serasa ditarik ketika merasakan tepukan lembut di pipinya. Serta suara samar-samar seorang wanita yang memanggilnya dengan lembut. "El?" panggilan Emily bergema di dalam kepala El. "Em... Emily..." El berusaha sadar sepenuhnya. Namun pandangannya masih berbayang. "Syukurlah kau baik-baik saja." Ujar Emily. "Kita sudah sampai. El... apakah kau berubah pikiran? Rom... dan Sasha. Mereka di sini. Kau ingin membantu mereka kan? Tunggu sebentar, aku akan menyapa mereka." "Em... tung... tunggu dulu..." El terlalu lemah untuk mencegah Emily. Dan ia sendirian di dalam mobil, masih berusaha untuk sadar sepenuhnya. Lalu tiba-tiba terdengar suara dentuman disertai goncangan yang membuat mobil seperti terbanting. "Em... Emily.... Emily..." El merintih, tubuhnya terbentur dengan keras. Dan ia tidak mampu lagi bertarung dengan kegelapan yang menariknya jatuh ke dasar. *** El bangun dengan terbatuk-batuk. Ia merasa sangat mual. Ia bangkit duduk, tangannya meraba-raba, mencari-cari benda dan menemukan sebuah baskom berisi air, ia membuang air ke lantai, dan memuntahkan semua isi dari dalam perutnya ke dalam baskom. Ia memuntahkan begitu banyak cairan. Gumpalan putih berupa cairan lengket bening beserta darah. Ia menggosok bibirnya, gemetar melihat muntahannya yang mengerikan. Oh, seharusnya ia tidak mendeskripsikannya. "Jangan khawatir." Ia tersentak. Ia segera menoleh ke arah sumber suara. Sebuah jendela terbuka lebar, membiarkan angin dingin masuk ke dalam ruangan, dan memperlihatkan langit malam yang cerah dengan bintang bertebaran. Tunggu dulu. Dimana dirinya saat ini? Ruangan ini terasa asing bagi El. Hanya sinar bulan dari luar jendela yang berfungsi sebagai sumber cahaya di dalam ruangan, dan itu tidak cukup membantu. Ia baru menyadari jika ada seseorang duduk di samping jendela. Seorang wanita dengan rambut panjang berwarna abu-abu. "Siapa kau?" Tanya El. "Dan ini.... Ini dimana?" "Sudah merasa lebih baik?" El merasa pernah mendengar suara wanita ini. Tapi otaknya masih terasa tumpul akibat tidur yang panjang. Dan ia baru saja memahami kata-kata wanita tadi. Dia sudah membaik? Ya, bagaimana bisa ia sudah duduk tegak dan merasa baik-baik saja? Bukankah tulang punggung serta tulang-tulang kakinya patah? Ia menyibak selimut, menggerakkan kakinya dan ya, semua baik-baik saja. Tubuhnya baik-baik saja. Apakah ia telah bermimpi tentang tubuhnya yang terluka? "Kurasa kau tidak pernah terluka separah itu, ya?" "Kau...!" El mendadak mengenali suara itu. Wanita itu... adalah wanita yang telah melukainya! Ia segera turun dari ranjang, mendekati si wanita, berniat melakukan konfrontasi karena telah merugikan dirinya. Namun mendadak ia membeku. Cahaya bulan menyinari sebelah wajah wanita itu, dan tampak jelas kulit wajah si wanita yang melepuh. "Ap... Apa yang terjadi?!" seru El terkejut. Wanita itu malah tersenyum. "Haha, seharusnya kau senang karena aku sudah mendapat karma sebelum kau membalas dendam kepadaku." "Hei!" seru El. Ia tidak mengerti kenapa wanita ini malah bercanda. "Di... Dimana Emily?!" ia tiba-tiba teringat. "Jangan khawatir, pacarmu baik-baik saja." Wanita itu segera berdiri, namun tubuhnya oleng, El segera menangkap tubuh wanita itu. "Hei... Hei..." El menyadari wanita itu telah kehilangan kesadaran. Dan ia bisa melihat dengan jelas kulit wajah gadis itu yang melepuh. Lepuhan itu sampai ke leher. Dan mungkin...? tidak mungkin, sepertinya sebagian tubuh wanita itu telah terbakar. "Jangan khawatir," wanita itu tiba-tiba berkata, masih berusaha untuk tetap sadar. "Aku... hanya perlu... tidur... dan aku... akan sembuh... seperti kau..." Detik berikutnya, wanita itu sudah benar-benar tidak sadarkan diri. Kepalanya terkulai jatuh di bahu El. Wanita ini Eyerish. El membatin. Jadi dia tidak perlu cemas karena wanita ini akan sembuh dengan cepat sama seperti dirinya. Bukan begitu? El berusaha mengingat nama wanita ini. Mey? Ya, nama wanita ini adalah Mey. El memang memiliki ingatan yang cukup tajam. “Kau lolos untuk saat ini,” El menggeram sambil mengangkat tubuh Mey, kemudian membaringkannya ke atas ranjang, tempat dimana ia terbangun tadi. Ia mengira Mey terpaksa menunggu sampai ia sadar karena hanya ada satu ranjang di dalam kamar berukuran mini ini. El memutuskan untuk tidak memperdulikan keadaan Mey, ia masih tidak bisa melupakan bagaimana wanita itu menyerangnya dengan kejam. Toh, wanita ini akan sembuh juga nantinya. Mungkin. El mengamati sekitarnya. Ia menemukan satu pintu, kemudian ia segera bergerak keluar dari kamar. Ia disambut oleh lorong sempit. Lorong itu juga gelap, namun diujung lorong ada satu pintu yang tidak tertutup rapat, ada sinar keluar dari celah pintu, dan terdengar suara-suara. El segera memasuki ruangan itu. "Oh Tuhan, El!" Emily menghambur memeluk tubuh El dengan erat. "Wah, Eyerish sungguh terberkati, mereka benar-benar bisa sembuh total." Komentar seorang pemuda berkulit gelap yang asing bagi El. "Hei, El. Baguslah kau belum mati." Sambut Ben. "Apa yang terjadi?" Tanya El. "Bagaimana dengan keadaan Mey?" Emily mengabaikan pertanyaan El. "Apa?" El tidak mengerti bagaimana Emily bisa mengenali wanita Eyerish tadi. "Kau mengenalnya?" "Dia sudah menyelamatkan kita hingga membuatnya terluka parah." Kata Emily, terlihat gelisah. "Dia bilang Eyerish bisa menyembuhkan diri. Melihatmu sembuh seperti ini, itu artinya lukanya juga akan sembuh kan?" "Tentu saja, Nyonya." Ujar si pemuda berkulit gelap. "Kau harus membiasakan diri melihat keistimewaan Eyerish." "Siapa dia?" Tanya El, menatap waspada si pemuda asing. "Avicenna, Pak. Kau bisa memanggilku Avi. Aku adalah nahkoda di sini. Kau berada di atas kapalku. Jadi jika kau tidak mau mati tenggelam dengan konyol, kau harus menaati peraturanku." Ujar si Pemuda tegas. "Apa?" El mengerutkan dahi. "Kapal kau bilang?" El tidak pernah bermimpi sekali pun akan berlayar di laut lepas. ---*---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN