Chapter 17. Mey, Wanita Aneh
El akhirnya mengerti kenapa permukaan di bawah kakinya terasa bergerak. Ia berada di atas air. Di atas kapal kecil, di tengah-tengah lautan.
Ia terperangah memandang kekejauhan kegelapan di sekitarnya ketika ia berada di buritan kapal. Tidak ada apa-apa di ujung mana pun.
Ia menoleh pada Ben yang mengikutinya.
"Bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya El. Kepalanya terasa sakit untuk memahami situasinya sekarang. Seperti ada lubang dalam ingatannya, lubang dimana dia berada dalam status tidak sadarkan diri. Ia masih ingat sebelumnya ia masih berada di dalam mobil, dan Emily membangunkannya, memberitahunya jika mereka sudah sampai di Goshenite. Dan setelahnya ia tidak ingat apa pun.
"Sebenarnya aku juga tidak tahu apa-apa." Kata Ben. "Aku terlambat datang."
El menyipit memandang bocah itu.
"Aku bermaksud akan pulang ke duniaku. Tapi aku melihat kelompok Eye Tracker. Aku langsung tahu karena mereka memakai mantel yang sama. Namun mereka bersenjata, kurasa mereka bukan Eyerish. Jadi aku membuntuti mereka. Dan ketika aku sampai di sini, semuanya sudah kacau berantakan. Para Eye Tracker itu seperti akan bergabung dalam perkelahian."
"Apa maksudmu? Perkelahian apa?" Tanya El.
Ben memandang El dengan ragu. "Aku berharap aku salah lihat. Tapi Rom menyerang kalian. Dan Meysha berusaha melindungi."
"Ap... Apa? Rom... dia apa?"
"Aku juga sulit mengerti situasi itu. Namun kobaran api dimana-mana. Dan Meysha sudah terkena luka bakar. Aku melihatnya, Rom... dengan pasang matanya yang merah membara. Dan entah apa yang terjadi. Rom ditangkap dan dibawa masuk ke dalam helikopter, dan kata Emily... mereka juga menangkap Sasha."
"Mungkin mereka adalah petugas polisi?"
"Aku tidak yakin, mereka bertarung dengan Eye Tracker pula." jelas Ben.
El menghela nafas keras. "Aku tahu sesuatu yang buruk akan terjadi."
"Aku pikir Rom sepertj sedang dikendalikan waktu itu."
"Oh ayolah...."
"Kau ingat jika dia mendeskripsikan melihat bocah berambut perak sebelum kejadian kebakaran? Rom pasti dikendalikan."
"Bagaimana caranya?" Tanya El kesal. "Bagaimana kau bisa mengendalikan seseorang seperti mengendalikan robot, hah?"
Ben menghela nafas, ia mengangkat bahu. "Aku sudah mengamati Rom dengan sebaik mungkin, dan dia memiliki kepribadian yang baik. Ini menyakiti perasaanku melihatnya berubah menjadi seseorang yang mengerikan."
"Oh, yah. Faktanya tetap saja dialah yang membakar panti asuhan itu, dan dia juga yang menyerang kalian." Kata El. Ia tidak bisa membayangkan jika Emily sampai terluka. Seharusnya dia bisa membantu, namun sialan sekali, kenapa dia bisa sampai tidak berdaya di waktu seperti itu?
"Avi dan Mey mengajak kita untuk tinggal bermalam di atas laut. Eye Tracker itu tidak akan pergi mencari sampai ke laut. Begitu kata Meysha."
"Oh ya, Kau mempercayai apa kata wanita itu, hah?" Tanya El sarkastik.
"Hei, bagaimana pun dia adalah Eyerish yang sudah membantu kita. Dia mengorbankan dirinya hingga terbakar untuk melindungi kalian." Kata Ben, tampak jengkel melihat tingkah El yang menyebalkan.
“Kita masih belum mengenal baik siapa wanita itu. Mungkin dia memiliki maksud tertentu dengan membawa kita ke dalam masalah ini. Kau tidak tahu jika dialah yang telah membuatku terluka parah?"
Ben mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
"Dia mematahkan tulang-tulangku, kemudian meninggalkanku begitu saja."
"Hah?" Ben terperangah. "Begitu mudahnya kau dikalahkan?" wajah bocah itu malah terlihat geli.
"Hei! Kau malah menertawakanku?! Seandainya ia tidak melukaiku, mungkin aku bisa membantu pada waktu itu! Dan jika Emily sampai terluka, aku pasti sudah membunuh pelakunya dengan tanganku!"
"Wow, wow, tenang, Pak... aku tahu kau sangat menyayangi tunanganmu, tapi simpan energimu. Kita masih belum memahami situasi kita saat ini. Kita harus menunggu hingga Mey sembuh."
"Hhh, brengsek." Desis El, menghembuskan nafas ke udara malam. "Apa kau punya rokok?" tanyanya pada Ben, ia butuh sesuatu untuk menenangkan kegelisahan dirinya.
"Bagaimana menurutmu? Aku masih 17 tahun," kata Ben jengkel. "Bukankah kau polisi? Dan kau masih muda. Berhentilah mengandalkan rokok. Kau bisa mati muda." Gerutu bocah itu.
El mengabaikan omelan Ben. Kepalanya terasa pening. Ia benci dengan situasinya saat ini. Ia dan Emily kini terjebak di tengah-tengah lautan masalah. Mereka tidak akan bisa kembali ke Beryl. Sekarang pastinya ia adalah buronan. Siapa pun orang yang memperkerjakan Eye Tracker itu, pastilah mereka berusaha membunuh para Eyerish serta orang-orang yang terlibat.
"Apa yang dilakukan Emily?" Tanya El kemudian
"Dia sedang beristirahat." Jawab Ben. "Dia tidak bisa beristirahat selama kau belum siuman. Nah, aku akan kembali ke dalam."
"Apakah kau juga akan beristirahat?" Tanya El.
Ben nyengir. "Aku meragukan hal itu. Sepertinya aku akan membuka draft-ku untuk menambah atau mengedit sesuatu. Sayang sekali di sini aku tidak bisa mendapat sinyal internet."
El memandang jengkel bocah itu. "Sepertinya aku jarang melihatmu tidur. Kau bisa mati muda jika kau menyepelekan waktu untuk beristirahat."
Ben malah tertawa mendapat balasan El kepadanya. "Aku akan menemani Avi di dalam. Kurasa dia juga akan terjaga semalaman ini." Ia segera pergi memasuki pintu badan kapal.
El menarik nafas, kemudian menghembuskannya lagi ke udara. Ia menunduk, memandang permukaan air laut yang tenang di bawahnya. Bau air asin yang ia rindukan.
***
El terbangun, ia membuka mata dan menemukan pasang mata abu-abu mengamatinya dengan jarak begitu dekat. Ia tersentak kaget dan segera menjauhkan diri. Sementara si wanita pemilik mata abu-abu tersenyum lebar kepadanya.
"Selamat pagi!" seru si wanita dengan lantang.
"Apa...?!" El tidak mempercayai matanya. Ia ingat bagaimana wanita itu terluka begitu parah, namun pagi ini wanita itu sudah terlihat begitu sehat, hanya menyisakan bekas darah di pakaiannya.
"Terkejut, ya?" Mey terkikik. "Aku sudah berlatih belasan tahun untuk dapat menyembuhkan diri hanya dalam hitungan jam."
"Cewek gila." Gerutu El.
"Terima kasih pujiannya." Kata Mey segera.
El menoleh ke sekitarnya. Tanpa sengaja ia tertidur ketika sedang menunggu pagi. Dan sekarang matahari sudah cukup tinggi, langit biru membentang cerah. Ia menyipitkan mata melihat langit yang silau. Aneh sekali, suasana begitu tenang ketika perasaannya sedang campur aduk.
"Sebentar lagi kita akan sampai di Jasper."
"Jasper?" ulang El. “Apa itu?”
"Sebuah pulau,” jawab Mey. “Tempat tinggalku.”
"Untuk apa ke sana?” tanya El heran.
Meysha tertawa. "Kau benar-benar orang yang tidak mudah percaya ya?”
“Oh ya, bagaimana aku bisa mempercayai orang yang sudah mematahkan tulang punggung dan kakiku?” ujar El sinis. “Jika aku punya borgolku, sudah kutahan kau.”
Mey mengulum senyumnya. “Soal itu... aku minta maaf. Aku benar-benar salah perkiraan. Kukira dengan membuatmu lumpuh mungkin dapat membuatmu ikut denganku.”
El membulatkan matanya.
“Tenang, jangan marah padaku. Aku hanya tidak tahu bagaimana bisa merayumu untuk bergabung dengan kami.”
“Kami siapa?” tanya El segera.
“Kami... Eyerish lainnya.”
El mengerutkan dahi. “Eyerish lainnya?” ulangnya seolah ia sedang mengeja sesuatu. Ini bukan mimpi kan? Setelah merasa menjadi abnormal selama kurang lebih seperempat abad, terungkaplah jika ada orang-orang yang seperti dirinya.
“Ya, tunggu sampai di Jasper, kau akan segera tahu nantinya. Nah, ayo kita berlomba!"
"Lomba apa lagi maksudmu?” Tanya El jengkel, wanita ini terlihat begitu bersemangat dan itu menganggunya.
Mey melepas pasang sepatunya. "Lomba renang sampai ke tepi pulau." Jelasnya. "Oh, sepertinya kau sama sekali tidak tertarik. Bagaimana jika kita bertaruh?" usulnya tiba-tiba, bahkan tanpa meminta persetujuan El. "Hmm, bertaruh tentang apa ya?"
"Hei... hei..." sela El, semakin jengkel.
"Oh! Bagaimana jika bertaruh, siapa yang menang, dia boleh meminta apa saja pada yang kalah? Setuju?!"
"Hei!"
"Nah, peraturannya adalah... kita berenang tanpa menggunakan kekuatan. Berlomba dengan adil, oke!" kemudian wanita itu menyeburkan dirinya ke laut.
El yang terkejut segera menghampiri sisi kapal, ia melihat Mey melambai padanya di bawah.
"Ayo, bocah air!"
El menggerutu. Sepertinya Mey tidak akan memberikan kesempatan kepadanya untuk menolak. Ia segera melepas sepatunya. Menanggalkan jasnya, kemudian meloncat, menyeburkan dirinya ke dalam air laut yang biru.
Wah! Ia tidak menyangka air laut terasa begitu hangat! Dan ia sudah lama tidak menyentuh air laut. Mungkin bertahun-tahun lamanya. Ia benar-benar merindukan laut.
"Ada sekitar 200 meter ke tepi pulau." Tunjuk Meysha.
El menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Meysha. Ia bisa melihat pulau di sana.
"Bersiap! DOR!" Mey melaju lebih dulu.
"Ck! Dasar wanita aneh!" gerutu El sambil menyusul.
---*---