Chapter 18. Jasper
El seharusnya tahu dia akan kalah. Ia tertatih-tatih menuju tepi pantai sementara Mey sudah duduk santai di atas pasir putih, melambai ke arahnya. El menjatuhkan tubuhnya di sebelah Mey, membaringkan tubuhnya di atas pasir pantai yang hangat.
"Kau pasti sedang menjebakku." Kata El, masih kelelahan. Ia sudah lama tidak berenang sejauh itu bahkan dalam keadaan berombak.
"Dan kau tidak menolak." Kata Mey santai.
"Maaf, tapi aku sudah menolakmu beberapa kali."
"Hei, jangan menyakiti perasaanku."
"Argh, sialan." Gerutu El. Dia tidak akan bisa menang melawan wanita ini.
"Sesuai perjanjian, karena aku menang, kau harus menerima semua permintaanku."
"Dari awal aku sudah tidak menyetujui hal ini," gerutu El. "Apa yang kau inginkan dariku?"
"Aku ingin kau bergabung dengan kami."
El bangkit duduk, memandang jengkel pada Mey yang sedang memeras rambut abu-abunya yang panjang.
"Kau benar-benar menjebakku." Kata El. "Dari awal, kau melukaiku. Membuat identitasku terkuak. Dan memaksaku pergi ke Goshenite untuk mengikuti kalian hingga sampai ke sini. Membuatku terluka parah memang ide yang bagus, karena dengan begitu aku bisa menuruti kemauanmu."
Meysha malah nyengir lebar, seolah ia telah mendapat pujian. Dasar wanita aneh..
"Toh memang tidak ada tempat untuk kau tetap tinggal di Beryl." Kata Mey, mencari-cari alasan. "Pemerintah akan menangkapmu, kemudian melakukan eksperimen kepadamu. Bukankah aku adalah penyelamatmu? Karena aku, kau tidak ditangkap pemerintah atau pun Eye Tracker."
"Maaf, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu. Tapi kau sendirilah yang membocorkan identitasku."
"Oh ya, lebih cepat bocor lebih bagus bukan? Karena hasilnya sama saja, sekarang atau nanti, kau pasti akan ditangkap juga nantinya."
"Argh! Sial!" El menyerah. Ia seperti sedang berbicara dengan batu. Wanita itu tidak akan mendengarkannya sama sekali.
"Dan aku tahu, di lubuk terdalam hatimu, kau pasti juga ingin menyelamatkan Rom."
"Jangan bercanda," dengus El. Ia melihat kapal kecil yang ia naiki tadi sebentar lagi akan merapat. "Sedetikpun aku tidak pernah memikirkan hal itu. Rom... bukankah dia yang telah melakukan semua hal itu? Dia yang membakar panti asuhan, dan dia pula yang menyerangmu. Jika kau bukan Eyerish, luka bakar itu akan tercetak selamanya di tubuhmu."
"Oh, kau sudah mendengarnya?"
"Ben sudah menceritakan semuanya. Dan seandainya kau tidak melukaiku, mungkin aku bisa membantu kalian."
"Kau berkata seperti itu padahal pacarmu terus-menerus mengkhawatirkan Rom dan Sasha." Komentar Mey.
"Kau seharusnya mengerti apa maksudku karena perlu perjuangan untuk bisa hidup hingga sekarang dengan keadaan abnormal ini. Dan aku tidak ingin aku dan Emily terlibat. Seharusnya sejak awal aku menolak kehadiran mereka."
"Hmm, kita perlu berdiskusi lebih jauh sebelum menyimpulkan Rom adalah penjahat." Kata Meysha. "Tapi aku setuju jika aku telah melakukan kesalahan. Seharusnya aku tidak melukaimu, tapi aku tidak tahu cara lain untuk merayumu agar mau mengikuti kami. Melihat pribadimu, aku tahu akan sulit berbicara denganmu."
"Memangnya kau tahu apa soal pribadiku?" tanya El kesal.
"Mereka sudah sampai." Mey segera berdiri, mengalihkan topik. "Kita akan melanjutkan pembicaraan ini bersama dengan Kaz saja."
"Kaz?" ulang El sambil berdiri. Apalagi itu?
"Mari bantu mereka menepikan kapal." Kata Mey, dan ia mengumpulkan udara dengan lambaian tangannya, menarik kapal sampai ke atas pasir tepi pantai dengan tangan-tangan tak kasat mata olahannya dari angin yang bertiup.
"Makasih, Mey!" seru Avi dari atas kapal setelah kapal terparkir sempurna di tepian.
***
El bersama Emily serta Ben mengikuti Mey dan Avi menerobos jalan setapak di dalam hutan belantara, dan kurang lebih sekitar 20 menit, sebuah gerbang besar menghentikan jalan mereka.
Mey mengetuk gerbang itu dua kali, kemudian membisikkan sesuatu. "Kepercayaan, cinta, dan rasa hormat."
Gerbang bergetar, kemudian membuka dengan sendirinya.
"Nah, ayo, para tamu." Ajak Mey sambil lebih dulu memasuki gerbang yang diikuti oleh Avi. El bersama Emily dan Ben saling bertukar pandang sebelum mengikuti mereka berdua.
Tidak ada hutan di balik gerbang itu, melainkan sebuah pedesaan kecil, dengan rumah-rumah kayu sederhana. Para penghuninya tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. seperti berkebun dan berternak. anak-anak kecil yang bermain-main seketika terdiam ketika melihat mereka yang memasuki gerbang.
El merasa canggung mendapatkan tatapan orang-orang penghuni dibalik gerbang ini.
"Abaikan saja kami!" Mey mengibas-ngibaskan tangannya di udara, mengusir segerombalan anak-anak kecil yang berlarian mendekat, mengokeri langkah kami. "Sana, main! Aku akan langsung mencari Kaz!"
"Mey, apakah salah satu dari mereka adalah Eyerish Api dan Eyerish Air yang dikabarkan itu?" anak-anak itu malah berlarian semakin mendekat, ribut mengajukan pertanyaan dengan berebut, mengingatkan El pada sekelompok wartawan yang sedang meliput berita.
"Anak-anak, jangan menyibukkan para tamu terhormat ini. Kita akan mengadakan pengumuman malam nanti. Beri tahu ibu-ibu kalian untuk membuat banyak masakan enak untuk makan malam, oke?" Mey mengedipkan sebelah matanya.
"Siap, Komandan Mey!" seru anak-anak kecil itu, lalu mereka berlarian menuju ke dalam rumah masing-masing sambil berteriak memanggil-manggil ibu mereka.
"Ikuti aku, kita akan menemui Kaz."
"Siapa Kaz?" tanya El, ia terlalu penasaran. Akhirnya ia paham jika Kaz adalah nama seseorang.
"Kaz adalah pemimpin kami." Jawab Mey pendek. Wanita itu mengajak mereka memasuki sebuah rumah kayu yang terletak di deretan rumah paling belakang. Ia mengetuk tiga kali sebelum membuka pintu.
Mereka memasuki rumah itu.
"Pagi, Kaz!" seru Mey. Namun isi dalam rumah itu hening. "Silahkan duduk." Kata Mey kemudian. "Avi, buatkan mereka minuman dan kalau perlu sarapan. Aku akan memanggil Kaz di atas." Perintah Meysha sebelum menaiki tangga.
"Ya... ya. Aku harus selalu menuruti kata-katamu, mengemudikan kapal untukmu, juga membuatkan sarapan." Gerutu Avi sambil berlalu.
El menghempaskan dirinya di atas kursi kayu yang ia temukan di satu ruangan. Mungkin ruang tamu, yang hanya berisi meja kayu berbentuk persegi dan empat kursi kayu di keempat sisinya. Selain itu ada sebuah karpet berwarna usang di bawah kakinya dan beberapa pot bunga di meja dekat jendela. Ruangan ini sungguh sederhana.
"Perkampungan yang sangat kecil," komentar Emily yang juga sudah duduk di salah satu kursi.
"Ya, kurasa hanya ada sekitar 20 sampai 30 kepala keluarga?" tebak Ben.
Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Mey muncul lebih dulu diikuti seorang pria di belakangnya. El mengira akan melihat seorang pria tua berjanggut. Namun pria yang disebut sebagai pemimpin itu adalah pria muda bertubuh pendek dan kurus dengan warna kulit yang pucat.
Pria pucat itu tersenyum, dia tampak sangat tidak sehat, berjalan pelan dengan tubuhnya yang bungkuk. Dia cukup tampan seandainya dia tidak terlalu kurus dan tidak terlalu pucat. "Hai." Namun suara pria itu terdengar lantang dan ceria, persis seperti gaya bicara Mey. "Selamat datang! Namaku Kaz!" ia segera mengulurkan tangannya, mendekati El lebih dulu.
"El," El segera menjabat tangan Kaz. Lalu Kaz berpindah pada Emily lalu Ben.
"Emily."
"Ben."
Mereka selesai berjabat tangan sambil menyebutkan nama masing-masing.
"Oke, duduklah kembali. Anggap saja rumah sendiri." Kata Kaz ramah, dan ia duduk di kursi. El, Emily dan Ben mengikuti Kaz untuk duduk kembali. Sementara Mey dengan bebas duduk di atas meja pot bunga di samping jendela.
"Jadi... merekalah yang kudapati sekarang,” kata Meysha. “Kaz, Maaf. Aku gagal mendapatkan Eyerish Api dan Sasha.”
Untuk pertama kalinya, El melihat ekspresi Mey yang suram.
"Sasha? Apakah dia adalah Eyerish juga?" tanya Ben penasaran.
"Ya, dia adalah Eyerish." Jawab Kaz.
El, Emily dan Ben saling bertukar pandang.
"Dia tidak memberitahu kami jika dia adalah Eyerish." Kata Ben bingung.
"Sasha bisa menyembunyikan kemampuan dirinya dengan baik.” Jelas Mey.
"Tapi kan aku sudah mengatakan jika aku bukan orang yang berbahaya," Sungut Ben. "Bahkan El dan Rom mau memberitahukan identitas mereka kepadaku. Lalu kenapa Sasha tidak mengatakan apa pun? Padahal mungkin aku bisa membantu."
"Nak," kata Kaz kepada Ben. "Kau yakin bisa membantu?"
"Ya! Aku sudah sampai sejauh ini, dan aku akan membantu kalian sampai Sasha dan Rom bisa diselamatkan." ujar si bocah berambut ikal merah itu.
"Hmm, sebenarnya..." Emily membuka suara, membuat yang lain menaruh perhatian kepadanya. "Aku tidak tahu apakah aku bisa membantu. Aku hanya manusia biasa. Tapi aku sangat ingin Rom dan Sasha selamat. Dan kurasa... Rom... dia tidak bermaksud menyerang kami saat itu." jelasnya.
El memandang Emily dengan heran. Apakah Emily benar-benar serius akan membantu buronan seperti Rom? Kenapa Emily begitu mudah percaya pada pria itu? El benar-benar tidak habis pikir.
"Aku setuju dengan Emily." Mey mengepalkan sebelah tangannya ke udara, wanita itu mulai menunjukkan sifat tengilnya. "Kelompok Eye Tracker berhasil mengambil alih sebelum kami sempat bersembunyi. Sepertinya Mereka tahu kami akan berkumpul di Goshenite."
"Hmm, bagaimana jika kita menjelaskan sedikit awal permulaan ini, Mey?" tanya Kaz, menyadari kebingungan ketiga tamunya. "Mey adalah komandan lapangan yang bertugas untuk membawa Sasha ke Jasper."
"Benar," Mey segera mengambil alih. "Namun di tengah-tengah perjalanan aku mendapat informasi mengenai Eyerish Api di Beryl. Dan karena kelompok Vinctum masih mengejarku, aku membawa Sasha memasuki Beryl. Untung mengelabui mereka, kuputuskan untuk menitipkan Sasha pada Si Eyerish Api yang baru saja kutemukan. Aku bermaksud akan kembali sayangnya kelompok Vinctum sangat sulit disingkirkan, mereka bahkan bekerja sama dengan Eye Tracker."
Setelah menjelaskan hal itu, Meysha menghela nafas berat, ekspresinya kembali berubah suram.
"Tidak apa-apa, Mey." Kaz berkata lembut untuk menyemangati Mey.
"Tidak, Kaz. Jika sesuatu terjadi pada Sasha, maka semua itu adalah salahku.” Mey benar-benar terlihat frustasi. Wanita itu turun dari tempat duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan ruang tamu. Derak anak tangga menandakan dia menuju ke atas.
El cukup terkejut dengan dualisme yang ditunjukkan oleh Mey. Sebelumnya wanita itu terlihat ceria dan bersemangat, sekarang wanita itu tampak begitu menyesal dan frustasi.
"Kita perlu sarapan," kata Kaz, mengalihkan topik. "Tentu kalian semua sudah sangat kelaparan."
"Hei, kemarilah, aku sudah menyiapkan sarapan untuk kalian semua!" seru Avi nyaring dari dapur.
--*---