Chapter 19. Terdampar

1716 Kata
Chapter 19. Terdampar Rom sudah tersadar cukup lama. Ia meringkuk di atas ranjang kecil. Pasang matanya memandang gelisah ke sekitarnya. Ia berada di dalam sel berjeruji besi. Pencahayaan temaram. Di hadapannya, di balik sel, terdapat lorong dengan pencayaan yang lebih minim. Tidak ada suara apa pun selain suara nafasnya. Dan kedua tangannya yang sebelum melepuh, kini perlahan membaik. Rom tidak terkejut dengan fakta ia dapat sembuh dengan cepat. Gara-gara kemampuan aneh ini, orang-orang di Panti Asuhan menyebutnya 'Penyihir'. Seberapa banyak luka yang ia dapat, ia pasti akan sembuh lebih cepat dari manusia normal. Namun Rom merasa gugup bukan karena tempat asing itu. Ia gugup dengan luka parah di tangannya, bekas luka bakar. Ia tidak ingat apa yang terjadi setelah ia bertemu dengan wanita bernama Meysha, Wali Sasha. Semuanya mendadak buram dalam ingatannya. ia gugup jika dugaannya benar, Apakah ia telah menggunakan kekuatan tanpa ia sadari? Ia tidak melukai orang-orang kan? Tapi bagaimana jika ia melukai seseorang? Dan dimana Sasha? "Rom." Rom terkesiap. Ia mendengar suara Sasha. Ia menoleh ke sekitarnya, namun tidak ada siapa-siapa. Hanya ada dirinya di tempat ini. "Rom?" "Sasha? Kau dimana?" suara serak Rom bergema di ruangan sunyi itu. "Aku berada di suatu tempat." Jawab Sasha di dalam kepalanya. "Dan aku berbicara denganmu melalui pikiran. Kau bisa melakukannya juga." "Be... Benarkah?" tanya Rom, bingung. "Ini disebut telepati." Ujar Sasha. "Apa maksudmu? Sekarang kau dimana? Apakah kau baik-baik saja?" "Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Kau pasti terluka." Rom memandang kedua tangannya yang masih melepuh. "Aku baik-baik saja." ia berbohong, toh nanti ia akan segera sembuh. "Rom, aku akan sulit melakukan telepati lagi, tapi aku yakinkan kepadamu jika aku baik-baik saja." "Sasha... apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rom. Ia merasa takut untuk bertanya. Sesaat tidak terdengar jawaban Sasha di dalam kepalanya. Dan Rom kembali cemas. Apakah ia hanya sedang berkhayal mendengar suara Sasha di dalam kepalanya? "Rom, kau harus bersikap baik kepada 'mereka'." Suara Sasha muncul lagi. Rom terdiam kebingungan memahami kata-kata Sasha. "Mereka akan segera datang kepadamu. Dan kau harus bersikap baik kepada mereka." Jelas Sasha lagi. "Dengan begitu kita berdua bisa bertemu lagi." "Aku... tidak begitu mengerti." Ujar Rom di dalam kepalanya. Ia mulai mempelajari berkomunikasi dengan telepati ini. Rasanya konyol berbicara sendiri. Dan ia melihat kamera kecil memantau ruangannya. "Tidak perlu khawatir." Kata Sasha. "Aku juga di sini baik-baik saja. Aku juga akan bersikap baik pada mereka, dengan begitu aku bisa menemuimu nanti. Mereka sudah janji padaku." "Sasha..." "Dia datang, Rom." Apa? Suara Sasha telah menghilang dari dalam kepalanya, dan ia mendengar suara langkah kaki bergema di ujung lorong, datang mendekat. *** Jasper. "Hei, Pak." Ben akhirnya menegur. Sementara El yang tidur-tiduran di atas kasur, memainkan video game milik Ben, hanya melirik sekilas ke arah Ben yang sedang duduk di kursi dengan laptop dihadapannya. Kembali fokus bermain. "Apakah kau hanya akan tidur-tiduran seperti itu, hah?" Ben menyipitkan mata memandang tingkah laku El yang menyebalkan. "Lalu menurutmu bagaimana?" tanya El balik, tidak peduli. "Kau tidak mau keluar? seperti Emily membantu Meysha? Atau apa pun selain bermalas-malasan seperti yang kau lakukan sekarang ini?" Namun El mengabaikan omelan Ben. "Bukankah yang kita lakukan sama saja?" "Tentu saja tidak sama, Pak!" seru Ben jengkel. "Kau tidak lihat aku sedang menyusun draft-ku, hah? Aku sedang tidak bermalas-malasan sepertimu! Dan sebelumnya aku sudah menyempatkan berkeliling di sekitar perkampungan Jasper ini." "Bersenang-senanglah dengan draft-mu kalau begitu," ujar El cuek. "Harusnya aku tidak meminjamkan Video game-ku padamu. Dasar pemalas." Gerutu Ben. El mendengus. Ia bergerak bangkit duduk, kemudian tiba-tiba melemparkan Video Game ke arah Ben. "Astaga!" seru Ben, berhasil menangkap Video Game-nya sebelum menyentuh lantai. "Apa kau gila?! Memangnya kau bisa mengganti game-ku, hah?!" hardiknya berang, memeluk Video game-nya dengan sayang. El tidak begitu peduli walau ia akui ia tidak pernah memainkan benda itu, dan juga ia tidak pernah melihat benda itu selama di Beryl dan dimana pun. "Sebenarnya apa saja isi ranselmu itu? sepertinya kau bisa membawa apa saja di dalamnya?" tanya El penasaran, mengabaikan sikap dramatis Ben. Ben memasukkan Video game-nya segera ke dalam ransel dengan hati-hati. "Apa urusanmu!" dengusnya kesal. El diam saja sambil mengamati Ben yang kembali fokus di depan laptop. "Sepertinya draft-mu semakin panjang saja. Apa kau yakin itu hanya mengenai Eyerish?" tanya El. "Yah, setelah menemukan Jasper, sepertinya aku akan membuat buku mengenai Eyerish." Kata Ben sambil mengetik. "Buku? Wow, kau sungguh bersemangat. Sepertinya kita berada di dunia yang berbeda, ketika usiaku masih 17 tahun, aku tidak pernah berpikir untuk melakukan penelitian yang membuatku pergi jauh dari rumah, bahkan berpikir untuk menerbitkan buku." "Siapa bilang aku akan menerbitkannya." Kata Ben jengkel. "Hei, menulis buku tentu untuk diterbitkan kemudian mendapatkan uang, bukan begitu?" tanya El. "Pak, kita memang tidak berada di dunia yang sama." Keluh Ben. "Kau terlalu simpel dalam memikirkan hidupmu." "Tentu saja, hidupku akan sulit jika aku berpikiran yang rumit." "Meski sekarang kau berada di situasi yang rumit, hah?" El mengedikkan bahu. "Pasti ada jalan aman dari situasi ini untukku." "Cih, terserahlah." Ben tampak menyerah. "Diamlah, dan jangan ganggu aku." "Serius, aku ingin tahu kenapa kau perlu repot-repot berpikiran untuk membuat buku." El seperti mengabaikan permintaan Ben. Ben mengatupkan mulutnya, menahan makian sambil melirik kesal ke arah El. "Aku ingin menjadi sejarawan." Ujarnya. "Aku akan menulis buku tentang sejarah." El membulatkan mulutnya beberapa detik. "Kedengaran mulia sekali." komentarnya, namun tidak terdengar mengapresiasi. "Apakah Kau tidak tahu jika sejarah sangat penting untuk dipelajari di masa depan?" tanya Ben segera. "Jika sejarah dituliskan dengan baik, maka orang-orang di masa depan akan bisa mempelajarinya dengan baik pula, dan dengan begitu kesalahan tidak akan terjadi untuk kedua kali atau kesekian kalinya, bahkan mungkin masa depan akan mengembangkan sesuatu yang lebih baik dengan mempelajari sejarah sebelumnya." "Oh, kau benar sekali." El mengangguk-angguk, mulai bosan mendengarkan omongan Ben yang tidak menarik baginya. Seumur hidupnya dia tidak pernah berpikiran jika penulis sejarah adalah sebuah profesi yang bisa ia lakukan. Tapi bocah ini tentu saja bisa mewujudkan mimpi itu. "Kau tahu, dunia ini miris sekali. Kadang sejarah yang kita pelajari di jenjang sekolah, ada sebagian sejarah yang sudah dimanipulasi untuk kepentingan orang-orang tertentu. Padahal, sejarah asli sangat diperlukan untuk pembelajaran yang baik. Sejarah bisa dituliskan dari sudut pandang berbeda, tapi memanipulasi hanya untuk kepentingan pihak tertentu sama saja adalah tindak kejahatan, apalagi jika sejarah ini dipelajari ke seluruh dunia. Hal ini lah yang mendasari aku untuk bisa menuliskan sejarah dengan baik. Aku tidak berpikir akan menerbitkannya. Aku hanya menuliskan semua kejadian yang terjadi semasa aku hidup ke dalam bukuku, kemudian kusimpan dengan baik, dan jika ada orang-orang yang ingin mencari tulisanku, mereka bisa mendatangi perpustakaan pribadiku bahkan meski aku sudah tiada." "Dan tahu tidak, kitab-kitab suci setiap agama selalu menggambarkan kehidupan di masa lalu sebagai pembelajaran. Itulah mengapa sejarah sangat penting untuk dipelajari." Tambah Ben. "Ya, Nak, Cita-citamu sungguh mulia." El menyerang, ia tidak akan mencemooh cita-cita bocah ini lagi. Kemudian Ben terdiam, dia memandang kosong ke arah layar laptop, El menemukan ekspresi sedih yang terpampang jelas di wajah bocah itu. "Hei, jangan bilang ada sebab lainnya." Kata El, dia paling tidak suka melihat ekspresi kesedihan di wajah anak kecil. Ben menghela nafas. "Ketika aku masih kecil," ujarnya pelan. "Aku pernah terlibat sesuatu yang menyebabkan perubahan dalam dunia kami." bocah itu jeda sesaat. "Seharusnya kejadian ini dituliskan dalam sejarah karena kejadian itu sangat berpengaruh dalam perubahan dunia kami. Namun hal ini hanya diketahui oleh sebagian orang, kebanyakan orang tidak diberitahu dengan alasan untuk keamanan dunia kami. Padahal, kejadian ini sangat penting dan perlu dipelajari oleh orang-orang agar tidak terjadi kesalahan untuk kedua kalinya." Dia menghela nafas. "Ketika aku mencoba mengetik tentang sejarah ini, jari-jariku terasa membeku." El mengamati ekspresi Ben yang semakin tertekan. "Apakah kejadian itu sangat buruk?" tanya El. Ben mengangguk sebagai jawaban. "Ayahku... meninggal saat itu." El penasaran, namun ia berusaha menekan rasa penasarannya. Dia tidak ingin terlibat lebih jauh. Ia yakin Ben hanyalah salah satu orang yang datang dan pergi dalam hidupnya, dia tidak perlu merepotkan diri untuk menjadi lebih dekat kepada Ben. Dia tidak perlu tahu kisah hidup Ben. Mengenal orang lebih dekat hanya akan menambah kerumitan hidupnya. Terdengar pintu diketuk. El segera beranjak berdiri untuk membuka pintu. Ia menemukan Kaz berdiri di teras sambil melemparkan senyum hangat. *** Ini nyaris tengah hari, namun Kaz mengajaknya berjalan di antara sawah di bawah terik matahari, semakin menjauhi perkampungan. El berusaha mengimbangi langkah Kaz yang cukup cepat. Padahal pasang kaki Kaz lebih pendek dari pasang kaki El. "Hei, kau bilang akan membicarakan sesuatu denganku?" El bertanya karena nyaris 15 menit mereka hanya berjalan dalam keheningan saja. "Ya," Kaz mengangguk, kini memelankan langkahnya, seolah baru menyadari jika El kesulitan mengimbangi langkahnya. "Kau pasti punya banyak pertanyaan mengenai Jasper." "Hmm, mungkin. Tapi kau tidak perlu repot-repot memberitahuku. Aku juga tidak akan mencari tahu." Kaz tersenyum kecil. "Mey memberitahuku jika kau memiliki kepribadian yang rumit." "Rumit? Begitu dia bilang?" El mendengus sinis. Entah kenapa ia selalu merasa jengkel tiap mengingat wanita itu. "Oh, aku tidak mengerti bagaimana wanita itu menilai kepribadianku, tapi pribadiku sangat simpel, sama sekali tidak rumit." Kilahnya jengkel. Entah apa saja yang sudah dikatakan oleh Meysha kepada Kaz mengenai dirinya. "Aku tidak tahu bagaimana cara untuk membuatmu berpihak kepada kami." Ujar Kaz. "Hei, bukankah aku sudah berada di pihak kalian? Gara-gara wanita itu, jadinya aku terdampar di pulau kalian. Aku ragu apakah aku bisa kembali lagi ke Beryl. Bagaimana pun ini semua disebabkan oleh kalian, jadi kalian tentu harus menerima keberadaanku di sini. Toh, aku juga salah satu dari kalian." Kata-kata El terdengar sangat menyebalkan namun Kaz masih tersenyum ramah mendengarkan semua ocehan itu. "Tentu saja kami menerimamu dengan senang hati. Kau adalah salah satu saudara kami yang hilang." Ujar Kaz. El mengerutkan dahi. "Hmm? Saudara yang hilang, hah?" tanyanya tidak mengerti. Kaz mengangguk, pasang matanya beralih pada Ben yang mengekori mereka sejak tadi. "Biarkan saja dia," kata El. "Dia tidak berbahaya, dan dia akan menjadi salah satu sejarawan. Maksudku, toh dia akan bertanya kepadaku tentang pembicaraan kita nantinya." "Hmm, Jika menurutmu begitu," Kaz mengangguk mengerti, ia kemudian kembali mempercepat langkahnya. El terpaksa mengikuti meski ia semakin merasa malas untuk berjalan. Sebenarnya Kaz ingin membawanya kemana sih? ---*---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN