Chapter 49. Awal dengan Cuaca Buruk (2)

1591 Kata
Chapter 49. Awal dengan Cuaca Buruk (2) Ada dermaga yang sudah agak rusak beberapa kilometer dari dermaga yang sibuk. Hujan semakin deras namun ketiga pemuda itu melangkah menerobos gelap malam yang basah. Beberapa papan dermaga sudah rapuh dan berlubang. Mereka bertiga perlu berhati-hati menginjak lantai di bawah mereka hingga sampai di samping kapal kecil yang tertambat. Avi melambai dari atas kapal. "Cuacanya buruk," kata Avi. "Apa kabar?" El malah berbasa-basi. Avi mendengus. "Jangan paksa aku untuk menjawab pertanyaan basi." El tertawa hambar. "Jadi kau mau aku mengantarkan dua pasukanmu itu?" Tanya Avi dengan sorot mata ke arah Ben lalu Rom. Ia mendengus, pesimis. "Kembali ke Vinctum adalah ide buruk. Bahkan dengan cuaca seburuk ini." "Yah..." El menengadah ke langit malam yang mendung, sesaat kilat tercetak silau di langit. "Aku yang memikirkan ide ini, tapi aku tidak mempertimbangkan cuaca." "Untuk ke depannya, pertimbangkanlah." Dengus Avi. "Ayo, naik, para penumpang!" Ia membantu Ben menaiki kapal, sementara Rom menaiki kapal dengan mulus tanpa bantuan siapa-siapa. Walau baru sekali berlayar, Rom tampak sudah terbiasa. El mengangguk ketika melihat kedua kru-nya sudah menaiki kapal. "Avi," panggil El. Avi kembali berdiri di samping kapal."Ya?" "Ini," El menjulurkan sesuatu dan Avi menerimanya. "A... Apa ini?" Avi memandang bingung pada cincin yang diberikan oleh El. "Aku tidak bisa memberikan uang untuk perjalanan kalian. Gadaikan saja. Itu batu mulia." "Kau yakin?" Avi terlihat ragu. Ia tahu jika ini adalah cincin yang digunakan oleh El ketika sedang menyamar bersama Meysha. "Ya. Satunya sudah hilang. Jadi cincin itu sudah tidak memiliki pasangan. Kurasa sudah saatnya aku melepaskannya." "Hmm," Avi masih terlihat ragu. "Baiklah, aku akan memakainya jika kami membutuhkan uang di perjalanan." "Bagus." "Aku akan menyalakan kapal." "Oke." Setelah Avi beranjak pergi, El nyaris akan berbalik pergi pula namun Rom menghentikannya dengan panggilan. "El." El menoleh kembali dan mendapat sorotan dari pasang mata Rom yang gelap mengkilap. "Terima kasih." Ucap Rom, dan wajah pucatnya menunjukkan kesungguhan, namun El malah semakin kesal. "Tidak perlu," kata El. "Pastikan Emily kembali dengan selamat. Juga yang lainnya. Jika tidak, aku yang akan membunuhmu." Rom sempat terkesiap mendengar ancaman El. Namun ekspresinya berubah serius. "Aku akan berusaha." Kapal menyala, dan dengan perlahan mulai meninggalkan dermaga. El tidak ingin menghabiskan waktunya dengan melihat kepergian kapal tersebut, ia segera berbalik pergi, berjalan meninggalkan dermaga. Dan badai kembali turun di Goshenite pada setiap bagian. *** El kembali dengan pakaian basah kuyup. Ia sedikit menggigil ketika memasuki rumah. Rumah sudah gelap gulita karena semua lampu dimatikan. Pastinya semua orang di dalam rumah sudah tertidur. Tentu saja, ia datang sudah lewat dari tengah malam. Maka ia berjalan pelan. "Hai." El terkesiap ketika wanita berambut abu-abu muncul menyapanya. "Kau mengagetkan aku," keluh El sambil melepaskan jaketnya yang basah, Meysha yang menyapanya tersenyum hambar. "Kenapa kau belum tidur?" "Bagaimana aku bisa tidur jika kau mengantarkan Ben dan Rom kembali ke Goshenite Selatan? Aku takut terjadi sesuatu pada kalian di jalan." "Terima kasih sudah mengkhawatirkan." "Butuh bantuan?" El menggelengkan kepala. "Tidur saja, sana." Usirnya lalu melepas kaosnya sendiri. Meysha terdiam sesaat, ia tampak terkejut ketika melihat El telah bertelanjang d**a, lalu pria itu menumpuk sembarangan pakaian dan jaketnya di lantai lorong. Ia menarik nafas, lalu segera memungut pakaian basah El. "Hei," tegur El kaget. "Akan kucuci, kau, keringkan dirimu." Meysha segera berlalu sebelum El sempat menahannya. *** Meysha telah meletakkan pakaian basah El ke dalam mesin cuci. Ia segera menuju ke dapur, lalu membuat teh hangat untuk dirinya sendiri. Ia duduk di kursi sambil memandang ke arah jendela yang diterpa air hujan dan angin. Ia sama sekali tidak menyukai badai. Angin yang bertiup kencang ketika badai sama sekali tidak dapat ia kendalikan. Ia tidak menyukainya karena mengetahui jika badai dan angin kencang bisa merugikan banyak pihak. "Kau tidak membuatkan teh untukku?" Meysha terkejut dengan kedatangan El yang sudah mengenakan pakaian tidur bergambar kartun beruang. Ia mengerjap kebingungan. Entah apakah ia terkejut karena El tiba-tiba saja datang atau karena pakaian yang sangat imut itu dikenakan oleh seorang pria berotot. El segera menyambar cangkir yang baru disesap oleh Meysha satu kali. Lalu pria itu meneguk isinya bahkan sebelum ia duduk. "Aku bisa membuatkannya jika kau meminta," Meysha melototi El yang menurutnya sangat tidak sopan. El tertawa kecil, ia segera menarik kursi lalu duduk. "Aku tidak bisa tidur ketika badai," kata El. Meysha mengerjapkan mata. Mengejutkan, mereka berdua ternyata memiliki kesamaan. Ia juga tidak bisa tidur di saat badai. "Terlalu ribut." "Aku juga." "Kau juga?" Meysha mengangguk. "Aku sering memikirkan, jika badai telah selesai, pasti banyak kebun dan sawah yang rusak di Jasper. Selain itu jika badainya benar-benar sangat kuat, rumah kami juga bisa rusak." "Hmm, aku tidak tahu jika kalian memiliki banyak masalah." Kata El, ekspresinya tampak tidak nyaman. "Sepertinya aku memang pria yang manja." Meysha tersenyum kecil. "Akhirnya kau menyadarinya." "Tapi kalian tidak terluka kan?" "Beberapa dari kami pernah terluka. Tapi kami dapat melaluinya bersama-sama," Meysha mengedikkan bahu. "Hmm, syukurlah." El mengangguk-angguk setelah mendengarkan cerita Meysha."Menurutmu.... bagaimana dengan Avi?" Ia tidak dapat menutupi kecemasannya setelah melihat kapal Avi yang kecil berlayar ke laut lepas. "Aku tidak memperkirakan cuaca dalam rencana ini." Nada suaranya terdengar bersalah. Ia takut jika teman-temannya malah terkena bencana di tengah jalan ketika berlayar. "Aku mengerti," Meysha mengangguk. "Berlayar memang bukan bidangmu. Tapi berlayar adalah bidang Avi. Avi tahu apa yang akan ia lakukan ketika badai." "Tetap saja..." Keluh El. "Seharusnya aku menghentikan mereka. Padahal mereka bisa berangkat besok pagi saja." "Kau bilang kita harus bergerak cepat untuk menjalankan rencana Diplomatis ini." El menarik nafas. "Rencanaku kedengaran riskan ya?" Meysha mengerjapkan mata. Ia agak kaget melihat ekspresi El yang tampak ragu dan cemas. Melihat ekspresi baru di wajah El sedikit menarik baginya. "Kenapa kau bertanya?" El tertawa kecil. "Lupakan," ujarnya. "Kenapa kau mengirim Rom ke Vinctum?" Tanya Meysha, dan ia tahu pertanyaannya akan membuat El merasa tidak nyaman. Tapi dia ingin tahu. Dia penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan oleh El pada saat ini. Lebih tepatnya... Tentang perasaan pria itu pada Emily. "Kukira kau yang akan pergi ke sana." El tersenyum hambar. "Emily pasti sedang menunggu Rom, bukan aku." Meysha mendengus. "Ya ampun..." "Aku sudah dapat membaca situasinya, Mey. Aku tidak punya kesempatan lagi untuk kembali pada Emily. Lagi pula... Aku menyadari jika selama ini aku sendiri yang mengikat Emily. Aku tidak pernah tahu perasaan sebenarnya yang dimiliki Emily." "Kau lucu sekali." Meysha bersandar, melipat tangan di d**a. Ia mengamati wajah El yang terlihat sendu, dan anehnya raut wajah itu terlihat semakin menarik baginya. Rambut pirang El yang setengah kering dan berantakan hingga jatuh ke dahi, dan sorot iris biru yang redup. Meysha segera memalingkan wajahnya, seketika saja wajahnya sudah menghangat karena mengagumi wajah El. "Tidurlah." Meysha segera beranjak berdiri. Namun tubuhnya terasa aneh. Entah mengapa ia merasa begitu gugup dan tergesa-gesa hingga cangkir di meja tak sengaja tersenggol lengannya. "Mey...!" Meysha terdorong ke meja dan suara pecahan cangkir di lantai teredam oleh suara ribut-ribut badai di luar. "Oh, astaga..." Meysha tidak menyangka akan menjatuhkan cangkir, dan ia lebih kaget lagi karena El telah mendorongnya menjauhi pecahan cangkir, dan saat ini pria itu berdiri sangat dekat di hadapannya, dan kedua tangan El di kedua lengannya. Sesaat mereka saling berpandangan. Meysha mengerjapkan mata, dengan jarak sedekat ini ia bisa melihat jelas warna mata biru laut El yang tampak bercahaya di kegelapan. Memesona. "El..." Meysha berkata pelan, nyaris berbisik, tiba-tiba saja ia kehilangan suaranya, entah kenapa. El mendekatkan wajah pada Meysha, hingga Meysha bisa merasakan hembusan nafas El yang hangat menerpa wajahnya, juga aroma sabun mandi pria itu memenuhi indera penciumannya. Ini tidak bagus. "El... Aku..." Meysha mendorong lengan El namun El tidak bergeming. "Warna matamu..." El juga berbisik, menatap lekat-lekat wajah Meysha. "Unik sekali." Seketika wajah Meysha menghangat. Itu bukan pujian. El hanya mengomentari. Jangan berpikiran macam-macam, Mey. Meysha berusaha untuk tetap sadar. Namun El masih belum melepaskan Meysha. Malah wajah pria itu semakin mendekat, dan sorot mata pria itu begitu lembut memandanginya, ia terhipnotis. Dan ia benar-benar tidak bisa berpikir lagi ketika El mengecup bibirnya. Itu mengejutkan. El kembali memandang Meysha yang mematung, pria itu seperti sedang mempelajari reaksi Meysha. Namun Meysha hanya terpaku, membatu seperti orang bodoh, dan El kembali mengecup bibir Meysha, tidak, melumatnya. Dan Meysha membalasnya. *** El tidak tahu bagaimana hal ini bisa terjadi. Ia menarik Meysha ke dalam kamarnya, mendorong bahu wanita itu hingga terbaring di ranjangnya, lalu ia berada di atas Meysha, meyanggakan kedua lengannya di sisi wanita itu. Mereka sama-sama tersengal. Entah berapa lama mereka berciuman hingga akhirnya mereka bisa berada di tempat ini. Wajah Meysha merah padam, begitu pula bibirnya. Rambut abu-abunya berantakan dan pakaiannya setengah terbuka. Ini gila. Pikir El. Gila. Gila. Tapi melihat wanita itu balas memandangnya membuatnya tidak ingin berhenti. Ia kembali mencium bibir Meysha, ia ketagihan untuk menyatukan bibir mereka berdua lagi. Lalu ciuman El turun ke sebelah rahang wanita itu. Dan berlanjut ke lehernya. Ia mendengar erangan pelan keluar dari bibir Meysha. Seketika perut El bergejolak hanya karena mendengarnya. Ia mengangkat wajahnya, memandang Meysha yang semakin bernafas cepat dan kini menutupi wajah dengan lengan. El segera menyingkirkan lengan wanita itu. Meysha mengerjapkan mata, tampak kebingungan dengan wajahnya yang memerah. "Aku ingin melanjutkan," bisik El, kedengaran tegas. Padahal ia berpikir untuk menjadi seorang pria yang sopan. Namun ia sudah terlalu gila, ia menginginkan lebih dari ini. Meysha kembali mengerjapkan mata. "Bolehkah?" Akhirnya El bertanya. Ia harus sopan. Lalu ia menyentuh sebelah wajah Meysha, menelusuri tulang wajah wanita itu dengan jarinya. Meysha mengangguk gugup. "Tapi..." Suaranya serak. "Jangan bayangkan wanita selain aku." El sedikit terkejut. Lalu ia mengecup dahi Meysha. "Tidak akan." Bisik El. __*__
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN