Chapter 48. Awal dengan Cuaca Buruk (1)

1308 Kata
Chapter 48. Awal dengan Cuaca Buruk (1) Rom memberikan reaksi lega. Ia menyandarkan punggungnya setelah duduk tegak dengan ekspresi tegang. Ia telah menunggu lama keputusan El. Pada akhirnya El memberikan kesempatan kepadanya untuk kembali ke Vinctum. Ya. Ia akan menyelamatkan Emily. "Kau yakin?" Meysha tampak ragu dengan keputusan El. "Eye Tracker sepertinya tidak akan tertarik padaku." "Mereka akan tertarik pada Eyerish yang kuat sepertimu, Mey. Kau sudah menyingkirkan banyak Eyerish sebelumnya. Juga, mereka akan tertarik pada Sasha," El telah duduk di sofa dengan kaki disilangkan. "Hei, kau mau menjual Sasha?" Protes Ben. "Aku akan bersama Sasha jika kau seenaknya begitu kepadanya!" El memutar bola matanya, setengah kesal karena ia kembali harus berhadapan dengan para lelaki yang mengeluarkan kata-kata heroik omong kosong yang menyebalkan ini. "Tidak, Ben. Kau akan ke Vinctum bersama Rom. Dan Avi yang akan mengantarkan kalian berdua. Kalian bertiga harus menemukan Kaz, dan membujuk Skylar untuk tidak merencanakan peperangan." "Memangnya orang bernama Skylar itu bisa diajak bicara?" Tanya Ben. "Karena itulah kalian membutuhkan Kaz." Ujar El. "Selain itu tugasmu, Ben, kau harus mencari dokter yang bernama Haskel." "Haskel?" "Ya, dia adalah dokter khusus di Vinctum yang menganalisa kondisi Sasha, selain itu dia juga termasuk dalam tim dokter yang bertugas dalam meneliti penurunan imunitas Eyerish. Aku ingin kau mencari banyak informasi dari dokter tersebut. Caranya bagaimana? Kau sendiri yang merencanakannya." "Wah, ini gila..." "Kau sendiri yang menawarkan diri untuk membantu Eyerish, maka ini adalah kesempatanmu untuk menunjukkan kata-katamu." "Aku memang ingin membantu kalian. Tapi yang benar saja, El. Aku bisa terbunuh di sana." Ben masih terlihat ragu. "Tenang saja, kau akan bersama Rom." Jelas El. "Rom, aku tidak mengirimkanmu untuk menjadi pengecut, jadi cobalah kendalikan kemampuanmu agar berguna." "Baik." Sahut Rom segera. Namun El tidak menyukai ketegasan nada suara Rom. Ia membencinya, membayangkan Rom akan bertemu dengan Emily saja sudah membuatnya kesal setengah mati. Namun ia mencoba mengesampingkan perasaannya. Percuma. Emily tidak akan kembali kepadanya lagi. "Lalu? Aku dan Sasha bagaimana?" Meysha mengambil alih. "Lakukan saja dengan caramu," kata El. "Caraku?" Ulang Meysha dengan dahi berkerut. "Ya, seperti yang kau lakukan ketika pertama kali bertemu denganku. Kau melumpuhkan anggota gerakku." Meysha mendadak tertawa. "Yang benar saja! Aku masuk ke dalam sarang Eye Tracker dan melawan mereka semua? Sendirian?" "Kau punya Sasha," El mengedikkan bahu. "El, Sasha masih terlalu kecil..." "Kalau begitu latihlah dia," sela El segera. "Kau harus mempelajari kemampuannya agar dia dapat mengendalikan kemampuannya dengan baik. Sasha belum memahami batasan dari kemampuannya. Dari informasi kalian yang mengenal Sasha, Sasha belum pernah mempraktikkan kemampuannya, dan selama ini dia hanya menggunakannya untuk berkomunikasi dengan saudara kembarnya itu. Aku yakin Eye Tracker akan tertarik dengan kemampuan Sasha. Kalian bisa memancing mereka dengan mengatakan jika Sasha yang mengendalikan Rom ketika membuat kebakaran itu." "El, apa maksudmu?" "Aku membuat rumor yang menarik perhatian." Rom diam saja, sekali lagi dirinya mendapat berbagai macam rumor. "Ares atau Sasha, mereka sama-sama memiliki kemampuan yang sama. Jadi tidak akan masalah jika kau menyebut Sasha sebagai pelakunya." "Tidak sama!" Seru Meysha, marah karena tidak terima. "Kau menuduh Sasha!" "Aku tidak menuduhnya. Ares juga diposisi yang dikendalikan oleh Skylar. Ares atau pun Sasha, selama mereka berdua berada di tangan Skylar, mereka akan digunakan sebagai boneka olehnya." Meysha mendengus kasar, ia masih tidak menerima ide cemerlang El. "Aku akan melakukannya dengan caraku." Ujarnya. "Aku tidak akan menjual Sasha." "Bagus," El mengedikkan bahu tidak peduli. "Lalu kau serius akan memasuki kubu manusia?" Tanya Ben. "Ya, aku ke sana bersama Green." "Lalu?" "Aku akan mengaku jika aku adalah Eyerish," jawab El. Helaan nafas tidak setuju terdengar di dalam ruangan. "Mereka tidak akan membunuhku," kata El. "Aku punya gaya diplomatis yang baik." "Menjual Sasha ke lubang Eye Tracker kurasa bukan gaya diplomatis yang baik." Sungut Meysha jengkel. El hanya tertawa hambar. "Itu keputusanku. Jika kalian tidak setuju, tolong berikan pendapat yang lebih bagus daripada ini." Namun tidak ada yang berkata-kata. Mereka tidak mempercayai ide El, namun juga tidak memiliki ide lainnya. Ini mengerikan. "Baiklah," Ben mengangguk, lalu menelan ludah, ia mulai terlihat gugup. "Kau bilang kami harus mencari Kaz, Kaz pasti bisa berdiplomatis dengan Skylar. Aku harap begitu." "Ba... Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk?" Rom mengangkat sebelah tangannya, seperti bocah dalam kelas yang takut bertanya di depan guru yang galak. El menghela nafas. "Aku tidak bisa menjanjikan apa pun." Ujarnya. "Saranku, berhati-hatilah. Jika kalian diserang, bertahanlah." Ruang tengah menjadi hening setelah kata-kata El. Ya, tidak ada siapa pun yang dapat menjanjikan keselamatan mereka selain diri masing-masing. *** "Hah~" Rom sudah mendengarkan helaan nafas panjang Ben untuk kesekian kalinya. Tampaknya Ben benar-benar tidak ingin pergi ke Vinctum, selain itu bocah itu juga mengkhawatirkan Sasha yang akan memasuki kubu Eye Tracker. Rom juga tidak mengerti mengapa El menggunakan ide ini. Tapi ia bisa melihat ada celah yang baik, mungkin dengan cara ini mereka akan dapat berhasil. El pastinya lebih berpengalaman darinya dalam mengambil keputusan. "Meysha memberitahuku jika Sasha sudah baik-baik saja," ujar Rom yang memang baru saja datang dari dapur untuk mencuci semua perabotan bekas makan malam mereka. Ben mengangguk lesu. "Jika mereka menggunakan Sasha lagi, maka dia akan sakit kembali." "Meysha tidak akan membuat Sasha kembali sakit," ujar Rom. Entah mengapa ia yakin Meysha tidak akan melakukannya. Ia bisa melihat jika Meysha begitu menyayangi Sasha seperti menyayangi saudara sendiri. Ben terdiam sesaat, lalu mengangguk membenarkan. "Kau benar sih," ujarnya. Mereka berdua telah selesai memasukkan beberapa barang penting ke dalam tas masing-masing. Malam ini juga mereka akan ke dermaga dimana Avi akan menjemput mereka untuk berlayar menuju Vinctum. Rom mengamati ransel hitam yang selalu dibawa oleh Ben. Ia sedikit penasaran karena sepertinya ransel tersebut terlihat ringan, padahal ada banyak barang yang dimasukkan ke dalamnya. Termasuk laptop dan beberapa pasang pakaian Ben. "Tasmu terlihat ringan?" Komentar Rom. "Oh, ini?" Seketika Ben menunjukkan senyum misterius. "Rom, kau percaya dengan sihir?" Rom mengerutkan dahi dengan pertanyaan Ben yang tiba-tiba. Ben malah tertawa kecil melihat reaksi Rom. "Aku sudah melihat-lihat jika bumi kalian tidak ada sihir sama sekali. Malahan Eyerish tampak seperti Penyihir bagiku, masing-maisng dari kalian memiliki jenis kemampuan yang unik." "Pe...nyihir?" Ulang Rom tidak mengerti. "Ya, di bumi-ku, ada Penyihir. Kelompok Penyihir." Rom semakin tidak mengerti. Apakah Ben sedang bermain-main dengannya hingga menyebut-nyebut Penyihir? Ia pernah mendengar tentang Penyihir, yang biasanya dijabarkan dalam dongeng anak-anak. Penyihir di dalam dongeng itu digambarkan sebagai manusia jahat yang dapat menggunakan kekuatan bermacam-macam dan akan menghukum anak-anak nakal. Karena dongeng itulah dia pernah disebut sebagai anak Penyihir. Yaitu keanehan pada dirinya yang tidak pernah sakit dan sembuh dengan cepat ketika terluka. "Ranselku ini sudah disihir untuk dapat diisi dengan kapasitas abnormal." Jelas Ben dan tampaknya sia-sia karena Rom memandangnya dengan sorot tidak percaya. "Lupakan saja. Ayo, sepertinya El sudah siap untuk mengantar kita." Rom mengikuti Ben beranjak pergi sambil memanggul ransel masing-masing. Mereka berdua menuruni lantai atas, dan di bawah El dan lainnya sudah berkumpul, termasuk Nevin. "Ayo," kata El ketika melihat Rom dan Ben yang muncul. Pria itu dengan wajah tanpa ekspresi segera berlalu keluar dari rumah. Rom dan Ben menyempatkan diri untuk berpamitan dengan Nevin, Meysha dan Sasha. "Berhati-hatilah," kata Meysha yang tampak khawatir. Ia menepuk bahu Rom dan kemudian Ben. "Jangan sampai terluka." Rom mengangguk. "Hati-hati." Suara Sasha menggema di dalam kepala Rom, Rom sempat terkejut, ia menoleh pada Sasha yang hanya tersenyum sambil melambai kepadanya. Rom balas tersenyum kepada Sasha. "Ya," balasnya, juga dari dalam hati. "Aku iri padamu," dengus Ben ketika ia dan Rom sudah melangkah keluar rumah, gerimis hujan menyambut mereka, sementara mobil milik Nevin sudah dinyalakan oleh El. "Iri?" Ulang Rom heran. "Sasha melihatmu sambil tersenyum." Gerutu Ben. "Sementara dia tidak mengucapkan apa-apa kepadaku." Lalu Rom dan Ben memasuki mobil. El tanpa ragu menancap gas meninggalkan rumah keluarga Shan yang hangat dan aman. Rom dan Ben akan memulai petualangan baru, mereka akan memasuki sarang musuh yang berbahaya. __*__
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN