Chapter 47. Rencana Diplomatis

1801 Kata
Chapter 47. Rencana Diplomatis Meysha terbangun pada dini hari sebelum matahari terbit. Ia beranjak ke jendela, memandangi matahari terbit untuk beberapa waktu. Posisi rumah El cukup bagus untuk dapat melihat ufuk timur dimana matahari terbit, hal ini mengingatkannya pada Jasper, ia menarik nafas dengan ekspresi sedih. Ia merindukan Jasper dan juga Kaz. Meysha berbalik, mendekati ranjang untuk membangunkan Sasha. Namun ia tidak jadi melakukannya ketika melihat wajah gadis kecil itu yang pucat. Ia menyentuh dahi Sasha dan merasakan suhu tubuh Sasha yang terasa terbakar. Meysha tidak mengerti mengapa Sasha sangat mudah sakit, padahal biasanya Eyerish hanya sakit ketika mereka terluka. Apakah ini karena Sasha adalah Pengendali Pikiran? Mungkin saja Sasha tidak mengetahui batas kemampuannya sehingga terlalu memporsir diri? Meysha segera beranjak keluar. Lalu ia menemukan El di ruang tengah, duduk dengan mata terpejam. Apakah pria itu sedang tertidur? Meysha segera mendekati El. El bergerak membuka mata. Wajahnya tampak lesu. "Kau sudah bangun?" Tegur El serak. Apakah El semalaman tidur di sini? Mungkin El merasa terbebani dengan tanggung jawabnya untuk menentukan pilihan. Meysha menarik nafas, dulu ia menganggap El adalah pria pengecut yang suka main aman, dan sekarang El berusaha untuk memimpin kelompok kecil mereka. "Sasha terkena demam," Meysha segera menyampaikan informasi tidak mengenakkan itu. El membelalakan matanya. Ia segera beranjak berdiri. "Dia di kamar kan?" Meysha mengangguk, ia membiarkan El naik ke atas untuk mengecek keadaan Sasha, sementara ia menuju dapur untuk menyiapkan kompres dan mencari obat yang bisa digunakan Sasha. Meysha kembali ke kamar. Ia menemukan El sedang duduk di sebelah ranjang, Sasha masih sama seperti sebelumnya, terbaring tak sadarkan diri. Meysha kembali menyentuh dahi Sasha, suhu tubuh Sasha bertambah. "Apakah dia memang sering sakit-sakitan begini?" Tanya El. Meysha mengangguk, ia mengompres dahi Sasha dengan air hangat. "Kukira Eyerish tidak mungkin sakit di usia semuda Sasha." "Seharusnya begitu," ujar Meysha. "Tapi kasus Sasha berbeda. Ia bisa tiba-tiba demam seperti ini." "Sebenarnya, malam tadi..." El terlihat ragu-ragu berkata. "...Aku meminta bantuan Sasha." Meysha memandang El sesaat. "Bantuan?" "Ya, aku memintanya untuk melihat memori masa lalu ibuku," El menarik nafas. "Ibuku sedang sakit, memorinya terpecah dan kami semalaman mencari memori tersebut." Meysha mengerutkan dahi. "Sasha mengajak alam bawah sadarku memasuki alam bawah sadar ibuku," jelas El. "Kau belum tahu bagaimana Sasha mengendalikan kemampuannya?" Meysha menggelengkan kepala. "Aku belum tahu." "Dia menyebutnya dengan berjelajah. Menurutku seperti memasuki ruangan alam bawah sadar orang lain." Meysha terdiam sesaat. "Mungkin Sasha kelelahan setelah menggunakan kemampuannya, dan ia tidak menyadarinya." "Mungkin," El mengangguk. "Bukankah kau adalah Perawatnya?" "Ya, tapi para Perawat hanya bertugas mengecek kondisi fisik setiap anak, analisa kesehatan dan kondisi dilakukan oleh para Dokter." "Di sana ada Dokter?" Meysha mengangguk. "Kau tahu siapa Dokter yang bertugas menganalisa kondisi Sasha?" "Ya, aku tahu. Dr. Haskel yang menangani Sasha secara khusus." Jawab Meysha. "Kau mungkin melihatnya. Dia terbaring tak sadarkan diri di lorong ketika kita berada di Lantai Perawatan Gedung Utama di Vinctum. Pria yang mengenakan jas putih." "Hmm, sepertinya aku tidak begitu mengamati." "El," Meysha merendahkan suaranya. "Dr. Haskel termasuk dalam kelompok dokter yang menangani kasus penurunan imunitas tubuh Eyerish di usia dewasa." El mengerutkan dahi. "Kurasa mereka pasti telah menemukan sesuatu." "Mereka yang membuat pil kordaks kan?" Pil kordaks adalah obat yang digunakan Meysha untuk berakting sakit ketika di Feldspar. Dan obat itu sama sekali tidak untuk direkomendasikan. Efeknya terlalu kuat untuk Eyerish, apalagi manusia. "Ya, obat itu mereka berikan kepada Eyerish yang sudah tidak mampu bertahan." "Astaga, Mey..." "Tenang saja, Obat itu tidak akan berpengaruh sebesar itu kepada Eyerish yang belum mencapai batas imunitasnya. Lagipula Avi sudah menurunkan kadarnya untuk kugunakan ketika itu." "Tetap saja, Mey... Mulai sekarang kau tidak boleh bertindak gegabah. Berjanjilah kepadaku, Mey." "Maafkan aku, El." "Berjanjilah," ulang El, menuntut Meysha. Meysha menarik nafas. "Ya, aku berjanji." "Bagus," El mengangguk lega. "Aku tidak ingin kehilangan siapa-siapa lagi." Meysha merasa wajahnya memanas. Tiba-tiba saja ia merasa gugup hanya mendengarkan kata-kata El. Ia bodoh sekali, kata-kata itu seperti membuatnya terdengar spesial, namun El tentu tidak menganggapnya spesial sama sekali. *** Rom bangun pagi-pagi. Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian El, dan yah, tubuhnya hanya berbeda beberapa inci dari El, jadi pakaian El cukup pas untuknya. Tujuan utamanya adalah dapur dan Ayah El sudah berada di sana. "Oh, kau sudah bangun?" Nevin terlihat kaget melihat kemunculan Rom. "Ada yang bisa kubantu?" Rom menawarkan diri. "Oh, tidak perlu, Nak. Kalian masih perlu beristirahat." "Tidak, Pak." Kata Rom. "Saya bisa memasak. Saya adalah koki selama di Panti Asuhan." "Oh? Begitu?" Nevin terlihat gugup. "Eum, yah. Jika kau bersikeras. Aku memang perlu teman memasak, lagi pula ada banyak orang di rumah ini." Rom merasa lega karena Nevin menerima bantuannya. Ia melangkah mendekati Nevin. "Anda memasak apa, Pak?" *** Nevin adalah pria tua yang sangat mahir memasak. Pria itu juga sangat ramah dan suka mengobrol. Rom tidak banyak berbicara namun ia senang mendengar setiap celotehan Pria tua itu. Sosok Nevin tak jauh berbeda dengan sosok Jim. Seketika Rom merindukan keluarga angkatnya. "Kau baik-baik saja?" Nevin tampak peka dengan perubahan raut wajah Rom. "Eum, ya." Rom mengangguk, ia kembali fokus mengirisi sayuran mentah. "El tidak bisa memasak, tapi dia bisa membantu mengiris dan mengupas sayuran. Dan Emily juga kesulitan dalam memasak." Nevin terkekeh. "Aku kira anak jaman sekarang tidak begitu suka memasak dan lebih memilih makanan cepat saji. Pemuda sepertimu cukup langka bagiku." "Anda sudah mengenal Emily sejak lama?" Rom bertanya. "Oh ya, tentu saja. Kami mengangkat Emily menjadi bagian dalam keluarga kami setelah orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Mereka adalah tetangga kami. Melihat Emily menjadi sebatang kara, Maya memintaku untuk mengizinkan mengangkat Emily." Nevin bercerita panjang lebar dengan leluasa. Sifat kakunya telah menghilang begitu saja seolah saat ini ia sedang berbicara dengan seorang teman, bukan dengan seorang buronan dan bahkan Eyerish Api yang disebut-sebut berbahaya. "Maya telah melalui banyak kesulitan, hal itulah yang membuatnya sangat peduli dengan orang-orang di sekitarnya." Rom mengangguk mengerti. El memang beruntung mendapatkan kedua orang tua yang sangat baik seperti Nevin dan Maya. "Apakah anda tidak takut pada saya?" Rom bertanya lagi. "Maksud saya, anda tidak melaporkan keberadaan saya pada pihak berwajib." Nevin tiba-tiba tertawa renyah. "Ya... Ya... Pada awalnya aku keberatan dengan membiarkanmu tinggal di sini, tapi aku menghormati tamu yang dibawa oleh El." Rom terdiam sesaat, ia menolehkan wajah pada Nevin yang sedang mengaduk kuah kaldu di panci di atas kompor. "Green mengabari aku tentang El yang pergi bersama kalian, pada saat itu aku mengira El sedang dalam bahaya. Aku bahkan berpikir tidak akan lagi melihat El. Sementara Maya bertambah parah, satu-satunya yang ia harapkan adalah El. Dan melihat El kembali dalam keadaan sehat, aku merasa sangat bahagia. Meski aku tidak mengetahui detail apa yang telah terjadi, tapi aku yakin kalian bukan kelompok berbahaya seperti yang diberitakan. Apalagi kau sangat mahir memasak dan melihat sopan santunmu, aku yakin kau dibesarkan dengan sangat baik oleh orang tuamu." Rom tidak menanggapi apa-apa. "Dia tidak punya orang tua, Pa," El tiba-tiba memasuki dapur. "Dia sama sepertiku, anak angkat." Nada suaranya terdengar sinis. Ia menarik kursi di meja makan lalu duduk. Nevin hanya terkekeh kecil. "Bagiku kau adalah anak semata wayangku, El." El hanya memutar bola matanya, ia lalu mengunyah buah apel yang ia ambil dari mangkuk buah di atas meja makan. "Aku ingin menghubungi Green," kata El. "Bisa pinjam ponselmu? Ponselku sudah lenyap entah kemana." Rom menolehkan wajah pada El, namun El sama sekali tidak memandang ke arahnya. Apakah El akan memberitahukan keputusannya kepada Green tanpa mendiskusikan hal ini terlebih dahulu? Rom menundukkan kepalanya. Ia teringat dengan keadaan Emily. Ia sangat yakin Emily saat ini sudah berada di Vinctum. "Ya...ya... Pakai saja." Jawab Nevin. "Apakah Pa tahu banyak soal Eyerish?" Tanya El tiba-tiba. "Hmm, aku tidak begitu mencari tahu." "Pa, saat ini kau berdiri bersama Eyerish Api nomor satu." Nevin berbalik memandang El lalu berpindah pada Rom yang berdiri membeku di tempatnya. Nevin mendadak tertawa. "El, jangan membuat suasana menjadi canggung. Memangnya kenapa jika aku berdiri di sebelah Eyerish Api? Lihat, dia terlihat seperti pemuda baik-baik!" El mendengus. "Aku hanya ingin bilang jika Pa tidak usah repot-repot menyalakan api. Rom bisa melakukannya." "Jangan bercanda, El." Peringat Nevin. Ia merasakan aura permusuhan dari El pada Rom. Padahal hari kemarin keduanya masih tampak akrab. El kembali mendengus jengkel. Ia segera berdiri lalu beranjak pergi meninggalkan dapur. *** Setelah sarapan, Goshenite bagian Timur diterpa hujan badai. El memandangi jendela yang dilelehi air hujan dengan wajah tanpa ekspresi yang jelas. Gara-gara hujan badai, Green tidak akan bisa datang hari ini. "Apa keputusanmu?" Tanya Meysha yang duduk di sofa. Rom dan Ben juga sudah duduk di sofa ruang tengah. Hujan badai membuat mereka berkumpul di ruang tengah bahkan tanpa ada yang memberikan komando. "Bagaimana Sasha?" Tanya Ben pada Meysha. "Oh, panasnya sudah turun." Jawab Meysha. "Kurasa dia akan semakin membaik setelah sarapan tadi." Ben mengangguk mengerti. "Jadi kau tidak akan memberitahu kami soal keputusanmu?" Tanya Meysha, membuat El terbangun dari lamunannya. "Kau seharusnya memberitahu kami," ujar Ben menuntut. "Dengan begitu kami bisa bersiap-siap." "Kau tidak memilih kubu Pemerintah Manusia kan?" Tanya Meysha, sudah pasti dia sangat tidak menyukai kubu manusia. "Tapi kelompok manusia memiliki banyak persenjataan," ujar Ben. "Kau pikir itu bagus? Persenjataan hanya akan membuat keadaan semakin berantakan. Kaz tidak ingin ada perang dan korban." Kata Meysha. "Tapi yang akan kita lawan adalah kubu Eyerish," kata Ben heran. "Mereka terdiri dari berbagai macam pengendali. Bagaimana kita bisa menghentikan mereka jika tanpa persenjataan?" Tanyanya sambil memandang wajah El, Meysha dan Rom satu-satu. "Apakah kalian mau melakukan jalur perdamaian dengan diplomatis? Memangnya Vinctum masih mau mendengarkan kata-kata kita?" "Kita akan memasuki ketiga kubu," El tiba-tiba membuka suara, dan hal itu membuat mereka semua terdiam. "Kita akan berpencar menjadi tiga bagian dan memasuki masing-masing dari ketiganya." "Kau yakin? Bagaimana bisa?" Meysha terlihat meragukan. "Tentu saja bisa. Akan ada kelompok yang kembali ke Vinctum." Rom terlihat bereaksi mendengar ucapan El. "Juga ada yang memasuki kubu Eye Tracker dan juga memasuki Pemerintahan manusia." "Wah, keputusan yang mengejutkan," komentar Ben. "Apakah kita bisa melakukannya? Menyelinap ke dalam Vinctum kembali sementara ada Eyerish Pengendali Pikiran di dalam sana. Lalu Eye Tracker sangat menginginkan Rom, Eyerish Api. Begitu pula pemerintah sangat menginginkan Eyerish Api." "Aku akan menjelaskannya sekarang kepada kalian," ujar El. "Aku juga sudah memberitahukan hal ini kepada Green melalui telepon. Green adalah partner kerjaku, dia bisa menilai rencanaku apakah akan efektif atau tidak, dan dia menyetujuinya. Besok kita akan bergerak." "El, itu kedengaran tergesa-gesa." Komentar Meysha. "Kita memilih jalur diplomatis pada setiap kubu, karena itu kita perlu bergerak cepat." "Oke, lalu siapa yang akan pergi ke Vinctum, dan kubu lainnya?" "Aku sudah memutuskannya." Ruangan menjadi hening seolah menunggu El melanjutkan kata-katanya. "Kelompok yang akan pergi ke Vinctum adalah... Rom dan Ben." Kata El. "Mey, kau dan Sasha akan kukirim ke kelompok Eye Tracker. Sementara aku dan Green akan mengurus kubu manusia." __*__
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN