Chapter 46. Pecahan Memori
Sasha terbangun karena merasa tergelitik oleh sinar bulan yang merembes masuk. Ia bangkit duduk, mengamati bulan dari balik jendela. Ia menoleh ke sebelahnya, memandang Meysha yang tertidur lelap. Sinar lembut bulan menyinari wajah wanita itu.
Sasha tersenyum, mengagumi sesaat wajah Meysha, wanita yang pernah menjadi Perawat di Vinctum selama beberapa bulan. Ia menyukai Meysha. Ia bukan seseorang yang mudah bergaul dengan orang lain dan Meysha benar-benar berhasil dalam mendekatkan diri kepadanya.
Ia turun dari ranjang, kemudian berjalan keluar dari kamar. Seluruh lampu di dalam rumah telah dimatikan, namun sinar bulan yang masuk membantu penerangannya. Ia menuruni tangga, lalu berhenti sebentar ketika melihat seseorang yang masih duduk di ruang tengah.
Sasha memiringkan kepalanya. Ia tidak mengerti mengapa El tidak tidur di dalam kamar. Pria itu terlihat duduk tegak dengan tangan terlipat di d**a, namun matanya terpejam. Tertidur dengan posisi duduk, lucu sekali.
Sasha berjalan pelan ke dapur untuk mengambil minum. Kemudian ia melangkah untuk kembali ke dalam kamar.
"Sasha,"
Sasha baru saja melangkahkan sebelah kakinya di anak tangga, kepalanya langsung berputar ke arah sumber suara, yaitu dari ruang tengah.
Mata biru El tampak bercahaya di dalam kegelapan suara.
Sasha mengalihkan tujuannya, ia melangkah memasuki ruang tengah, El tampak mengawasinya lekat-lekat.
"Kau tidak tidur?" Tanya Sasha.
El menghela nafas. "Aku tidak bisa tidur."
"Kau memikirkan pilihan yang akan kau ambil?"
"Ya."
Sasha segera duduk di sofa di sebelah El. Ia mengamati El lekat-lekat, memahami kesulitan yang sedang dialami oleh El.
"Apakah kau sudah menentukannya?"
"Belum."
Sasha mengangguk mengerti.
"Kalau menurutmu bagaimana?"
Pertanyaan itu sulit bagi Sasha.
"Maaf, aku tidak tahu."
El tertawa kecil. "Tidak apa-apa. Tentu kalian tidak akan percaya keduanya. Kalian tidak pernah berada di Beryl. Kalian hidup dalam persembunyian selama ini."
Sasha hanya menganggukkan kepala.
"Sasha," panggil El lagi. "Seberapa jauh kemampuanmu?"
Sasha mengerutkan dahi.
"Ben memberitahuku mengenai kemampuanmu. Apakah kau bisa melihat memori seseorang?"
"Memori?"
"Ya."
Sasha mengerjap kebingungan.
"Ibuku... Aku ingin tahu sesuatu darinya."
***
Sasha mengikuti El memasuki sebuah kamar. Ruangan itu hangat dan berbau aroma terapi yang nyaman. Seorang wanita dengan rambut yang sudah beruban tampak tertidur lelap.
"Ibumu?" Tanya Sasha.
El mengangguk. "Ibuku tidak lagi sehat. Dia terserang alzheimer, dan juga sulit berbicara."
"Apa yang kau inginkan darinya?"
"Aku ingin melihat memori masa lalunya." Jawab El. "Aku tidak mengerti tujuan para perawat yang membawa kami kabur dari Vinctum. Dan ibuku adalah satu-satunya perawat yang masih hidup. Aku...hanya ingin tahu."
Sasha mengamati El yang membelai lembut rambut Ibu angkatnya.
El menoleh pada Sasha. "Tapi aku tidak yakin kau bisa melakukannya."
"Kenapa?"
"Ibuku mengalami penurunan daya ingat. Memorinya terganggu dan kemungkinan telah rusak."
Sasha terdiam sesaat. "Aku akan mencoba melihat-lihat," ujarnya. "Kau bisa ikut denganku."
"Ap... Apa?" Berikutnya segala sesuatu menggelap dalam pandangan El.
***
El terbangun di dalam ruangan gelap tak berujung. Ia segera bangkit berdiri, menoleh ke sekitarnya dengan kebingungan.
"Kau akan terbiasa nantinya."
El terkejut, ia segera berbalik dan Sasha sudah berada di belakangnya.
"Ini dimana?" Tanya El. Ia memandang ke bawah dan merasa ngeri karena ia menginjak permukaan seperti kaca. Ia seperti berada di dalam jurang yang gelap gulita.
"Di dalam pikiran ibumu," jawab Sasha.
"Bagaimana aku bisa ke sini?"
"Karena aku mengajakmu."
"Me... Mengajak?
"Kau berpikir jika aku membawa rohmu masuk ke dalam pikiran ibumu?" Sasha berdecak geli. "Ben bilang begitu, dia tidak terlalu paham soalnya."
Ben yang super jenius saja tidak paham, lalu bagaimana dengan El?
"Aku membawa alam bawah sadarmu berjelajah," jelas Sasha. "Kita memasuki alam bawah sadar ibumu."
Tapi tetap saja, bagaimana Sasha melakukannya?
El menarik nafas. Baiklah. Ia sendiri saja tidak memahami bagaimana molekul air dapat ia kendalikan, seperti psikokinesis, tapi bukan. Molekul air bagaikan sekelompok prajurit yang mematuhi perintahnya. Dan ia hanya membayangkan saja, lalu molekul air itu mampu membentuk apa pun yang ia mau.
Sasha pastinya begitu. Baginya alam bawah sadar adalah ruangan yang dapat ia masuki sesuka hati.
Sasha berjalan, El segera mengikutinya sambil memandang ke sekitar. Apa benar mereka berada di dalam alam bawah sadar Ibunya? Kenapa segalanya terlihat gelap?
Lalu ada secercah cahaya. Mereka berdua berhenti di depan sebuah layar yang sangat besar namun membentuk retakan, setiap retakan menampilkan gambar warna-warni.
El menyipitkan mata, menyadari jika gambar warna-warni itu seperti foto ibu bersama dirinya juga dengan ayahnya.
Sasha menyentuh salah satu retakan layar, bagaikan video yang sedang diputar, terlihat rekaman kenangan ibunya ketika El masih kecil. Mungkin pada saat ulang tahun pertama El di usia satu tahun.
El terperangah menonton rekaman itu. Ia tidak menyangka akan menonton rekaman kenangan ibunya seperti ini. Namun rekaman itu mendadak berhenti dengan menampilkan gambar rusak.
"Apa yang terjadi?" Tanya El segera. Ia merasa terkejut sekaligus kecewa karena masih ingin menonton rekaman itu sampai selesai.
"Hmm," Sasha memandang setiap layar. "Biasanya aku melihat satu layar utuh." Jelasnya. "Aku hanya tinggal menyetel bagian ingatan yang kumau. Tapi untuk ibumu, layarnya pecah, dan setiap layar menampilkan kenangan yang putus-putus. Ini pasti karena penyakit yang diderita oleh ibumu."
El menyentuh layar di depannya, terasa dingin. Ia menghela nafas.
"Kita harus mencari kenangan yang ingin kau lihat." Ujar Sasha. "Tapi dengan retakan layar sebanyak ini, aku tidak yakin kita bisa menemukannya dengan cepat."
Sasha menolehkan wajah dan memandang El yang kini terdiam dengan kepala tertunduk.
"Kau masih ingin melihat ingatan masa lalu ibumu kan?"
El menggelengkan kepala. "Entahlah, Sasha." Ia mengangkat wajahnya, memandang setiap retakan layar dengan sorot sedih. "Ibuku sudah begitu menderita. "Dan aku tidak tahu sama sekali. Aku benar-benar anak tidak tahu diri."
Sasha mengerjapkan mata. "Tapi sekarang kau tahu kan?"
"Maaf, tapi kau tidak berada di posisiku, Sasha. Aku punya orang tua, tapi aku tidak membahagiakan mereka. Aku bahkan merepotkan mereka dengan tingkah lakuku yang manja dengan selalu membuat masalah. Jika Kaz benar, para perawat menyelamatkan kami dari Vinctum agar kami dapat kembali untuk mendamaikan setiap pihak, maka aku benar-benar sudah gagal. Aku sama sekali tidak tahu-menahu dan memilih kehidupan manusia yang pengecut."
Sasha memiringkan kepalanya. Ia sedikit tidak memahami kemarahan El.
"Aku rasa kau belum gagal." Ujar Sasha dengan polosnya.
Seketika El tersenyum. Ia lupa jika saat ini ia sedang berkomunikasi dengan Sasha. Kepolosan Sasha... Entah mengapa, seperti menyelamatkannya.
Ya, mungkin Sasha benar. Dia belum gagal.
Sasha mengetuk setiap layar, lalu menggesernya untuk memindahkan ke layar berikutnya. "Aku akan mencarikan memori itu untukmu."
"Sasha..." El merasa hal ini akan membuang-buang waktu.
Tapi Sasha terus menggerakkan tangannya, menggeser tiap pecahan layar. El menghela nafas, sebenarnya ia merasa keberatan melakukan hal ini karena tidak ingin melihat kenangan-kenangan ibunya yang berantakan. Hal itu menyakitkan. Namun ia mengikuti Sasha mengecek setiap pecahan layar memori.
El tidak tahu ada seberapa banyak pecahan, mungkin ratusan. Atau bahkan mendekati ribuan. Otak manusia memang kompleks karena dapat menyimpan memori dengan kapasitas yang luar biasa.
El merasa mereka telah menghabiskan banyak waktu, dan ia merasa lelah melihat setiap kenangan yang terasa menyedihkan untuk diingat kembali.
"El," panggil Sasha.
El segera mendekati Sasha. Sasha mendekatkan beberapa pecahan yang berwarna hitam, ada tiga pecahan.
"Apakah ini...?"
"Mungkin," jawab Sasha. "Kau mau melihatnya? Sayangnya memori di bagian ini sudah banyak yang hilang karena pecah dan rapuh. Aku rasa memorinya tidak akan lengkap." Ia menolehkan wajah pada El. "Kau siap?"
El segera menganggukkan kepala.
Sasha kembali berpaling pada pecahan pertama yang tak lebih sebesar wajah manusia. Sasha mengetuk permukaannya, dan rekaman ingatan terputar.
***
Rekaman ingatan berasal dari arah pandang Maya, Ibu El. Ruangan serba putih, sudah pasti Maya berada di Vinctum, dan Maya berjalan dengan memandang ke lantai. Tampak setiap petunjuk jalan tertempel di sudut dan sisi lantai.
Maya membawa mereka memasuki sebuah ruangan, suara tangisan bayi terdengar.
"Halo..." Suara Maya terdengar, ia mendekati salah satu ranjang bayi. "Halo, sayang..." Ia menyapa pada bayi yang tampak berbaring tenang di dalam ranjang kotaknya. Tidak ada tanda pengenal di dalam ranjang kotak itu, selain papan di kepala ranjang yang bertuliskan : Eyerish Air No. 3.
El merasa terkesiap. Apakah bayi yang ada di dalam ranjang itu adalah dirinya?
"Hai juga, manis," Maya beralih pada bayi yang menangis di sebelah ranjang bayi Eyerish Air No. 3. Tulisan di kelapa ranjang bayi kedua adalah Eyerish Api No. 1. Sudah pasti Rom.
"Ayo, kita jalan-jalan..."
Lalu rekaman ingatan itu berubah buram.
Sasha menghela nafas. "Rekamannya hanya sampai di situ," kata-kata Sasha membuat El merasa kecewa. Ia ingin melihat lebih banyak apa saja yang dilihat Maya ketika itu. "Kita pindah ke pecahan berikutnya."
Sasha mengetuk layar pecahan. Rekaman terputar dengan suara bising ledakan dan pecahan, juga sudut pandang dari seseorang yang sedang berlari menerobos malam. Suara tangisan bayi terdengar sangat dekat, dan ketika Maya menunduk, ada bayi dalam gendongannya. El mengenali bayi itu karena ia baru saja melihatnya dari layar sebelumnya. Dirinya sendiri yang saat itu masih bayi.
Maya terus berlari menerobos hutan, suara ledakan semakin terdengar samar dari belakangnya. Si bayi masih terus menangis, Maya berusaha menenangkan bayi itu, dan ia sudah tidak lagi berlari ketika sampai di dermaga.
Ada beberapa orang di sana, juga menggendong bayi.
"Maya," panggil seorang pria. "Kau tidak apa-apa?"
Maya mengangguk, suara nafasnya masih terdengar cepat. "Mereka akan segera mengetahui kita."
"Beberapa sudah berlayar. Ayo, turunlah ke perahu."
Maya menaiki salah satu perahu yang tertambat. Lalu ia menengadah pada pria yang berdiri di dermaga.
"Sampai jumpa, kalian bertiga." Ucap pria itu. "Berpencarlah, kudoakan kalian bertiga selamat, dan rawatlah ketiga Eyerish ini untuk masa depan kita yang lebih baik. Eyerish Air, Eyerish Api, dan juga Eyerish Pengendali Pikiran. Sampai jumpa."
Rekaman ingatan berubah buram.
El mengerjapkan mata, bagian rekaman ingatan ini begitu penting. Seperti informasi yang diberikan oleh Kaz, ada tiga perawat yang membawa tiga bayi Eyerish. Tapi Bayi Eyerish Pengendali Pikiran... Mereka belum bertemu dengan yang satu ini. Jangan-jangan perawat yang membawa Bayi Eyerish Pengendali Pikiran tidak berhasil selamat.
"Aku rasa cukup," kata El, suaranya terdengar serak seolah ia tidak siap untuk mengeluarkan kata-kata.
Sasha mengangguk. "Tapi ada satu lagi," tunjuknya. "Kau tidak mau melihatnya?"
El tidak yakin ia perlu menonton satu rekaman lagi. Ia menghela nafas, memutuskan untuk melihat kembali. Ia sendiri yang menyentuh layar pecahan memori, dan rekaman terputar.
Cahaya tampak terang, dan bayi bermata biru laut dan berambut pirang dari sudut pandang si pemilik memori, terlihat sedang belajar untuk berjalan.
"Oh, Ellie, kau pintar sekali!" Suara Maya terdengar bahagia, segera mengangkat si bayi yang kini tertawa girang.
"Ellie," bisik Maya. "Mari hidup bahagia seperti ini saja." Ia mengelus rambut si bayi. "Lupakan semua masa lalu kelam. Hiduplah bahagia."
Kenangan berubah buram. El terdiam, nyaris lupa berkedip beberapa saat memandang layar gelap dari pecahan.
Pada akhirnya Ma ingin dia hidup bahagia. Tapi sayangnya ia tidak dapat melakukannya. Dari awal hal ini sudah menjadi tanggung jawabnya.
__*__