Chapter 45. Kata-Kata Heroik

1966 Kata
Chapter 45. Kata-Kata Heroik Ben mengetuk pintu dan Sasha yang berada di dalam kamar menolehkan wajah. Ben berdiri mengintip di balik pintu yang terbuka, melambai ragu-ragu. Sasha segera menurunkan buku yang sedang ia baca. "Boleh aku masuk?" Tanya Ben. Sasha menganggukkan kepala. Ben melangkah memasuki kamar, lalu menggeser kursi ke dekat ranjang. Sasha diam saja sambil mengawasi Ben. "Hai, bagaimana keadaanmu?" tanya Ben, berbasa-basi. "Cukup baik," jawab Sasha. "Apa yang mereka bicarakan di bawah sana?" Ben mengedikkan bahunya. "Pembicaraan orang dewasa yang membosankan." Barulah Sasha tersenyum. "Membosankan?" Ben balas tersenyum, ia berhasil mencairkan suasana. "Buku apa yang sedang kau baca?" Sasha menunjukkan sampul buku di tangannya. "Buku milik Emily. Tentang desain." "Kau tertarik dengan desain?" Sasha menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu. Aku hanya ingin melihat-lihat isinya." "Sudah berapa lama kau bisa melihat dengan matamu?" Sasha terdiam sejenak. "Mungkin tiga bulan?" "Kau sudah membaca dengan baik?" Sasha mengangguk. "Terima kasih sudah membantuku." Ben tersenyum kecil. "Bukan masalah." Lalu mereka berdua sama-sama terdiam dengan canggung. Ben memilin-milin jemarinya sementara Sasha kembali membaca buku di tangannya. "Sudah jalan-jalan di sekitar rumah?" Sasha menolehkan wajah. "Bolehkan kita melakukannya?" "Memangnya ada yang melarang?" Ben bisa melihat bola mata Sasha berbinar cerah ketika mendengar ajakannya. "Yuk, keluar sebentar." *** Di belakang rumah keluarga Shan, mungkin sekitar 1 km adalah pantai. Sasha mengikuti Ben menyusuri jalan menuju pantai. "Apa tidak apa-apa kita berjalan keluar?" Tanya Sasha sambil sesekali melirik ke belakang. Mereka semakin menjauhi rumah keluarga Shan. "Kulihat kau kebosanan," kata Ben, tersenyum kecil. "Lagi pula para orang dewasa tidak akan selesai berdiskusi." "Apa yang mereka diskusikan?" Sasha menyeka poninya yang tertiup angin. Ben mengangkat bahu. "Kelompok manusia atau kelompok Eye Tracker?" Tanyanya. "Hah?" "Untuk membangun kekuatan, kita harus memilih salah satunya." "Oh..." "Jadi kau akan memilih yang mana?" Sasha mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu." "Menurutmu Vinctum akan kembali menyerang kita?" "Hmm, entahlah." "Sudah berapa lama kau bisa mengendalikan pikiran?" Sasha menolehkan wajah pada Ben, agak terkejut mendengar topik pertanyaan Ben yang berubah-ubah. "Maaf, aku hanya ingin tahu." Kata Ben buru-buru melihat sorot keberatan dari pasang mata Sasha. Sasha terdiam sesaat. "Aku tidak tahu berapa lama." Ujarnya kemudian. "Tapi aku tahu jika aku bisa melakukannya." "Apakah kau pernah membaca pikiranku?" Tanya Ben kemudian, ragu-ragu namun juga terlihat khawatir. "Maksudku... seperti di film yang pernah kutonton, orang yang memiliki kemampuan membaca pikiran bisa tanpa sengaja membaca pikiran orang-orang ketika bersentuhan." Sasha tertawa kecil ketika mendengarnya. "Apakah kau bisa melakukannya dengan menyentuh orang atau bagaimana?" "Aku tidak perlu menyentuh siapa-siapa." "Ap... Apa?" "Aku bisa berjelajah kemana saja, sesuai keinginanku, dan dengan batas yang kupunya." "Ber...jelajah?" "Ya, aku dan Ares menyebutnya begitu." "Ares? Jadi kau mengenal Ares?" Sasha mengangguk. "Apakah dia saudaramu?" Sasha tidak menjawab. "Kau bisa memberitahuku," Ben seolah memahami ekspresi cemas di wajah Sasha. "Rom merasa jika Ares dimanfaatkan selama ini. Begini, jika kau bisa menjelaskan siapa Ares kepada kami, mungkin kita bisa meluruskan masalah ini. Tidak ada yang mau melukai Ares." Sasha menghela nafas. Mereka berdua telah sampai pada pagar pembatas jalan raya beraspal dengan area tepi pantai. Ben membantu Sasha memanjat pagar pembatas. Kemudian mereka berjalan di atas pasir putih, menentang angin kencang sore hari yang berhembus dari arah pantai. "Ayo duduk di sana," ajak Ben, menunjuk pada sebuah pohon kepala di pinggir pantai. Mereka berdua berjalan ke sana lalu mendudukkan diri di bawah pohon yang teduh. Pantai tampak lepas di depan mereka. Seketika Ben teringat dengan Jasper yang dilalap api. Mengerikan. Ia berharap orang-orang di sana baik-baik saja. Beberapa waktu yang lalu Avi sudah meneleponnya, lalu melaporkan jika semua Manusia masih berada di Jasper. Sementara semua Eyerish penduduk Jasper, serta Rudy dan Koina diangkut menaiki kapal Vinctum. "Lalu bagaimana kau melakukannya?" Tanya Ben, ia belum putus asa untuk mengorek informasi dari Sasha. "Apakah kau pernah membaca pikiranku?" ia mengulang pertanyaannya, terlalu penasaran dengan kemampuan Sasha yang misterius. Sasha menggelengkan kepala. "Aku tidak suka membaca pikiran orang-orang. Terlalu ramai." Ben memiringkan kepalanya, tampak bingung. "Biasanya... Dulu... Ketika aku belum dapat melihat, aku meminjam mata orang-orang." "Meminjam apa?" "Aku bisa meminjam mata orang lain dengan tanpa ia sadari. Jadi, aku bisa melihat banyak hal dari mata orang yang kupilih itu. Dengan begitu aku bisa melihat." "Aku... tidak mengerti." "Hmm.... Hal ini memang sulit," kata Sasha. "Aku dan Ares sering bertukar tubuh." Lanjutnya. "Aku sering mengendalikan tubuh Ares, dan Ares mengendalikan tubuhku. Jadi ketika aku tidak suka makan makanan rumah sakit di Gedung Utama, aku akan minta Ares menggantikanku. Aku tidak sanggup menelannya." "Aku semakin tidak mengerti," kata Ben. "Kedengaran seperti bertukar roh." Sasha malah cekikikan mendengarnya. "Kami tidak bertukar roh," ujarnya. "Jadi daripada membaca pikiran, kami lebih sering mengendalikan pikiran." "Sasha... Bisakah kau lebih ringan dalam menjelaskan hal ini? Aku benar-benar tidak paham." "Apakah kau sadar tanganmu bergerak ke atas?" Ben terkejut, dan benar saja, tangan kirinya sekarang terangkat ke atas, padahal dia tidak sedang mengangkatnya. Ia mencoba menurunkannya, namun tidak bisa. Tangannya bergerak sendiri. "Ba...bagaimana bisa?" Sasha cekikikan. "Aneh ya?" "Ya Tuhan," Ben melihat sendiri tangan kirinya bergerak ke sana-kemari tanpa bisa ia kendalikan. Lalu Sasha melepaskannya. "Aku bisa mengendalikan tubuh orang-orang, bahkan tanpa ia sadari. Sementara Ares lebih suka menidurkan pikiran orang yang ia kendalikan, jadi ia bebas menggunakan seluruh tubuh orang tersebut untuk melakukan apa pun. Itulah mengapa orang yang ia kendalikan tidak dapat mengingat apa yang terjadi pada dirinya ketika sedang dikendalikan." "Seperti yang ia lakukan pada Rom?" Seketika wajah Sasha berubah muram. "Kau sudah tahu jika Ares yang membuat Rom membakar Panti Asuhan?" Sasha menundukkan wajahnya. Ia memandang kedua telapak tangannya. "Ya." "Dan kau tidak memberitahunya?" "Aku mencoba melindunginya dari Vinctum." Kata Sasha. "Karena itu aku segera kabur dari Meysha, lalu mencari Rom. Tapi aku tidak bisa melindunginya. Aku terlalu lemah." Ben menghela nafas mendengar pengakuan itu. Misteri kenapa Sasha bisa bersama Rom ketika Rom sedang menjadi buronan telah terpecahkan. Pastinya Sasha merasa bersalah namun gadis kecil itu tidak memiliki kemampuan untuk melindungi Rom. "Maafkan aku." "Rom tidak menyimpan dendam pada Ares, tenang saja." Sasha mengangkat wajahnya, membelalakan mata cokelatnya pada Ben. "Rom yakin Skylar yang mengontrol Ares." Sasha terdiam sebentar. "Skylar... Aku tidak bisa membaca pikirannya. Dia adalah orang yang tidak bisa kami kendalikan," ujarnya kemudian. "Apa?" "Aku dan Ares pernah mencoba membaca pikiran Skylar, tapi tidak bisa." "Kau tahu kekuatan utama pria itu?" Sasha menggelengkan kepala. "Dia orang aneh yang menakutkan." "Hmm," Ben tidak tahu harus berkomentar bagaimana. Ia belum pernah melihat Skylar yang dimaksud. Jika Sasha dan Ares saja tidak dapat mengendalikan Skylar, bukankah itu artinya Skylar adalah orang yang sangat berbahaya? "Lalu... Siapa Ares itu?" Sasha memiringkan kepalanya, berpikir kembali. "Mereka bilang dia adalah saudara kembarku." Ben membelalakkan mata. Saudara kembar? "Pada awalnya aku tidak percaya, kami berdua sama sekali tidak mirip. Tapi ketika aku sudah dapat melihat, warna rambut dan mataku berwarna seperti dirinya. Lalu..." "Lalu apa?" "Ketika aku sudah dapat melihat, anehnya dia malah tidak dapat melihat. Warna mata dan rambutnya berubah seperti yang pernah kumiliki pada saat buta." "Kau tahu kenapa dia tiba-tiba menjadi buta?" "Aku menanyakan hal itu pada Ares, tapi Ares membatasi pikirannya. Dia tidak ingin berbicara denganku lagi." "Kau tahu apa yang mereka inginkan darimu, Sasha?" Sasha mengerjapkan mata, tampak bingung. "Kau tahu kenapa mereka menyekapmu?" "Menyekap?" Ulang Sasha, semakin bingung. "Ya, El dan Meysha menemukanmu sedang dalam keadaan koma. Lalu banyak selang dan peralatan yang mendeteksi tubuhmu. Apa kau tahu kenapa mereka melakukan hal itu?" "Mereka bilang... aku sedang sakit." "Kau yakin? Siapa yang memberitahumu begitu?" Sasha terdiam. Ia tampak ragu. Apakah dia benar-benar sedang sakit? Ia merasa baik-baik saja. Bahkan setelah matanya pulih, ia merasa benar-benar sangat sehat. "Dr. Haskel." "Siapa Dr. Haskel itu?" "Dokter di Gedung Utama, dia memberitahuku jika aku sedang sakit. Dan..." "Dan?" "Skylar memberitahuku jika aku harus patuh dalam penyembuhan bersama Dr. Haskel, dengan begitu aku bisa bertemu dengan Rom lagi." *** Di ruang tengah hanya terlihat El dan Rom yang duduk saling berhadapan di sofa. Green telah pamit pulang beberapa waktu yang lalu karena memiliki urusan lain. Perbincangan mereka tadi telah selesai meski masih meninggalkan satu pertanyaan penting. El belum dapat memberikan keputusan apa pun. Dia tidak ingin gegabah, dan Green memakluminya. Ia meminta diberikan waktu untuk berpikir, Green tampak terpaksa memberikannya waktu satu hari untuk El berpikir. Pria tua itu akan kembali dan menagih jawaban, lalu akan membawakan mereka pada kubu yang dipilih. Secepat itu kah? Tentu saja. Mereka tidak tahu seberapa cepat persiapan Vinctum untuk menyerang Beryl. Dan jika Pemerintahan Manusia di Beryl mengetahui hal ini, tentu mereka akan mulai membangun kekuatan. Dan El tidak ingin kelompok manusia mengeluarkan persenjataan. Ia tahu jika perang ini terjadi maka akan ada banyak korban berjatuhan. "Aku tidak ingin menyerahkan diri kepada siapa pun," suara Rom yang berat memecahkan keheningan di ruang tengah. El menarik nafas. "Itu satu-satunya cara..." "Emily tidak ada di Jasper, El." Sela Rom segera. "Apa yang terjadi padanya?" El mengusap wajahnya. Ya, Avi telah menelepon Ben untuk menyampaikan situasi di Jasper. Dan Emily tidak berada di Jasper, bahkan ada saksi yang melihat jika Emily juga dibawa masuk ke kapal Vinctum. Tentu saja El merasa sangat khawatir. Apalagi dengan Skylar... Skylar teman masa kecilnya yang ternyata masih hidup, dan kini telah menjadi Pemimpin kelompok Eyerish yang berniat berperang. "Kau mengenal Skylar?" Tanya Rom. "Dia menyebut-nyebut Emily malam itu. Apa hubungan kalian bertiga?" El merasa risih dengan pertanyaan ini. Ia tidak ingin menjawabnya, namun Rom memandangnya lekat-lekat, menunggu jawaban. Sepertinya ia tidak akan dibiarkan pergi hingga pria itu mendapatkan jawaban yang diinginkan. "Skylar... kami satu sekolah saat di sekolah dasar," Rom memulai. Ia ragu untuk melanjutkan. Jika ia melanjutkan, maka ia juga akan menguak aib Emily. "Hanya itu." "Tidak, aku ingat jika dia menyebut Emily dengan kata-kata yang tidak pantas. Apakah dia tidak menyukai Emily?" Lebih dari pada itu, pikir El. "El..." "Itu terjadi karena kami masih sangat kecil," El menghela nafas, pada akhirnya ia harus membicarakan hal ini lagi. "Emily memiliki temperamen pemarah karena dia berasal dari keluarga yang berantakan. Orangtuanya sering bertengkar." El mengamati perubahan ekspresi Rom sesaat. Rom terdiam, tentu saja pria itu akan terkejut mendengar pernyataan ini. Emily yang anggun dan penuh perhatian itu dulu pernah menjadi seorang anak perempuan pemarah, siapa yang bisa percaya? "Perundungan di masa kecil selalu bisa terjadi dan Emily... Dia... Skylar selalu kesulitan karena Emily..." Rom masih tidak dapat berkata-kata. "Ketika kami sedang kemah musim panas, Skylar tiba-tiba menghilang dan kemungkinan terjatuh ke danau. Emily adalah orang terakhir yang pergi bersama dengannya karena mereka satu kelompok. Tapi... Beberapa hari yang lalu Emily mengaku kepadaku tentang apa yang terjadi pada hari itu." El menarik nafas sebentar. "Dia mengaku telah mendorong Skylar ke danau, karena ketakutan pada Skylar yang adalah Eyerish." Rom terhenyak. "A... Apa?" "Mungkin karena masa lalu itu... Emily tetap berada di Jasper untuk membantu Eyerish. Dia berkata, jika dia akan menyelamatkan 1000 Eyerish untuk dosanya karena telah membunuh satu Eyerish." "Tidak mungkin..." "Tapi Emily sudah berubah, Rom. Dia tidak lagi seperti dulu..." "Ya, tapi..." Kata Rom. "Mungkin Skylar telah menangkap Emily." Itu juga yang diduga oleh El. Dia ingin kembali ke Vinctum, menyelamatkan Emily dari Skylar yang tentu masih membenci Emily karena peristiwa masa lalu itu. "El, aku ingin ke Vinctum." "Eh?" "Aku ingin menyelamatkan Emily. Izinkan aku untuk pergi." Rom berkata dengan sorot serius, bahkan iris matanya sempat berkilauan seperti ada nyala api yang membara di sana. Kata-kata itu seharusnya diucapkan oleh El. Namun Rom telah mendahuluinya. Yang benar saja. Sepertinya menerima Rom untuk tinggal di Rumah Emily ketika itu adalah pilihan yang salah. Harusnya ia memahami situasi yang merubah semua hal ini. Emily yang sebelumnya tampak ngotot kepadanya untuk membantu Rom, dan sekarang giliran Rom yang telah merebut semua kata-kata heroik yang ingin ia ucapkan demi Emily. Rom dan Emily... Apa yang telah terjadi diantara mereka berdua? __*__
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN