14. Menangis di Tengah Hujan

1047 Kata

Mata kuliah sore akhirnya berakhir, namun Viella saat ini lebih memilih untuk duduk di bangku taman fakultasnya. Merasa enggan untuk pulang ke rumah dan bertemu dengan Arka. Dia belum siap jujur saja. Keinginan untuk menghindari pria itu sangat kuat mengakar dalam dirinya. "Apa pulang ke rumah aja ya, asli pengen kabur rasanya. Baru juga tiga hari, masa udah patah hati aja. Apa kisah percintaanku emang nggak hoki sampai jadi kayak gini?" Viella menghela napas panjang. Merasa bimbang dan sedih dalam dirinya. Gadis itu menengadahkan kepalanya ke atas, mengantisipasi kedua matanya yang kembali berkaca-kaca. Dia harus merutuki dirinya sendiri karena terlalu cengeng dan terlalu mudah terbawa oleh perasaan. Kenapa hatinya terlalu rapuh? Kecewa, sedih dan marah adalah hal yang wajar dia rasaka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN