01 - Seharga Rahim
Bab 1
Julukan "gadis pembawa sial" tidak datang begitu saja pada Kim Hana. Label itu melekat perlahan, menumpuk bersama setiap kemalangan yang terjadi di sekitarnya, hingga orang-orang memilih percaya bahwa kehadirannya adalah sebuah petaka.
Hana sendiri tidak menyalahkan mereka. Jika persentase hidup seseorang lebih banyak diwarnai kesialan dibanding keberuntungan, orang itu juga akan mulai mempercayai label yang diberikan lingkungan sekitar. Orang-orang menjauhinya karena takut ketularan—sebuah reaksi yang sangat wajar di matanya.
Namun, jika boleh jujur, Hana merasa sangat kesepian.
Jauh di lubuk hati, ia terlalu sering menangis. Dadanya kerap kali sesak, bahkan hanya untuk sekadar menarik napas panjang. Hana tidak menyalahkan siapa-siapa.
Ia sadar diri bahwa dirinya memang tak layak mendapatkan keberuntungan seperti orang kebanyakan. Bukannya tak bersyukur, ia selalu berusaha melakukanya. Tapi… rasanya tetap saja berbeda.
Hari itu, tepat di pertengahan bulan Juli, langkah Hana yang hendak berangkat kerja terhenti oleh panggilan seseorang.
"Sudah mau pergi?"
Hana mengangguk pelan. Sosok di hadapannya adalah teman satu-satunya yang sudi bertahan di sisinya. Mengenai pekerjaan, Hana hanyalah seorang buruh di bagian packing sebuah pabrik garmen. Pekerjaan yang sangat pas dengan ijazah Sekolah Menengah Atas miliknya.
Gadis itu menghela napas sebentar, lalu menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang.
"Apa ini?" tanya Hana.
"Buka saja," sahut temannya seraya tersenyum kecil.
Dengan ragu, Hana membukanya perlahan. Matanya membelalak mendapati sebuah ponsel pintar gres di dalamnya.
"Ini..."
"Untukmu. Bukankah kau bilang ponselmu sudah rusak?"
Hana menatap temannya sejenak, lalu perlahan menutup kembali kotak tersebut dan menyodorkannya balik.
"Terima kasih atas perhatianmu. Tapi aku tidak bisa menerima ini. Lagipula ponselku masih menyala dan bisa dipakai."
Gadis itu menunjukkan ponsel lamaknya yang bentuknya sudah mengenaskan.
"Memang menyala, tapi cuma bisa buat terima panggilan! Lihat, layarnya saja sudah retak di mana-mana. Itu sudah tidak layak pakai, Hana," omel temannya gemas.
Hana menggeleng pelan. Yang dikatakan temannya memang benar, tetapi ia tak ingin menyusahkan siapa pun lagi di dunia ini.
"Tidak apa-apa. Lagipula, siapa lagi yang bakal berkirim pesan atau meneleponku selain dirimu?" kata Hana diiringi terkekeh kecil. Meski jauh di dalam batin, rasa perih itu kembali mencubit.
Temannya mendengkus kesal, lalu memaksakan kotak itu masuk ke dalam tas selendang Hana. Sambil bersedekap, ia memberi Hana tatapan mengintimidasi.
"Kalau kau berani mengembalikan ponsel itu, pertemanan kita putus sampai di sini!" ancamnya berpura-pura galak.
Hana tersenyum kecil. Hati yang dingin itu mendadak terasa hangat. Temannya adalah satu-satunya orang yang sudi peduli, satu-satunya yang bertahan meski tahu label "si pembawa sial" menempel erat pada diri Hana.
***
"Kau gila?"
Celetukan singkat itu seketika memadamkan senyum Hana. Ia menunduk, menggeleng pelan menanggapi pertanyaan yang dilemparkan padanya.
"Syukurlah. Akan makin menyedihkan kalau kau sampai kehilangan akal sehat setelah kehilangan keberuntunganmu," cetus temannya seraya mendengkus.
Hari ini, Hana menyempatkan diri mengajak temannya bertemu di sebuah rumah makan sederhana tak jauh dari tempat mereka bekerja. Kepalanya mendongak sewaktu temannya kembali ke meja usai memesan makanan. Hana menatapnya lekat sebelum memberanikan diri menyampaikan apa yang mengganjal di otaknya.
"Aku memang tidak gila. Aku sangat yakin dengan keputusanku," ujar Hana mantap.
Gadis di hadapannya yang tadinya bersemangat mengaduk bibimbap langsung membeku. Sorot matanya menajam. "Bisa kau ulangi?"
Hana terdiam sejenak, menghela napas panjang, lalu menegaskan kembali, "Aku akan melakukannya."
Brak.
Temannya meletakkan sendok cukup keras hingga menimbulkan bunyi benturan nyaring. Beberapa kali ia menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam emosi yang membuncah.
"Kau benar-benar sudah gila. Kau tahu betul konsekuensi dari keputusan ini, kan?"
Hana mengangguk pasrah. Ia paham, sangat paham. Namun ia tak punya jalan keluar lain. Ini satu-satunya cara.
"Aku tahu. Tapi cuma ini cara yang aku punya. Aku tidak bisa membiarkan keluargaku habis dicincang utang rentenir. Anggap saja ini balas budiku karena orang tuaku sudi merawatku sampai sebesar ini," kata Hana mencoba menenangkannya.
"Kau tahu? Kau itu salah satu manusia paling bodoh yang pernah kutemui! Satu-satunya cara? Lalu kau anggap aku ini apa?" bentaknya menahan bisikan. "Aku bisa membantumu! Kita bisa cari solusinya sama-sama, Hana!"
"Bantuanmu tidak akan cukup. Tiga puluh juta won itu bukan uang sedikit," potong Hana pelan.
"Sekeras apa pun kita memeras keringat, mustahil mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Lagipula ini cuma sebentar. Hanya satu tahun. Bukan waktu yang lama."
"Ya, satu tahun! Lalu setelahnya? Kau akan jadi ibu pengganti, kau akan hamil, lalu melahirkan..."
"Lantas? Tidak ada masalah, kan? Sudah jadi kodrat perempuan untuk hamil dan melahirkan."
Ya. Hana telah memutuskan untuk menjadi seorang surrogate mother.
Semua bermula seminggu setelah para penagih utang melabrak rumah keluarganya, mengacak-acak barang, dan mengancam keselamatan orang tuanya. Seseorang tak dikenal mendadak menghubungi Hana dan menawarkan pekerjaan ekstrem ini. Dengan imbalan yang fantastis, Hana merasa itu lebih dari cukup untuk menukar rahimnya sementara.
Hana tidak terlalu mengenal sosok yang mempekerjakannya. Ia hanya pernah melihat wajah pria itu sekali di televisi. Yang ia tahu, pria itu bernama Oh Sean—seorang pria kaya raya dan sangat berpengaruh di negeri ini.
Jujur, Hana tidak peduli siapa pria itu atau apa pekerjaannya. Selama Oh Sean bertindak jujur dan sanggup melunasi utang tersebut, itu sudah lebih dari cukup. Terkesan murahan? Terserah orang mau menilai apa. Hana hanya ingin bebas dari rasa bersalah pada keluarganya. Setidaknya ia berharap, setelah utang ini lunas, perlakuan orang tua dan saudara-saudaranya bisa melunak padanya.
Hari ini jadwal Hana bertemu dengan Tuan Oh untuk membahas kontrak kerja sekaligus penyerahan uang muka. Ia sengaja meminta pembayaran di awal agar utang keluarganya bisa segera dibayar tuntas.
Setelah lima belas menit menunggu di tepi jalan, sebuah mobil Audi hitam berhenti tepat di depan Hana. Kaca mobil diturunkan perlahan. Pria di dalam mengamatinya sejenak sebelum memberi gestur agar Hana segera naik.
Pria itu menyetir sendiri tanpa sopir pribadi. Katanya, urusan ini sifatnya sangat rahasia; hanya Hana, dirinya, dan beberapa anak buah kepercayaannya yang boleh tahu.
Atmosfer di dalam mobil terasa begitu canggung. Keheningan yang menyelimuti mereka berdua terasa sebeku es karena tak ada satu patah kata pun yang terucap sepanjang jalan.
Mereka akhirnya tiba di sebuah mansion mewah yang terletak di pinggiran kota Seoul. Hana mengekor di belakang Tuan Oh tanpa berani mendongak. Tak lama kemudian, seorang pria berperawakan lebih kecil berjalan menghampiri mereka. Senyumnya mengembang lebar hingga matanya menyipit jenaka.
"Hai! Perkenalkan, aku Minseok. Sepupu sekaligus asisten Si Manusia Batu ini," ujarnya seraya menunjuk Tuan Oh.
Hana hanya bisa tersenyum kikuk. Kepribadian keduanya benar-benar bertolak belakang—bagaikan Kutub Utara dan Kutub Selatan.
"Hai, namaku…”
"Hana. Kim Hana. Anak ketiga dari tiga bersaudara, alumni Sekolah Menengah Midam, usia 28 tahun, tinggi 160 cm, dan berat..."
"Hyung, berisik," potong Tuan Oh dingin.
Minseok hanya terkekeh kecil lalu menggandeng tangan Hana menuju ruang tamu. Namun, di tengah langkahnya, satu pertanyaan mendadak mengganjal di pikiran Hana: Bagaimana bisa pria itu tahu seluruh data dirinya secara mendetail?
.
.
.
.
.
.
Catatan kaki:
Bibimbap: Makanan khas Korea berupa nasi putih yang di atasnya diberi berbagai jenis sayuran, daging, telur, dan sambal gochujang, kemudian diaduk rata sebelum dimakan.
Won: Mata uang resmi Negara Korea Selatan (KRW).
Surrogate Mother / Surrogacy: Ibu pengganti; penyewaan rahim di mana seorang wanita mengikat janji/kontrak untuk mengandung dan melahirkan bayi bagi orang lain.
Debt Collector / Depkolektor: Penagih utang (dalam konteks cerita ini merujuk pada lintah daratentenir).
Mansion: Rumah tinggal yang sangat besar, mewah, dan megah.
Hyung: Panggilan dari laki-laki Korea kepada laki-laki lain yang lebih tua (berarti "Kakak laki-laki").