13. Meant To Be Loved 1

2344 Kata
Archie memelukku erat. Aku sebenarnya juga ketakutan, tapi aku nggak bisa sembunyi. Aku harus lihat apa yang mereka lakukan. Mungkin aku bisa jadi saksi atas kejahatan yang dilakukan Drey pada Mom. Saat kukira Drey bakal memukul Mom, ternyata dia menarik pinggang Mom dan memeluknya. Dia mencium Mom tanpa peduli di sekeliling mereka orang berlalu-lalang. Yah, mereka memang sering ciuman di sembarang tempat, sama seperti pasangan bucin lain yang pernah tinggal di rumah kami. Kali ini, Drey dan Mom terlihat saling memakan, bukan hanya berciuman. Itu menjijikkan. “Syukurlah,” komentar Archie lega. “Aku sempat berpikir yang nggak-nggak.” Aku juga, kok. Aku sudah mendengar dan membaca banyak cerita tentang anak yang hancur setelah orangtuanya berpisah. Aku sudah melihat bagaimana Caleb dan Seraphine menghadapi ayah mereka yang jahat. Aku nggak mau itu terjadi pada Archie. Kasihan dia. Kalau aku kan sudah jelas nggak punya orangtua. Aku memang sudah kacau, jadi nggak bisa lebih kacau lagi. Melihat Drey dan Mom baikan, Archie jadi lebih santai. Dia bersandar di kursi sambil mencari snack di laci yang terletak di antara kursi kami. Dia menemukan kacang almon dan pistachio. Anak itu mengeluarkan keduanya dan makan dengan santai. Aku juga jadi merasa semua baik-baik saja. Kunyalakan TV dan kunaikkan kaki sampai ke kepala kursi depan. “Itu nggak sopan,” tegur Archie tegas. “Terus?” Dengan santai, aku mengambil air jeruk kemasan dari laci pendingin. “Mereka bakal lima jam lebih begitu. Kita masih punya banyak waktu untuk nonton dua Infinity War.” Archie menjulurkan kepala untuk melihat orangtuanya lagi. Lalu, dia mengangkat bahu dan memperbaiki duduknya biar lebih nyaman. “Jangan bangunkan kalau aku ketiduran.” “Terserah,” kataku sambil memasang headset biar suara TV-ku nggak mengganggunya. Perpaduan perut kenyang dan film Ant-man bisa membuatku jadi sangat mengantuk. Nggak tahu kapan, aku juga tertidur. Waktu bangun, seperti biasa, aku sudah di kamarku dan memakai selimut. Setelah menggeliat dan meregangkan tubuh, aku berbalik. Aku menjerit. Ryn duduk di tempat tidur, memperhatikanku. Wajahnya datar. Rambutnya berantakan, sebagian besar lepas dari ikatan di belakang kepalanya. Lingkaran hitam di matanya terlihat makin jelas. Selang yang diselotip ke hidungnya bikin dia terlihat seperti hantu pasien rumah sakit. Dia membuka mulut, mungkin napasnya agak sesak dengan selang makanan itu. “Kamu mau apa?” tanyaku hati-hati. “Tolong aku, Claire.” Suaranya seperti kipas angin yang sudah kotor, mendesis dan berat. Air matanya jatuh pelan. “Iya. Aku tolongin kamu,” kataku sambil menggenggam tangannya. “Kamu mau apa?” “Mati,” jawabnya. Air matanya jatuh lebih banyak. “Kalau kamu mati, aku tidur sama siapa?” Dia menunduk. Air matanya bikin selimut jadi basah. Kubelai rambut hitamnya yang panjang. Rambut itu kusut, lembab, dan bau. Anak ini benar-benar butuh mandi. “Kamu mau bangun atau tidur lagi?” tanyaku pelan, agak takut membuatnya menangis lagi. “Kamu jangan teriak lagi, Ryn. Nanti kamu dikasih obat penenang lagi. Kasihan kamu tidur terus.” Dia menatapku. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi matanya merah dan basah. Kupeluk dia seerat yang kubisa. Kata orang-orang di sini, pelukanku bisa bikin tenang. Tapi, Ryn nggak juga tenang. Dia terus menangis sampai tanganku capek mengusap rambutnya yang lengket. Pintu kamarku dibuka pelan. Mungkin suara Ryn terdengar sampai ke luar. Drey dan Mom di depan pintu, memperhatikan kami. Mereka sudah baikan lagi? Ah, Claire! Jangan ganggu mereka. Kutunjukkan tanda lingkaran dengan jempol dan telunjuk biar mereka tahu kami baik-baik saja. Setelah Mom memberikan ciuman jauh, mereka menutup pintu lagi. “Ryn, minum dulu, yuk.” Kudorong tubuhnya biar lepas dari pelukanku. Tapi, dia tetap bersikeras. Dia makin merapatkan pegangannya. Jadi, aku bergeser ke samping tempat tidur dengan dia tetap menempel seperti koala. Dia mirip Rosie waktu kehilangan ayahnya. Rosie menolak lepas dari Sophia, sedang ibunya sendiri sama syoknya dengannya. Rosie terus menangis sambil menciumi kemeja ayahnya sampai kemeja itu bau kol busuk kena air mata dan ingus. Apa mungkin Ryn juga kehilangan seseorang di Jakarta? Mungkin dia melihat seseorang meninggal dan jadi syok. Anak ini periang sekali. Kalau di sini, dia sering menenangkan aku kalau mimpi buruk. Nggak mungkin jadi begini cuma gara-gara hal kecil. Setelah berhasil memaksanya minum air putih, kudorong dia biar kami bisa ke tempat tidur lagi. Dia menangis lagi, tapi kali ini karena kesakitan setelah kudorong. “Jangan tinggalin aku, Claire,” tangisnya waktu berhasil kuselimuti. “Nggak, kok. Aku bakal tetap di sini sama kamu.” Dia diam saja. Mata sipitnya terlihat lebih bengkak lagi. Waktu kutekan remot untuk mematikan lampu, dia menggeram ketakutan dan merapatkan pelukannya. Jadi, kunyalakan lampu tidur yang menembakkan bintang-bintang yang berputar pelan di langit-langit. Kata Mom ini cara menghipnotis diri sendiri biar mudah tidur. Sebenarnya, bintang-bintang ini bikin aku ingat sama Daddy. Mereka bilang Daddy di surga. Katanya surga di “atas”. Mungkin surga itu ada di salah satu bintang itu. Rasanya, aku jadi bisa membayangkan Daddy sedang merokok sambil minum bir di depan TV pada salah satu bintang itu. Mungkin sekarang Daddy dan ibuku bahagia di sana. * Menidurkan Ryn itu lebih sulit dari menidurkan bayi. Kulepaskan dia pelan-pelan biar bisa ke luar kamar. Aku lapar banget. Sudah susah payah aku mengendap-endap, Archie berlari ke arahku sambil berteriak, “KITA JALAN-JALAN. DADDY BILANG KITA JALAN-JALAN.” “Apa sih?” desisku kesal. “Setiap hari kan kamu jalan. Kalau masih kurang, kamu bisa jalan kaki ke Stoneberg buat ketemu Mila-mu.” Dia mengikutiku jalan ke ruang makan. Rencananya aku mau makan sebanyak yang bisa kutelan. Kalau anak ini berisik, aku mau telan dia juga. “KOK KAMU NGGAK HAPPY?” Archie berteriak lagi sambil lompat-lompat. Argh! Menyebalkan! “KAMU BISA NGGAK NGOMONGNYA PELAN DIKIT?” “KAMU JUGA NGOMONGNYA NGGAK PELAN.” “AKU CUMA NGIKUTI KAMU AJA.” “KAMU KAN KAKAK. HARUSNYA AKU YANG NGIKUTIN KAMU.” “SUKA-SUKA AKU.” Di bawah, Mom melotot pada kami. “ASTAGA! INI RUMAH, BUKAN HUTAN.” “MOMMY JUGA TERIAK!” jeritku dan Archie berbarengan. Setelah itu kami tertawa bertiga. Drey juga ikut tertawa. Dia menggendong Archie di punggung dan memukuli pantatnya sampai anak itu cekikikan. Aku dan mom bergandengan ke ruang makan. Seharusnya Ryn bersama kami biar dia merasakan tawa ini. “Bagaimana dengan Ryn, Claire?” tanya Drey waktu Archie lompat ke kursi makan. Sudah kubilang harusnya dia masih pakai kursi tinggi kayak bayi itu. Menu makan malam ini Mongolian beef dengan wedges potato dan sayuran mentah untuk hiasan. Sekalipun hanya hiasan, kami tetap nggak boleh melewatkannya begitu saja. “Dia masih tidur. Kenapa sih dia tidur terus? Apa masih kena efek obat penenang?” tanyaku sambil menangkis lemparan lap tangan dari Archie. Anak ini kerasukan apa sih? “Sepertinya begitu,” jawab Drey. “Dia mengatakan sesuatu?” Kulemparkan lagi lap tangan ke wajah Archie. Dia mengaduh. “Selain ingin mati, nggak ada lagi,” jawabku santai. “Dokter memberinya beberapa suplemen agar dia tidak perlu memakai selang makanan lagi. Tolong bantu Ryn memakan suplemennya ya, Claire,” pinta Mom. Aku mengangguk karena mulutku penuh. “Pelan-pelan saja, Claire. Kamu nggak akan kehabisan makanan,” keluh Mom. “Terus, kami punya kabar. Pertama, kita liburan ke Bjork Hill. Ryn mungkin butuh jalan-jalan.” Archie melemparku dengan potongan kecil brokoli, lalu menjulurkan lidah. “Sekali lagi begitu, kubalas,” desisku sambil menarik setumpuk pancake ke piringku. Dia malah mengejekku dengan pura-pura muntah. “Archie!” tegur Mom, mengacungkan telunjuk. Anak itu langsung menunduk. Drey berdeham. “Dan Claire, permohonan sekolah percobaan untukmu sudah diterima. Kamu bisa mulai masuk sekolah Januari nanti, setelah tahun baru. Mereka akan mengadakan pesta natal di sekolah. Kamu bisa mulai dari ikut pesta itu.” Aku hampir tersedak. Pelan, aku mengunyah makanan dan menelannya, lalu minum air putih. Tapi, aku nggak berhenti melotot pada Drey. “Aku harus ke pesta yang penuh sama anak-anak yang nggak kukenal sendirian?” “Caleb juga akan sekolah di situ,” kata Archie dengan mulut penuh. “Kalian bisa datang bareng. Sayang, anak lebih kecil nggak diajak pesta.” Mom juga hampir tersedak. “Kamu kan nggak merayakan natal, Archie.” Di antara semua keharusan yang kulakukan sebagai anak-anak, ini yang paling gila. Masa sih aku harus ke pesta yang nggak tahu bakal ngapain saja di sana? Sekalipun ke sana sama Caleb, kan lucu kalau kami di sana cuma diam di pojok ruangan karena nggak kenal sama siapa pun. Bisa kubayangkan aku akhirnya jadi seperti anak-anak menyedihkan di film-film remaja. Kalau ditambah dengan penampilan norak karena Mom memilihkan gaun kayak Cinderella, kayaknya aku bisa membayangkan bagaimana sisa kehidupan remajaku nanti. “Aku pindah agama aja, deh,” keluhku sambil meletakkan garpu dengan kesal. Drey yang mau memasukkan potongan kentang ke mulut ikut meletakkan garpu. Dia menyilangkan tangan, menatapku kesal. Salah apa lagi sih aku? “Claire,” kata Drey pelan. “Kamu tidak bisa pindah agama karena alasan seperti itu. Agama bukan mainan, Claire. Kamu lihat bagaimana aku dan Kakek menolak Heath pindah agama sampai dia bisa membuktikan kesungguhannya? Tuhan bukan channel TV yang bisa diganti saat kamu bosan. Aku sangat serius mengenai hal ini.” Aku diam saja. Nggak ada gunanya mendebat Drey untuk urusan agama. Makin lama Drey makin memperdalam ilmu agama dan dia ingin semua orang di rumah ini memeluk agama dengan baik. Bahkan untuk pekerja, dia menanyakan agama mereka dan seberapa kuat mereka mencintai Tuhan. Untung saja aku diadopsi tanpa syarat. Kalau nggak, mungkin aku nggak akan ada di sini. Hubunganku sama Tuhan nggak terlalu baik. Diamku juga berarti aku menyerah dalam debat soal pesta natal. Aku nggak punya pilihan lain selain mengikuti perintahnya untuk datang ke pesta itu sama Caleb. Melihat Archie tersenyum puas saat kami selesai makan, aku pengin nangis dan marah sekaligus. Kenapa mereka seperti orangtua lain yang suka memaksa anaknya melakukan hal yang memalukan? Saking kesalnya, aku sampai nggak sadar membanting pintu kamar. Ryn menjerit lagi. Cuma jeritan terkejut. Wajahnya ketakutan. “Maaf,” Aku nyengir. “Aku marah-marah sama Archie. Maaf, ya.” Kelihatannya kali ini Ryn tidur beneran. Dia terlihat lebih baik dari sebelumnya. Mungkin sebaiknya Ryn tidur sama aku aja. Kalau di kamar lain, bisa jadi dia malah ketakutan, kan? Aku duduk di sampingnya. “Kami mau ajak kamu ke bukit. Pasti kamu suka. Tapi, kamu mandi dulu, ya. Aku cuci rambutmu pakai sampo anggur yang dulu kita pakai. Aku simpan sampo itu buat kamu.” Dia nggak merespon, tapi juga nggak melawan waktu kuajak turun dari tempat tidur. Sebelum ke kamar mandi, Mom membuka pintu kamarku. “Berapa kali sih kubilang, ketuk pintu dulu, Mommy,” desisku kesal. “Maaf. Tapi kan nggak usah marah gitu ke Mommy,” kata Mom dengan senyum sedih yang bikin aku jadi merasa bersalah. “Mommy mau kasih Ryn makan malam.” Ryn diam saja waktu Mom mencium pipinya. Ini pertanda baik. Semoga saja. Mom menghabiskan menit-menit pertama dengan mengusap kepala dan pipi Ryn sambil tersenyum. Terus, saat tangannya membuka segel di suntikan sebesar dot bayi, Mom mulai bercerita, “Tante lihat kamu waktu kamu lahir. Waktu itu Tante belum pernah merasakan lahir dan belum punya pikiran buat nikah. Melihat bayi selucu kamu lahir, Tante jadi membayangkan saat nanti punya anak. Tante pengin banget punya anak perempuan yang imut seperti kamu. Sampai dua hari kamu nggak membuka mata. Mama sama Papamu panik. Mereka bolak-balik ke beberapa dokter anak. Begitu kamu buka mata, kamu jadi rebutan orang-orang yang datang. Semua pengin peluk kamu, tapi Mamamu nggak mengizinkan siapa pun yang nggak cuci tangan megang kamu.” Mom tertawa sambil melempar bungkus platik tebal suntikan itu ke tempat sampah di dekat kami. Lalu dengan hati-hati, Mom membuka gambar instruksi pemakaian dengan satu tangan sementara tangan yang lain memegang suntikan makanan cair itu. “Kamu tahu kan gimana Mamamu?” Mom melihat Ryn lagi. “Dengan gayanya yang cerewet itu, Mamamu mengomeli siapa saja yang berani menyentuhmu tanpa cuci tangan. Mamamu melakukan apa saja demi melindungimu, bahkan dari demam. Berhari-hari Mamamu nggak tidur. Dia nggak mengeluh sama sekali. Mamamu bilang kalau ada hal lain yang bisa dilakukannya untukmu, bakal dilakukan.” Ryn bereaksi. Dia berkedip beberapa kali, seperti mau menangis. “Mendongak sebentar, ya,” kata Mom sambil mengangkat dagu Ryn. Mom menyentuh selang yang ujungnya ditutup tube kecil. Dengan perlahan Mom menusukkan suntikan besar berisi cairan hijau ke ujung tube selang itu. “Kenapa Ryn nggak mau makan?” tanyaku sambil terus memperhatikan ekspresi Ryn, siapa dia menunjukkan tanda kesakitan. “Orang dengan pikiran tergaggu memang jadi malas melakukan apa-apa, Claire. Jangankan untuk makan, untuk bernapas saja rasanya melelahkan sekali.” “Mom pernah mengalami itu?” “Pernah. Dulu sekali.” “Kenapa?” “Karena hidup nggak memberikan seperti yang kuinginkan.” Mom membelai wajah Ryn. “Tapi, memang seperti itu kan hidup? Kita diberi hidup yang lebih sulit dari orang lain karena kita memang bisa melewatinya. Kita lebih kuat dari orang lain, Sayang.” Mok menoleh padaku. “Dan Tuhan juga ingin kita jadi lebih kuat lagi. Makanya, kita diuji terus.” Sebenarnya aku pengin tanya lagi mau sampai kapan Tuhan menimpakan ujian begini? Tapi, melihat Mom yang bahagia banget sudah berhasil menyuntikkan semua isi tube ke selang Ryn, aku jadi nggak tega mengajaknya berdebat. Mom pasti membela Tuhan soalnya. Setelah mengucapkan banyak sekali syukur sambil membelai pipi Ryn, Mom berkata, “Anak hebat! Nah, sekarang kita mandi.” Butuh waktu membujuk Ryn melepas bajunya. Mommy memeluk Ryn lama sambil terus meyakinkan kalau semua baik-baik saja. Tangan Ryn terus menggenggam tanganku. Jadi, aku ikut lepas baju sama dia. Siapa tahu dengan mandi bareng dia jadi merasa nyaman. Aku kaget waktu melihat biru-biru di kulit Ryn. Lebam-lebam itu terlihat lebih banyak di bagian pinggul dan rusuk. Di paha dan pangkal paha, warna biru itu sudah berubah jadi lebih pudar. Mom menyiram Ryn dengan air hangat dan sambil menggosok kulitnya dengan handuk kecil. Ada darah di pangkal pahanya. Mom sampai harus menggosok lama karena Ryn masih terlihat kesakitan. Air mata Mom nggak berhenti mengalir melihat Ryn. Kurasa, Karin nggak tahu. Kalau tahu, aku yakin dia bakal menghabisi siapa saja yang melakukan ini. Mom memeluk kami berdua dengan erat sambil menangis. “Aku bakal melindungi kalian. Ini nggak akan terjadi lagi di keluarga kita. Nggak akan.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN