15. Agony 1

1005 Kata
Mom dan Drey terus ngomong bergantian, menjelaskan yang mereka ketahui tentang Ryn. Suara mereka seperti suara gergaji mesin di telingaku, keras dan mengganggu. Bukannya nggak mau dengar, apa pun yang mereka ketahui percuma, nggak ada yang bisa mengarah pada pelakunya. Terus, apa yang mereka harapkan dariku? Apa mereka mau aku masuk ke kamar terus bilang, “Hai, Ryn! Mau kasih tahu siapa yang merkosa kamu?”? Kepalaku jadi penuh dan sakit. Kuangkat tangan kanan untuk menyuruh mereka berdua diam. Aku nggak bisa memikirkan ini lagi. Kupegangi kepalaku dengan dua tangan di atas lutut. Sesuatu di belakang kepalaku mendorong mataku sampai berkedut. Sakit. Mom mengusap kepalaku. Seketika, rasa sakit di belakang kepalaku hilang dan mataku basah. Air mataku turun seperti hujan di London. Mom memelukku, membiarkan aku menangis di bahunya. “Kenapa Ryn? Kenapa bukan anak lain yang nakal?” Sebenarnya, ada banyak protes yang pengin kukeluarkan. Tapi, cuma itu yang sanggup diucapkan mulutku. Kali ini mereka diam. Mereka nggak bisa menjelaskan semua ini dengan teori mereka soal takdir. Nggak ada yang bisa menjelaskan kenapa hal seburuk ini terjadi pada anak kecil yang sangat baik. Kenapa bukan anak nakal saja? Nggak bisa kubayangkan Ryn melewatkan malam dengan mimpi tentang orang yang jahatin dia. Mungkin orang itu tertawa jahat seperti penjahat-penjahat dalam film. Mungkin juga orang itu Memukulinya dengan sesuatu sampai dia ketakutan dan nggak berani bilang siapa-siapa. Aku jadi mengerti kenapa dia bereaksi waktu melihat Steve, Drey, dan Caleb. Di ruang keluarga, tiga anak itu duduk di satu sofa panjang yang menghadap perapian. Wajah mereka sama, merasa bersalah. Hidung dan mata Archie merah, mungkin karena menangis. Seraphine menggenggam tangannya. Pasti anak itu sudah menggadaikan gengsinya sampai mau dihibur cewek. Aku memilih duduk di sofa berbeda, menonton mereka. Caleb memajukan tubuh, terlihat paling bersalah. “Apa ada yang salah denganku sampai membuatnya ketakutan?” “Selain karena kamu laki-laki, tidak ada.” Caleb mengerutkan dahi sebentar, lalu mengerjap. Dia kembali duduk bersandar. Wajahnya jadi lebih sedih. Kurasa dia bisa menebak penyebab Ryn sampai begitu. Nggak lama kemudian, dia memegang kepala adiknya, menepuk-nepuk kepala kecil itu sampai pemiliknya marah. Mungkin dia pengin bilang, 'aku nggak bakal biarkan itu terjadi padamu.' Kami semua diam sampai mom keluar dari ruang kerja. “Kalian kenapa?” tanya Mom dengan mata membelalak. Kami nggak menjawab, lebih memilih terus menunduk. Mungkin mereka pikir mereka bakal dihukum karena bikin Ryn histeris begitu. “Merenung saja tidak membuat masalah selesai, Sayang. Bagaimana kalau kalian membuat sesuatu untuk menghibur Ryn? Kalian bisa memberinya hadiah persahabatan.” Kami semua berpandangan. Mungkin Mom ingin kami melakukan sesuatu, bukan membeli sesuatu untuk Ryn. Kalau itu, berarti kami harus mendapatkan barang untuk membuat sesuatu. “Ikut aku,” kataku sambil berdiri. Dengan patuh, mereka mengikutiku. Ciri khas lain rumah Drey adalah studio. Di semua rumahnya selalu ada tempat untuk melukis dan membuat kerajinan tangan. Nggak besar, tapi selalu ada. Cuma studio lukis dan Mom yang bisa membuat jutawan eksentrik itu tenang kalau insomnia. Studio Drey ada di bagian lain rumah, di bagian atas bangunan dua lantai, sementara bagian bawahnya dipakai untuk tempat berkumpul yang dibuat tanpa dinding. Walau jauh lebih kecil daripada studio di rumah kami, semua yang dibutuhkan seniman ada di dalam ruangan ini. Heath pernah membuatkan kami kapal dari kayu dan kawat di sini. Begitu masuk ruangan, aku mencari karton tebal dan alat lukis untuk kujadikan kotak perhiasan. Sebenarnya, aku memang sudah punya hadiah untuk Ryn dan Drey. Aku membeli kalung yang lucu waktu mencari hadiah ulang tahun untuk Archie Oktober lalu. Seraphine meminta kertas warna untuk dipotong-potong menjadi kertas origami. Dia memilih kertas warna hijau yang dipotong menjadi bujur sangkar. Caleb sepertinya sudah menemukan apa yang dicarinya. Dia duduk di depan meja peralatan yang dulu dipakai Heath. Archie jongkok di depan persediaan kertas gambar dan mengambil pensil segitiga. Aku heran, Archie sama sekali nggak mewarisi kemampuan melukis ayahnya. Dia juga nggak bisa bernyanyi atau memainkan alat musik seperti Drey. Satu-satunya kemampuan yang diwarisi dari Drey adalah berdebat dan ngambek. Selama dua jam nggak ada yang ngomong di ruangan ini. Aku sempat mendengar pekerja yang membersihkan halaman tertawa satu sama lain, lalu tempat ini kembali hening. Aku senang begini. Aku bisa membuat lukisan dengan lebih baik. Pikiranku juga nggak ke mana-mana. Walau sudah lama hidup dengan Drey yang melakukan apa saja dengan iringan musik, aku tetap lebih suka sepi begini. “Kamu terampil dengan kertas.” Aku mendongak. Caleb berdiri di sebelahku. Entah berapa lama dia memperhatikanku menempelkan sketsa wajah Ryn di atas kotak perhiasan dari kardus buatanku. “Untukmu.” Dia memberiku gelang yang terbuat dari kuningan dan kawat timah untuk membuat alat elektronik. Kawat itu dipilin dan dirangkai sampai menjadi tribal bangle[1]. “Anggap saja itu ucapan terima kasih karena kamu telah banyak membantu kami.” Aku tertawa. “Terima kasih. Nanti bantu aku kalau kita sudah satu sekolah.” Dia mengangkat bahu dan memasukkan tangan ke kantong celana. “Sebenarnya, di sekolah lama, aku bukan anak yang populer.” “Wajar, sih. Dengan kecerdasan standar MIT, susah untuk jadi cowok populer.” “Aku tidak sabar satu sekolah denganmu,” katanya lagi. “Aku juga tidak sabar satu sekolah dengan kalian,” sela Archie dengan cengiran lebar menyebalkan saat berjalan melewati kami untuk mengambil penggaris. Setelah Archie kembali ke tempatnya, Caleb mencondongkan tubuh dan berbisik, “Memangnya, dia tidak terlalu kecil untuk masuk SD?” “Itu yang kukhawatirkan. Mereka tidak bakal sadar kalau menginjaknya di koridor.” Kami menunduk untuk menyembunyikan tawa kami dari Archie. Firasat anak itu tajam sekali kalau ada yang membicarakannya. Suasana hatinya mungkin masih buruk karena menangis tadi. Kami, terutama aku, nggak mau mencari masalah baru. Sebelum kembali ke meja kerjanya tadi, Caleb berkata, “Aku sungguh-sungguh.” Aku melihatnya dengan bingung. Dia hanya tersenyum saja. “Apanya?” tanyaku, menuntutnya untuk menjelaskan padaku maksudnya. Dia menggaruk bagian belakang kepalanya. Ekspresinya seperti Archie yang baru merusakkan sesuatu dan tidak bisa memperbaikinya lagi, tapi masih memelas ampunan dari Mommy. "Caleb? Apanya?" tuntutku lagi. “Tidak sabar bersekolah denganmu,” ucapnya dengan senyum yang membuatku ingin terus melihat wajahnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN