Setelah selesai makan malam, aku kembali ke kamar untuk menata bangau-bangau buatan Seraphine di dinding kamar sampai terlihat seperti tirai bangau hijau. Pada masing-masing sayap kami menuliskan kata-kata penyemangat. “Beautiful”, “Strong”, “Though”, “Happy”, “Loved”, dan banyak kata lain. Kami sampai membuka kamus dan berlomba menemukan kata yang tepat. Di sebelah bunga itu, kuletakkan kotak perhiasanku yang berisi kalung persahabatan untuknya.
Caleb membuat rangkaian bunga dari kawat. Pada bagian tengah bunga itu, Caleb mengikat batu yang diwarnai dengan cat fluorescent[1]. Bunga menyala-dalam-gelap itu kuletakkan di nakas. Di bagian bawah bunga-bunga kawat itu ada kartu ucapan dari Caleb dan Seraphine. Lalu, anak tunggal Syailendra itu membuat gambar yang dia pikir adalah lukisan terbaik:
Sebenarnya, aku juga menyiapkan hadiah untuk Drey dalam kotak lain. Tanggal 21 Desember ini dia ulang tahun. Drey nggak mau merayakan apa pun tahun ini. Kuharap gantungan kunci kecil dengan tulisan, “Thank you for loving me as your own kid” bisa jadi hadiah yang menghiburnya. Memang gantungan kunci dengan simbol hati itu agak norak, tapi kalimat yang tertulis cocok sekali untuk mewakili perasaanku.
Ryn bangun waktu aku minum sambil membaca petunjuk penggunaan makanan cair untuk Ryn. Aku menawarkan diri untuk memberikannya malam ini. Besok Mom bakal mencabut selang itu. Ryn ngompol. Sebenarnya, aku pengin marah, tapi nggak tega melihat matanya yang kosong itu.
Jam dua belas malam. Pasti pekerja sudah tidur semua. Aku nggak mungkin membangunkan mereka cuma untuk minta mereka mengeringkan tempat tidur. Kuseret seprai dan selimut di tempat tidur ke ruang laundry. Tempat tidurnya bau pesing dan basah banget, mana bisa aku tidur di situ.
Setelah kubantu dia membersihkan tubuh dan makan lewat selang, kubawa selimut ke ruang keluarga. Kulapisi sofa dengan selimut. Kami akan tidur di situ saja malam ini. Tapi, Ryn baru tidur. Dia nggak mungkin tidur lagi. Dia berjalan mengelilingi ruangan, benar-benar mengelilingi ruangan besar itu tanpa henti. Tangannya menyentuh apa saja yang bisa disentuhnya. Sebentar, dia berhenti di bagian-bagian yang disuka untuk membenturkan kepala atau meraba-raba tembok saja. Nggak mungkin aku membiarkannya sendirian. Kalau dia bisa membuka pintu atau memecahkan jendela, lalu kabur ke hutan pasti jadi masalah besar.
Jam dua lewat, aku sudah capek banget. Aku ngantuk dan capek. Ryn masih punya banyak sekali energi untuk keliling seratus kali lagi. Aku pengin menangis. Anak itu sama sekali nggak mau berhenti. Dahinya sudah merah karena dibenturkan berkali-kali ke dinding kayu. Kalau sampai pagi begitu, dia bisa operasi kraniotomi seperti Rosie juga.
Kesal, Kutarik tangannya sampai jatuh. “Kalau kamu nggak mau tidur, diam aja! Aku juga capek sama kamu.”
Dia bersimpuh. Matanya ketakutan. Bibirnya gemetar. Apa aku sudah keterlaluan?
Buru-buru kupeluk dia dan minta maaf. Dia merapat. “Jangan pergi, Claire.”
Dia membutuhkanku. Dari sekian banyak orang, dia hanya membutuhkanku. Kenapa aku malah jahat sama dia?
“Nggak akan. Aku janji temani kamu terus,” bisikku, dalam pelukannya.
Malam ini jadi malam paling panjang dalam hidupku, bahkan Drey yang biasanya terbangun jam tiga, malam ini nggak bangun sama sekali. Nggak ada siapa-siapa selain aku, Ryn dan kegelapan.
*
Aku nggak tahu jam berapa aku tidur. Waktu aku bangun, Ryn nggak ada. Aku sendirian. Tubuhku terbungkus selimut di kamarku. Ryn tidur. Selang di hidungnya sudah diambil. Tempat tidur juga sudah bersih dengan seprai baru dan tanpa bau ompol.
Aku lega. Walau kepalaku seperti dihajar batu besar, aku lega Ryn baik-baik saja.
Dengan langkah malas, aku ke dapur, mengikuti suara ribut anak-anak kecil di sana. Seraphine sudah bisa tersenyum. Mom mengepang rambut pirang panjangnya yang lurus tanpa lekukan sama sekali. Aku menerima s**u hangat dari seorang perempuan tua yang selalu tersenyum. Dia juga memberiku semangkuk makanan seperti sup kental yang mengeluarkan aroma bawang putih dan lada.
“Daddy mengajak kami kemah,” kata Archie bangga.
Setelah menguap berkali-kali, aku berkomentar, “Paling jauh kalian akan berkemah di halaman depan rumah ini. Mommy bakal menjerit-jerit sepanjang jalan karena kalian kena semak berduri dan Drey pasti takut kalian dipatok ular derik. Lagian, aku lebih tertarik di kamar saja seharian ini,” jawabku singkat sebelum menghabiskan sup gurih itu dalam waktu singkat. Begadang membuatku sangat kelaparan. Setelah semua makananku habis, kutarik sekotak sereal. “Aku ke kamar lagi,” kataku sambil menguap.
“Kamu baik-baik saja, Sayang?” tanya Mom sambil memegangi wajahku.
“Seratus persen baik,” jawabku berusaha terlihat santai.
“Maaf ya sampai merepotkanmu begini. Ini nggak bakal lama, kok. Kami sudah ngobrol untuk mencari cara agar kamu nggak perlu kerepotan begini.”
“Mom, aku baik-baik saja. Jangan berlebihan,” kataku sambil menyeret sebotol s**u juga. “Have fun!” kataku sambil berjalan meninggalkan mereka.
Sebenarnya, aku sangat ingin ikut. Hari ini cerah, langit biru dengan awan yang cukup tebal, nggak terlalu panas. Tapi, bagaimana dengan Ryn?
Satu jam kemudian, saat aku membaca buku besar tentang klasifikasi kupu-kupu di dekat jendela kamar sambil makan sereal, mereka sudah ramai di luar rumah. Entah kenapa aku langsung berlari ke jendela besar, memperhatikan mereka.
Archie pakai dasi kupu-kupu dan rompi balon untuk berenang. Jangan repot mengingatkan anak itu kalau di hutan nggak bakal ada kolam renang, deh. Dia bakal terus ngotot dan nggak mau mendengarkan orang lain. Dulu saja dia percaya kalau di hutan ada perkampungan elf seperti dalam film.
“b**o,” komentarku sambil mengikik geli.
Caleb berjalan sambil memegang tali kekang Trevor. Hebat juga dia, bisa akrab dengan anjing sejahat itu. Di punggungnya ada ransel besar yang sama dengan Drey, ransel yang dulu kupakai membawa perlengkapan berkemah bersama Heath.
Di bagian depan, Drey memimpin kelompok dengan membawa tongkat kecil. Tongkat itu ada senternya dan ada tombol yang bisa mengeluarkan pisau di ujung tongkat. Kalau ada hewan buas atau orang jahat, tongkat itu bisa berubah jadi tombak. Di pinggang Drey ada sesuatu yang berkilau saat dia berpaling. Sinar matahari memantul pada benda itu. Waktu kuperhatikan baik-baik, ternyata itu gantungan kunci berbentuk hati warna merah muda yang kusiapkan untuk hadiah ulang tahunnya. Mungkin dia mengambilnya di nakas saat mengangkat Ryn ke kamar. Melihatnya memakai itu, aku sadar kalau gantungan kunci logam warna merah itu norak sekali. Tapi, dia tetap memakainya. Untukku?
Ah, Claire. Mereka mencintaimu. Seharusnya kamu bahagia. Mereka keluargamu, Claire Johansson. Mereka menjadikanmu bagian penting dari hidup mereka. Lalu, apa yang bisa kamu berikan pada mereka? Jadi anak saja kamu susah diatur?
Paling nggak, cuma ini yang bisa kulakukan untuk membalas cinta mereka. Cuma ini.
***