Mereka pulang setelah matahari hampir tenggelam. Baju mereka basah. Seraphine kelihatannya tidur di gendongan Caleb. Archie yang bajunya penuh lumpur terlihat menangis dan Mom sedang memarahi Drey. Sepertinya keluarga itu membuat drama baru. Kalau kutebak sih, Drey bikin anaknya jatuh ke lumpur terus diomeli Mom.
Aku berlari dari jendela ke jendela, mengikuti gerakan mereka. Aku sadar, hatiku sakit. Seharusnya aku bisa ikut merasakan keseruan itu. Seharusnya aku berada di antara mereka semua dan berkeringat, bukan di sini berusaha mencegah Ryn mencabuti bulu kucing. Ryn makin parah. Dia merusak apa saja yang dilihatnya. Mulanya dia mencabuti bulu kuasku. Mungkin dia merasa senang, dia menarik boneka dan mencabuti bulunya sampai habis. Nggak berhenti di situ saja, dia melihat kucing lewat dan menarik ekor kucing itu keras-keras. Dia sudah mendapat cakaran di lengan dan diwajah, tapi nggak kapok. Sebelum dia mencabut bulu anjing, seorang pekerja memaksa menggendongnya masuk ke kamarku lagi.
Mulanya aku berharap Ryn bisa sembuh. Heath juga bilang pernah dirawat di rumah sakit jiwa karena PTSD[1]-nya, kan? Sekarang Heath sudah normal dan punya keluarga bahagia. Aku yakin Ryn juga bisa seperti itu. Paling nggak ini yang kupikirkan dulu. Sekarang, aku ketakutan. Bagaimana kalau Ryn nggak bisa sembuh? Bagaimana kalau Ryn selamanya begini dan aku selamanya di sini?
Mereka masuk dengan suara berisik. Archie mengaduh dan merengek dengan suara keras. Daripada mendengar Archie pamer, aku memilih kembali ke kamar. Ryn menghancurkan bangau-bangau dari Seraphine. Dia merobek kertas-kertas itu sampai kecil-kecil. Aku pengin marah. Tapi, apa dia ngerti kalau aku marah? Aku cuma bisa menangis di sofa. Rasanya, semua yang kami lakukan nggak akan bisa menolongnya.
Pintu kamarku diketuk. Ryn menatap pintu waspada. Begitu gagang pintu diputar, dia melompat ke tempat tidur dan menutup kepalanya dengan selimut.
Mom tersenyum padaku di pintu. Di sebelahnya, Drey yang wajahnya merah terbakar juga menyeringai lebar, tapi nggak berani masuk kamar karena Ryn.
“Apa kabar kalian?” tanya Mom sambil berjalan masuk. Mom terkejut melihat bangau kertas yang dicabik di lantai, juga benda-benda lain yang dihancurkan Ryn. Mom juga melihatku, lalu melihat Drey yang melongokkan kepalanya berusaha melihat kekacauan di lantai kamarku.
“Aku akan membuat janji dengan Dokter Hesse,” kata Drey sebelum menutup pintu.
Mom bernapas berat beberapa kali, lalu duduk di sebelahku. Tanpa ngomong apa-apa, Mom memelukku lama-lama. Aroma tubuh Mom seperti mawar yang bercampur keringat, lumpur, dan asap. Mungkin mereka memanggang sesuatu di hutan. Mom berkeringat dan kecut seperti orang lain, tapi aku suka.
“Kita akan melalui semua ini, Claire,” kata Mom.
Kurasa ‘kita’ bukanlah kata yang tepat. Aku yang akan melalui semua ini. Aku yang menghadapi Ryn sementara mereka cuma tertawa-tawa di luar sana.
“Apa lagi yang harus kulakukan?” Sebenarnya aku nggak pengin mengeluarkan nada sekasar itu. Tapi, kalimat itu keluar begitu saja. Aku pengin bilang kalau aku menyesal.
“Untuk sementara ini, kita harus bertahan begini saja terus, Claire. Kita bakal pulang. Drey sudah bikin janji sama beberapa dokter jiwa dan terapis. Aku yakin proses kesembuhan Ryn akan jauh lebih baik.”
Lagi-lagi Mom menggunakan kata ‘kita’. Aku nggak jadi menyesal sudah pakai nada kasar. Aku benar-benar kesal. Masa Mom nggak mengucapkan terima kasih atas apa yang kulakukan? Paling nggak, hargai gitu aku yang sudah mengorbankan waktu jalan-jalanku demi Ryn. Apa mungkin sebenarnya memang begini seharusnya? Aku nggak harus ada di sini? Mereka memang menikmati banyak hal tanpaku?
Pintu kamarku diketuk lagi. Kali ini si Pengetuk pintu nggak langsung membukanya. Mom melihatku dan mengangguk, menyuruhku membuka pintu.
Caleb menyeringai lebar. Sebagian besar celana panjangnya tertutup lumpur kering dan bajunya basah entah karena keringat atau karena dia barusan membasahi rambut.
“Seraphine menyuruhku memberikan ini padamu,” katanya sambil memberikan batu warna hitam yang nggak berbentuk. Baru itu meninggalkan serpihan pasir dan batu kecil di tanganku waktu dia memberikannya. Sama seperti tangannya, batu ini agak basah. Kalau kuusap, lebih banyak lagi serpihan yang jatuh ke tangan dan lantai.
“Kamu menyelam di lumpur cuma untuk batu?”
Senyumnya makin lebar. “Jangan buang atau hancurkan batu ini. Akan lebih baik kalau kamu mencuci batu ini dengan sikat gigi setiap hari.”
“Untuk apa? Batu ini bisa mengeluarkan jin?”
Dia tertawa. “Lebih dari itu,” katanya lagi. Dia diam sebentar, lalu bernapas berat beberapa kali. “Aku harus mandi dan kembali ke kamar. Drey bilang kita akan pulang.” Lalu, dia pergi. Sepatunya meninggalkan jejak basah dan sedikit berlumpur di lantai. Seorang pekerja menggeleng kesal melihat noda itu.
Mom yang sedang memeluk Ryn melihatku dengan tatapan ingin tahu. Tapi, aku nggak mau berbagi soal ini pada siapa pun. Bukan hal yang istimewa mendapat batu dari anak pramuka, kan?
“Aku mau mandi,” kataku pada Mom sebelum masuk kamar mandi. Kuletakkan batu dari Caleb di wastafel. Kubiarkan air deras mengguyur batu itu. Lumpur yang membungkus batu itu perlahan memudar, memperlihatkan baru yang sama hitamnya dengan lapisan sebelumnya. Sampai akhirnya batu itu bersih, aku tetap nggak mengerti apa istimewanya batu hitam ini.
*
Kami sampai di rumah hampir tengah malam. Drey sengaja mengambil waktu malam karena Ryn sudah capek kalau malam dan nggak punya cukup tenaga untuk berontak. Ternyata tetap saja, Ryn terus memberontak. Malah aku yang kehabisan tenaga untuk menenangkannya. Mom sudah beberapa kali menguap. Nggak ada yang istirahat setelah pulang dari hutan. Seraphine yang baru bangun sebelum makan malam juga tertidur lagi. Archie yang berusaha menahan kantuk juga akhirnya menyerah. Semua lelah, kecuali Ryn.
“Lain kali, jangan melakukan apa pun berdasarkan pemikiranmu sendiri,” kataku penuh kekesalan. Drey sudah minta maaf, tapi tetap saja aku jengkel sekali. Hanya karena dia orang tua, kami harus selalu mendengar perkataannya?
Begitu sampai, Ryn berlari ke rumah. Drey mengejarnya sampai jatuh tersandung batu di halaman. Anak itu cepat sekali seperti kucing. Aku baru ikut mengejar setelah berhasil melepaskan sabuk pengaman. Di bawah tangga, Drey yang terengah-engah tersenyum padaku, “Dia masuk ke kamarmu. Tidak masalah. Mungkin dia ketakutan dan sembunyi di selimut,” katanya saat duduk di anak pertama tangga. Walau sudah menghabiskan tiga gelas kopi, wajahnya tetap terlihat lelah setelah berusaha tetap sadar saat menyetir tadi.
Aku kembali ke mobil, mengambil barang-barangku, melambai pada Caleb yang menggendong tas dan adiknya pulang, mendorong Archie sampai jatuh di atas tasnya sendiri dan menangis, lalu mengucapkan selamat malam pada Mom dan Drey. Malam ini kuharap Ryn mau tidur tenang. Aku juga mau istirahat. Kemarin aku sudah nggak tidur. Seharian ini juga cuma tidur ayam saja. Kalau malam ini aku nggak tidur juga, kepalaku bakal pecah besok.
Begitu sampai rumah khayalanku tentang tidur musnah sudah. Ryn merobek lukisan Dad. Dia memegang cutterdan berdarah. Lukisan besar Dad yang baru selesai kukerjakan tercabik-cabik. Saat melihatku, dia tersenyum, seperti puas dengan yang dilakukannya.
Aku bukan cuma marah, tapi ketakutan. Ryn membawa cutter. Dia bisa saja menyerangku. Dengan cepat, kututup lagi pintu kamar dan menjerit memanggil Drey.
“Drey, Ryn bawa cutter. Aku takut nanti dia melukai diri sendiri.”
Drey membuka pintu pelan. Aku ditarik Mom mundur. Kamarku sepi, kelihatannya Ryn nggak beraksi lagi. Drey memanggil Ryn dengan suara pelan dan menutup pintu kamar lagi. Sebentar kemudian, ada jeritan Ryn dan suara kaget Drey. Mungkin mereka bekelahi. Jeritan Ryn terdengar makin nyaring dan brutal. Hanya beberapa menit, suara mereka menghilang.
Drey berdarah. Lengannya tergores cutter Ryn, sementara Ryn digulung di dalam selimut tebal seperti shushi. Dia masih menangis sampai berkeringat, tapi nggak menyakiti siapa pun. Mom mengusap-usap kepala Ryn biar anak itu berhenti menangis. Percuma. Ryn sepertinya masih punya banyak tenaga untuk mengamuk.
Drey melihatku, kelihatan bingung. Dia menggosok wajah keras-keras. “Mungkin dia seharusnya ada di rumah sakit.”
Di rumah sakit? Apa itu artinya Ryn bakal berkumpul dengan pasien sakit jiwa lain? Dia sendirian di tempat asing? Bagaimana kalau mereka memperlakukan Ryn dengan buruk?
“Ini cuma sementara kan, Drey? Ryn nggak akan selamanya begini, kan? Ryn bakal sembuh. Dia bakal jadi anak baik kayak dulu lagi.”
Drey dan Mom berpandangan, nggak menjawab pertanyaanku. Drey malah berkata, “Aku akan berbicara dengan Dokter Hesse. Aku akan mengembalikan Ryn ke rumah sakit.”
Mana boleh begitu. Ryn nggak boleh ada di rumah sakit jiwa.
“Aku yang jaga Ryn. Kalian nggak perlu ikutan pusing. Aku janji Ryn nggak bakal merepotkanku. Ryn nggak bakal melakukan hal buruk lagi.”
Aku tahu konsekuensi keputusan ini. Aku bakal mengorbankan banyak hal untuk Ryn. Tapi, bukankah memang begitulah sahabat? Ryn sahabatku. Kami bersahabat waktu senang, masa aku membiarkannya tinggal di rumah sakit jiwa dalam kondisi begini?
Walau malam ini dan malam-malam nanti aku harus kurang tidur, Ryn harus tetap di sini. Lihat sekarang, lengan Ryn luka. Telapak tangannya juga luka. Siapa yang bakal mengobatinya di rumah sakit nanti? Aku sudah berkali-kali ke rumah sakit. Jumlah perawat selalu lebih sedikit dari pasien. Jadi, mana mungkin mereka konsentrasi pada satu pasien saja.
“Kamu bakal sembuh, kan? Kamu bakal jadi Ryn yang dulu, kan? Kita bakal jadi teman lagi, kan?” kataku setelah menutup lukanya dengan perban.
Sayangnya, waktu pagi, Drey memanggil dokter dan perawat yang akan merawat Ryn selama beberapa hari ke depan. Ryn dipindahkan ke kamar belakang, yang jauh dari rumah utama. Dokter Danila Hesse dan beberapa perawat akan menangani Ryn. Katanya mereka melakukan asesmen untuk melihat seberapa parah kondisi kejiwaan Ryn. Lucunya, mereka nggak menanyaiku. Mereka nggak melibatkan aku sama sekali.
“Kamu butuh istirahat, Claire. Kamu butuh kesempatan untuk dirimu sendiri,” kata Mom saat aku menuntut keadilan.
“Kalian sama sekali nggak menghargaiku. Seharusnya kalian biarkan dokter itu bertanya padaku apa yang dialami Ryn atau… apa saja. Kalian nggak tahu apa-apa tentang Ryn. Selama ini aku yang tidur sama dia.”
“Claire, dokter akan melihat sendiri apa yang dirasakan Ryn. Dokter itu tahu apa yang dikerjakannya,” kata Drey dengan nada mendesak. Dia capek harus berhadapan denganku? Bagaimana aku yang dua malam nggak tidur untuk Ryn?
“Gimana kalau dokternya salah? Gimana kalau ternyata mereka melakukan hal buruk pada Ryn? Gimana kalau mereka kasarin Ryn?”
“Claire Johansson, kita sama-sama lelah, Nak. Bisakah kita berdebat lain kali?” Alis Drey bertaut, tanda kalau dia sudah marah. Tapi, aku lebih marah lagi.
“Aku mau ke sana dan bawa lagi Ryn ke kamarku.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Kamu tahu lebih banyak daripada dokter yang sudah bertahun-tahun menangani anak dengan trauma?”
“Dokter itu nggak kenal Ryn.”
“Dia akan berkenalan dengan Ryn.”
“Mana bisa—”
“CLAIRE JOHANSSON!” bentak Drey. “Masuk ke kamarmu dan jangan ke luar sampai makan malam nanti.” Setelah mengatakan itu, Drey berpegang pada meja. Wajahnya merah, seperti menahan sakit. Sebenarnya aku ingin menolong Drey seperti yang dilakukan Mom, tapi aku terlalu marah. Aku berlari ke kamar tanpa peduli hampir menabrak Archie dan membanting pintu kamarku keras-keras. Kali ini, aku menyeret bantal dan bersembunyi di dalam lemari. Nggak ada yang bisa menggangguku di sini.
Mauku sih kali ini aku mau ngambek sungguhan. Aku mau mendekam lama di dalam lemari sambil memeluk jaket Daddy. Tapi, Drey membuka pintu lemari. Aku sudah capek menangis. Drey mengulurkan sebotol air mineral dingin untukku. Mulanya, aku nggak mau, tapi dia bilang, “Ayolah, kamu sangat haus, kan?”
Dia benar. Aku terlalu haus untuk jual mahal. Kuminum air itu sampai habis.
“Aku tidak akan minta maaf untuk keputusanku, Claire. Apa pun pendapatmu.” Suaranya serak seperti orang sakit.
“Kenapa?”
“Karena itu yang terbaik untukmu.” Dia bergerak sambil mendesah seperti orang kesakitan. “Aku sering sakit punggung belakangan ini,” keluhnya.
Setelah berhasil mendapatkan posisi duduk yang baik, dia berkata lagi, “Kamu membutuhkan kehidupanmu sendiri, Claire. Aku tahu kamu menyayangi Ryn seperti kami. Tapi, kamu tidak bisa menjadi pengasuhnya terus. Kamu harus sekolah bulan Januari. Paling tidak kamu harus memiliki teman di bulan Desember ini. Sebentar lagi akan ada pesta natal di sekolah. Kamu belum membeli baju dan kado yang harus dibawa saat pesta itu. Kamu malah tidak tidur hanya untuk Ryn. Kami tidak bisa membiarkanmu seperti itu terus.”
“Tapi Ryn akan sembuh.”
“Claire, kami melakukan ini karena menyayangimu. Suatu hari kamu akan mengerti kalau kehidupan tidak selalu sesuai dengan rencanamu.” Dia mendongak, melihat bagian atas lemariku yang cukup luas untuk dipakai ngobrol berlima begini. “Orangtua itu menyebalkan. Saat tahu Savanna mengandung anakku, rasanya aku tercabik antara bahagia dan takut. Aku takut anakku akan menjadi b******n sepertiku, Claire. Savanna yang menuntunku. Dia meyakinkan kalau anak kami akan baik-baik saja.”
Dia menghela napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan, seperti Dad kalau sedang menikmati rokok. “Sekarang aku memiliki kalian. Aku bersumpah akan menjaga kalian dengan jiwaku.”
“Kamu sudah melakukannya.”
“Yang kuinginkan hanya melihat kalian memiliki hidup seperti anak lain, mendapat masalah seperti anak lain, dan berkeliaran di sekolah seperti anak lain. Ingat film IT? Aku ingin sekali melihat kalian bersepeda di jalanan dengan teman-teman seperti itu. Aku sedih sekali melihat kalian hanya berdua saja. Melihat Caleb dan Seraphine, aku merasa memiliki harapan untuk kalian.” Drey mencondongkan tubuh, “Nak, carilah teman, berkelahilah dengan mereka, pergilah ke tempat-tempat yang menyenangkan. Suatu hari kamu akan mengenang hari-hari itu dengan senyum.”
“Kamu punya pengalaman begitu?”
Dia tersenyum miring. “Tidak ada yang bisa dikenang dari masa kecilku.” Senyum miringnya terlihat menyebalkan. “Hidupku hanya berupa ambisi. Tanpa Ibu Tiar, Istri Kakek Rinto, aku mungkin tidak akan ada di sini. Setelah kematiannya, aku ikut mati, Claire. Aku baru merasakan hidup lagi saat bertemu Gadisku, Sweet cake-ku.”
“Keluargamu?”
Dia menarik napas seperti mau bicara, tapi ternyata dia cuma menarik bibir ke bawah dan menggeleng. “Aku merasa sangat bahagia saat tahu orangtuaku meninggal.” Dia mengeluarkan napas cepat, “Itu yang kutakutkan. Kalian bahagia melihatku meninggal.”
Kupeluk dia erat-erat tanpa berpikir lagi.
“Aku mencintaimu, Drey. Aku mencintai Mom dan Archie. Aku jelas bakal menangis sampai nggak bisa berdiri kalai kamu mati.”
Dia membelai rambutku sambil mengucapkan terima kasih.
Setelah lama berpelukan, dia berkata, “Sumpah, kamu bau sekali, Nak. Kuharap kamu mandi setelah ini,” dengan nada bicara yang sangat menyebalkan.
*
Yah, aku memang lemah kalau diajak ngobrol begitu. Aku nggak jadi ngambek. Aku malah belanja online sama Mom. Kami memesan gaun merah sederhana selutut dengan jaket hitam yang dihiasi lining keemasan dan sepatu ankle boot hitam dengan hak tiga senti. Mom bilang gaun ini terlalu sederhana karena yang sekolah di Cedar Hill bukan orang sembarangan. Tapi, aku nggak mau tampil norak memakai gaun Sherry Hill yang penuh gemerlap itu. Sekalipun gaun itu sedang tren di i********:, aku nggak sudi.
Untuk kado yang harus dibawa, Drey menyuruhku membungkus jam tangan Luis Vuitton dan menuliskan namaku besar-besar di bungkusnya. Nanti kami akan saling bertukar kado. Kata Drey bisa jadi mereka akan saling membicarakan isi kado orang lain.
“Aku tidak mau mereka membicarakan hal buruk di hari pertamamu bersekolah,” kata Drey saat menuliskan namaku. Belum tahu saja dia kalau cewek bisa mencari berbagai macam bahan untuk bergunjing.
Dua hari tanpa Ryn terasa berbeda. Aku bisa tidur nyenyak. Aku nggak perlu terbangun karena ada yang mengompol. Aku nggak perlu memikirkan obat apa yang belum kuberikan padanya. Rasanya, aku kembali menjadi Claire yang dulu. Waktu luang kuhabiskan dengan bermain di ruang kucing bersama Archie dan penjaga kucing-kucing itu.
Tanggal 25, Drey menyuruhku dan Caleb pergi dengan Rolls Royce-nya. Kami berpandangan. Bukannya apa, limosin buat ke pesta natal di sekolah?
“Kamu bukan mau ikut Met Gala[2], Drey,” kataku ketus.
“Percayalah, Nak. Ini lebih penting dari Met Gala.”
Aku sampai malu pada Caleb yang menertawakanku sepanjang jalan. Dia cuma memakai jumper merah yang agak kebesaran. Rambutnya juga berantakan, cocok dengan jins belel dan sepatu kets-nya.
“Apa setelah ini aku harus memanggilmu princess? Cinderella? Apa kamu juga harus pulang sebelum jam dua belas?”
Kutendang tulang keringnya. “Walau pakai rok, aku masih bisa menghabisi cowok.”
Dia nyengir. “Aku sudah tahu, kok.”
Halaman sekolah penuh dengan mobil mewah. Anak-anak diantar mobil keren yang berhenti di halaman rumah. Anak yang sudah bisa menyetir dan punya SIM membawa mobil sendiri. Akhirnya aku tahu alasan Drey memaksa kami naik limosin.
Kami saling memandang, mungkin pikiran kami sama, sekolah ini untuk anak-anak kaya yang memiliki segalanya. Mereka anak-anak yang terbiasa memiliki segalanya dan ingin terus memiliki segalanya. Mereka anak-anak yang mengukur semua dengan uang dan nama keluarga. Bisa jadi ini tujuan mereka menjahitkan nama keluarga di seragam sekolah.
Saat turun dari mobil, aku benar-benar terpukau. Mereka membentangkan karpet merah sungguhan dari depan pintu sekolah. Di bagian tembok sekolah ada nama-nama perusahaan yang menjadi sponsor acara ini. Beberapa nama perusahaan itu ada beberapa milik Drey seperti Duvet Production, production house yang baru dibeli Drey beberapa tahun lalu, waktu Heath masih pacaran sama Pat Hernandez dan Sultan Palace, hotel hampir bangkrut yang berubah jadi hotel bintang lima.
Caleb berdiri di sampingku dengan wajah sama dungunya denganku. Mungkin dia juga merasa mual dan pengin lari dari sini. Jumper merahnya jelas sangat nggak pantas untuk pesta seperti ini.
“Sepertinya, aku tahu bagaimana masa remajaku berakhir,” katanya setelah menelan ludah dan tersenyum canggung.
“How?” tanyaku walau sebenarnya aku bisa membaca yang dipikirkannya.
“Hell,” jawabnya tepat seperti yang kupikirkan.
***