Prolog I
DERAP langkah puluhan pasang kaki berduyun-duyun memasuki aula istana yang begitu megah. Aula yang sunyi dan biasanya tak digunakan ketika malam menjelang, mendadak ramai sesak penuh dengan pejabat pemerintahan. Tidak satu pun dari wajah aristokrat para bangsawan menunjukkan suka cita, kening mereka berkerut, beberapa sampai harus memijit pelipisnya—mungkin pening, beberapa berunding dengan suara mirip dengungan lebah, mereka gelisah.
Pintu aula kembali terbuka, gemuruh suara para pejabat yang gelisah terhenti. Perhatian mereka kini tercurah pada sosok pria paruh baya di ambang pintu, dia berjalan melewati tengah kerumunan. Seperti pejabat yang lain, dia juga gelisah, hanya tak ditunjukkan saja. Setelah sampai di ujung jalannya, tepat di depan singgasana yang terbuat dari perpaduan emas dan kristal itu dia berdiri dengan penuh percaya diri. Menatap semua orang yang ada di ruangan tanpa terkecuali.
“Kerajaan mengalami krisis.” Satu kalimat meluncur keluar dari bibirnya yang mulai mengeriput, begitu kuat hingga semua orang mulai bersuara kembali.
“Tenang.” Dia memperingatkan, tapi tidak satu pun dari mereka bisa mengendalikan dirinya. Saat ini keadaan genting, dia tidak butuh orang-orang yang tak bisa bekerja sama. Tangannya yang sedari tadi dia kunci di balik punggung kini terlepas, tandanya kesabaran yang dimiliki olehnya mulai menipis. “TENANG SEMUANYA!” gema suara yang timbul dari bibirnya berhasil membuat orang-orang itu menutup mulutnya rapat-rapat.
“Lord Delmar, kita harus segera bertindak. Tidak baik membiarkan tahta kerajaan Valareast kosong.” Seorang pejabat pria berjanggut putih memberikan usulan.
“Betul sekali, kerajaan akan benar-benar hancur jika dibiarkan seperti ini.” Seseorang yang lebih muda menyahut.
“Apakah ada seseorang yang selamat dari musibah itu?” tanya pemuda dengan rambut keriting berwarna merah yang mencolok.
“Mustahil ada yang selamat dari ledakan sebesar itu.” Pria yang dipanggil Lord Delmar bergumam pada dirinya sendiri. Dari rumahnya yang berjarak cukup jauh dari paviliun itu bahkan mendengar ledakannya dengan sangat keras, dia pun melihat bagaimana api membumbung tinggi melahap semua yang ada di sekitarnya. Apabila ada yang selamat dari ledakan itu merupakan keajaiban yang sungguh di luar nalar manusia.
“Lord Delmar, aku dengar Lord Martian mengutus orang-orangnya untuk menjemput keluarga jauh dari Yang Mulia Raja, kita harus bertindak atau orang yang akan duduk di atas tahta itu dikuasai oleh Lord Martian.” Ucapan itu menggugah lamunan Lord Delmar.
“Mengapa kalian begitu cemas, tua bangka itu tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan.”
“Apakah anda memiliki rencana, Lord Delmar?”
Mata Lord Delmar menerawang jauh, dia tak merespon pertanyaan itu, hanya ada senyuman penuh makna sehingga menimbulkan spekulasi jika Lord Delmar sendiri yang akan menduduki tahta. Pikiran itu hanya terlintas sesaat, secara hukum Valareast menganut sistem monarki absolut, hanya seseorang keturunan keluarga Reginus yang bisa menduduki tahta itu.
“Keturunan terakhir Raja Quentinus akan segera menduduki tahta kerajaan Valareast.”
*
Tangan kecil itu menggenggam erat pada tangan wanita yang sedang berdiri di sebelahnya, dia sedang menahan kesedihan yang begitu luar biasa. Seharusnya gadis seusianya akan menangis keras ketika menghadapi perpisahan yang tak dia duga, apalagi perpisahan dengan orang tua yang sangat dia sayangi. Berbeda dengannya, dia begitu tampak tenang, pandangannya pun tertuju pada puluhan peti jenazah yang berjejer di aula kerajaan.
Setiap kali air matanya mendesak keluar dia selalu ingat pesan dari pengasuhnya saat dia didandani untuk menghadiri pemakaman keluarga kerajaan. Wanita yang sudah mengasuhnya sejak dia bayi itu berkata, “Jangan tunjukkan kesedihanmu di depan orang-orang itu, Your Grace! Anda tidak bisa mempercayai siapapun.” Bukan kalimat yang seharusnya didengar oleh gadis berusia delapan tahun. Wanita itu terpaksa mengatakan hal itu, dia tahu kehidupan di dalam istana bukan kehidupan yang mudah bahkan bagi anak-anak.
“Apakah mama dan papa benar-benar pergi selamanya?” gadis kecil itu bertanya dengan berbisik selagi Uskup Agung membacakan doa untuk para mendiang. Masih tidak mengerti betul konsep kematian dengan sesungguhnya, saat ini dia sedang berpikir jika kedua orang tuanya, kakeknya, kerabatnya yang lain sedang pergi tanpa mengajaknya, hanya itu alasannya dia bersedih. “Kenapa mereka harus pergi, Bibi Nivera?”
Hancur hati Nivera, bagaimana lagi dia bisa menjelaskan kepada anak asuhnya jika orang tuanya benar-benar pergi—dari dunia ini—menuju keabadian dan tidak akan pernah kembali. Dia hanya bisa menggenggam erat tangan puteri kecil yang lembut sembari berbisik, “Ikuti Sang Uskup berdoa, atau Tuhan akan marah karena anda tidak berdoa untuk mama dan papa.” Gadis kecil itu menurut. Akhirnya dia mengikuti doa hingga usai dan melepas kepergian peti-peti yang tak bisa dia hitung dengan jarinya.
Setelah masa berkabung selesai, istana kerajaan disibukkan dengan proses penobatan Ratu baru mereka. Semua orang memiliki peran masing-masing untuk mengerjakan tugas mereka. Begitu juga dengan sang calon Ratu. Saat ini dia sedang berada di hadapan sebuah cermin besar, tinggi tubuhnya tak sampai sepertiga tinggi cermin. Dia telah dibuatkan pakaian khusus untuk penobatannya ini kecuali jubah biru tua yang menjuntai cukup panjang.
“Jubah ini bisa dipakai untuk selimut,” celotehnya tanpa berpikir jika dayang-dayang yang mempersiapkan dirinya sedang mendengar. Mereka terkikik pelan karena ucapan anak kecil itu. Nivera menepuk kepalanya pelan, seharusnya dia mengajarkan etiket kerajaan lebih ketat.
Nivera memberikan isyarat kepada dayang yang lain untuk meninggalkan dirinya dan calon ratu kecil itu sendiri. Para dayang mengerti dan segera keluar. Setelah memastikan jika dayang-dayang itu benar-benar pergi, Nivera menarik pelan bahu gadis itu untuk menghadap padanya. Nivera berlutut di depannya agar tinggi mereka sejajar.
“Your Grace ….”
Wajah anak itu cemberut saat Nivera memanggilnya penuh hormat seperti itu. “Bibi, aku tidak suka panggilan itu.”
Nivera menoleh ke arah pintu, melihat ke sela-sela pintu barangkali ada yang mendengarkan. Setelah memastikan jika tak seorang pun ada dibalik pintu untuk menguping pembicaraan mereka Nivera pun kembali menatap anak itu dengan seksama. Rasa ibanya begitu besar pada gadis dengan mata sebiru lautan yang sangat polos dan tak mengerti kejamnya dunia, seandainya Nivera berkuasa dia pasti akan membawa anak ini jauh-jauh dari Valareast.
“Eurene, anakku,” panggilnya penuh kasih sembari membelai rambut gadis itu. “Dengarkan bibi baik-baik.”
Eurene mengangguk pasrah.
“Setelah hari ini, Eurene akan menjadi seorang ratu dari kerajaan ini, apa Eurene mengerti apa itu artinya?”
Eurene menggeleng. Gadis itu memang lahir sebagai seorang puteri. Namun, dia tidak pernah mendapatkan pendidikan untuk menjadi seorang ratu yang memimpin sebuah kerajaan. Apalagi usianya masih sangat belia, banyak hal yang tidak dia pahami. Niverra bisa mengerti, orang tua Eurene bukanlah pewaris tahta kerajaan Valareast, kehidupan mereka hanya layaknya bangsawan pada umumnya.
Tak ada satu pun keluarga Pangeran Gregory, ayah Eurene yang memimpikan bisa mendapatkan tahta kerajaan Valareast sampai musibah mengerikan itu terjadi dan para pasukan datang membawa surat mandat dari kerajaan yang menyakan bahwa Puteri Eurene adalah penerus tahta kerajaan Valareast.
“Apakah artinya aku tidak boleh bermain lagi?”
Nivera menghela nafasnya, masa anak-anak Eurene benar-benar terampas. Tak ada yang bisa dilakukannya selain mendampingi gadis ini untuk menghadapi semuanya. Nivera menatap Eurene lekat-lekat, “Anda ingat permainan yang biasanya dimainkan oleh anda dan Derwin?”
Derwin adalah putera pelayan di kediaman mendiang Pangeran Gregory. Satu-satunya anak yang sebaya dengan Eurene. Keduanya sering melakukan permainan bertahan atau melakukan tantangan. Permainannya sangat sederhana, dua anak itu meminta beberapa pelayan untuk menjadi tim mereka, lalu membuat benteng dari jeramin, setelah melempar dadu yang paling kecil harus bertahan dari serangan musuh. Biasanya Derwin sering mengalah pada Eurene dan sebagai hukumannya dia harus melakukan apa saja yang Eurene minta.
“Aku ingat, apakah kita akan memainkannya?”
“Ya, kita akan memainkannya tapi dengan cara berbeda. Saat ini ada dua kelompok, yaitu kelompok Lord Delmar dan kelompok Lord Martian. Sekarang, anda adalah teman Lord Delmar, jadi apapun yang dikatakan oleh Lord Delmar harus dilakukan agar anda tidak kalah.” Nivera berusaha untuk menjelaskannya sesederhana mungkin. Eurene menatapnya bingung. Mengapa dia harus menuruti kata Lord Delmar? Apakah dia tidak boleh memilih Lord Martian saja? Tapi kemudian dia berpikir, dia belum pernah bertemu dengan Lord Martian, sepertinya Lord Delmar lebih baik walau wajahnya sedikit galak.
“Baiklah, aku akan menjadi teman Lord Delmar.”
“Bagus sekali.” Sebuah suara mengejutkan ke dua orang itu. Mereka tak menyadari jika pintu sudah dibuka dan Lord Delmar masuk ke dalam kamar Eurene. “Karena anda sudah menjadi temanku, sekarang ikutlah denganku, Your Majesty.”
*
Menjadi sorotan puluhan pasang mata orang-orang yang bertubuh lebih besar darinya membuat langkah Eurene menjadi begitu pelan menuju altar singgasana. Jantung Eurene berdegup dengan kencang, sesekali matanya melirik mencari-cari sosok Nivera tapi tak menemukannya. Tatapan matanya malah bertubrukan dengan milik Lord Delmar, pria paruh baya itu mengangguk, mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja, Eurene hanya perlu terus berjalan sampai tiba di depan Uskup Agung untuk pentasbihan sebagai Ratu.
Tapi … tetap saja, Eurene merasa gugup setengah mati. Orang-orang yang memandanginya seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup. Ini lebih buruk daripada harus mengenalkan diri di depan kelas piano. Setidaknya jika di kelas pianonya, semua teman-temannya memiliki ukuran tubuh yang mirip dengannya, akan tetapi di sini semua orang terlihat sangat besar dan ada beberapa yang wajahnya berbulu.
Setelah puluhan langkah dibuat oleh Eurene akhirnya dia sampai pada tepat di depan Uskup Agung. Dia tak tahu apa saja yang dikatakan oleh sang Uskup, Eurene hanya tahu air suci dipercikan ke tubuhnya. Pembawa baki mahkota kemudian mendekat, mahkota itu terlihat begitu indah, bertabur kristal dengan batu safir berwarna biru yang paling besar berada di tengahnya.
“Dengan ini, Kau Eurene Marioline Reginus dianugerahi gelar sebagai Queen Regina ke-empat, long may she reign!” ucap sang Uskup sembari membawa mahkota indah itu untuk dipasangkan ke kepala Eurene. Kejadian yang tak terdua pun terjadi, mahkota itu terlalu besar untuk kepala Eurene sehingga satu sisinya pun jatuh dan menutup separuh wajah si ratu mungil itu.
Seisi aula harus menahan tawa mereka, ada beberapa yang tak bisa menahannya dan terkekeh pelan. Eurene pun menyeringai dengan polosnya sambil memegangi mahkotanya. Tak lama mereka kembali terkendali dan fokus pada upacara penobatan itu.
“Queen Regina ke empat! Long may she reign!” seorang anak lelaki berambut pirang dan berdiri di samping Lord Delmas berseru, diikuti oleh seluruh pejabat yang menghadiri penobatan hari itu.
“Long may she reign! Long may she reign! Long may she reign!”