Bola berwarna putih melesat kencang ke arah gawang lawan setelah dipukul kuat-kuat oleh Eurene. Semua orang menahan nafasnya seiring dengan melayangnya bole tersebut, tatapan mereka tidak beralih sedikitpun, memerhatikan laju bola putih dengan harapan jika tim Ratu Eurene akan memenangkan pertandingan polo sore ini.
“Aahhh!” Semua orang yang berharap cemas bersorak secara bersama-sama ketika bola polo itu meleset dan mengenai gawang lalu memantul kembali.
Hampir … sedikit lagi bola itu pasti akan masuk ke gawang dan membuat kemenangan berada di pihak tim Eurene. Namun kegagalannya ini menggiring timnya pada kekalahan dan membuat tim Sir Dekter memenangkan permainan.
Meski banyak yang kecewa dengan hasil pertandingan tersebut, Eurene malah terlihat senang dengan hasilnya. Senyumnya mengembang ketika turun dari kudanya, lalu meminta maaf kepada seluruh orang yang bergabung dalam timnya.
“Kalian sudah bekerja keras, maafkan aku.” Eurene menepuk pundak teman-teman satu timnya yang terdiri dari para pengawal istana.
“Tidak, Your Majesty. Kami tidak bekerja keras hingga anda harus mengalami kekalahan.” Salah seorang di antara mereka membalas.
Mendengar itu Eurene malah tertawa sangat keras, melupakan statusnya yang sangat tinggi. Ketika suasananya terasa sangat canggung, Eurene menghentikan tawanya lalu menoleh ke arah istri para dewan istana berada. ‘Para Wanita Elit’ begitu Eurene menyebut mereka. Senyum yang menawan milik Eurene itu harus meredup karena etika yang mengatakan jika wanita bangsawan tidak seharusnya tertawa dengan mulut terbuka lebar.
“Aku tidak boleh tertawa, ‘kan?” tanya Eurene kepada para pengawal istana. Tentu saja mereka pun tidak tahu harus menjawab bagaimana. Sebagai pengawal dengan status rendah mereka hanya mengikuti peraturan.
“Tentu saja anda boleh tertawa, Your Majesty.” Sir Dexter mendekat, tubuhnya yang tinggi besar berdiri di antara Eurene dan area tempat menonton para bangsawan dan istri mereka. Sengaja Sir Dexter melakukan hal itu supaya tubuh Eurene tidak tampak dari area penonton. Seketika itu juga Eurene kembali terkekeh dengan tingkah Sir Dexter.
“Kau memang yang terbaik ….” Eurene melangkah mendekat pada Sir Dexter, kemudian menepuk pundaknya. “Kau terbaik dalam segala hal.” Eurene kembali menepuk Si Dexter hingga membuat wajah pria itu bersemu merah. Setelahnya, Eurene melangkah pergi dari arena permainan.
“Melelahkan sekali …,” gumam Eurene ketika Freyja telah menghampirinya dan mengusap peluh yang membasahi wajah hingga leher Eurene.
“Anda tidak menyapa para bangsawan itu, Your Majesty?” tanya Freyja sambil berjalan beriringan dengan Eurene memasuki istana. Namun Eurene tampak sangat acuh tak acuh dan terus melangkah.
“Apa mereka tidak puas hanya dengan melihat pertandinganku?”
“Jika itu saya, saya sangat puas sekali! Anda sangat luar biasa saat bermain, berkali-kali anda mengalahkan Sir Dexter, Your Majesty! Anda sangat menakjubkan sekali.”
“Benarkah? Apakah terlihat sebagus itu?” tanya Eurene sambil menghentikan langkahnya. Sebuah pujian benar-benar sanggup menarik seluruh perhatiannya. Freyja mengangguk dengan kuat ketika Eurene menuntut jawaban. Eurene pun tersenyum puas kemudian melanjutkan kembali langkahnya.
Melewati lorong yang cukup panjang mengharuskan Eurene pun berpapasan dengan banyak pelayan yang memberikan salamnya, tak jarang beberapa pejabat istana juga berpapasan dengannya yang seringkali menyita waktu Eurene untuk menanyakan perihal pekerjaan istana. Selayaknya seorang Ratu dengan citra yang baik, Eurene tetap melayani mereka meski kegiatannya seharian ini sudah membuatnya lelah, apalagi ditambah dengan permaianan polo yang tidak bisa dia menangkan.
Setelah menanggapi seorang pejabat istana yang menanyakan tentang taman di samping danau istana, Eurene yang ingin segera kembali ke kamarnya pun memilih berlari hingga membuat Freyja bersusah payah untuk mengejarnya.
“Your Majesty! Tunggu!!” Freyja terus saja berteriak tapi yang dikejar enggan menoleh ke belakang atau menunggunya. Cara itu sungguh efektif, karena sepanjang berlari tidak ada yang berani menghentikan Eurene, bahkan para pejabat pun tidak bisa menghentikannya.
“Astaga … mengapa aku punya ratu seperti itu?” batin Freyja yang kelelahan mengejar Eurene. Akhirnya ia memilih untuk berjalan saja membiarkan Eurene berlarian di sepanjang lorong istana.
Eurene yang senang karena caranya berhasil pun kegirangan sambil membuka pintu, ia berharap bisa merebahkan tubuhnya sebentar sebelum mulai bekerja kembali dan memeriksa semua dokumen kerajaan.
“Akhirnya … aku bisa—” Ucapan Eurene tergantung di udara saat sebuah senyuman lebar yang menawan menyambutnya pertama kali saat dia masuk ke dalam kamarnya. “Tunggu … aku tidak salah ruangan, ‘kan?” tanyanya dengan nada jenaka.
Tawa pria itu menggema di seluruh ruangan dan membuat Eurene pun senantiasa tersenyum manis.
“Sungguh … kau tidak berubah sama sekali.” Pria itu berjalan mendekat pada Eurene yang masih mematung di tempatnya.
“Tunggu … jadi kau nyata?” kelakarnya sembari melangkah mendekat. Eurene mengulurkan tangannya lalu mencubit lengan pria itu. “Ilias! Kau nyata! Kau benar-benar kembali.” seru Eurene dengan gembira. Dia melupakan jati dirinya sebagai seorang ratu kemudian memeluk erat pria bernama Ilias.
Senyum Ilias merekah luar biasa ketika sahabatnya sejak kecil itu memeluknya dengan penuh kebahagiaan. Sedikit tidak menduga jika Eurene akan bereaksi seperti ini saat melihatnya. Memangnya apa yang bisa Ilias harapkan? Lima tahun dia pergi ke negeri seberang untuk menimba ilmunya, dia pikir Eurene telah menjadi sosok wanita dewasa yang anggun. Eurene memang anggun, Ilias tidak bisa memungkirinya, ketika menyaksikan permainan polo yang dimainkan oleh Eurene, melihatnya dia atas kuda, bermain dengan penuh semangat, membuat Ilias berpikir jika Eurene yang sekarang akan berbeda dengan Eurene yang ditinggalkannya lima tahun yang lalu. Namun, semuanya sirna ketika kelakar Eurene adalah hal pertama yang dia dapatkan saat menyambut Eurene di kamarnya.
Sesaat kemudian Eurene melepaskan pelukannya, menatap Ilias dengan tatapan tajam. “Lord Ilias Delmar … mengapa kau tidak memberitahuku jika kau akan kembali?” tanya Eurene dengan wajah yang kecewa.
‘Tidak ada orang yang tahu aku kembali … kau adalah yang pertama, eh tidak.” Ilias meralat ucapannya.
“Bukan? Lalu siapa orang pertama yang kau temui selain aku?”
Ilias terkekeh pelan melihat bagaimana wajah Eurene cemberut karena kenyataannya dia bukan orang pertama yang ditemui oleh Ilias. “Itu … Lady Nivera, aku tidak sengaja bertemu dengannya saat mengendap-endap ke kamar ini.”
“Jadi Bibi Nivera tahu kau kembali?” tanya Eurene, sembari melangkah menuju ke kursi hendak meletakkan tubuhnya yang terasa lelah. Namun, tak sempat tubuhnya menyentuh kursi dengan busa empuk itu sebuah ketukan di pintu menghentikannya.
“Your Majesty, ini saya dan Freyja.”
Panjang umur! Baru saja dibicarakan sudah muncul saja. “Masuk, Bibi …,” sahut Eurene lalu ia segera mengambil tempat duduknya. Meletakkan tubuhnya dan menyandarkan punggung di sandaran kursi. Nyaman sekali rasanya, hingga Eurene pun memejamkan matanya menikmati kenyamanan yang sangat mewah baginya.
“Your Majesty, lari anda sangat cepat sekali.” Freyja pun langsung mengomel meski di sampingnya Nivera memelototinya supaya menjaga etika di depan Eurene dan juga Ilias. Berkali-kali Nivera menggunakan isyarat matany untuk memberi tahu Freyja jika diruangannya Eurene tidak sendiri.
Sementara itu, Ilias hanya duduk sambil mengamati Freyja yang terus mengomel tentang Eurene, di sisi lain Eurene tampak acuh tak acuh karena itu sudah kebiasaan Freyja yang selalu saja mengomeli tingkah laku Eurene. Hingga beberapa saat kemudia, Freyja pun menyadari jika di hadapannya kini sedang ada seorang pria menawan, pria yang sangat populer meski dia sempat pergi ke negeri tetangga untuk menimba ilmu, pria yang menatapnya dengan segurat senyuman di wajahnya.
“L-lo-lord Delmar?” seketika itu juga wajah Freyja memerah, langsung dia bersembunyi di balik punggung Nivera karena merasa malu. Bisa dikatakan Freyja adalah penggemar berat Ilias, sejak pertama kali ikut dengan Eurene dan mengenal Ilias, Fryeja pun mengagumi pria bangsawan yang gagah berkharisma tersebut.
“Wow, Freyja … lihat dirimu, kau tumbuh dengan baik.” Ilias memujinya dengan senyuman lebar, sementara wajah Freyja semaki merah layaknya udang yang direbus.
“Kenapa kau sembunyi, seharusnya kau senang saat Lord Ilias kembali.” Nivera berusaha untuk memindahkan tubuhnya agar Freyja tidak lagi sembunyi dibaliknya.
“Aku … aku sangat senang,” ujar Freyja malu-malu.
“Sepertinya tidak seperti itu, kalau kau senang seharusnya kau melihatku dengan baik-baik.” Ilias mengatakannya dengan nada jahil. Eurene mencubit pelan pinggang Ilias hingga pria itu meringis kesakitan. Sementara Freyja berusaha menutupi wajahnya yang memerah.
“Berhenti menggodanya, My Lord.”
Ilias hanya terkekeh pelan. “Baiklah, aku akan berhenti menggoda para wanita di istanamu, dengan satu syarat.”
Eurene yang sempat menutup matanya karena merasa terlalu lelah itu membuka sebelah matanya dan menatap Ilias penuh tanda tanya. “Seorang Ratu tidak menerima persyaratan untuk hal menggelikan seperti itu, Lord Ilias.”
“Aku tidak meminta pada ratu … aku meminta pada sahabatku,” katanya. Ilias tahu betul bagaimana dirinya harus mengeluarkan ‘kartu’ sahabatnya supaya Eurene menuruti permintaannya.
“Baiklah … apa syaratnya?” tanya Eurene sambil menegakkan kembali tubuhnya dan melirik ke arah Freyja. “Tapi sepertinya dia lebih suka jika kau menggodanya,” katanya asal.
“Your Majesty!” Tiga orang itu berseru pada Eurene secara bersama-sama hingga Eurene menatap mereka heran. Bagaimana bisa ada orang yang begitu kompak menyebut namanya. Bahkan para dewan istana yang ingin mematahkan keputusannya tidak sekompak ini.
“Kalian ini … baiklah, baiklah, memangnya apa yang kau inginkan dariku?” tanya Eurene dengan malas. Mendengar jawaban Eurene membuat Ilias sangat antusias, dia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Nivera yang membawa sebuah bingkisan di tangannya.
Ilias mengambil bingkisan tersebut, kemudian membawanya ke hadapan Eurene.
“Datanglah ke ball malam ini.”
Seketika itu Eurene membuka kedua matanya dan menatap tak percaya ke arah Ilias, dia tidak bisa mempercayai pendengarannya sendiri hingga melihat bagaimana raut wajah Ilias yang serius setengah memohon, dan begitu juga dengan Nivera dan Freyja. Tampaknya ketiga orang di depannya itu sudah merencanakan hal ini. Eurene ingat betul jika dirinya sudah mengatakan dengan jelas pada season debutante ini tidak akan menghadiri ball.
“Tidak.” Tegas dan tak terbantahkan.
*
“Tidak.”
Sebuah jawaban yang sama sekali tidak diharapkan oleh Cathan keluar dari bibir Magnus. Padahal Cathan tahu betul jika sebuah pesta memang bukan hal yang digemari oleh pria yang sangat serius seperti Magnus.
“Mengapa cepat sekali menjawab,” balas Cathan sambil menghisap cerutunya.
“Kau sudah tahu jawabannya dan masih bertanya.”
“Aku hanya berusaha, kau sudah melewatkan banyak sekali pesta dalam hidupmu. Apa kau tidak ingin bertemu gadis-gadis debutantes itu? setidaknya kau bisa melihat satu atau dua gadis yang cantik.”
Magnus mendengarkan sembari memasukkan barang-barangnya ke dalam koper miliknya. Cathan masih melanjutkan ocehannya, dan Magnus menyerah mendengarnya lagi. Sebuah buku yang cukup besar diletakkan dengan keras ke dalam koper hingga menimbulkan suara yang cukup keras dan berhasil membungkam Cathan.
“Bila kau ingin pergi ke pesta … maka pergilah, Cathan. Mengapa kau harus merengek padaku.”
“Itu karena kau akan pergi ke Halfthorn yang jauuuuh sekali dan tidak akan bisa menikmati pesta di sana.”
Magnus menghela nafasnya, dia menatap Cathan sekilas. Merasa heran pada wakilnya di Golden Eye ini, entah sudah berapa kali Cathan mengajaknya pergi ke sebuah ball yang diadakan bagi para debutantes mencari para suitor yang cocok bagi mereka. Magnus tidak mengerti mengapa Cathan memaksanya terus ikut dalam acara yang sama sekali tak diminati olehnya itu.
“Apa kau tidak curiga … mungkin saja gadis yang selalu kau temui juga datang ke pesta itu untuk mencari suitor yang cocok?”
“Dia tidak melakukannya.”
“Benarkah? Kurasa itu mustahil, apakah dia bukan gadis bangsawan?”
Magnus terdiam sejenak. Selama ini dia tidak pernah memikirkan apa status gadis itu, mereka telah hidup berdampingan cukup lama. Akan tetapi karena Cathan menyebutkannya, membuat Magnus berpikir lagi. Selama ini ‘Kendra’-nya memiliki seorang pelayan yang selalu mengikutinya. Apakah gadis dari kalangan rakyat jelata memiliki pelayan seperti itu? pakaian yang dipakai pun bukan pakaian yang biasa-biasa saja.
“Kau bahkan tidak tau apakah dia seorang bangsawan atau bukan?”
Magnus masih enggan membalas, pikirannya kini hanya dipenuhi oleh bayangan Eurene. Satu per satu Magnus memilah semua ingatannya, melihat bagaimana cara Eurene bersikap, gadis itu selalu sopan walau kadang-kadang memiliki sisi usil, cara bicaranya juga berbeda dengan wanita-wanita kalangan rakyat biasa, meski Eurene tampak sederhana, tapi jika diperhatikan lagi dia tidak sesederhana itu.
“Kapan pesta itu akan dimulai?”
“Nanti malam di kediaman Lady Mandy.” Cathan menatap Magnus dengan lekat-lekat. “Jadi kau ingin datang?” Cathan memastikannya sekali lagi, tampaknya umpan yang dia gunakan untuk menarik Magnus supaya ikut dengannya ke pesta para bangsawan itu berhasil.
“Sepertinya kau membutuhkan suit baru,” balas Magnus.
“Ya! akhirnya, kau ikut juga ke pesta itu!”
“Apa kau sesenang itu?”
“Tentu saja!”
Magnus tersenyum samar, dia kembali melanjutkan kembali mengepak barang-barang yang akan dia bawa pergi ke Halfthorn. Sementara Cathan sangat gembira karena berhasil untuk menaklukan beruang kutub yang sama sekali tidak tertarik dengan gemerlapnya pesta.
*
“Apa kau sungguh berhasil?” tanya seorang pria yang sedang menghisap cerutu. Dua orang lainnya menatap Cathan penuh rasa ingin tahu.
“Lihat saja nanti malam, dan siapkan uangku!”
“Baj*ngan sialan. Bagaimana bisa kau mengajak ketua yang sangat dingin itu pergi ke pesta?”
Cathan tersenyum penuh kemenangan, tentu saja karena dia telah memenangkan taruhan bersama dengan teman-teman anggota biro yang lain.
“Aku menipunya,” balas Cathan sambil terkekeh, dia kembali membayangkan bagaimana ekspresi Magnus ketika ia menyebutkan tentang wanita yang selama ini selalu dia temui. Rupanya, pria serius, kaku, dan sangat berhati dingin itu memiliki sebuah kelemahan. Wanita.
.
.
.
To be continued