JPD 8 Tragedi di Rumah Murid

1135 Kata
Pov Alfa Aku mengantar Riyanti sampai ke rumah muridnya. Dia berpesan supaya aku meninggalkannya. Kalau kalian berpikir aku akan ninggalin dia jawabnya enggak. Aku memilih menunggunya di mobil sampai dia selesai ngajar. Dia sebenarnya perempuan sekuat apa sih, seharian kuliah dan kerja part time. Refreshing sebentar sudah kerja lagi. Aku nggak habis pikir, apakah dia sempat memikirkan kesehatannya. Apa dia ingat dengan jam makannya hingga kelihatan kurus begitu. Hufh, kenapa aku jadi perhatian banget sama Riyanti. Aku mengacak rambutku sendiri karena bingung dengan pikiranku. Aku melihat Riyanti dan muridnya belajar di teras. Tampak sekali kalau dia mengajar dengan sabar. Tak jarang muridnya tertawa senang belajar dengannya. Setengah jam berlalu, aku mendengarkan musik sambil menscroll email atau materi yang ada di ipad. Kulihat ada laki-laki paruh baya entah papanya atau kakeknya si murid. Tapi kurasa dia lebih cocok kakeknya deh. Dia mendatangi Riyanti dan ada yang diobrolkan. Beberapa menit kemudian laki-laki itu mengajak Riyanti masuk. Sebelumnya Riyanti tampak memberikan petunjuk pada muridnya untuk mengerjakan dulu sesuatu yang ada di buku. Aku heran kenapa Riyanti nggak keluar-keluar. Sebenarnya laki-laki tadi ngapain ngajak ke dalam. Perasaanku kok jadi nggak enak. Akhirnya kuputuskan keluar dari mobil lalu melangkahkan kakiku menuju rumah itu. "Dik, Mbak Riyanti mana? Saya yang nganterin tadi." "Oh, lagi ke dalam Mas, tadi dipanggil kakek." "Saya boleh numpang ke toilet?" Aku meminta ijin supaya bisa masuk rumahnya tanpa dicurigai. "Masuk aja, Mas. Lagian ada Mbak Yanti juga di dalam." Aku masuk menyusuri rumah yang cukup besar itu. Namun tidak kutemukan Riyanti di ruang tamu atau ruang lainnya. Aku semakin curiga saat mendengar sayup-sayup suara minta tolong di lantai atas. "Tolong lepasin saya, Pak." "Saya tahu kamu butuh uang kan? Saya sudah memberikan lebih dari yang Hendra bilang." "Saya tidak butuh uang. Aargh..." Aku berlari ke lantai atas dan mendobrak sebuah kamar. Aku tertegun dan seketika amarahku memuncak mendapati Riyanti yang diperlakukan tak senonoh oleh laki-laki tua itu. Aku ingin memukul laki-laki tua itu, namun Riyanti segera mencegahku. Dia merengkuhku dan mengajakku keluar dengan tergesa. Masih bisa kulihat tangisannya dan pipi sebelah kirinya memerah pasti karena ulah laki-laki itu. Jilbabnya saja hampir terlepas kalau aku tidak segera mendobrak pintu tadi. Entah apa yang terjadi padanya tidak bisa kubayangkan. Dia mengajakku segera meninggalkan rumah itu. Namun Riyanti masih bisa berpamitan dengan baik pada muridnya. "Mbak Yanti mau kemana?" "Maaf, Niko Mbak harus pulang. Ada teman yang sedang sakit. Besok kita lanjutkan ya." Anak yang bernama Niko mengangguk meski heran melihat Riyanti yang masih sembab. Aku segera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menahan emosi yang masih menyesakkan d**a, sementara Riyanti justru menangis tergugu sambil bersandar di jok. Aku frustasi melihat Riyanti menangis, karena jujur aku nggak terbiasa melihat seorang perempuan menangis di depanku. "Menangislah jika itu membuatmu lega!" Aku hanya bisa mengatakan itu untuk menghiburnya. Aku akan membiarkan Riyanti sendiri yang bercerita masalahnya supaya dia tidak tertekan jika aku duluan yang menanyainya. Aku memutar arah tujuanku dan membawanya ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Dia tak menyadari kalau aku membawanya ke arah yang berlawanan dengan jalan pulang. Ya, aku mengajaknya menikmati sunset di Candi Ijo yang terletak di bagian timur Yogyakarta. Candi Ijo dibangun sekitar abad ke-9, di sebuah bukit yang dikenal dengan Bukit Hijau atau Gumuk Ijo yang ketinggiannya sekitar 410 m di atas permukaan laut. Karena ketinggiannya, maka bukan saja bangunan candi yang bisa dinikmati tetapi juga pemandangan alam di bawahnya berupa teras-teras seperti di daerah pertanian dengan kemiringan yang curam. Pemandangan alam di sekitar candi sangat indah untuk dinikmati terutama bagi pecinta sunset atau sunrise yang instagramable. "Maafkan saya sudah merepotkan Pak Alfa," ucapnya dengan wajah sendu. Masih sedikit terdengar isakannya. "Jangan minta maaf, kamu nggak salah. Oya kita lagi nggak di kampus, bisakah jangan panggil Pak. Anggap saja aku sekarang temanmu." Ekspresi Riyanti menyiratkan kaget dengan apa yang kukatakan. "Tapi, Pa..." "Nggak ada tapi. Panggil nama saja atau lainnya yang penting bukan Pak." "Alfa..., Mas Alfa? Om Alfa?" "Ya ampun, Ri. Masak masih muda gini dipanggil Om. Emang kamu mau berteman dengan om om?" tanyaku dengan mimik pura-pura kesal. Lantas dia tertawa dan lupa dengan kesedihannya tadi. "Iya iya, Mas Alfa." "Nah gitu aja lebih enak didengarnya, Ri." "Ri..." Keningnya berkerut saat mendengar aku menyebut panggilan yang baru. "Mulai sekarang aku panggil kamu, Riri." "Kenapa?"tanyanya dengan wajah polos. "Biar beda aja. Kamu sudah panggil aku Mas, jadi aku panggil namamu beda dengan yang lain. Sekarang kita berteman bukan?" Dia pun tersenyum padaku membuat jantungku berdebar kencang. Aku segera mengalihkan pandangan ke sunset untuk meredakan debaran ini. Pun Riyanti juga melakukan hal yang sama. "Aku benci orang kaya, Mas. Mereka seenaknya saja dengan menindas orang miskin seperti aku." Deg, sontak aku kaget dengan nada tinggi Riyanti yang menyiratkan emosi. Bisa-bisa dia nggak mau berteman denganku kalau tahu aku orang kaya. "Hmm, nggak semua orang kaya begitu, Ri." "Tapi orang kaya yang aku kenal begitu, Mas. Kalau Mas Alfa orang kaya pasti juga gitu, kan?" "Gitu gimana maksudmu?" "Kakeknya Niko orang b******k, dia pikir aku perempuan apaan. Aku diminta menghilangkan penatnya. Coba bayangkan apa sebenarnya yang iya minta. Aarggh, aku bisa gila kalau seperti ini Mas. Aku memang butuh uang tapi aku cari uang dengan cara halal, bukan dengan jalan yang menjijikkan seperti tawarannya." "Astaga kurang ajar laki-laki tua itu, Ri. Harusnya kamu biarkan aku memukulinya. Untung saja aku datang tadi. Kamu tidak apa-apa kan?" "Iya, alhamdulillah Mas Alfa tadi segera menolongku. Dia bermaksud membuka hijabku lantas aku teriak minta tolong dan dia justru menamparku." "Sakit banget pasti ya." Andai aku bisa mengelus pipinya pasti aku lakukan untuk meredakan sakitnya. Tapi aku tahu Riyanti jelas tidak suka hal itu. Dia paling anti disentuh lawan jenis. Hanya tadi spontan darurat dia sempat merengkuh tubuhku. Rasanya benar-benar hangat bagai sengatan listrik entah berapa volt tegangannya. 'Astaghfirullah, otakku sudah nggak waras ini.' "Kamu nggak usah ngajar Niko lagi aja, Ri," pintaku pada Riyanti yang menerawang jauh ke arah sunset. "Tapi aku butuh kerjaan." "Nanti aku carikan murid lain." "Kasihan Nikonya." "Ckkck. Kalau gitu Niko aja yang datang ke kamu bukan sebaliknya." "Iya ya, ide bagus." "Btw, Mas Alfa kok ngontraknya di kontrakan mewah. Jangan-jangan Mas orang kaya ya?" Riyanti sudah menatapku horor membuatku mati kutu. "Eh, hmm kamu kan tahu aku dosen Ri. Masak mau tinggal di kos yang biasa bareng mahasiswa. Aku milih yang isinya orang-orang dah kerja. Kamu doakan aku biar bisa jasi orang kaya dong seperti teman-teman kontrakanku." "Gitu ya? Lalu mobil yang tadi?" "Aku pinjam dari Andi," jawabku benar-benar jujur bukan, memang itu milik Andi. Kalau Riyanti tau mobil sport yang di garasi adalah milikku mungkin ia shock dan bisa-bisa nggak mau berteman denganku. "Kalau Mas Alfa jadi orang kaya pasti sudah lupa sama aku," ucapnya cemberut membuatku gemas dan sedikit khawatir kalau dia nanti membenciku saat tahu aku bukan seperti yang dia kira. Aku hanya ingin dia menerimaku apa adanya. Ah biarlah waktu yang menjawabnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN