JPD 9 Lebih Dekat

1009 Kata
Pov Riyanti Mas Alfa mengantarku sampai kos malam itu. Eh, bolehkan aku memanggilnya dengan Mas kecuali di kampus harus tetap panggil Pak. Aku sangat bersyukur dia sudah menyelamatkanku dari laki-laki b******k itu. Tapi aku tidak bisa berhenti begitu saja mengajar Niko. Kasihan dia tidak salah apa-apa. Pak Hendra juga baik sudah memberi HR ku di awal. Setidaknya aku harus membayar kembali dengan tetap mengajarnya. Mas Alfa memintaku mengajar Niko di kontrakannya tepatnya di teras depan yang lumayan luas. Dia tidak ingin kejadian yang menimpaku terulang lagi. Aku heran kenapa Mas Alfa baik padaku sekarang. Aku merasakan lebih dekat dengannya. Atau hanya perasaanku saja, barangkali dia memang baik dengan semua orang. Buktinya bukan hanya aku yang akan mengajar les dikontrakannya. Ternyata dia membuka jasa les dengan mahasiswa yang akan mengajar. Ada aku, Gilang, Amel dan Putri yang sementara menjadi staf pengajar. Selesai mengajar Mas Alfa menghampiriku. Entah kenapa aku jadi gugup sendiri. "Ri, nanti sudah bisa mulai. Tempatnya sudah disiapkan sama Andi," "Baik, Ma...eh Pak." Aku tersipu malu hampir keceplosan memanggilnya Mas. Tak ayal teman-temanku saling pandang dan mengernyitkan dahinya. "Hei, sejak kapan Pak Alfa memanggilmu dengan sebutan Ri?" tanya Gilang dengan wajah penuh harap aku menjawabnya. "Eh itu, keceplosan kali." Aku mendadak jadi salah tingkah di depan sahabat-sahabatku. Rasa ingin tahu mereka memang tinggi. "Nggak mungkin, tadi juga kamu memanggilnya bukan Pak deh." Putri pun turut menimpali. Sepertinya aku sudah kepalang basah dan harus mengaku juga. Aku menyeret amel ke taman diikuti Putri dan Gilang. Aku menceritakan semuanya kejadian setelah keluar bioskop lalu di rumah Niko dan terakhir sampai di Candi Ijo. "Apa, Ti. Jadi kamu nggak cerita sama aku setelah sampai kos." Amel sudah marah-marah padaku karena aku belum cerita apa-apa sama dia. "Maafkan aku, Mel. Aku...masih trauma malamnya. Aku sempat menangis histeris lagi di kamar sambil aku stel musik biar nggak ada yang dengar. Aku benci nasibku sial kemarin. Entah apa yang terjadi kalau tidak ada Mas Alfa yang membantuku. Mungkin aku akan menjadi orang yang menjijikkan. "Astaghfirullah, jangan ngomong gitu Ti. Maafkan aku." "Maafkan kami, Ti. Kami malah enak-enak nonton film." Amel dan Putri memelukku bergantian, sedang kan Gilang menatapku turut prihatin. "Jadi, Pak Alfa sekarang lebih dekat denganmu?" tanya Gilang penasaran. "Iya, dia menawarkan pertemanan sejak membantuku kemarin. Saat itu aku bilang padanya, aku benci orang kaya. Mereka suka seenaknya dan menindas orang miskin seperti aku." "Tapi, tidak semua orang kaya seperti itu, Ti," elak Gilang persis seperti ucapan Mas Alfa kemarin. "Iya ya, tetap aku harus hati-hati dengan orang kaya Lang. Sudahlah, yang penting aku tau Mas Alfa bukan orang kaya, seperti kita." "Yakin, Ti? Darimana kamu tau? Penampilannya aja kelihatan lho. Kontrakannya juga dari luar saja terlihat mewah." Aku diserbu pertanyaan Gilang yang membuatku jadi ragu, jangan-jangan Mas Alfa berbohong padaku. Ah entahlah mungkin aku harus berhati-hati, takut dia hanya memanfaatkan pertemanan kami. "Sudah sudah, mau Pak Alfa orang kaya atau bukan yang penting dia sekarang pdkt sama teman kita Riyanti....yeay..." Amel sudah terbahak membuatku malu si depan Gilang dan Putri. "Ciiee yang lagi berbunga-bunga hatinya. Merah merona tuh pipinya." "Apaan sih, Lang. Awas kamu ya." Aku segera pergi untuk menghindari ejekan yang dilontarkan mereka. Aku harus ke Graha Tailor sebelum nanti sore ke kontrakan Mas Alfa untuk mengajar Niko. Pak Hendra sudah setuju mengantarkan Niko ke tempat Mas Alfa. Aku beralasan untuk menghemat waktu dari Graha Tailor tinggal berjalan kaki ke kontrakan. Aku tak mungkin mengatakan kelakuan kakeknya Niko pada Pak Hendra yang sudah baik padaku. ---- Pov author Sore itu Alfa masih ada jadwal mengajar dan sudah berpesan pada Riyanti beserta teman-temannya untuk datang ke kontrakan menyiapkan ruang tempat mereka mengajar les. Hari ini ada dua siswa Niko dan siswa baru yang akan diajar Galang. Sementara Amel dan Putri menyiapkan peralatan untuk mengajar serta menata ruang. Galang dan Riyanti sudah mulai mengajar siswanya dengan asyik. "Mel, anterin ke kamar mandi yuk. Nggak enak nih nyelonong ke kontrakan laki-laki," pinta Putri yang sudah tak tahan dengan hajatnya ingin bak. "Hmm, ayuk. Cuma ada Mas Andi kan kayaknya." Putri pun mengangguk mengiyakan. Mereka berdua melangkah masuk ke rumah kontrakan yang terbilang cukup besar dan mewah itu. Ada keraguan kalau Pak Alfa bukan orang kaya, nggak mungkin yang nyewa di sini bukan orang kaya. "Mas Andi, maaf kami ingin ke kamar andi," ucap Putri meminta ijin. "Oh silakan. Itu di pojok setelah kamar Alfa ya." Putri dan Amel mengangguk. Putri terburu masuk kamar mandi sedangkan Amel menungguinya tepat di depan kamar yang dibilang Andi milik Pak Alfa. Tanpa sengaja jendela di sebelah pintu kamar kordennya terbuka menyisakan vitrase cream yang membuat Amel masih bisa melihat isi kamar itu. Netranya membelalak tak percaya dengan isi yang ada di kamar itu. Rapi jelas iya, luas juga iya. Barang-barang branded milik Pak Alfa menandakan dia bukan orang biasa. Pastilah dia punya banyak uang. 'Riyanti pasti salah, Pak Alfa itu orang kaya. Apa aku perlu bilang yang sebenarnya? Ah tapi Riyanti baru kena musibah, kasihan kalau ditambahu tahu kenyataan tentang Pak Alfa.' "Kamu kenapa, Mel." "Ah enggak, kok." "Ini kamar Pak Alfa ya? Kamarnya pasti rapi ya orangnya aja ganteng." Amel hanya mengangguk setuju. "Haah, Mel. Kamu yakin ini kamarnya Pak Alfa?" Sontak Amel menutup mulut putri karena setengah berteriak. Lalu mengajaknya kembali ke depan. "Riyanti pasti salah, Mel. Pak Alfa pasti orang kaya. Kita kasih tahu aja sebelum terlambat." "Jangan, Put. Kasihan Riyanti baru saja kena musibah dan yang menolong kan juga Pak Alfa. Nanti kalau hubungan mereka malah renggang kitanya yang bingung menghibur Riyanti." "Iya juga. Ya sudah biarkan mereka lebih dekat aja ya, semoga Riyanti menjadi terbuka dan menerima apa adanya laki-laki yang mendekatinya." "Semoga aja Pak Alfamemang tulus mendekati Riyanti, Put." "Iya." "Sudah, ke kamar mandinya?" Andi mengagetkan keduanya yang masih ngobrol tak jauh dari kamar Alfa. "Ah iya Mas Andi makasih banyak. Hmm itu kamar Pak Alfa dengan Mas Andi ya?" "Ishh, ya enggaklah. Kita di sini satu orang satu kamar. Alfa yang paling besar, orang dia yang pu.... Upss maksudku dia yang kenal dengan pemiliknya." "Oh, begitu ya." Amel dan Putri hanya tersenyum penuh curiga lalu beranjak menuju teras tempat teman-temannya mengajar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN