JPD 6 Part Time Tambahan

1013 Kata
Pov Riyanti Memikirkan nasib yang menimpa keluargaku membuatku sering bermimpi. Mimpi bagaimana menjadi orang kaya mendadak. Bermimpi boleh saja bukan. Namun aku sadar jika hanya sekerdar mimpi, hidupku tidak akan banyak berubah. Aku pun memutuskan mencari kerja part time tambahan selain memberikan les. Setelah tengok kanan kiri, ada part time menjahit baju seragam anak. Lokasinya tidak jauh dari kos dan kampus. Ini menguntungkan sekali bagiku karena tidak harus menghabiskan waktu lama di perjalanan. Hari ini tida ada jadwal kuliah lantas aku putuskan untuk le Graha Tailor. "Saya Riyanti, Bu. Mahasiswi semester atas di kampus sebelah,"ucapku memperkenalkan diri pada Bu Zuhair pemilik "Graha tailor" industri tekstil yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Seringnya di Graha mengerjakan job menjahit seragam sekolah. "Yuk, naik biar dijelasin sama Mbak Dyah kerjaannya." ----- Pov Alfa Netraku tak salah bukan, atau aku yang hanya berhalusinasi saja. Kenapa wajah Riyanti selalu terpampang di pelupuk mataku. Ah lama-lama aku bisa gila kalau hanya memikirkannya. Segera aku memicingkan mata ke arah bangunan belakang kontrakanku. Aku sedang menjemur pakaian kerjaku karena hari ini tidak ada jadwal mengajar jadi waktu luang aku pakai untuk mencuci baju. Sebenarnya bisa saja dilondri tapi kalau tidak sibuk, aku lebih suka mencucinya sendiri. Mataku mengerjap beberapa kali dan benar saja, bisa kupastikan itu Riyanti. Ngapain dia ada disana. Itu kan tempat para pekerja menjahit baju orderan. Kontrakanku memang dekat dengan industri tailor. Apa dia juga bekerja di sana? Apa dia benar-benar maniak kerja? Kenapa dia tak sayang dengan badannya. Apa dia sengaja memporsir tenaganya, memangnya sekuat apa dia. Berbagai tanya melintas dibenakku. Kenapa aku jadi peduli padanya, kenapa aku tak suka dia sok kuat. Aku bahkan ingin selalu mengawasinya. Memangnya aku siapanya. Hufh, memikirkannya membuatku bisa gila. "Ehm ehm, kamu kenapa sih, Al?" sapa Andi teman kontrakan mengagetkanku. "Ah, nggak pa pa," jawabku tak jujur. "Dari tadi aku perhatiin kamu memandang ke bangunan itu terus. Apa yang menarik sih?" Andi memang kepo, dilihatnya ke seberang. Sama-sama bangunan lantai dua, tampak Riyanti sedang berbincang dengan perempuan paruh baya dan satunya lagi aku rasa seusia di atasnya. "Seneng aja lihat keramaian di seberang," jawabku asal justru semakin membuat temanku semakin kepo. "Sebentar Al, kayaknya ada anak baru. Eh bukankah itu cewek..., Al aku pernah lihat cewek yang cantik itu," ucapnya setengah berteriak. Kurasa orang di seberang sempat mendengar riuh obrolan kami. Aku segera menutup mulutnya lantas kuseret temanku untuk bersembunyi di balik jemuran. "Apa-apaan sih Al, pake nutup mulutku segala." "Lagian siapa suruh berteriak?" "Ciee, yang takut ketahuan curi-curi pandang anak sebelah." "Hush, ngawur kamu." "Benar kan, kamu pasti lagi kepoin cewek cantik yang kemarin anter pindang kan? Nggak salah lagi. Cewek yang di seberang itu sama dengan yang kemarin waktu maghrib kesini." "Awas ya, jangan macam-macam kamu!" "Eh apaan, harusnya aku yang bilang kamu Al. Jangan macam-macam sama anak orang. Jatuh cinta nanti baru tahu rasa kamu." Temanku langsung kabur negitu mau aku jitak kepalanya karena sembarangan menuduh aku jatuh cinta sama Riyanti. Eh tunggu sebentar, apa katanya tadi? Jatuh cinta, apa itu jatuh cinta? Bahkan aku tidak tahu seperti apa rasanya jatuh cinta yang sesungguhnya. Pernah sekali menyukai perempuan waktu SMP dulu, ya mungkin cinta monyet kali waktu itu. Sungguh memalukan saat itu hanya berpapasan saja langsung balik arah. Tapi yang kurasakan sekarang beda. Aku lebih ingin melindunginya, ingin melihatnya tersenyum dan aku sedih saat melihatnya terluka. Kalau memang benar ini cinta yang sesungguhnya, aku tak ingin merasakan kecewa. Lantas apa yang harus kuperbuat? "Andi....." teriakku memanggil nama temanku yang sudah mengkoarkan kata jatuh cinta. --- Pov Riyanti Saat Bu Zuhair mengantarku ke ruang produksi Graha Tailor di lantai 2, hatiku berdebar. Sungguh ada rasa sedikit tak percaya diri bergabung di dunia kerja yang berkebalikan 180 derajat dengan profesiku saat ini. Nggak papa Riyanti, kamu pasti bisa. Kalimat itulah yang selalu tertanam di hati sebagai penyemangat. Di sini aku bisa belajar apa saja, tidak hanya mencari uang seperti tujuan utamaku di awal. Aku bisa menambah skill selain menjahit karena kulihat ada yang mendesain, memotong kain, mengobras baju yang sudah hampir jadi, membuat jahitan di lubang kancing dan finishing. Sebagian itu hal baru bagiku. Mbak Dyah salah satu karyawan kepercayaan Bu Zuhair menjelaskan deskripsi pekerjaan padaku dengan baik. "Tolong diajari ya Dy!" pesan Bu Zuhair pada Mbak Dyah. "Siap Bu, ayo Ti sini gabung dengan teman-teman!" "Makasih ya Mbak Dy udah njelasin semuanya," ucapku sembari berkenalan dengan teman-teman yang ada berlima termasuk aku. "Kamu kuliah enak lho jadi mahasiswa kenapa harus jadi kuli seperti kami,Ti," celetuk salah satu teman. Sontak pertanyaan itu entah kenapa membuat perih hatiku. Seperti membuka rasa sedih yang sering kurasakan atas nasib baik yang harus kuperjuangkan. "Ah Mbak ini, aku suka punya banyak teman. Di sini aku bisa belajar banyak skill. Tolong ajari aku ya!" pintaku. Saat kami asyik mengobrol, aksaku tak sengaja melihag ke bangunan seberang. Ada laki-laki yang sedang menjemur pakaian. Sungguh pemandangan yang luar biasa, rajin sekali pikirku. Tiba-tiba datang satu lagi yang tampak mengobrol keduanya. Mereka asyik dan obrolannya hampir terdengar di telingaku karena ada teriakan. Tapi setelahnya mereka hilang di balik baju-baju. "Kamu lihat apa, Ti?" tanya Mbak Dyah padaku yang masih memandang ke arah bangunan itu. Sepertinya aku kenal bangunan itu dan juga laki-laki tadi kayak pernah lihat. Setelah berpikir sejenak, benar saja itu kontrakan Pak Alfa. 'Astaghfirullah, kenapa harus sering gini ketemu dia ya. Tapi kalau yang jemur baju tadi Pak Alfa berarti dia rajin juga orangnya. Aku hanya mengulas senyum membayangkan Pak Alfa mencuci bajunya sendiri, kenapa mggak di londri saja,' gumanku. "Eh, ni anak malah melamun dan senyum-senyum sendiri." "Mbak Dyah ngagetin aja." "Hmm, jangan sering-sering lihat seberang!" "Kenapa Mbak." "Nanti kesengsem dengan salah satunya tau rasa kamu. Itu kontrakan laki-laki tajir kayaknya lihat aja kalau lewat depannya mobil-mobil bagus dan mewah terparkir di sana." "Iyakah, bisa saja mobil rental," candaku langsung dipelototi Mbak Dyah. "Dasar Riyanti." Aku langsung menghindar sebelum kena timpuk kain yang dipegang Mbak Dyah. Rasanya aku tak salah memilih part time tambahan ini. Aku bisa dapat pengalaman, teman baru yang menyenangkan bonusnya bisa melihat Pak Alfa kalau sedang di lantai atas. Dasar otakku harus dibersihkan ini. Aku pun menepuk-nepuk kepalaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN