Pov Riyanti
Janji untuk mengembalikan keadaan seperti semula sudah terpatri di dalam d**a ini. Aku
benar-benar ingin membuat keluargaku tersenyum lagi. Hingga saat menjelang kuliah tiba
aku meminta ijin bekerja menjadi TKI ke Jepang. Namun belum sampai niat ini dieksekusi,
ibu tak merelakan kepergianku ke negeri sakura itu. Mungkin hati ibu terpaut padaku yang
sejak awal punya cita-cita menginjakkan kaki ke negara pemilik gunung Fuji itu untuk
menimba ilmu, bukan memeras keringat meraup rejeki.
Alhasil niatpun terpatahkan dan berganti untuk melanjutkan kuliah ke kota pelajar ini.
Meski awal mau registrasi ulang harus disertai drama panjang dengan meminjam uang sana-
sini termasuk mendapat caci maki saat bapak memohon dengan sangat.
'Sungguh ini titik terendah kekuarga kami.'
Kalau boleh memilih, aku tidak akan merepotkan saudara atau orang lain dengan meminjam
uangnya. Lebih baik meminjam di bank yang tidak akan menyusahkan orang lain. Namun
pihak bank sudah tidak memberi kepercayaan pada bapak yang kerap mangkir dari
angsurannya, miris sekali bukan?
Flasback off
Sedikit banyak tekad yang bulat tertanam di hati ini untuk mengubah nasib keluargaku. Ini
menjadikan semangatku bangkit kian membara untuk mencari uang.
Tak heran jika aku sering kena sasaran balik saudara yang membutuhkan uang. Jika
kubilang aku tak punya uang maka siap-siap telinga ini mendengar cacian tak tau balas
budi. Mereka pikir aku yang kuliah sambil kerja part time bisa menghasilkan banyak uang.
Padahal nyatanya uang yang didapat ini sedikit untuk tambahan makan serta membayar
angsuran mingguan bapak ibu. Belum lagi catatan hutang yang nominalnya ratusan juta.
'Aku hanya bisa bermimpi mendapat uang banyak untuk segera membuat keluargaku
terbebas dari lilitan hutang.'
Mengingat kembali masa ini membuat hatiku bagai teriris sembilu. Bagaimana tidak, bapak yang menjabat ketua panitia pemilihan Kepala Desa menjadi sasaran empuk saat masa pendukung salah satu calon yang tidak menang berdemo.
Mereka berusaha mencari kecacatan agar hasil pemilihan bisa digagalkan. Saat keputusan tak mampu diganggu gugat, sebagian oknum murka dan berjuang menggulingkan posisi jabatan yang diemban panitia.
Sekelompok oknum yang sedang mencari kecacatan hukum berkumpul di depan balai desa. Mereka membawa ban bekas dan perlengkapan untuk membakarnya, bahkan ada yang memikul keranda berisi replika mayat. Seakan-akan orang yang dicari cacat hukumnya pantas mati. Bukankah kematian itu Allah yang mengaturnya. Jika belum takdirnya tapi mereka menginginkan, bukankah mereka justru berniat membunuh makhluk ciptaan-Nya.
Mereka membunuh sebuah kehidupan, memutus sebuah rantai kebahagiaan. Karena bukan hanya satu orang yang kena dampak, anak istri dan kerabatpun merasakan.
Saat jabatan bapak dilengserkan hingga tak ada lagi pekerjaan alias menjadi pengangguran, bapak disandungkan sebuah kasus. Bapak dilaporkan meminta biaya untuk setiap pengurusan administrasi sertifikat tanah.
Seakan-akan kelompotan pendemo sedang menguliti kinerja bapak. Padahal bapak menjadi salah satu pegawai teladan pemerintahan desa. Bukannya tidak ada alasan tentang penarikan biaya administrasi itu, biaya yang ditarik juga dikembalikan untuk kepentingan warga yang mengurus.
Media massa pun turut mencatat sejarah nama bapak beserta rentetan masalahnya. Malu sudahlah pasti, keluargaku seperti tak ada harganya dimata masyarakat. Banyak yang terenyuh dan berempati, namun tidak sedikit juga yang mencemooh.
Beruntungnya ibuku wanita yang tangguh dan penuh kesabaran mendampingi bapak disaat genting harus berurusan dengan hukum.
Segala upaya dikerahkan bahkan dengan menjual harta benda keluarga kami untuk membiayai. Ah entahlah, aku menjadi malas berurusan dengan politik. Aku tak pandai ilmu yang satu ini. Aku lebih suka ilmu hitung menghitung. Pada akhirnya kami harus berpasrah kehilangan harta benda asal tidak kehilangan harga diri dan kehormatan. Kata ibuku akan sangat memalukan jika bapak sampai masuk penjara.
"Kasian kalian anak perempuan nanti kalau menikah siapa yang menjadi wali kalau bapakmu di penjara." ucap ibuku penuh penekanan dengan air mata menetes membasahi pipinya yang masih halus. Ibu selalu berpesan padaku dan Mbak Ratih agar bisa menjaga diri dan kehormatan meski sudah tak ada lagi harta benda.
Kami benar-benar hidup mulai dari nol lagi. Bahkan banyak hutang sana-sini karena tidak hanya satu dua ahli hukum yang bermaksud membantu. Lebih parahnya lagi, bapak juga pernah kena tipu oleh oknum pengacara yang ingin membantu pengurusan masalah ini. Bagaikan jatuh ketimpa tangga pula.
Roda hidup memang berputar, kadang di atas kadang di bawah. Sekarang aku merasakan berada di bawah. Hidup kami benar-benar berubah drastis. Ibuku selalu berpesan pada anak-anaknya untuk bersabar. Makan seadanya, jangan dengarkan gunjingan tetangga karena tidak akan ada artinya. Mereka seperti menganggap kita sudah tak berharga. Belajarlah yang rajin hingga cita-citamu tercapai dan angkatlah kembali bapak ibumu. Kami tidak mampu membekali harta, hanya ilmu yang bisa kami berikan.
Kata-kata itu selalu terngiang di kepalaku seperti kaset rekaman yang di putar ulang.
Suatu hari, sepulang sholat Idul Fitri, ibu segera menutup rapat pintu rumah kami.
Rasa kaget dan heran seketika menghinggapi anak-anaknya terutama aku.
“Bu, kenapa pintunya ditutup?” tanya Amar dengan muka heran tak paham.
“Biar saja, Nak. Tidak akan ada yang datang kesini. Kita sekarang jadi orang susah.”
Aku dan Amar memahami kegundahan keluarga ini. Hari lebaran yang biasa tertata
kue kering di meja ruang tamu, opor ayam dan ketupat di meja makan, kini hanya menjadi bayangan semu. Tidak ada makanan khas lebaran yang bertengger di kedua meja itu membuat hati ibu menjerit. Seketika ibu mengusap air mata yang menetes di pipi. Hal ini
tak lepas dari pandanganku. Melihat bapak
sedang beristirahat di kamar, entah benar-benar beristirahat atau sedang memutar otak memikirkan keluarganya. Menatap ibu yang sedang menangis membuat hatiku
teriris. Bagaimana tidak bersedih, di saat tetangga sekitar berlomba-lomba menerima tamu, justru keluarga kami bersembunyi dibalik pintu. Sejak lengsernya jabatan bapak,
keluarga pun tersisih dari lingkungan. Bagai makanan busuk yang bisa menyebabkan bau. Tak ada rasa simpati dari tetangga, mereka menganggap keluargaku tak ada. Warga berubah 180 derajat dari sebelumnya yang penuh hormat tatkala bertemu bapak, kini hanya memalingkan muka saat berjumpa. Tak hanya tetangga, saudara dan kerabat jauh pun tak bisa membantu banyak. Hanya ucapan simpati yang terlontar.
Setiap malam, Aku tak sengaja mendengar tangis ibunya. Tangis yang menyertai
doa di sepertiga malam demi keluarga yang disayang. Sebagai anak, aku tak ingin
melihat ibu menangis. Aku ingin mencari kerja dan mendapat uang banyak untuk
melunasi hutang-hutang bapak ibu hingga tak ada lagi kesusahan yang ditanggungnya.
Aku pernah berpikir menanam kebencian terhadap oknum-oknum yang memusuhi bapak.
Namun kemudian aku tersadar, rasa benci yang semakin membara di hati hanya melemahkan semangat dan jiwaku.
Bukankah aku akan menjadi orang yang merugi pula dengan hati yang dipenuhi dendam.
Akhirnya kuputuskan bertekad menunjukkan pada mereka segala prestasi yang bisa kuraih. Aku meyakinkan diri bisa mewujudkan impian mengembalikan senyum bapak ibu.