JPD 12 Flying High, Falling Down

1010 Kata
POV Riyanti Sampai kos, pikiranku masih terngiang ucapan Mas Alfa. Dia benar-benar ingin menjalin hubungan serius denganku. Tapi aku masih takut, bagaimana kalau kondisi keluarga kami bagai langit dan bumi. Bagaimana kalau Mas Alfa ternyata dari keluarga kaya. Tentang dirinya saja masih misterius bagiku. "Ti, ada Galang tuh di depan," ucap Amel masuk kamarku. "Ada apa sih, melamun aja sejak sampai tadi." "Nanti aku ceritain, Mel. Temani kedepan yuk ngobrol sama Galang." "Nggak, kamu aja sana. Aku mau lanjutin nonton drakor. Hahaha." "Mana bukunya, Lang?" ucapku seperti penagih utang membuat raut muka Galang tiba-tiba kebingungan. "Hmm, itu..." Galang sudah mulai gusar membuatku kawatir dia memang tidak membawa bukuku. "Jangan bilang kamu nggak balikin bukuku. Besok ujian tau nggak? Aku nggak bisa belajar dong." Wajahku sudah mulai menampakkan aura marah. "Maaf Ti, bukunya masih di fotocopyan." "Lalu, tinggal ambil kan?" "Masalahnya ini hari Minggu, fotocopyannya tutup." "Astaghfirullah, besok ujiannya pagi Lang. Gimana sih?" Aku sudah kesal dan menghentakkan kakiku beberapa kali ke lantai. "Maaf banget, Ti," ucapnya tulus. "Hufh, sudah sana pergi saja sebelum kena amukanku," usirku pada Galang yang sudah menampakkan wajah bersalahnya. 'Bagi Galang nggak masalah dia mau belajar atau enggak pasti bisa ngerjain ujian. Bisa-bisanya buku catatanku ditinggal di fotocopyan. Haruskah aku menangis guling-guling karena takut nggak bisa ngerjain soal dari Mas Alfa, eh Pak Alfa.' Aku tadi memasang wajah kawatir di depan Galang biar dia tahu rasa dan menyesali kecerobohannya. Sejujurnya aku sudah nyicil belajar lebih dulu sebelumnya. Jadi nggak masalah kalau malam ini aku nggak belajar, insya Allah aku bisa ngerjain besok. Aku terbiasa belajar untuk ujian jauh beberapa hari karena bisa saja aku kelelahan saat harus kerja part time atau mendadak ada kejadian seperti ini. Alhamdulillah aku masih bisa tenang menghadapi ujian besok. Aku hanya ingin mengerjai Galang. Pagi hari, ujian berlangsung dengan khidmat. Aku pun tidak cerita pada Amel kalau catatanku tertinggal di fotocopyan, bisa-bisa dia ikutan heboh memarahi Galang. Sepanjang ujian, Pak Alfa sesekali mencuri pandang ke arahku. Aku berusaha membuang muka biar tidak mengganggu konsentrasi. Dalam hati aku tersenyum sendiri mengingat ucapannya kemarin. Selesai ujian, Pak Alfa kembali ke ruangnya setelah sebelumnya berpesan padaku dan teman-teman untuk langsung ke kontrakannya saja saat mengajar les nanti. "Gimana, Ti bisa ngerjain soalnya?" "Menurutmu?" wajahku masih menunjukkan kesal meski aku tak kuasa menahan tawa. "Maaf ya, Ti." "Hahaha, Galang. Aku memang sudah belajar jadi bukunya kamu hilangin juga nggak masalah." "Sial, kamu ngerjain aku ya?" "Eh, kalian ada apa sih?" tanya Putri dan Amel penasaran. "Tanyain aja Galang. Yuk ishoma nanti sore ngajar les lho. Tambah nih muridnya." Setelah ishoma, aku cabut duluan ke Graha Taylor melanjutkan pekerjaanku. Teman-teman masih stay di kampus. Kami akan bertemu langsung nanti sore di kontrakan Mas Alfa. Sampai di Graha Taylor Mbak Dyah menyambutku dengan curiga. "Kamu dari tadi senyum-senyum ada apa, Ti? Lagi jatuh cinta ya?" "Eh Mbak Dyah ada-ada saja. Memang orang jatuh cinta wajahnya kayak mana?" "Ya, kayak kamu ini senyum-senyum sendiri." Sesekali aku mengarahkan netraku ke bangunan seberang. Melihat jemuran di sana aku jadi teringat Mas Alfa yang sedang menjemur pakaian. 'Ishhh, aku malah jadi terbayang-bayang tu orang.' "Nah kan, sekarang malah geleng-geleng kepala nggak jelas," goda Mbak Dy padaku yang spontan kubalas cengiran. Aku kembali fokus mengerjakan jahitan baju seragam TK. Lumayan hari ini banyak yang bisa dikerjakan menambah HR untuk satu pekan ini. Bahagia itu sederhana, dengan melakukan aktivitas yang membuat kita senang meningkatkan hormon bahagia kita, bukan. Menjelang sore aku pamit duluan pada Mbak Dy untuk pindah ke bangunan sebelah mengajar les. Mbak Dy hanya menggelengkan kepalanya melihatku yang gila kerja. "Assalamu'alaikum. Hai Mas Andi, teman-teman belum datang ya?" "Wa'alaikumsalam, eh Riyanti selalu terdepan deh. Masuk dulu, mungkin masih di jalan. Alfa juga belum pulang katanya ada rapat." "Oh, ya. Aku tunggu di sini sambil nyiapin materi." "Oke, aku tinggal ke dalam ya." Mas Andi meninggalkanku di ruang khusus yang disiapkan untuk mengajar les. Aku mengecek kembali buku materi untuk mengajar Niko takut ketinggalan di kos. Setelah memastikan ada di tas, aku membaca buku bacaan yang disediakan Mas Alfa di situ. Dug...dug..dug. Tiba-tiba ada perempuan cantik seumuran di atasku sedikit datang dengan tergesa-gesa. Penampilannya fashionable, jauh sekali dibandingkan denganku. Aku seperti menjadi pengagum dadakannya. Lalu aku menunduk takut ketahuan mengaguminya. "Hmm, Mbak ada Alfa nggak?" Aku tersentak karena suara merdu perempuan cantik itu membuyarkan lamunanku. "Oh, Mas Alfa masih di kampus kayaknya Mbak. Tapi ada Mas Andi." Terlihat wajah perempuan itu gusar. Berjalan ke sana kemari tak jenak, lalu ia mengeluarkan ponsel dari tas mewahnya. "Aku telpon aja dia." Aku mengangguk menyetujuinya. [Hai, Alfa sayang. Kamu dimana?] 'Haah, siapa perempuan ini. Kenapa memanggil Mas Alfa dengan "sayang" mesra sekali.' Ponselnya sengaja di loudspeaker jadi aku jelas ikut mendengarnya. Jantungku tiba-tiba berdebar entah apa alasannya aku juga tidak tahu. Apakah aku tidak rela Mas Alfa punya teman dekat perempuan lain. Hatiku mendadak berkecamuk, pikiran melanglang buana ke sana kemari. Aku sudah mengira Mas Alfa berbohong padaku. [Apa Lily cantik, nggangguin aku lagi rapat] 'Deg, Mas Alfa memanggilnya juga mesra gitu. Astaghfirullah.' [Mana kunci mobilmu? Aku mau pinjam sebentar, buru-buru nih.] [Di kamar masuk aja, tempat biasanya. Awas jangan obrak-abrik barangku!] [Iya, sayang. Dont worry. See u muach] Aku hanya melongo mendengar percakapan dua insan via ponsel itu. Hufh kenapa tiba-tiba nyeri di d**a menjalar. Tak lama perempuan itu membawa kunci dan melewati Andi yang berdiri di depan pintu. "Dah, Andi. Yuk, Mbak duluan ya." Aku memastikan perempuan bernama Lily itu masuk mobil yang mana. Mulutku menganga tak percaya, ternyata dia masuk mobil sport yang terparkir di halaman depan kontrakan. Mobil itu yang dipakai Mas Alfa mengantar Mas Andi ke bandara kemarin. Mobil itu yang aku tumpangi PP Yogya Magelang. Berbagai tanya berseliweran di benakku. Siapa perempuan itu, siapa Mas Alfa sebenarnya, apa dia sudah membohongiku. Kemarin dia mengatakan ingin mengenal dekat denganku, sekarang ada perempuan cantik yang berkata mesra padanya. Seketika pusing menderaku dan memaksa untuk melempar tanya ke Mas Andi. "Mas Andi, siapa perempuan itu? Lalu mobil sport itu milik Mas Alfa kah?" Mas Andi sepertinya sudah menduga reaksiku atas kejadian barusan. Dia mengangkat kedua tangannya seakan menyerah tak mau menjawab tanyaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN